
Suasana di kota ini terasa sangat ramai, berbeda dengan tempat dimana Ziruko tinggal sebelumnya yang terasa sangat sepi. Tapi hal ini tidak ada hubungannya, mau ramai maupun sepi Ziruko tetap merasakan kesepian, karena dia berjalan di kota yang ramai ini sendirian.
Tapi Ziruko tetap berpikir optimis, mau bagaimanapun juga keadaannya ini adalah awal perjalanannya untuk menjadi seorang kaisar. Seorang kaisar adalah orang yang paling kuat dan mempunyai wilayah kekuasaan. Ziruko menginginkan hal itu.
Pada awalnya Ziruko berpikir bahwa menjadi seorang kaisar akan terasa sangat menyenangkan. Tapi, lama kelamaan dia mengubah cara pandangnya, dan berpikir kalau menjadi seorang kaisar mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Mungkin dia membutuhkan banyak orang untuk mewujudkan impiannya, dia bermimpi untuk mempunyai banyak rekan.
Mungkin ini sedikit aneh, Ziruko ingin menganggap yang lainnya sebagai rekan bukan sebagai bawahan. Tapi, Ziruko mengesampingkan dulu pikiran itu. Untuk sekarang, dia memikirkan akan melakukan apa dia sekarang.
Ziruko masih belum memikirkan untuk bergabung dengan guild. Lagipula, bergabung dengan guild malah makin mempersulit untuk menjadi kaisar. Karena apa? karena di dalam sebuah guild terdapat sistem rank seperti; bronze, silver, gold, adamantite dan sebagainya.
Ditambah, Ziruko tidak mempunyai arcana. Arcana adalah sebuah buku sihir. Artinya, jika dia tidak mempunyai arcana berarti dia tidak bisa menggunakan sihir.
Untuk sekarang ini mungkin yang terbaik untuk Ziruko adalah mencari penginapan untuk tempat dia berteduh. Jika dia kelelahan dan belum menyewa penginapan, mungkin saja dia akan tidur dijalanan.
Sebenarnya dari awal Ziruko tidak peduli dengan guild. Dia tidak suka hal yang begitu ribet. Masih ada jalan selain guild untuk menjadi seorang kaisar.
Dan setelah lama memikirkannya, Ziruko memutuskan untuk mencari sebuah senjata. Memang aneh, seseorang ingin berpetualang tanpa melakukan persiapan. Tapi senjata itu adalah satu hal yang penting, jika dia tidak mempunyai senjata bisa saja dia menjadi santapan bagi para monster.
Karena itu, Ziruko memutuskan untuk pergi ke pasar dulu. Dia tidak mengharapkan senjata yang bagus, dia hanya mengharapkan senjata yang harganya pas dikantong. Karena dia percaya pada pepatah yang mengatakan, “hemat pangkal kaya.”
Saat dia melakukan perjalanan untuk pergi ke pasar, tiba-tiba perutnya berbunyi.
“Banyak sekali hambatan, tapi lebih baik aku makan saja dulu untuk memulihkan energiku.”
Ziruko memutuskan untuk mencari sebuah bar. Dia berpikir di bar akan ada beberapa petualang yang sedang beristirahat. Mungkin dia bisa mendapatkan informasi dari mereka.
"Mungkin aku sedang beruntung....."
Ziruko menunjukkan senyuman seperti orang jahat, dia memang sedang beruntung. Tidak lama setelah dia mengatakan ingin pergi ke bar, dia langsung menemukan sebuah bar. Dan juga dia ingin orang-orang mulai mengakui keberuntungannya.
Tidak banyak bicara, Ziruko langsung masuk kedalam bar. Saat dia masuk terdengar suara bel yang berdentang, hal itu menandakan adanya pelanggan yang masuk kedalam bar.
Ziruko melihat ke sekelilingnya, dia melihat banyak sekali pelanggan. Ada seorang laki-laki, perempuan, dan ada juga seseorang yang menggunakan zirah besi. Dia mencari tempat duduk yang kosong, dan langsung menempatinya.
