
Keadaan semakin memburuk. Ini tidak seperti yang diduga oleh Ziruko.
"Setidaknya tidak akan lebih buruk lagi, benar bukan?"
Setelah itu tiba-tiba terlihat orang berlari dari arah hutan. Tidak lain, orang itu adalah Tred. Dia terlihat terluka.
"Ada apa Tred?"
"Berbahaya, di hutan banyak sekali goblin. Goblin yang ada di hutan berbeda dengan goblin yang biasanya menyerang desa."
"Ada berapa banyak?"
"Ada sekitar lima ribu goblin."
"Lima ribu?"
"Ya."
"Lalu bagaimana dengan pasukanmu?"
"......"
Lili terlihat sangat panik. Dia langsung bertanya kepada Tred.
"Kenapa? apa mereka baik-baik saja? cepat katakan?"
"Maaf, Nona Lili. Mereka sudah dikalahkan."
Ziruko terlihat sedang berpikir serius. Dia memikirkan jalan keluar dari masalah ini.
"Sepertinya kita sudah kalah telak."
"Lalu bagaimana?"
"Tarik semua pasukan. Perintahkan mereka untuk mencari tempat yang aman."
"Tapi, apa semua akan selamat?"
"Untuk saat ini aku perintahkan hal itu! ini lebih baik daripada semua orang jadi korban."
Semua yang ada di dekat Ziruko berlari dengan cepat kearah pasukan yang sedang berperang di medan pertempuran. Ziruko pun ikut berlari menuju lini depan.
Beberapa saat kemudian, Ziruko sampai di medan perang. Dia mencoba untuk berbicara dengan Mizu.
"Kali ini kita kalah telak."
"Kenapa?"
"Ada sekitar lima ribu goblin di hutan."
Mizu yang mendengar hal itu langsung kaget.
"Apa-apaan ini, ini semua tidak seperti yang aku bayangkan."
Azalea datang menghampiri Ziruko.
"Ada apa Ziruko?"
"Ada sekitar lima ribu goblin di hutan."
Mereka semua terdiam mencari cara untuk menyelamatkan semua penduduk Desa Rabby.
"Mungkin ini pilihan terakhir. Bagaimana kalau kita menahan mereka, sedangkan yang lainnya pergi mencari tempat persembunyian."
"Sepertinya tidak ada pilihan lain selain hal itu," jawab Mizu.
"Kita juga harus bisa melarikan diri," Azalea menambahkan perkataan Mizu.
"Kalau begitu kita akan mengawal mereka sampai ke tempat aman?"
"Tapi, tempat aman itu dimana," tanya Mizu.
"Kita harus membawa mereka ke Kota Belerick. Disana terjamin keamanannya."
"Baiklah sepertinya tidak ada pilihan lain."
__ADS_1
Akhirnya mereka mengarahkan mereka untuk berlari menuju Kota Belerick.
"Oh, iya. Dimana Tetua Desa?"
"Nanti aku tanyakan kepada Lili," jawab Azalea.
"Baik, Aza. Berarti kamu yang memimpin mereka. Aku dan Mizu akan mengawal dari belakang."
"Baiklah, Ziruko."
Ziruko dan Mizu mengikuti mereka yang sedang berlari. Banyak goblin yang mengejarnya. Dia belum menyerang para goblin itu.
"Baiklah, Mizu. Kita akan menyerang para goblin itu saat kita sampai di parit."
"Ok, Ziruko."
Tidak lama kemudian mereka sampai di parit.
"Aza aku percayakan mereka padamu!"
"Baiklah, Ziruko. Kalian hati-hati ya."
Ziruko dan Mizu menjawab "ya" dengan serentak.
"Tadinya sih bilang begitu, tapi kita harus bagaimana Mizu."
"Para goblin yang dari hutan sudah mulai bergerak. Kita bisa melihat obornya disini."
"Dan juga para goblin yang tadi mengejar, sudah dekat."
"Jangan lupakan para goblin pemanah yang ada disana."
"Kemungkinan Kepala Suku Goblin membuat aliansi sebelum perang dimulai."
"Ya, tidak ada kemungkinan lain."
"Ziruko!"
"Apa?"
"Aku suka saat kamu sedang serius seperti ini."
"Ziruko!"
Orang yang memanggil Ziruko itu adalah Lili.
"Lili kenapa kamu tidak ikut lari?"
"Jangan bercanda, setelah apa yang mereka lakukan... aku tidak bisa lari begitu saja."
"Baiklah. Tapi kalau mati jangan salahkan aku."
"Kejam sekali perkataanmu itu. Aku tidak akan mati semudah itu. Aku harus menunjukkan jati diriku yang sebenarnya ya?"
"Jati diri?"
Tiba-tiba rambut Lili memanjang. Dan matanya memerah.
"Wow, kamu jadi terlihat seperti iblis."
