Legenda Arcana

Legenda Arcana
Pulau Gwongseun


__ADS_3

Tiba-tiba terlihat kilatan petir dari luar jendela. Mereka semua tiba-tiba terkejut dengan suara gemuruh petir.


"Sepertinya akan terjadi badai, kita harus bersiap! Mizu cepat angkat layarnya!" teriak Kagura.


"Kenapa kita mengangkatnya?"


"Kalo badai terjadi dan layar kita masih belum dinaikkan bisa saja kita terombang-ambing oleh angin yang sangat kencang. Jadi semuanya ikuti saja instruksiku!"


"Semuanya ayo pergi keluar untuk melihat kondisinya!"


Mereka semua pun mengikuti arahan dari Kagura tanpa ada yang protes.


"Aku akan menyetir kapal ini, bisa saja nanti ada ombak besar."


"Baik, Kagura." kata mereka semua.


"Sepertinya tidak terlalu berbahaya. Kalau begitu, Momo dan Irina masuklah ke dalam dan persiapkan makan malam. Sedangkan Ziruko dan Mizu diamlah disini untuk membantuku."


Mereka pun mengikuti arahan Kagura dengan baik. Momo dan Irina langsung masuk kedalam dan melihat bahan-bahan makanan yang ada.


"Momo, dengan bahan makanan seperti ini kita akan membuat apa?"


"Karena disini ada berbagai jenis sayuran hijau dan ada juga ikan jadi kita akan membuat Salad Sayur Ikan."


"Lalu bagaimana cara membuatnya?"


"Pertama kita ambil tulang ikannya, lalu potong-potong sayuran dan kocokkan dengan sayur-sayuran disana. Setelah itu selesai."


"Sepertinya itu akan menjadi makanan yang tidak enak."


"Lalu bagaimana cara membuatnya?"


"Ini adalah pertama kalinya aku memasak. Tapi, yang pasti kita harus mencuci ikannya dulu."


Mereka mencuci ikannya menggunakan air yang ada di kamar mandi. Setelah itu mereka membawa semua bahannya ke kamar mereka.


"Sepertinya kita tidak bisa membuat makanan enak. Tidak ada peralatan memasak disini," kata Irina.


"Alat yang ada hanya pisau, mangkuk, sendok, dan gelas."


"Miris sekali kita. Jadi sepertinya tidak ada pilihan lain selain membuat Salad Sayur Ikan. Tapi kita akan melakukannya dengan cara yang berbeda."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Pertama tata sayurnya di atas mangkuk."


"Terus apa lagi???"


"Kita potong-potong kecil ikan ini. Jangan sampai ada tulang ikan yang tertinggal."


"Kalau sudah selesai apa lagi yang harus dilakukan?"

__ADS_1


"Tinggal simpan di atas sayuran tersebut."


Beberapa menit telah berlalu dan badai pun sudah berhenti. Kagura, Ziruko dan Mizu masuk kedalam ruangan yang ada di kapal.


"Apa makanannya sudah siap?" tanya Ziruko.


"Jangan dulu makan, lebih baik kalian mandi dulu. Kalian bertiga basah kuyup," kata Irina.


"Bukannya tadi kalian berdua juga basah kuyup?"


"Tadinya aku mau mandi, tapi ada kamu Ziruko. Jadi kamu saja dulu," kata Momo.


"Baiklah berarti aku dulu yang mandi."


"Ziruko mau mandi bareng gak?" tanya Kagura.


"Jangan sampai dari kalian semua ada yang masuk ke kamar mandi sebelum aku keluar!" kata Ziruko dengan menunjukkan tatapan yang mengancam.


"Sepertinya kamu sudah mulai puber Ziruko, biasanya kamu tidak akan protes," kata Kagura.


"Puber matamu? aku ini sudah berumur 17 tahun!"


Setelah itu Ziruko langsung masuk kedalam kamar mandi. Mereka saling bergantian untuk mandi.


Setelah selesai mandi mereka langsung membawa makanan ke dek kapal. Mereka langsung duduk dan langsung menyantap makanan mereka. Diantara mereka terdapat reaksi yang berbeda-beda.


"Makanan ini rasanya hambar," kata Kagura.


"Kalian jahat sekali, kalau menurutmu bagaimana Ziruko?" tanya Irina.


"Makanan ini enak sekali."


