
Tidak terasa Ziruko sudah tinggal bersama Momo dan Elena selama satu minggu.
"Ziruko kapan kamu mau pulang!"
"Apa kamu mengusirku Elena?"
"Bukan itu yang kumaksud, apa tidak apa-apa kalau kamu diam terlalu lama disini?"
"Baiklah, aku akan segera pulang."
"Aku serius."
"Kalau tidak sekarang, rencananya akan pulang besok. Tapi sepertinya aku malas untuk kembali ke Desa Rabby."
"Kenapa kamu berpikir seenaknya seperti itu! Pokoknya kamu harus pulang, nanti diantar Momo."
"Jangan begitu! Kalau begitu nanti para penduduk desa akan ketakutan."
"Hoo~ begitu ya. Jadi kamu mau tinggal lebih lama disini. Bagaimana kalau aku menyuruhmu untuk kerja rodi membuat istana untukku."
"Jangan begitu dong. Pokoknya, nanti juga aku pulang."
"Kamu punya mimpi kan? Apa kamu sudah lupa?"
"Kamu benar juga. Aku tidak bisa bersantai terus-terusan disini."
Ziruko langsung mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa.
"Kamu mau bawa kemana barang-barangku!!!"
"Ini teko, aku suka desainnya. Dan ini gelas, desainnya juga bagus aku akan lebih menikmati teh jika aku minum pakai ini. Lalu tempat lilin ini sepertinya mempunyai harga jual yang tinggi."
"Bukan itu maksudku, tapi kenapa kamu membawa pakaian dalam milik Momo."
"Oh ini akan kujadikan kenang-kenangan."
"Apa kamu itu sudah tidak waras ya!!! Atau mungkin kamu itu bego. Mungkin kamu terlalu lama tinggal disini jadi membuat kamu jadi bego!!!"
"Kamu tertipu! Aku cuma bercanda, aku hanya ingin menipumu. Tenang saja aku masih mempunyai akal sehat. Mungkin sampai saat ini."
"Kamu ini sudah mulai berani kepada majikanmu ya."
"Aku bukan anjingmu lagi."
"Oh begitu ya, kalau begitu cepat pergi."
Ziruko membuka lemari Elena untuk menyimpan pakaian milik Momo.
"Ngomong-ngomong Elena, ini jubah milik siapa? Kelihatannya keren banget."
"Itu milik mendiang ayahku."
"Apa aku boleh memintanya."
"Coba saja dulu, kalau cocok akan kuberikan."
"Baiklah, aku jadi semangat lagi."
Ziruko mencoba untuk memakai jubah itu. Setelah itu dia bercermin, dan memegang-megang jubah yang kusut ini.
"Sepertinya aku cocok banget memakai jubah ini, bukan begitu?"
__ADS_1
"Kurasa kamu cocok memakainya."
"Hoo~~ aku jadi terlihat seperti seorang kaisar. Izinkan aku memakainya ya."
"Baiklah, aku akan hadiahkan jubah itu."
"Sekarang aku akan pulang."
"Ternyata kamu tidak mau pulang karena pengen jubah itu."
Ziruko langsung berjalan menuju keluar istana. Elena mengikutinya dari belakang.
"Jadi kamu mau pulang ya. Padahal tinggal saja disini lebih lama lagi."
"Bukannya kamu yang menyuruhku untuk pulang."
"Tenang saja kamu tidak akan merasa kesepian disana."
"Memangnya ada apa?"
"Aku sudah memutuskannya, aku dan Momo akan tinggal bersamamu."
"Kenapa kamu memutuskannya secara sepihak."
"Tenang saja aku tidak akan mengganggumu. Ayo kita naik Momo."
Mereka berdua naik ke punggung Momo yang sedang dalam wujud naga.
"Ayo Momo, tujuan kita sekarang adalah Desa Rabby!"
"Tenang saja kita akan sampai dalam kurun waktu sekitar 45 menit."
"Dibandingkan jalan kaki yang memerlukan waktu seharian."
"Emang benar juga sih. Momo apa kamu mau tinggal denganku?"
"Apa maksudmu membuat rumah tangga?"
"Bukan itu yang kumaksud. Yang aku maksud itu, kita akan menjadi rekan untuk membangun kekaisaranku."
"Menjadi kaisar itu pasti akan sulit. Apa kamu tidak ingin mencari mimpi yang lain?"
"Tidak, dari kecil impianku adalah menjadi seorang kaisar. Aku akan mewujudkannya dulu sebelum mencari mimpi yang lainnya."
