Laura Dan Status Barunya

Laura Dan Status Barunya
Bab 36 Laura dan Status Barunya


__ADS_3

Laura tampak asyik berjalan di temani kucing peliharaannya menuju kamar Nyonya Tias. Johan yang sedang menuruni anak tangga berjalan cepat saat melihat kedatangan Laura. Lalu Johan berdiri di ujung tangga untuk menghentikan Laura.


"Kau tidak diizinkan masuk ke kamar mama, jika membawa kucing nakal itu" peringat Johan kepada Laura.


Seketika kucing kesayangan Laura kembali mengeluarkan suara khasnya dengan keras untuk menggertak Johan yang sudah diklaim sebagai musuhnya.


"Aku tidak akan mengobati lukamu lagi, jika kau cari masalah dengan si Mail. Aku tidak bisa memastikan jika wajahmu berubah menjadi buruk rupa hingga para wanita menjauhimu" ancam Laura.


"Benarkah, ngeri juga ucapanmu" balas Johan tersenyum sinis.


"Awwww, ini masih sakit, lukaku belum sepenuhnya sembuh. Jadi kau harus bertanggung jawab untuk mengobatinya. Jika tidak, maka dengan gampang aku bisa menjatuhkan hukuman mati untuk kucing peliharaan mu itu" ucap Johan dengan seringai licik diwajahnya sambil menyentuh luka cakaran di lehernya. Tatapan Johan begitu tajam menatap si Mail yang sedang tidur-tiduran di lantai.


"Ya sudah, ikut denganku. Aku akan mengobati lukamu" ucap Laura lalu berjinjit untuk menarik dasi Johan.


Belum juga menggapai dasi Johan, Laura sudah tersandung hingga keseimbangan tubuhnya sedikit oleng dan hampir saja terjerambah menghantam pegangan tangga, untungnya Johan dengan sigap menarik pinggangnya dan memeluknya dengan cepat.


Laura cukup syok sambil memeluk pinggang Johan, jantungnya hampir saja copot dari tempatnya jika kurang dari beberapa detik saja Johan tak menolongnya, sudah dipastikan wajahnya akan hancur lebur.


Tuan William hanya mampu geleng-geleng kepala melewati mereka yang tengah berpelukan. Yang dikhawatirkan tuan William semakin nyata saja dan dia tidak akan membiarkan Johan dan Laura kembali bersatu.


"Terima kasih" ucap Laura dan segera menjauh dari Johan.


"Tunggu, kau mau kemana?" tanya Johan dan tak ingin membiarkan Laura pergi begitu saja.


"Bukankah kau memintaku untuk mengobati lukamu. Aku mau ambil kotak obat di kamar" jawab Laura.


Johan lalu menarik tangan Laura dan membawanya ke ruang tengah. Sedangkan Laura tampak menurut tanpa banyak tanya.


"Itu kotak obatnya, kelamaan jika kau kembali ke kamarmu"ucap Johan sambil menunjuk nakas yang berisi obat-obatan didalamnya. Lalu Johan duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.


Laura segera membuka kotak obat dan mengambil salep luka untuk mengobati luka Johan. Kemudian Laura duduk di samping Johan sambil memegang salep luka.


"Mendekatlah, aku akan mengobati lukamu" ucap Laura pelan.


Johan langsung memajukan wajahnya hingga hidung mancung mereka bersentuhan. Wajah Laura seketika merona dan jantungnya ikut berdebar-debar kencang melihat wajah Johan dengan jarak dekat, bergerak sedikit saja bibir mereka akan bersentuhan.


Seketika Laura berspekulasi sendiri dan tak bisa lagi mengelak dengan fakta nyata bahwa Johan memang lelaki berparas tampan yang digandrungi banyak wanita.


Laura langsung mendorong jidat Johan menggunakan telunjuknya. Namun bukan Johan namanya jika tak berbuat usil, Johan kembali menggesekkan hidung mancungnya di hidung mancung Laura, membuat wajah Laura semakin memerah karena merona.


"Ha ha ha, wajahmu memerah bak kepiting rebus" ejek Johan diiringi gelak tawa.


Laura langsung memasang wajah cemberut dan tak suka dengan ulah Johan yang sedang mengerjainya.

__ADS_1


"Sudah puas menertawakanku! sekarang giliranku" tantang Laura dengan kesalnya sambil mengoles salep luka di wajah Johan dengan asal.


"Awwww, pelan-pelan Laura, ini masih sakit" ucap Johan pura-pura kesakitan.


Seketika Laura menghentikan aksinya. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu" ucap Laura memasang wajah sok polosnya.


Johan menyeringai licik lalu mendorong tubuh Laura hingga bersandar di sofa. Tanpa basa-basi Johan langsung mendaratkan ciuman di bibir manis Laura.


Cup


"Itu hadiah untukmu" ucap Johan tersenyum kemenangan yang kembali berhasil mencium Laura. Johan lalu bangkit dari duduknya dan merasa senang mendapatkan apa yang diinginkannya. Sedangkan Laura berdengus kesal dan ingin mencakar-cakar wajah Johan.


"Aku lelaki normal dan bisa melakukan hal lebih daripada itu."


Johan tersenyum tipis meninggalkan Laura yang sedang diselimuti kekesalan. Sungguh dia begitu senang jika berbuat usil kepada Laura.


"Awas kamu Johan!" kesal Laura sambil menyentuh sudut bibirnya. Dia sudah tidak bisa menghitung berapa kali Johan menciumnya tanpa permisi.