"Ziruko kamu itu pembohong tulen. Sudah jelas kalau makanan ini tidak enak. Aku dan Irina sudah mencobanya kok," kata Momo.


"Aku mengatakan itu untuk menghargai kalian berdua."


"Tapi aku ini ingin sebuah ungkapan sebenarnya, bukan yang dibuat-buat," kata Momo.


"Ya, sudah lupakan saja."


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, matahari sudah tenggelam. Mereka semua pergi keluar dari ruangan tersebut.


"Di depan sana adalah Pulau Gwongseun, sekitar 15 menit lagi kita akan sampai," kata Kagura sambil menunjukkan jari kearah depan.


"Baiklah, kita akan memulai petualangan yang baru."


Sesuai perkiraan Kagura, setelah 15 menit mereka sampai di pesisir pantai Pulau Gwongseun. Mereka semua kemudian turun dari kapal.


"Tempat ini sepi, ini lebih cocok dibilang pulau tidak berpenghuni. Hanya ada hutan yang lebat, tidak jauh berbeda dengan Hutan Ezelic," kata Irina.


"Di balik hutan yang lebat itu, terdapat sebuah desa. Kita akan pergi kesana untuk bertanya."

__ADS_1


Mereka kemudian berjalan dengan dipimpin oleh Kagura. Saat di dalam hutan terasa sangat hening sekali. Dilengkapi dengan suara jangkrik, dan juga suara kicauan burung.


Saat ada buah-buahan yang menggugah selera, Ziruko mengambilnya untuk dimakan.


"Diatas sana ada buah berwarna merah dan memiliki rambut. Sepertinya itu enak. Aku akan mengambilnya," kata Ziruko.


Ziruko pun mengambil buah itu dan membagikannya kepada yang lain. Namun, Ziruko merasa kesulitan saat memakannya.


"Ini bagaimana cara makannya ya? keras sekali," kata Ziruko.


"Kamu jangan langsung gigit dengan cangkangnya dong, kamu terlihat seperti orang purba. Tidak! orang purba pun bisa memakan yang seperti ini, sini aku bukakan!" kata Kagura.


Kagura mengambil buah berwarna merah dan berambut itu kemudian menggigitnya dan membuka cangkangnya.


"Ini dia, silakan dimakan!"


Orang lain yang melihat pun mengikuti cara Kagura membuka buah tersebut. Mereka pun langsung mahir membuka cangkang buah berwarna merah dan berambut itu.


"Namanya terlalu panjang, kalian ini tidak tahu apa-apa! ini namanya adalah buah rambutan!"


"Ya sudah, lagipula aku tidak mempedulikan namanya," kata Ziruko.


"Oh iya Ziruko, kamu tadi merenggut ciuman pertamaku."


"Apa maksudmu, Kagura?"


"Saat membuka cangkangnya tadi kan aku menggigit, jadi secara tidak langsung itu disebut ciuman, kan?"


"Sudah-sudah mari kita lanjutkan perjalanan, kalian terlalu banyak ngomong. Bikin bosan orang yang lihat saja!" kata Mizu.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Mereka terus menyusuri hutan yang lebat dan hening ini.


Di dalam keheningan malam tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seorang perempuan. Suara itu terdengar seperti meminta tolong.


"Ini sama seperti saat aku pertama kali bertemu dengan Azalea," kata Ziruko.


"Sudah lupakan saja, yang pasti kita harus pergi ke asal suara itu," kata Irina.


Mereka pun berlari menuju kearah suara itu berasal. Tiba-tiba muncul asap dari tempat yang mereka tuju.


"Sepertinya sedang terjadi pertarungan, kita harus cepat!" kata Ziruko.


Tidak lama kemudian mereka sampai di lokasi asap itu berasal. Ternyata terjadi kebakaran hebat. Anehnya apinya berwarna biru.


Terlihat ada seorang laki-laki yang memiliki telinga serigala, dan perempuan yang memiliki telinga rubah sedang bertarung. Tapi, sepertinya perempuan itu semakin terdesak.


"Apa yang harus kita lakukan, Ziruko? siapa yang ingin kamu selamatkan? kita harus memihak yang mana?" tanya Kagura.


"Tentu saja, kita akan memihak pada perempuan itu. Laki-laki itu tidak mempunyai keberanian, beraninya hanya melawan perempuan saja."


"Kamu itu memang secara alami menjadi idaman para perempuan, Ziruko," kata Kagura.

__ADS_1


__ADS_2