Tidak lama kemudian, Desa Rabby pun mulai terlihat. Ziruko lupa kalau dia sudah mengubah namanya menjadi Kota Ragorick.
"Aku baru saja ingat, kalau nama tempat ini bukan Desa Rabby tapi menjadi Kota Ragorick."
"Siapa yang mengizinkanmu mengubah nama tempat ini."
"Tetua desa yang memberikan izinnya, Elena. Sepertinya pembangunannya sudah selesai, tapi banyak sekali orang yang memakai baju zirah. Momo kita turun disini saja!"
Melihat naga mendarat, semua orang yang berada di kota terlihat panik. Namun rasa paniknya hilang ketika mereka melihat Ziruko yang sedang menunggangi naga tersebut.
Kemudian, Ziruko dan Elena turun dari naga itu. Sedangkan Momo berubah wujud menjadi manusia. Lalu ada seseorang yang memakai zirah lari kearah Ziruko dan menanyakan apa yang terjadi.
Para penduduk dengan serentak menjawab, "Dia adalah ketua kami, Tuan Ziruko."
Lalu laki-laki yang memakai zirah itu berlutut kepada Ziruko.
"Saya adalah prajurit dari kekaisaran. Saya berada di bawah pimpinan Nona Violet. Maaf atas kelancangan kami karena menginjakkan kaki di wilayah anda tanpa ada izin dari anda."
__ADS_1
"Baiklah angkat kepalamu."
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang berbicara.
"Tidak perlu merendah! Dia hanya orang biasa yang mendirikan sebuah kota yang menyerupai kerajaan tanpa ada izin dari kekaisaran."
Ziruko mulai sedikit gemetar, dia takut kalau kekaisaran akan mendeklarasikan perang. Jika keadaannya seperti ini, tidak mungkin bagi Ziruko untuk menang melawan kekaisaran.
"Maaf sebelumnya karena aku belum memperkenalkan diriku. Perkenalkan aku adalah Jendral Tertinggi Kekaisaran Rossweild, Violet La Valliere."
Ziruko mengingat kalau nama Violet adalah nama dari anak kaisar. Tapi dia tidak tahu alasan kenapa nama marganya La Valliere.
"Namaku Ziruko RE. Vanargard."
"Sial! Kenapa RE ada disini."
"Tenang dulu, aku juga ada disini. Namaku Momo RE. Dragonewth." Jawab Momo.
Violet terlihat semakin kesal.
"Sepertinya ini tidak akan berlanjut dengan baik."
"Maaf kalau lancang, kalau tidak salah kamu itu putri dari sang kaisar kan?"
"Benar sekali!"
"Tapi, kenapa marga milikmu La Valliere?"
"Aku menggunakan marga milik ibuku. Tidak usah menanyakan detailnya!"
Rasa gemetar Ziruko perlahan mulai menghilang karena ternyata Violet bisa diajak bicara.
"Kita bicarakan urusanmu ditempat lain. Jangan disini! Ini masalah yang bersangkutan dengan kekaisaran bukan?"
Ziruko mengajak Violet untuk masuk ke tempat tetua desa dengan dikawal oleh Momo dan Elena.
Tempat tetua desa sudah direnovasi. Di pintu masuk, terlihat ada Tred. Dan dia menyapa Ziruko.
Di tangga ada Lili dan tetua desa mereka juga menyapa Ziruko. Elena terkejut melihat Ziruko begitu dihormati. Setelah itu mereka masuk kedalam ruangan yang berada tepat di atas tangga.
"Baiklah kita bicarakan disini, silahkan duduk Violet."
Violet pun duduk di kursi. Dia terlihat sedikit marah. Entah kenapa dia menunjukkan muka yang seperti itu.
"Jadi, ada perlu apa kamu kesini?"
"Kamu bisa bicara santai seperti ini! Harusnya disini aku yang mengintrogasi kamu!"
"Baiklah, aku akan diam dan menjawab semua yang ku tahu."
"Jadi, apa alasanmu membangun kota ini?"
"Ini semua karena aku ingin membangun kembali Desa Rabby yang saat itu sudah hancur."
"Pertanyaan kedua, kenapa para goblin dan penduduk Desa Rabby bisa akur."
"Entahlah, mungkin karena kemauan mereka sendiri. Aku juga tidak begitu mengerti, tapi jika mereka ingin bersatu apa salahnya?"
Violet tidak mengajukan pertanyaan untuk beberapa saat. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian dia berdiri.
"Prajurit! Tangkap dia!"
__ADS_1