Legenda Arcana

Legenda Arcana
Takdir Seorang Pahlawan


__ADS_3

Mizu terus menjelajahi labirin bersama Riz. Dia tidak pernah menyangka kalau dia akan bertemu dengan Riz di tempat ini. Meskipun mereka terakhir kali bertemu beberapa minggu yang lalu.


Waktu dulu, Mizu, Ziruko, dan Riz sering bermain bersama. Mizu merasa senang, sampai-sampai dia merasa seperti kembali ke masa-masa yang menyenangkan itu.


Tapi, Mizu masih belum mengetahui alasan Riz menemuinya. Apakah ada suatu hal yang terjadi, yang pasti dia harus bertanya langsung kepada Riz.


"Riz sebenarnya apa tujuanmu datang kesini?"


"Karena apa ya, aku hanya melakukan sesuatu sesuai dengan instingku. Mungkin ini adalah sesuatu yang dinamakan takdir."


"Takdir apa?"


"Takdir seorang pahlawan."


"Ternyata kamu juga datang karena hal itu ya."


"Ya benar Mizu."


"Perempuan itu yang berbicara tentang takdir seorang pahlawan."


"Tapi, entah kenapa aku bisa lupa namanya."


Mizu mulai mengenang kisah-kisah menyenangkan bersama dengan Ziruko, Riz, dan seorang perempuan yang dia lupa namanya pada saat sepuluh tahun yang lalu.


Saat itu adalah saat pertama kali Ziruko datang ke rumah familia Mizu. Mereka sering bermain bersama di alun-alun kota.


Lama-lama kelamaan Ziruko sering kabur dari rumahnya agar bisa main dengan Mizu.


"Ziruko, kamu kabur dari rumah lagi ya?"


"Ya, habisnya aku bosan disana. Mereka selalu membanding-bandingkan aku dan kakakku."


"Siapa yang mengejekmu, Ziruko?"


"Seperti biasa, orangnya sama."


"Apakah yang bicara seperti itu adalah kakekmu?"


"Ya, kamu benar Mizu."


Beberapa saat setelah itu, Riz pun datang dan berbicara dengan Ziruko.


"Yo, kita bertemu lagi Ziruko."


"Padahal baru kemarin kita bertemu, kamu terlihat seperti kesepian karena kita berpisah."


"Ya, nggak gitu juga."


Ziruko terlihat sangat akrab dengan Riz. Tapi, sepertinya kalau mengobrol terus dia akan merasa bosan.


"Aku sangat bosan, aku datang kesini bukan untuk mengobrol. Aku datang kesini untuk pergi bersama kalian."


"Tapi, kita akan bermain apa? dan juga kita mainnya mau dimana?"


"Menentukan hal itu adalah sesuatu yang sulit, Mizu."


Setelah beberapa saat mereka berpikir, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bermain di alun-alun kota seperti biasanya. Tidak ada hal yang menarik, ini seperti biasanya. Mereka hanya berjalan-jalan sambil bercerita.


Saat mereka sedang berjalan-jalan, tanpa sengaja mereka mendengar suara isak tangis yang kemungkinan berasal dari seorang perempuan.

__ADS_1


Awalnya mereka mengabaikannya, tapi karena tidak tahan dengan suara tangisannya yang semakin kencang, Ziruko langsung berlari menuju ke arah suara itu berasal. Mizu dan Riz mengikutinya berlari dibelakangnya.


Ternyata benar, suara tangisan itu berasal dari seorang perempuan. Tanpa pikir panjang, Ziruko langsung mencoba untuk menghibur perempuan itu.


"Kenapa kamu menangis?"


Perempuan itu tidak kunjung menjawab. Ziruko pun mengulangi pertanyaannya berkali-kali.


Namun, tidak ada jawaban dari perempuan itu. Ziruko mulai kesal melihatnya, ia pun langsung menampar pipi si perempuan itu.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?"


Perempuan itu mencoba untuk menahan tangisnya.


"Jika ada orang yang bertanya padamu, kamu harus menjawabnya."


Perempuan itu akhirnya menjawab tapi dengan diiringi isakan tangisnya.


"Kamu mau bertanya apa?"


Ziruko pun kembali bertanya padanya.


"Apa alasanmu menangis, jika kamu menangis terus aku tidak bisa tahu alasanmu menangis!"


"Tolong aku!"


"Memangnya apa yang terjadi?"


"Ayahku tak menginginkan aku."


"Apa maksudmu?"


"Ayahmu tega sekali padamu, aku akan mencoba untuk berbicara padanya."


"Sebaiknya jangan, dia tidak akan mendengarkan perkataanmu. Dia hanya menginginkan anak laki-laki."


"Meskipun begitu, aku akan tetap pergi kesana. Tunggu dulu, siapa namamu?"


