Legenda Arcana

Legenda Arcana
Perempuan itu Bernama Azalea


__ADS_3

Suara teriakan seorang perempuan, itu termasuk hal yang Ziruko pikir menarik perhatiannya. Mungkin saja perempuan itu adalah seorang putri cantik yang sedang dikejar oleh para ogre. Jika benar begitu, Ziruko tidak perlu mencari kebenaran tentang ogre lagi dan juga dia bisa menjadi pahlawan di mata sang putri.


Ziruko berhenti berlari sejenak, untuk memikirkan arah datangnya suara teriakan tadi.


"Kira-kira dari mana ya suara teriakan itu. Sepertinya berasal dari sebelah barat."


Setelah memutuskannya, Ziruko terus berlari menuju kearah barat. Namun, dia belum juga menemukan seorang perempuan yang berteriak tadi. Dia diam sejenak lagi untuk membayangkan arah datangnya suara teriakan tadi.


Meskipun dia terus membayangkannya, dia tetap yakin kalau suaranya itu berasal dari sebelah barat. Akhirnya dia berlari lagi menuju kearah barat.


Ternyata perkiraan Ziruko tidak salah. Tidak lama setelah aku berlari, aku berhasil menemukan seorang perempuan yang sedang berlari menuju kearahku.


Perempuan itu sangat cantik. Rambutnya pirang, bola matanya berwarna biru, postur tubuhnya sangat pas, dan dia menggunakan baju berwarna merah terang.


Ziruko langsung berteriak, dan menawarkan bantuan padanya.


"Hey~ perempuan yang disana, apa kamu butuh bantuan?"


"Jelas perlulah! aku sedang dikejar oleh monster mengerikan yang gendut ini, laki-laki macam apa yang membiarkan seorang perempuan kesusahan."


"Mereka itu bukan monster tau, mereka semua itu adalah ogre. Mungkin mereka naksir sama kamu, habisnya menurutku kamu memiliki wajah yang cantik."


"Mana mungkin dia mengejarku karena hal itu... yang pasti, cepat tolong aku!!!"


"Tapi ada syaratnya..."


"Nanti saja kita bicarakan syaratnya. Yang penting, sekarang kamu selamatkan aku dulu."


Tidak lama kemudian, perempuan itu sudah ada di hadapan Ziruko. Lalu, perempuan itu tiba-tiba melompat kearah Ziruko dan bersembunyi di belakang punggungnya.


"Kenapa kamu malah bersembunyi di belakangku?"


"Kamu itu kan seorang laki-laki, laki-laki itu harus melindungi seorang perempuan. Jadi lindungi aku!!!"


"Entah kenapa aku berpikir kalau aku malah jadi seperti seorang budak yang harus mengikuti perkataan majikannya."


“Kamu mikirnya kejauhan… yang pasti cepat kalahkan ogre itu.”


Tanpa berkata-kata ogre itu langsung memukulkan mace miliknya kearah Ziruko. Tapi, Ziruko bisa menghindarinya. Mace adalah senjata seperti bat yang terbuat dari kayu dan dipenuhi duri-duri.


Setelah itu, Ziruko langsung mengeluarkan 'pisau yang panjang' yang dibeli oleh Ziruko tadi. Dia berharap senjata ini bisa digunakan untuk menebas ogre.


"Untunglah kamu membawa senjata..."


"Pastilah, mana mungkin aku nekat melawan para ogre itu dengan tangan kosong. Itu sama saja seperti bunuh diri."


"Tapi kenapa senjatamu pendek ya? jadi kurang meyakinkan."


"Senjata seperti ini juga sudah cukup untuk mengalahkan para ogre, Setidaknya... aku masih mempunyai senjata."


Ogre yang berada di hadapan Ziruko kembali memukulkan mace miliknya, Ziruko langsung mendorong perempuan itu. Tapi, akibatnya malah Ziruko yang terkena mace milik ogre itu dan dia terhempas menabrak sebuah pohon.


Ziruko langsung berdiri, dan melihat kearah belakang dari ogre yang menyerang mereka berdua. Dari jauh terlihat ada banyak ogre yang sedang berjalan menuju kesini. Hal ini membuat kesempatan menang bagi Ziruko menjadi 5% saja.


