
Perempuan itu berlari lagi menuju reruntuhan. Ketika dia sampai di depan reruntuhan dia membalikkan badannya, dan melihat kearah Ziruko.
"Kamu siapa?"
"...."
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
"...."
"Kenapa kamu tidak menjawabku? gak enak tau dicuekin itu."
"Apa nama kamu Ziruko?"
"Kenapa kamu bisa tahu namaku?"
"Bisakah kamu berhenti bertanya padaku, aku tidak suka hal itu. Aku merasa seperti sedang diinterogasi.
"Baiklah."
"Dan juga sebenarnya kamu itu jahat sekali."
"Kenapa kamu memanggilku jahat?"
"Bukannya kamu tidak akan bertanya padaku lagi."
"Maaf..."
"Baiklah aku akan menjawabnya, aku merasa kesal, kenapa kamu bisa melupakan teman masa kecilmu???"
"Teman masa kecil???"
"Kamu memang Ziruko, dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Kamu tidak peka!!!"
Ziruko mencoba mengingat nama-nama orang yang pernah bermain dengannya pada saat masih kecil. Yang dia ingat teman perempuan di masa lalunya hanya ada satu.
Perempuan yang Ziruko ingat sangat menyebalkan, dia adalah perempuan egois yang ingin semua keinginannya terpenuhi. Tidak salah lagi, perempuan yang ada di hadapan Ziruko sekarang adalah teman masa kecilnya.
"Sekarang aku sudah ingat."
"Benarkah??? kalau begitu, sebutkan namaku!"
"Senang bertemu denganmu kembali... Mizu."
"Akhirnya kamu ingat juga denganku. Kenapa kamu bisa melupakanmu? bukannya kamu suka padaku."
"Ingat Mizu aku tidak suka padamu."
"Terus kenapa kamu melupakanku???"
"Soalnya kamu begitu banyak berubah, terutama dari gaya rambutmu. Dan juga kamu memakai kacamata sekarang. Jelas-jelas kamu seperti orang lain."
"Oh begitu ya, kalau begitu sih tidak apa-apa."
"Kamu ini cepat berubah, tadi marah sekarang sudah tidak marah lagi. Aku bingung dengan apa yang kamu pikirkan."
"Ngomong-ngomong, tidak terasa ya sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu."
"Ya, waktu berlalu begitu cepat. Ada perlu apa kamu datang menemuiku?"
"Kamu terlalu formal. Ngomongnya seperti biasa saja Ziruko."
"Bukannya kamu yang ngomongnya terlalu formal."
"Lantas kamu datang menemuiku karena hal apa???"
"Aku datang menemuimu untuk berbagi takdir denganmu."
"Apa maksudmu?"
"Aku membawakan takdirmu."
"Kalau kamu yang ngomong, bikin aku salah paham. Yang kamu maksud takdir itu apa?"
"Aku mendapatkan takdirmu saat aku pergi ke tempat tinggalmu. Tapi saat aku tiba disana, kamu tidak ada disana."
"Itu karena aku sudah pergi dari situ. Lalu, apa yang kamu lakukan setelah itu???"
"Setelah itu, aku bertemu dengan ayahmu. Dia menitipkan takdirmu kepadaku."
"Jadi kamu datang karena ayahku menyuruhmu untuk menemaniku???"
__ADS_1
"Ya, kira-kira seperti itu. Setelah itu aku mendengar ada seseorang yang mengalahkan Raja Ogre. Aku yakin orang itu adalah kamu, Ziruko. Lalu aku langsung mencarimu, dan tadi siang aku berhasil menemukanmu."
"Oh jadi begitu ya. Lalu kenapa kamu malah melakukan percobaan pembunuhan padaku?"
"Kapan ya, aku tidak ingat."
"Jangan pura-pura lupa, tadi siang di reruntuhan kamu menyerangku."
"Aku hanya mengetes tingkat kewaspadaanmu."
"Bagaimana kalau aku mati. Apa kamu akan bertanggung jawab???"
"Aku yakin kamu itu orang yang peka, jadi aku akan bertanggung jawab menjadi istrimu."
"Bukan itu maksudku, kamu sama sekali tidak mengerti."
"Yang penting aku akan menjadi istrimu."
"Percaya diri sekali kamu. Sudahlah lupakan saja, sekarang kamu tinggal dimana?"
"Aku tidak tinggal menetap, aku hanya bepergian terus."
"Apa kamu sudah istirahat???"
"Terimakasih atas perhatiannya. Tentu saja aku sudah beristirahat, aku harus memastikan aku tidak mempunyai mata panda. Jika aku mempunyainya mungkin kamu tidak akan suka padaku."
"Kalau begitu, apa kamu mau ikut ke penginapan bersamaku?"
"Meskipun kamu tak menanyakannya padaku, aku akan tetap ikut bersamamu."
Setelah itu Ziruko mengajak Mizu menuju penginapannya.
Ziruko mengetuk pintu ruangannya di penginapan. Tapi tidak kunjung dibuka oleh Azalea. Bisa saja Azalea sedang tertidur pulas.
Jika tidak kunjung dibuka juga itu bukan murni kesalah Azalea. Hal ini juga bisa terjadi karena Ziruko tidak berpamitan dulu saat mau pergi keluar.