Setelah duduk Ziruko langsung memesan sebuah roti bakar untuk dimakan disini, dan membeli dua lagi untuk perbekalan. Hal ini dilakukan Ziruko karena dia sedang hidup hemat. Dengan uang yang dimilikinya sekarang, mungkin dia hanya bisa bertahan hidup untuk dua hari saja.
Saat makanan dihidangkan, Ziruko langsung menyantap roti bakar yang masih hangat itu. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan dari beberapa petualang yang duduk di sebelah mejanya. Dia terus menyantap makanannya sambil mendengarkan perbincangan mereka.
"Hey!!! apa kamu sudah dengar rumor yang sedang ramai dibincangkan oleh para petualang?”
__ADS_1
“Heh... rumor tentang apa?”
“Katanya Raja Ogre terlihat di Hutan Ezelic, tidak sendirian dia bersama seluruh pasukannya."
"Benarkah? rumornya seperti itu? aku jadi tidak percaya, soalnya apa untungnya Raja Ogre menginvasi daerah ini. Itu sama saja seperti bunuh diri.”
"Mungkin, mereka ingin mendeklarasikan perang dengan kekaisaran. Mereka cukup cerdik juga menyerang daerah yang terbilang lemah. Dan juga disini penjagaannya tidak ketat, bisa dibilang ini wilayah yang diabaikan oleh kekaisaran."
"Mana mungkin mereka melakukan hal bodoh seperti itu, selama ini tidak ada yang berani menantang kaisar. Kaisar yang sekarang sangat kuat, meskipun dia hanya menggunakan arcana angin."
"Kaisar di Kekaisaran Rossweild itu kan manusia, mungkin Raja Ogre masih berpikiran kalau ras nya lebih kuat dari manusia.”
“Para ogre itu hanya mengandalkan kekuatan fisik mereka. Tapi tetap saja masih ada manusia yang fisiknya jauh lebih kuat dibandingkan para ogre. Jadi tidak mungkin alasannya seperti itu.”
Tangan Ziruko bergetar, ia berhenti makan karena rasa makanannya menjadi sedikit tidak enak. Bukannya dia takut pada para ogre yang diceritakan mereka, dia hanya meras geram kepada mereka.
Para petualang itu terus mengoceh tentang perbandingan kekuatan manusia dengan ogre. Makin lama mereka malah menjadi menghina ras ogre. Lama-lama Ziruko muak mendengar perbincangan mereka, dia langsung berdiri dari mejanya dan langsung menghampiri mereka.
“Sudah hentikan paman!!! gara-gara kalian aku jadi tidak bisa makan dengan tenang.”
“Emang aku peduli? mungkin kamu takut dengan ogre???”
“Tentu saja tidak, perasaanku jadi tidak enak karena kalian terus membanding-bandingkan ras. Apa kalian merasa bangga dengan ras kalian sendiri? setiap ras mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing, camkan itu!!!”
"Apa kalian tidak ingin memeriksa kebenarannya? jika kalian hanya mendengar rumor saja bukan berarti itu kenyataan bukan?"
"Kamu ini sebenarnya siapa bocah tengik, kamu cuma berani mengoceh saja. Kalau kamu tidak takut, pergi saja sendiri!!!"
“Berarti paman semua takut ya!”
“Tentu saja tidak, bocah!”
"Kalo kalian seorang petualang, seharusnya kalian harus siap siaga ketika ada yang mengancam keselamatan warga di daerah sini. Bukankah kalian petualang dari daerah ini, kalau begitu kalian mempunyai kewajiban untuk melindungi daerah ini! pokoknya kalian harus memastikan kebenarannya."
"Dengar ya bocah! kami itu petualang, bukan seorang prajurit kekaisaran apalagi seorang kaisar. Kami tidak ingin menyia-nyiakan nyawa kami hanya untuk hal itu."
"Bukannya kalian menjadi petualang karena ingin menjadi kaisar."
"Bocah, dengar ya. Pemikiran seperti itu hanya ada pada orang-orang primitif seperti dirimu. Kalo kamu berani periksa saja sendiri, ogre makhluk yang kuat itu bukan sekedar rumor belaka. Kalo kamu berhasil melaporkan situasi disana kepada guild dengan selamat, aku sangat takjub padamu. Tapi, jika kamu mati aku tidak akan tanggung jawab. Dan satu lagi, kami menjadi petualang untuk menghidupi keluarga kami, bukan untuk menjadi seorang kaisar."
