
Ziruko mulai memikirkan ide yang aneh. Dia berpikir kalau naik ke punggung Momo akan lebih cepat.
"Momo, aku mempunyai sebuah ide. Lebih baik jika ki...."
"Lebih baik tidak usah. Apa kamu mau membunuhku? tadi saja aku sudah kesulitan mengangkat kalian bertiga."
Kagura yang sedang berpikir, akhirnya terlihat seperti telah menemukan sebuah ide.
"Berbahagialah kalian semua! aku telah mempunyai penyelesaiannya."
"Penyelesaiannya itu apa?"
"Kita akan membeli perahu."
"Perahu? tapi uangnya dari mana."
"Tenang saja. Setiap kota pasti mempunyai tabungan uang kan. Kita pakai saja dulu tabungan itu. Lagipula mereka kan sedang menjadi es, tidak akan ada yang marah. Kalau mereka nanti bangun mereka juga pasti tidak akan meminta ganti kepada kita."
"Rencana yang hebat, perempuan sombong!" kata Elena.
"Tapi kan itu tetap bukan uang milik kita. Berarti kita sama saja dengan mencuri dong," komentar Irina.
"Kalau kita tidak menggunakan uangnya mereka akan tetap menjadi patung es, kan? jadi intinya kita melakukan ini untuk mereka juga."
"Aku setuju," kata Mizu.
"Jadi keputusannya ada di Ziruko."
"Baiklah Kagura sepertinya cuma cara ini yang bisa kita gunakan di waktu yang singkat ini."
"Kalau begitu ayo kita langsung berangkat!"
Mereka semua pergi ke tempat tetua desa untuk mengambil uang simpanan. Setelah itu mereka semua kecuali Elena, langsung berjalan kearah barat. Diujung barat sana terdapat sebuah pelabuhan bagi para pedagang.
Beberapa jam kemudian mereka sampai ditempat yang dituju. Jika diperkirakan saat ini waktunya hampir menjelang pagi hari.
"Aku capek tiba bisa berjalan lagi," keluh Irina.
"Aku lupa kalau tuan putri itu tidak suka berjalan," sindir Kagura.
"Sudah, sudah, apa kamu mau aku gendong, Irina?"
"Kamu baik sekali, bukannya dari tadi kamu menawarkan tumpangan."
"Dasar curang, harusnya aku yang disana!" teriak Kagura.
"Kita harus bergegas, sebelum kekaisaran menyadari rencana kita," kata Mizu.
Terlihat ada seorang laki-laki yang sedang membawa ikan besar di punggungnya melintas di depan mata mereka.
"Oyy~, nelayan ikan!" teriak Ziruko.
Nelayan itu pun langsung berbalik dan menghampiri Ziruko.
"Hee~ ada apa? apa kamu perlu bantuan?"
"Aku ingin bertanya apa disini ada yang menjual perahu?"
"Coba saja pergi ke pelabuhannya, tanyakan saja pada orang-orang yang sedang berdiri disana."
"Terimakasih paman."
"Tidak masalah."
Mereka semua langsung berjalan menuju tempat berlabuhnya kapal. Mereka langsung bertanya kepada orang yang ada disitu. Tidak lama, mereka pun menemukan apa yang mereka cari.
"Paman, apa paman menjual kapal paman?"
"Oh, kamu sedang mencari kapal ya tuan?"
"Iya, paman."
__ADS_1
"Perempuan itu...."
"Ini adalah rekanku, aku adalah seorang petualang."
"Begitu ya, aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat."
"Lupakan saja paman, dia ini tidak begitu penting."
"Tidak begitu penting tapi sampai kau gendong. Seharusnya kamu lebih bersyukur, kamu dikelilingi 3 orang cewek cantik."
"Langsung kembali saja ke intinya paman!"
"Baiklah, tapi berapa penawaranmu?"
"Aku menawarkan, 200 keping emas."
"200 keping emas?!?!"
"Apa tuan sedang bercanda?"
"Apa jumlahnya kurang?"
"Bukan begitu, tapi harga yang tuan ajukan itu terlalu tinggi."
"Tidak apa-apa kami sedang bergegas."
"Kalau begitu akan saya tambahkan beberapa makanan dan minuman untuk persediaan kalian."
"Tolong ya."
Mereka semua naik ke atas kapal dan melihat-lihat sekeliling kapal sambil menunggu paman itu menyiapkan persediaan makan dan minuman.
"Kapalnya lumayan luas juga. Sepertinya ini cocok untuk pelayaran kita," ucap Momo.
"Iya Momo, sepertinya kapasitas kapal ini untuk 25 orang penumpang," kata Ziruko.
Tidak lama kemudian semua persediaan sudah dinaikkan ke atas kapal. Sekarang mereka akan langsung melakukan pelayaran.