"Nanti akan aku ceritakan alasannya. Yang lebih penting aku hanya bisa menggunakan wujud ini pada malam hari saja."
"Seperti werewolf ya."
"Ini sedikit berbeda. Yang lebih penting, sekarang aku juga bisa ikut bertarung."
"Jangan memaksakan diri ya."
Para goblin itu sekarang berada di hadapan mereka bertiga. Ziruko bersiap-siap mengumpulkan energinya.
Mizu langsung menggunakan "Water Wall" Ziruko dan Lili maju kedepan. Mereka hanya mengandalkan kekuatan fisik.
Ziruko dan Lili terlihat santai di medan perang, sampai-sampai mereka bisa bertarung sambil berbicara.
"Kamu hebat juga ya, Lili."
__ADS_1
"Jangan remehkan aku."
"Kalau kamu sekuat ini, kenapa kamu tidak menyerang para goblin itu sendirian."
"Maaf saja, aku tidak akan melakukan hal sembrono. Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku di masa depan nanti."
"Bagaimana kalau aku menawarkan kamu untuk ikut denganku berpetualang?"
"Sepertinya untuk saat ini aku tidak bisa."
Jawaban Lili adalah jawaban yang diharapkan oleh Ziruko.
"Untunglah, kamu itu orang yang bertanggung jawab."
"Jangan memujiku. Aku tidak sekuat kamu, ataupun Mizu. Kalau dengan Azalea mungkin aku lebih kuat."
"Oh iya, ngomong-ngomong apa kamu tadi sudah bertemu dengan Azalea?"
"Belum."
"Gawat!!!"
"Kenapa?"
"Tadi aku menyuruhnya untuk menemuimu dan mencari tahu tempat Tetua Desa berdiam."
"Untuk apa?"
"Tetua Desa kan sedang tidak enak badan. Aku menyuruh Azalea untuk menjemputnya."
"Tapi kakekku tidak selemah itu."
"Apa dia bisa berubah sepertimu?"
"Tidak. Dia tidak bisa, hanya saja dia yang mengajariku cara bertarung. Sampai beberapa hari yang lalu, dia masih menyempatkan waktu untuk melatih diriku. Dan dia terlihat segar bugar."
"Kamu bisa sepercaya itu ya."
"Ya. Kamu harus mencoba untuk lebih percaya."
Beberapa lama kemudian, anak panah mulai berjatuhan lagi dari langit.
"Sial!"
"Menyebalkan."
Tiga puluh menit sudah berlalu. Ziruko sudah mulai kelelahan. Mizu dan Lili juga terlihat sudah kelelahan.
Terlihat dari jauh Kepala Suku Goblin yang duduk di atas singgasana yang diangkat oleh bawahannya.
Kepala Suku Goblin menunjukkan simbolnya. Diatasnya ada simbol yang berbentuk seperti kepala goblin berwarna hijau.
Simbol seperti itu hanya bisa didapatkan oleh pemimpin yang dipercayai oleh penduduknya. Tapi bukan itu saja syaratnya, biasanya simbol itu didapatkan saat pemimpin itu memberikan suatu pencapaian besar.
Jika diibaratkan simbol seperti itu adalah simbol kerajaan. Biasanya simbol kekaisaran adalah gabungan dari simbol kerajaan yang ada dibawah kekuasaannya.
Setelah simbol itu dikeluarkan. Para goblin berhenti menyerang. Kepala Suku Goblin itu turun dari singgasananya.
"Menurutmu bagaimana, Liliana de Rabby no Luca?"
"Bagaimana apanya? ini sudah diluar kendali namanya."
"Jadi kamu kesal ya?"
"Tidak juga. Hanya saja cara seperti ini adalah cara seorang pecundang."
"Menurutku aku bertarung dengan adil."
"Adil sih adil. Aku tidak menyangkalnya. Tapi, mengerahkan seluruh pasukanmu untuk melawan rakyat Desa Rabby yang jumlahnya hanya sedikit itu, adalah sesuatu yang berlebihan. Jadi, aku menyebutmu pecundang."
"Baiklah, kali ini akan kubebaskan kalian. Tapi, jangan senang dulu. Aku akan menyerang kalian lagi. Tapi, aku akan memberimu waktu dua hari untuk mengumpulkan pasukan. Setelah itu aku akan menyerang kalian lagi."
"Apa kamu tidak akan menyesal?"
"Tenang saja aku tidak akan menyesal. Aku ingin bertarung dengan kalian dengan adil. Tujuan pengungsian kalian itu Kota Belerick, kan? Kami akan menyerang kesana saat waktu yang telah ditentukan tiba."
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan warga yang ada disana?"
"Aku tidak akan mempedulikannya. Artinya, jika kalian mundur seluruh Kota akan hancur. Soalnya aku sangat percaya diri dengan kekuatanku dan pasukanku. Silakan persiapkan akhir yang kamu cari!!!"