__ADS_1
"Baiklah, aku terima tantanganmu. Jika hanya memeriksa saja, aku tidak akan terluka."
"Percaya diri sekali kamu ini bocah! memangnya kamu ini siapa?"
"Namaku adalah Ziruko, aku adalah orang yang akan menjadi kaisar selanjutnya."
Ziruko tidak mempedulikan pendapat mereka tentang impiannya, dia tidak begitu peduli meskipun dikatakan terlalu percaya diri. Tapi tetap saja, dia akan memastikan kebenaran tentang rumor itu. Yang paling penting, untuk saat ini dia akan membeli senjata dulu.
Ziruko berjalan terus menuju pasar tanpa menemukan hambatan. Dia melihat-lihat ke sekelilingnya dan mencari toko yang menjual senjata. Setelah dia menemukannya, dia langsung menghampiri toko tersebut.
"Maaf paman, apa kamu menjual senjata yang harganya 10 keping perak?"
"Sebenarnya ada beberapa senjata yang harganya sepuluh keping perak. Tapi senjata itu hanya sebuah pisau kecil saja, tidak cocok untuk digunakan pertarungan. Ditambah lagi senjata itu mudah rusak.”
“Tidak apa-apa paman, meskipun begitu aku akan tetap pilih yang itu saja.”
“Tapi tunggu dulu anak muda, jangan terburu-buru. Saya lebih merekomendasikan senjata ini, senjata ini bukan pisau tapi bukan juga pedang. Para petualang menyebut senjata ini dengan sebutan ‘pisau yang panjang'. Yang paling penting harganya sangat terjangkau."
Paman penjual senjata itu menunjukkan senjata yang dimaksudnya. Aku langsung memegang senjata itu.
"Keren... senjata ini lebih keren dari pisau biasa. Ngomong-ngomong berapa harga senjata ini paman?"
"Tidak jauh berbeda dari harga pisau itu. Senjata ini cuma sedikit lebih mahal, harganya cuma 12 keping perak. Lebih hemat bukan?"
"Baiklah, aku membelinya."
“Terjual!!! silakan ambil pisaunya.”
Meskipun Ziruko bilang ia sedang berhemat, tapi tanpa sadar ia membeli pisau yang harganya mahal. Dia membeli barang yang terlalu berlebihan, hanya karena namanya keren. Tapi, meskipun begitu yang sudah berlalu biarlah berlalu.
Tidak tunggu lama lagi, ia langsung berlari menuju arah utara. Arah itu adalah arah yang menuju ke Hutan Ezelic. Dia mempunyai tugas untuk memastikan kebenaran dari humor yang beredar di daerah sini.
Jika memang memungkinkan, Ziruko berpikir untuk melawan mereka semua sekaligus. Dia sangat percaya diri dengan kemampuannya.
Beberapa saat kemudian, dia sampai di depan Hutan Ezelic. Hutan itu terlihat sangat hijau dan dipenuhi oleh pohon yang rindang. Meskipun suasananya sedikit suram, dan dipenuhi dengan suara burung-burung yang berkicau.
Tanpa ragu Ziruko langsung masuk ke dalam hutan yang terlihat sedikit menyeramkan ini. Dia berharap bisa menemukan sesuatu yang menarik.
Hutan ini memang sepi, sama persis seperti yang Ziruko bayangkan. Dia tidak melihat satupun monster yang berkeliaran disini, dia malah melihat hewan herbivora yang berlarian kesana-kemari untuk memakan rumput. Kesimpulannya hutan ini terasa sangat damai dan berbeda sekali dengan yang Ziruko bayangkan.
__ADS_1
Ziruko terus berjalan menyusuri hutan ini, sambil melihat kearah kiri dan kanan. Dia terus berharap agar ada suatu hal menarik yang akan terjadi.
Harapan Ziruko terwujud, tidak lama setelah dia mengharapkan hal itu, terdengar suara teriakkan. Suara teriakan itu sepertinya berasal dari seorang perempuan. Sekarang Ziruko menjadi lebih semangat, ia langsung berlari menuju arah dari suara itu untuk menyelamatkan perempuan itu.