"Baiklah ayo kita berangkat!!!" teriak Ziruko.
"Ada apa Mizu?"
"Siapa yang akan menyetir perahu ini?"
"Hmmmmmmmm."
Ziruko mencoba untuk berpikir kritis. Namun ternyata ada satu orang yang sudah berpengalaman mengendarai kapal.
"Berbahagialah kalian karena ada aku disini. Aku sudah sangat berpengalaman menjelajahi dunia. Artinya, aku sudah profesional mengendarai perahu ini," kata Kagura.
"Untung ada Kagura, kalau tidak uang yang kita habiskan akan sia-sia," kata Mizu.
"Baiklah, Mizu turunkan layarnya!!!"
"Kok aku jadi disuruh-suruh sih."
"Cepat turunkan saja layarnya! Ziruko, angkat jangkarnya!"
"Baiklah."
"Semuanya sudah siap, ayo kita berangkat!!!"
"Ayo!!!" teriak semuanya.
Setelah kapal berada di tengah lautan, mereka kemudian bersantai.
"Yosh~ kalau saat ini kita hanya harus bersantai!" kata Ziruko dengan semangat.
"Sepertinya kita butuh tidur, kemarin semalaman kita tidak tidur," kata Momo.
"Baiklah Momo, sepertinya tempat tidurnya ada di balik pintu itu."
__ADS_1
Mereka semua memasuki ruangan itu. Dan ternyata di dalamnya terdapat dua ruangan yang dipisahkan oleh lorong.
"Kalau begitu, aku akan tidur di sebelah kanan," kata Ziruko.
"Berarti perempuan tidur di sebelah kiri," kata Irina.
Mereka semua pun masuk kedalam ruangan yang sudah disepakati. Ziruko yang melihat kasur langsung berbaring diatasnya.
"Akhirnya aku bisa tiduran."
Tiba-tiba ada orang yang membuka pintu ruangan Ziruko. Ternyata yang membuka pintu adalah Mizu. Selain itu yang lainnya pun mengikutinya dari belakang.
"Ziruko, cepat keluar!" teriak Mizu.
"Ada apa Mizu kok teriak-teriak sih."
"Ini adalah kamar para perempuan."
"Bukannya sudah disepakati kalau kamar kalian itu di ruangan yang ada disebelah kiri?"
"Kamu menyuruh kami tidur di kamar mandi?!?!"
"Aku kan tidak tahu itu, kalau begitu silahkan saja kalian pakai kamar ini."
"Terimakasih Ziruko."
"Kalau begitu aku akan tidur di dek kapal saja."
"Baiklah."
Tiba-tiba terdengar suara hujan dari luar. Ziruko pun melihat kearah jendela.
"Yah diluar hujan, tapi sepertinya hujannya tidak disertai angin kencang jadi kapal ini pasti akan tetap stabil."
"Tunggu dulu Ziruko, apa kamu mau tidur di dek kapal?" tanya Kagura.
"Ehh~ benar juga kalau aku tidur disana nanti aku kehujanan."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak tidur disini saja?" kata Kagura.
"Mana mungkin laki-laki dan perempuan tidur bersama!" protes Irina.
"Tapi tidak ada yang keberatan, kan?"
Semuanya diam kecuali Irina yang protes.
"Tidak boleh!!! pokoknya tidak boleh!!!"
"Tidak apa-apa Irina, Ziruko itu laki-laki yang jinak. Dia tidak akan berani menyentuhmu," kata Momo.
Akhirnya Ziruko ditarik oleh Kagura untuk tidur. Namun, pada akhirnya mereka tidak bisa tidur.
"Lebih baik aku keluar saja dari sini! tempat tidur ini terlalu sempit," keluh Ziruko.
"Kalau begitu kita duduk saja," kata Kagura.
"Ya, benar. Lebih baik kita duduk dan bercerita," usul Mizu.
"Aku tidak mengetahui nama lengkap kalian, kita saling berkenalan saja. Nama lengkapku Momo RE. Dragonewth."
"Kalau aku Ziruko RE. Vanargard."
"Tunduklah padaku! aku berasal dari keluarga bangsawan. Namaku Mizu RE. Rosario."
"Jangan sombong dulu, Mizu! peringkat keluargaku lebih atas daripada keluargamu. Namaku adalah Kagura RE. Avabel."
"Avabel katamu???" tanya Mizu.
"Ya sudah kalau tidak percaya," kata Kagura.
"Namaku adalah Irina Rossweiss, putri dari Kekaisaran Rossweild. T-tunggu dulu! Kalian semua itu dari ras iblis???"
__ADS_1
"Kenapa kamu baru menyadarinya?" kata Kagura.
"Aku merasa terancam disini," kata Irina dengan perasaan yang cemas.