Si Mail yang sedang tidur-tiduran di depan pintu ruangan itu seketika terbangun mendengar suara Laura. Kucing garang itu langsung celingak-celinguk mencari keberadaan Johan, karena sepertinya pemiliknya sedang dalam bahaya. Namun sayangnya Johan keburu pergi.


Laura keluar dari ruang tengah dengan wajah cemberut, Si Mail hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya yang sedang gatal karena tidak bisa berbuat apa-apa.


*


*


*


Baru saja dia di hubungi nomor tak dikenal dan ternyata itu dari Wulan. Lebih parahnya lagi, tidak ada angin tidak aja hujan, tiba-tiba saja sang ponakan membawa kabar mendadak untuknya.


"Bagaimana ini, Teddy bisa saja membunuhku jika sesuatu terjadi kepada putri semata wayangnya. Apa yang harus ku lakukan, aku jadi takut dengan kabar ini. Wulan akan menikah dan siapa yang akan menikahinya, padahal ponakan kecil ku baru saja lulus sekolah" ucap Mama Johan sambil menggigit kuku-kukunya yang dilanda kepanikan.


"Ya Tuhan, semua ini karena ulahku. Aku siap menanggung semua akibatnya yang terpenting ponakan ku baik-baik saja" lirihnya dan sangat menyesal dengan rencananya sendiri.


Andai saja dia tidak melibatkan Wulan dalam rencana liciknya untuk menyatukan Johan dan Laura mungkin semua kabar tadi tidak akan terjadi.


Laura mengetuk pintu kamar Nyonya Tias berulang kali namun tak ada jawaban dari dalam. Laura yang cukup khawatir dengan majikannya, dengan terpaksa membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


"Bibi" panggil Laura sambil menghampiri sosok wanita paruh baya yang sedang mondar-mandir di dalam kamar.


"Laura" ucapnya lemas lalu berhambur memeluk Laura.


Sambil memeluk Laura, nyonya Tias pun mulai menceritakan kabar yang baru saja dia dapatkan dari Wulan.

__ADS_1


*


*


*


Sementara di tempat lain.....


Tampak gadis belia berpenampilan kribo sedang menangis bombai di atas ranjang membuat banyak pasang mata merasa iba kepadanya.


Baru saja gadis belia itu menghubungi salah satu keluarganya perihal nasibnya saat ini.


Sementara sosok lelaki berdiri di samping ranjang terlihat frustasi sambil mengusap wajahnya berulang kali dan begitu kesal melihat tingkah gadis belia itu.


"Hentikan tangis mu! Kamu semakin memperkeruh suasana. Aku bahkan tak melakukan apapun kepadamu, seujung kuku pun aku tak menyentuhmu. Tapi, kamu bertingkah seolah-olah aku habis melecehkan mu. Sial, arrgghhh.....aku sama sekali tidak mengenalmu, tapi kamu malah menjebak ku dan membawaku dalam masalah besar" ucap lelaki itu dengan kesalnya sambil menunjuk-nunjuk gadis belia itu.


"Hiks...Hiks....Hiks..." gadis belia itu terus saja menangis bombai dan tak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia sedang terjebak dalam satu kamar dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalinya.


"Kamu tak mendengar ku hah!" bentaknya sambil mengepalkan tangannya yang sedang tersulut emosi.


"Fero, tenangkan dirimu, kamu tidak boleh membentak calon istrimu setelah malam panjang yang kalian lewati. Tetap saja kamu harus bertanggungjawab kepadanya" ucap lelaki berkumis tipis sambil merangkul wanita di sampingnya.


"Mama sangat kecewa padamu, Fero. Semalam kamu memperkenalkan mama dengan Laura dan sekarang kamu malah meniduri gadis belia ini. Pokoknya kamu harus menikahi gadis ini seperti yang papa katakan tadi" ucap wanita paruh baya yang sedang menghakiminya.


Ya lelaki itu adalah Fero dan gadis belia yang sedang menangis bombai di atas ranjang adalah Wulan. Saat ini mereka sedang dihakimi oleh keluarga Fero.


"Aku tidak bisa menikahinya. Karena aku tidak melakukan apapun kepadanya Ma, Pa, mengapa kalian tidak percaya sedikitpun kepadaku. Lihat pakaian kami masih utuh dan lengkap. Sumpah aku tidak menyentuhnya. Tolong percayalah." ucap Fero membela diri yang sudah habis kata-kata untuk meyakinkan keluarganya.


"Sudahlah brother, tetap saja kamu sekamar dengannya. Tidak mungkin kamu tak melakukan apapun kepada gadis ini. Ternyata doa istriku cepat juga diijabah oleh Tuhan" timpal kakaknya bernama Ferdy, pasangan pengantin baru itu.


Seluruh keluarganya sudah sepakat untuk menikahkan mereka hari ini juga.


Fero lalu mendekati Wulan dan langsung menarik paksa tangan Wulan untuk segera turun dari ranjang.


"Katakan yang sejujurnya bahwa kamu sedang menjebak ku!" teriak Fero dengan suara satu oktaf.


Wulan tampak ketakutan dan terus bungkam, walaupun dia meringis kesakitan dengan cengkraman kuat dari tangan Fero.


"FERO! Jangan limpahkan masalah ini kepada gadis belia ini. Pokoknya kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu. Hari ini juga, kalian harus menikah. Tidak ada alasan bagimu untuk menolak" tegas Papa Fero dengan keputusannya yang tidak bisa diganggu gugat.


Fero melepaskan cengkeraman tangannya dan langsung menjambak rambutnya dengan kesalnya.


Bersambung......

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya bestie 🙏🙏🙏


__ADS_2