
Nyonya Tias beserta rombongan keluarganya sudah tiba di hotel milik keluarga Fero. Termasuk ayah Wulan turut hadir bersamanya yang datang jauh-jauh dari kota sebrang.
Laura dan Johan berjalan beriringan mengikuti langkah kaki orang tua Johan. Baik Laura maupun Johan masih saja tidak percaya dengan kabar mengejutkan perihal pernikahan Wulan secara mendadak. Mereka bahkan belum tahu siapa laki-laki yang akan menikahi Wulan.
Sementara dilain pihak, Keluarga Fero sudah menunggu mereka di salah satu ruang VVIP yang biasa dijadikan ruang rapat oleh tamu hotel. Wulan dan Fero sudah berada di tengah-tengah mereka sambil duduk diam dengan pandangan lurus ke depan.
Staff hotel tiba-tiba saja masuk dan langsung berjalan mendekati nyonya Ambar. Tampak staff hotel terlihat membisikkan sesuatu kepada nyonya Ambar perihal kedatangan keluarga Wulan. Nyonya Ambar hanya mampu manggut-manggut mendengar setiap ucapan Staff itu. Setelahnya meminta staff nya untuk mempersilahkan keluarga Wulan masuk menemui mereka.
Karena mau bagaimana lagi kedua belah pihak keluarga harus membicarakan perihal pernikahan anak-anak mereka secara kekeluargaan. Apalagi sebentar lagi mereka akan menjadi satu keluarga.
Apa boleh buat takdir lah yang membawa anak-anak mereka hingga harus terikat dengan sebuah hubungan pernikahan. Jodoh sudah didepan mata untuk pasangan Fero dan Wulan, walaupun mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
Seluruh keluarga Fero langsung bangkit dari duduknya untuk menyambut keluarga Wulan yang baru saja masuk ke ruangan tersebut. Wulan ikut bangkit dari duduknya dengan mata berkaca-kaca melihat ayahnya. Sedangkan Fero hanya duduk diam dengan wajah di tekuk.
"Ayah" ucap Wulan berusaha untuk tersenyum melihat ayahnya.
"Putriku" ucap Tuan Teddy lalu melangkah mendekati putrinya.
Belum juga benar-benar sampai mendekati putrinya. Tuan Teddy malah berhenti di depan kursi Fero. Tuan Teddy mengepalkan tangannya dan langsung menarik kerah baju Fero hingga membuat lelaki tampan itu bangkit dari duduknya.
"Kurang ajar! berani-beraninya kamu melecehkan putriku"maki ayah Wulan dan langsung melayangkan pukulan tepat di wajah Fero.
Bughhhh
Fero tak melawan sama sekali dengan tindakan brutal dari ayah Wulan, karena dia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Tidak menutup kemungkinan lelaki paruh baya yang penuh emosional itu akan menjadi ayah mertuanya. Tubuh Fero terombang-ambing mendapatkan pukulan membabi buta dari ayah Wulan.
Sementara keluarga lainnya mulai histeris untuk meminta ayah Wulan berhenti memukuli Fero. Dengan cepat Wulan melerai ayahnya untuk tidak memukuli Fero.
"Jangan memukulnya ayah, dia tidak salah apa-apa" ucap Wulan membela Fero. Dimana Fero sudah babak belur, sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar. Fero mengusapnya dengan kasar sambil menatap sinis Wulan.
"Tetap saja dia salah. Tidak seharusnya dia meniduri putri kecilku" ucap tuan Teddy dengan amarah menggebu-gebu.
__ADS_1
Tuan Wisnu dan Nyonya Ambar hanya diam seribu bahasa menyaksikan putranya dipukuli oleh orang lain, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena putranya memang patut mendapatkan semua itu. Mana ada orang tua yang tega membiarkan putri yang disayanginya dilecehkan ataupun disakiti oleh seorang laki-laki. Pastinya dia pun akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ayah Wulan.
Wulan lalu mendekati Fero untuk memastikan apa lelaki yang akan menjadi suaminya itu baik-baik saja. Namun Fero hanya menatapnya dengan tatapan kebencian lalu berbalik badan untuk kembali duduk di tempatnya semula.
Wulan tak ambil pusing, dia pun langsung bergerak memeluk ayahnya.
Laura hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tidak menyangka bahwa Fero lah, teman dekatnya yang akan menjadi suami Wulan.
Semoga kalian bahagia hingga kakek nenek. Batin Laura.
Johan berdengus kesal melihat Laura terus menatap ke arah Fero, membuatnya menjadi kesal dan ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pamannya. Namun semua itu tidak mungkin dia lakukan serta-merta hanya karena cemburu melihat wanita di sampingnya lebih fokus menatap laki-laki lain dibandingkan menatapnya.