Sedangkan itu, Azalea yang sedang tertidur pulas dikagetkan oleh suara ketukan pintu. Dia penasaran dengan orang yang mengetuk pintu itu. Karena itu, dia keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk bicara dengan Ziruko soal permasalahan ini.
"Sepertinya pintu kamar Ziruko masih terkunci. Berarti sekarang dia sedang tidur dengan pulas."
Setelah itu Azalea mendengar ketukan pintu lagi. Ia langsung menghampiri pintu itu, tapi ia tidak langsung membuka pintunya.
"Ini aku Ziruko."
"Apa buktinya kalau kamu itu Ziruko?"
"Bukti ya... tunggu, aku pikir dulu."
Beberapa saat kemudian Ziruko pun langsung mengatakan buktinya.
"Tadi sore kamu memanggilku sayang, kan???"
"Apa!!! silakan masuk."
Karena Azalea sudah mendapatkan bukti, ia langsung membukakan pintunya. Azalea terkejut melihat Ziruko pulang dengan seorang perempuan.
"Ziruko ada apa ini?"
"Tidak ada apa-apa."
"Lalu siapa orang yang bersamamu?"
"Dia Mizu."
"Kenapa kamu keluar malam-malam dengan seorang perempuan???"
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya."
Mizu juga terlihat sangat heran, karena Ziruko tinggal bersama seorang perempuan cantik. Ziruko sadar akan hal ini, dia mencoba membisikkan penjelasaanya kepada Mizu. Tapi, Azalea memotong pembicaraan kami.
"Kalian sedang berbisik-bisik apa???"
"Bukan apa-apa kok."
"Mizu, kenapa kamu bersama Ziruko malam-malam?"
"Aku datang kesini karena aku membawakan takdir untuknya."
"Takdir apa maksudmu?"
"Oh jadi Ziruko sudah mempunyai kamu ya? Tapi tidak apa, aku tidak keberatan menjadi yang kedua juga."
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kamu katakan, Mizu?"
"Mulai sekarang aku akan tidur dengan Ziruko."
"Tidak boleh!!!"
"Kenapa??? apa kamu cemburu???"
"Tentu saja.... b-bukan itu maksudku."
"Jadi kamu belum pernah tidur dengan Ziruko ya. Berarti aku akan menjadi yang pertama."
"Pokoknya tidak boleh!!!"
Ziruko hanya melihat pertengkaran mereka berdua. Tapi jika dibiarkan terus ini akan menjadi sangat lama sekali.
"Mizu, berhentilah membuat Aza salah paham."
"Tapi kan, aku memang akan tidur bersamamu Ziruko!"
"Jangan bermimpi Mizu! Kamu tidur dengan Aza saja."
"Jahat! Ziruko jahat!!!"
"Oh iya Mizu, perkenalkan nama perempuan ini adalah Azalea."
"Aku sudah tahu kok."
Setelah itu Ziruko pergi menuju kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
“Gawat! Pintu kamarnya dikunci dari dalam.”
Terpaksa dia harus masuk ke kamarnya lewat jendela. Ziruko membukakan kunci pintu kamar, untuk berjaga-jaga saja. Dia langsung menarik selimutnya, tapi tiba-tiba Mizu masuk ke kamarnya.
Mizu menarik-narik jubah yang dipakainya.
"Mizu!!! apa yang kamu lakukan??? kamu tidak boleh berganti pakaian disini!!!"
"Bukannya aku sudah bilang kalau aku akan memberikanmu takdirmu. Kalau begitu lepaskan jubahku, aku sedikit kesulitan."
"Tapi, apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya ingin membuka jubah ini."
"Ya, kenapa kamu melakukan ini Mizu!!!"
"Tenang saja, aku masih mengenakan pakaian dibalik jubah ini. Apa kamu membayangkan aku tidak memakai baju, Ziruko."
“Tentu saja tidak, Mizu.”
“Sepertinya kamu terlihat kecewa.”
Lalu Ziruko bertanya tentang takdir yang selalu Mizu katakan. Lalu Mizu meminta tolong kepada Ziruko untuk melepaskan jubahnya. Ziruko langsung melepaskan jubah Mizu, tanpa memikirkan hal-hal yang aneh.
"Jadi apa yang kamu maksud dengan takdir itu?"
"Apa kamu tidak melihatnya???"
"Melihat apa?"
"Lihat punggungku!"
Ziruko melihat ke punggung Mizu, dan ternyata dia membawa pedang milik Ziruko yang sangat berharga. Mizu pun langsung memberikan pedang yang dibawanya kepada Ziruko.
“Aku membawakan pedangmu."
"Pedang ini."
"Ya, kata ayahmu ini adalah pedang yang sering kamu banggakan."
"Terimakasih Mizu."
"Santai saja. Karena aku sudah membawakan pedangmu, sekarang aku punya satu permintaan."
"Permintaan apa?"
"Aku ingin tidur bersamamu."
"Tentu saja tidak boleh!!! cepat tidur saja dengan Azalea!"
Setelah itu Mizu keluar dari kamar Ziruko. Ziruko akan mencoba pedang kebanggaannya inj besok. Untuk sekarang yang dia inginkan hanya tidur.
__ADS_1