Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 47 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Sepulang dari liburan, Laura dan Johan mengagetkan semua orang di kediamannya. Dimana Johan menggendong Laura dengan santainya menuju kamar Laura yang terletak di mes pelayan.


Kedua orang tuanya hanya mampu terbengong-bengong melihat aksi putra kebanggaannya. Sedangkan para pelayan yang melihat mereka mulai menduga-duga bahwa anak majikannya kembali menjalin kasih dengan mantan istrinya.


Laura menunduk malu berada dalam gendongan Johan, apalagi semua orang fokus melihatnya.


"Turunkan aku Johan, aku malu dilihatin mereka" bisik Laura.


"Jangan banyak bicara, kaki mu terluka dan aku tidak akan membiarkanmu berjalan dengan kaki pincang. Sudahlah, jangan hiraukan mereka" ucap Johan sambil melangkah menuju kamar Laura.


Saat di depan pintu kamar Laura, Johan meminta kunci kamar Laura, dengan susah payah Laura mengeluarkan kunci kamarnya dari tas kecilnya lalu menyerahkannya kepada Johan. Kemudian Johan membuka pintu kamar Laura dengan cepat tanpa menurunkan tubuh Laura terlebih dahulu dari gendongannya.


"Beristirahatlah, jangan lupa minum obat anti nyeri ini" ucap Johan sambil mendudukkan tubuh Laura di tepi ranjang dan obat yang sempat di beli di apotik di letakkan di atas nakas.


"Aku pergi, jika butuh sesuatu hubungi saja aku" ucap Johan tersenyum hangat sambil mengelus puncak kepala Laura lalu keluar dari kamar tersebut.


Laura hanya mengangguk sebagai jawabannya dan tak berani menatap Johan saat ini juga karena derajat mereka terlihat begitu jelas di kediaman orang tua Johan.


Suasana kamarnya sama sekali tak ada perubahan, selama tiga hari tak menempati kamar itu, Laura bergerak untuk membersihkan kamarnya terlebih dahulu sebelum beristirahat.


Perlahan Laura bangkit dari duduknya dan dengan pelan mulai menggerakkan pergelangan kakinya yang terbungkus kain perban akibat hantaman batu karang saat mengejar Wulan hingga terjatuh di bibir pantai.


Karena hari itu merupakan hari terakhir mereka liburan, membuat Laura dan lainnya memanfaatkan dengan baik liburan yang super menyenangkan itu. Hingga kecelakaan kecil yang tidak bisa ditebak kembali menimpa Laura.


"Aku tidak boleh bermalas-malasan hanya karena luka di kaki ku" gumam Laura mencoba berjalan, namun sayangnya baru beberapa langkah nyeri dikakinya kembali menjalar di tubuhnya.


"Akhhh" Laura segera menyeret tubuhnya untuk kembali duduk di tepi ranjang.


"Ya Tuhan, tolong kuatkan hamba mu ini" ucap Laura sambil memejamkan matanya menahan rasa sakit di kakinya.


Sementara Johan terlihat bingung memasuki rumah mewah kedua orang tuanya. Dimana para pelayan tampak sibuk bekerja di pantau oleh kepala pelayan dan juga kedua orang tuanya.


"Ada apa ini?" tanya Johan kepada orang tuanya.


Seketika Mama Johan dan Papa Johan saling lirik dan tetap bungkam.


Aduh sayang, mengapa kamu pulangnya cepat sih, harusnya kalian liburan seminggu atau kalau perlu sebulan supaya kalian pulang-pulang bawa kabar yang menggembirakan. Nah ini, Mama tidak bisa menghentikan keinginan papa mu. Batin Mama Johan.


Johan memilih berjalan menuju kamarnya karena tak ada jawaban dari kedua orang tuanya. Nyonya Tias bergerak untuk menyusul putranya namun langkahnya di hentikan oleh suaminya.

__ADS_1


"Biarkan saja, nanti saja aku yang memberitahu Johan" ucap tuan William lalu berjalan menuju ruang kerjanya.


Nyonya Tias menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tidak tahu kemungkinan besar apa yang terjadi setelah malam nanti. Karena saat ini semua pelayan tampak sibuk untuk mempersiapkan acara pertunangan Johan yang diadakan nanti malam.


"Anak itu benar-benar, berhari-hari aku menghubungi nya namun tak pernah diangkat" gumam Mama Johan sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah putranya. Lalu Nyonya Tias kembali membantu pelayan untuk persiapan acara nanti malam.


Sementara di kamar, Johan tampak serius berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.


"Cepat bawa benda itu kemari, Laura sangat membutuhkannya. Satu lagi, jangan lupakan kejutan untuk Laura esok lusa" ucap Johan berbicara serius di ujung telepon.


"Baik tuan"ucap seseorang di sebrang sana.


Hingga panggilan mereka pun berakhir.


Johan meletakkan ponselnya di atas meja lalu berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu barulah dirinya akan beristirahat.