"Namaku ******"


"Kalau begitu, ****** ayo kita pergi bersama-sama."


Setelah itu perempuan itu, memegang tangan Ziruko dan mengajaknya untuk berkenalan.


"Namaku ******, senang berkenalan denganmu. Lalu, siapa namamu?"


"Namaku adalah Ziruko. Panggil saja aku Ziruko."


Ia pun tersenyum, Ziruko terlihat senang melihatnya tersenyum. Karena senyumannya yang manis itu, Mizu pun ikut tersenyum.


Untuk pergi ketempat orang tua ******, mereka harus melewati hutan. Tidak ada yang dipikirkan oleh kami selain masuk kedalam hutan.


Di hutan ****** diterkam oleh seekor harimau. Tapi untungnya, Ziruko sempat menendang harimau itu sebelum menggigit ******.


Harimau itu terhantam oleh tendangan Ziruko. Namun, harimau itu tidak mudah dikalahkan. Ia bangkit lagi, dan menatap tajam kepada Ziruko.


Harimau itu menerkam Ziruko. Ziruko bisa menghindar tapi kepalanya terbentur kepada batu, hal itu membuat darah keluar dari kepalanya.


Mizu merasa khawatir kepada Ziruko. Aku pun membujuk Ziruko untuk lari. Namun, Ziruko melanjutkan pertarungannya dengan harimau.

__ADS_1


"Ziruko, ayo kita lari saja."


"Tidak bisa!!! mana ada seorang pahlawan yang berlari dari musuh."


"Bukan begitu Ziruko! jika kamu mati disini kamu tidak akan bisa menjadi pahlawan."


"Tapi jika aku berhasil mengalahkannya, aku bisa menjadi pahlawan kalian."


"Meskipun kamu tidak mengalahkannya kamu tetap menjadi pahlawan kita semua."


"Kenapa kau berkata begitu? apa ada buktinya?"


"Kamu tadi sudah menyelamatkan ****** dari terkaman harimau."


"Tapi, aku akan tetap mengalahkannya."


Ziruko pun memukul harimau itu keras-keras. Harimau itu terbentur ke pohon.


Sang harimau pun menatap Ziruko kembali. Ziruko yang terlihat kesakitan, mempersiapkan pukulan selanjutnya.


Namun, tidak disangka ternyata harimau itu malah lari menjauhi Ziruko.


Melihat Ziruko berhasil mengusir harimau itu, ****** meneriakkan nama Ziruko. Ia terlihat sangat bahagia.


Setelah itu ia mengatakan suatu hal yang membuat aku dan Riz menemui Ziruko.


"Woahh, Ziruko kamu hebat sekali! Mulai sekarang kamu akan menjadi pahlawan pribadiku. Dan tenang saja aku akan selalu ada di sampingmu."


"Terimakasih, ******"


"Aku menginginkan kamu menjadi seorang kaisar. Jika kamu sudah menjadi orang yang kuat, dan sudah mengalahkan orang yang kuat. Kita akan bertemu kembali."


"Baiklah."


"Jika begitu, kita semua berjanji ya. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Jangan pernah lupa dengan janji ini. Karena ini adalah takdir seorang pahlawan."


Mizu tersenyum dengan kenangannya di masa lalu. Sekarang mereka akan berkumpul lagi untuk memenuhi janji seorang anak kecil. JelasJelas sekali perkataannya terdengar seperti orang dewasa.


Setelah menceritakan hal itu, Riz pun berbicara kepada Mizu.


"Sepertinya sudah sangat lama ya sejak hari itu, Mizu. Anehnya aku juga tidak mengingat nama perempuan itu. Sebenarnya itu tujuanku ingin menemui Ziruko."


"Ya, aku pun menemui Ziruko karena hal itu. Hebat sekali ia berhasil mengalahkan Raja Ogre dengan sekali pukul."


"Sepertinya sekarang dia sudah menjadi seseorang yang sangat kuat."


"Kamu benar Riz. Namun, sifat keras kepalanya tidak hilang."


"Begitu ya. Aku jadi ingin melihat pertarungan dia. Seperti saat dia mengalahkan harimau."


"Wkwkwkwkwk."


"Setelah bertemu Ziruko, kita tinggal mencari perempuan itu."


"Aneh sekali padahal perempuan itu yang membuat janji, tapi kenapa dia malah yang terakhir ikut berkumpul."


"Ya benar Mizu. Saat kita bertemu lagi dengannya, aku ingin menanyakan pada perempuan itu tentang takdir yang ia maksud."


"Sebenarnya aku juga penasaran tentang takdir yang ia maksud."

__ADS_1


"Kita akan tahu, jika kita bertemu dengannya."


__ADS_2