Tuan Wisnu mempersilahkan keluarga Wulan untuk duduk di kursi guna untuk membicarakan perihal pernikahan anak-anak mereka.
Fero terlonjat kaget karena baru menyadari keberadaan Laura di ruangan itu. Fero merasa bersalah kepada wanita yang sangat dia idam-idamkan untuk dijadikan sebagai kekasihnya.
Padahal malam itu, Fero sudah membuat kejutan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Laura, namun semuanya tidak sesuai dengan harapannya dan malah terjebak dengan gadis belia yang sama sekali tidak ia kenal, miris bukan.
Kedua belah pihak keluarga sepakat untuk menikahkan mereka hari ini juga. Agar tidak terjadi fitnah dan rumor yang tidak-tidak untuk anak-anak mereka.
Kini Laura dan Nyonya Tias sedang menemani Wulan bersiap-siap di salah satu kamar VVIP khusus calon mempelai wanita.
Tampak Wulan sudah mengenakan gaun pengantin yang dirancang khusus oleh nyonya Ambar dari koleksi butiknya. Dan Laura baru saja selesai membantunya memakai gaun indah itu. Sekarang giliran perias pengantin yang kembali turun tangan untuk merias wajah Wulan.
Sementara Nyonya Tias terlihat melamun dan masih saja syok mengetahui kabar pernikahan Wulan yang akan gelar hari ini.
Semua ini terjadi karena kesalahan bibi. Maafin bibi, Wulan. Karena bibi, kamu harus menikah dengan cara seperti ini. Batin nyonya Tias.
Wanita paruh baya itu menyesal dan merutuki kesalahannya. Nyonya Tias tersadar dari lamunannya saat Laura menyentuh pundaknya.
"Bibi, jangan terus melamun. Sebentar lagi acaranya akan dimulai" ucap Laura tersenyum.
__ADS_1
Nyonya Tias mengangguk dan langsung menarik senyuman di sudut bibirnya. Lalu Laura berpamitan keluar untuk mengambil minuman untuknya.
Laura berjalan di lorong hotel menuju ruangan diselenggarakannya acara. Saat akan memasuki lift tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawanya menjauh dari lift tersebut.
"Fero" ucap Laura mampu mengenali Fero.
"Laura, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, sejak pertama kali kita bertemu aku sudah ada rasa kepadamu dan aku...." Fero tak melanjutkan ucapannya.
"Tak ada yang perlu dimaafkan Fero, bukankah kita berteman baik. Dari dulu aku selalu menganggap mu sebagai teman baikku. Wulan gadis yang baik untukmu dan mulai sekarang kamu harus bertanggungjawab kepadanya dan menjaganya hingga maut memisahkan kalian" potong Laura dengan cepatnya dan harus tegas mematahkan segala perasaan Fero terhadapnya.
Fero mundur beberapa langkah ke belakang mendengar ucapan Laura. Dia tidak bisa memaksakan kehendak nya.
"Laura, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya" ucap Fero dengan tatapan memohon.
Laura yang tak tega melihatnya dengan cepat buka suara.
"Tentu saja, kamu itu teman baikku. Dan selamanya kita berteman" ucap Laura tersenyum.
Fero langsung memeluk Laura dengan perasaan hancur dan sesak di dada. Mengetahui wanita yang dicintainya menolaknya secara halus. Cintanya bertepuk sebelah tangan, selama ini Laura hanya menganggapnya sebagai teman baiknya. Namun Fero tidak ingin egois, karena dia percaya cinta tak bisa dipaksakan.
Johan yang baru saja keluar dari lift mendapati mereka sedang berpelukan. Johan mengepalkan tangannya lalu melangkah cepat dan langsung menarik paksa tangan Laura untuk menjauh dari Fero.
"Acaranya akan dimulai, dan kau tak perlu menggoda wanita ku. Fokuslah kepada calon istrimu. Jika kau ketahuan menyakiti Adik ku, aku tidak segan-segan untuk menghajarmu dan juga menghancurkan karir mu" ancam Johan yang sedang terbakar api cemburu.
Fero bergegas pergi meninggalkan mereka. Sementara Laura menatap sinis Johan dengan raut wajah tampak kusut.
"Sudahi semua ini, kau makin aneh" sinis Laura dan melangkah masuk ke dalam lift.
Johan berdengus kesal dan langsung meninju tembok di hadapannya. Setelah itu kembali menyusul Laura.
Kini Wulan dan Fero resmi menikah. Mereka sudah menjadi pasangan suami istri. Tak ada kebahagiaan di antara mereka. Sementara keluarga lainnya begitu terharu menyaksikan pernikahan mereka.
__ADS_1
Laura pun ikut bahagia atas pernikahan mereka dan tak lupa memberikan selamat untuk pasangan pengantin baru itu.
Bersambung