Sementara orang-orang di bawah sana sedang sibuk mempersiapkan acara pertunangannya nanti malam.


*


*


*


Wulan berjalan tergopoh-gopoh memasuki rumah mewah bibi nya. Dia berhasil menyelinap keluar dari kediaman orang tua Fero.


"Bibi" panggil Wulan dengan deru nafas ngos-ngosan melihat bibi nya sedang mengobrol dengan kerabat dekatnya.


Wanita paruh baya itu langsung mengalihkan pandangannya dan penampilannya sangat cantik dengan balutan gaun berwarna lilac yang begitu mewah bertabur permata.


Wulan mendekat ke arah bibi nya, Nyonya Tias segera menarik tangan Wulan untuk masuk ke kamar tamu.


"Wulan! kamu itu hilang kabar atau bagaimana sih, bibi terus mengubungimu puluhan kali. Tapi kamu tak pernah menjawab panggilan bibi sekalipun, seolah kamu itu di telan bumi. Lihatlah sekarang, bagaimana Paman mu begitu antusias untuk menikahkan Johan dengan keluarga ular itu" ucap Nyonya Tias panjang lebar dengan wajah cemberutnya.


"Maaf bibi, sekali lagi aku minta maaf. Pulau yang kami datangi signal nya jelek dan tak bisa mengabari bibi. Tapi, aku rasa rencana kita kali ini berhasil bibi" ucap Wulan sambil merangkul lengan bibi nya.


"Benarkah?"


Wulan hanya mampu menaikkan sebelah alisnya sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Bagus kalau begitu, kita hanya perlu menunggu tanggal cantiknya" ucap Nyonya Tias antusias sambil menangkup wajah Wulan dengan kedua tangannya dan Wulan hanya tersenyum meyakinkan.


Karena merasa aman, mereka lalu bergegas keluar untuk menyambut beberapa tamu yang datang dan merupakan kerabat dekatnya.


Sementara di kamar Johan, tampak Johan mengepalkan tangannya melihat setelan jas baru yang dibawa oleh pelayan untuknya.


"Tuan besar meminta anda bersiap-siap tuan muda karena sebentar lagi acara akan dimulai" ucap pelayan sambil menundukkan pandangannya.


Johan hanya mengibaskan tangannya untuk menyuruh mereka pergi. Johan lalu melangkah keluar dari kamarnya untuk menemui Papa nya.


Saat di ujung tangga, Johan berpapasan dengan ayahnya yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Apa yang sedang Papa rencanakan!" ucap Johan dengan suara lantang.


"Masa depan mu, gunakan sopan santun mu saat berbicara dengan orang tuamu" tegas tuan William memperingati putranya.


"Masa depan! apa aku tidak salah mendengarnya? sampai kapan Papa harus berbuat seperti ini! mengorbankan diriku dan menjadi boneka papa selamanya!" ucap Johan sambil mengepalkan tangannya.


"Tutup mulutmu! mengapa kamu jadi pembangkang seperti ini! sejak kamu berhubungan dengan wanita murahan itu kamu bersikap kurang ajar kepada Papa. Inilah pengaruh buruk dari wanita yang tak dianggap dalam keluarganya membuatmu menjadi lelaki bodoh!" ucap tuan William dengan entengnya.


"Cukup, jangan pernah merendahkan wanitaku!" balas Johan tak terima ucapan Papa nya.


"Tinggalkan dia sebelum Papa memperlakukannya dengan buruk dan membuat keluarganya hancur. Papa tidak main-main kali ini" ancam tuan William dengan tenang lalu berbalik badan meninggalkan putranya yang sedang mengusap wajahnya dengan kasar.


Johan menjambak rambutnya dengan penuh frustasi. Ayahnya bukanlah orang sembarang yang dengan mudahnya bisa di hancurkan, bekerjasama dengan klan tersembunyi dalam dunia gelap dan bebas menghancurkan orang-orang yang ingin dia hancurkan dengan mudahnya dan Johan diam-diam tahu sisi gelap ayahnya.


"Arrgghhh, sial ini akan semakin rumit" ucap Johan menjambak rambutnya lalu berjalan tergesa-gesa menaiki anak tangga kembali ke kamarnya.


****


Kini semua orang telah berkumpul di ruang tamu bersama keluarga Catherine yang baru saja bergabung bersama dengan keluarga William.


Harusnya acara pertunangan mereka diselenggarakan di kediaman orang tua Catherine atau di sebuah hotel mewah. Namun keputusan ada di tangan tuan William dan dia berhak menentukan apapun termasuk tempatnya.


Johan menuruni anak tangga dengan langkah berat. Sungguh dia sudah bosan menjadi boneka ayahnya yang terus saja menghancurkan kebahagiaannya selama ini.


Wajah cantik Laura terus menari-nari di pikirannya, namun dia tak ingin wanita itu hancur ditangan ayahnya.


Aku berjanji Laura, setelah masalah ini selesai, kita akan pergi bersama sejauh mungkin dari orang-orang yang menentang keras hubungan kita. Batin Johan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2