Daripada mati, Ziruko lebih memilih untuk melarikan diri dari situasi ini.


"Ini semua diluar dugaanku... ayo kita lari saja."


"Lari? kenapa? apa kau takut kepada mereka???"


"Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin mati sia-sia disini. Perjalananku masih panjang."


"Tapi~ aku kira kamu itu kuat."


"Sudahlah jangan banyak bicara, ayo cepat lari saja."


"Tapi aku tidak bisa berlari."

__ADS_1


Saat Ziruko berbicara dengan perempuan itu, tanpa diduga ogre itu memukulkan mace miliknya lagi. Serangan yang ini membuat Ziruko dan perempuan itu terjatuh.


"Dasar manusia lemah... inilah akibat dari melawan kami. Ogre itu lebih kuat dari manusia, seharusnya kamu mengetahui itu."


"Berani sekali kamu menghina manusia, ingat saja jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya saja."


"Orang yang lemah, cukup diam saja. Seharusnya kalian tidak ada disini, itu seperti bunuh diri saja. Setelah teman-teman kami sampai disini. Kalian berdua tidak akan bisa berkutik lagi."


Mendengar ucapan itu membuat Ziruko geram, ogre itu menghilangkan rasa gembira Ziruko karena bertemu dan menyelamatkan seorang perempuan cantik.


“Dasar pecundang! laki-laki macam apa yang berani menyerang seorang perempuan.”


“Hoo~ kamu menantangku ya?”


Ziruko langsung menusukkan pisau yang panjang miliknya ke badan ogre itu. Ogre itu terjatuh, ini kesempatan yang bagus untuk Ziruko melarikan diri dari kondisi ini. Dia harus keluar hutan secepatnya sebelum bala bantuan ogre datang.


Ziruko mengambil senjatanya dan mengajak perempuan itu berlari.


"Ayo cepat kita lari."


"Tidak bisa..."


"Kamu ini sebenarnya kenapa sih???"


Karena perempuan itu diam terus dan tidak bergerak sedikitpun, akhirnya Ziruko memutuskan untuk menggendong dirinya dan langsung berlari sekuat tenaga agar bisa keluar dari hutan ini.


"Turunkan aku! kenapa kamu malah menggendongku?"


"Aku lakukan ini karena kamu nggak mau beranjak dari tempat berdirimu, jika kamu diam disana terus kamu bakalan mati."


"Aku mempunyai alasan untuk hal itu."


"Jelaskan saja hal itu padaku nanti, yang penting kita harus bisa lolos dulu dari hutan ini."


Ziruko terus berlari, dan sepertinya para ogre itu tidak bisa mengejar kecepatan Ziruko. Dia lega karena bisa melihat ujung dari Hutan Ezelic ini. Ziruko langsung menurunkan perempuan itu dari pangkuannya.


"Aku nggak menjadi patung. Aku punya sebuah alasan."


"Heh~ alasan apa itu?"


"Dasar laki-laki tidak peka."


"Maaf saja kalau aku itu gak peka. Tapi, kalau kamu nggak menjelaskan alasannya, ya~ aku tidak akan tahu apa-apa."


Setelah dia mengatakan hal itu, Ziruko melihat tubuh perempuan itu dari atas sampai ke bawah dari kejauhan. Perempuan itu langsung menutupi tubuhnya dengan tangannya.


"Apa yang kamu lihat? Dasar mesum!"


"Oh~ ternyata itu ya yang jadi penyebabnya."


"Apa yang kamu pikirkan, apa aku bukan tipemu?"


"Kenapa kamu malah memikirkan hal itu, yang harus kau pikirkan sekarang adalah tentang kakimu."


"Akhirnya kamu sadar juga, laki-laki gak peka."


Melihat kaki seorang perempuan sedang terluka, Ziruko tidak bisa diam saja. Ziruko langsung mengambil daun, dan mencoba untuk mengobati luka perempuan itu.


“Duduklah di atas batu itu, aku akan mencoba mengobati lukamu."


"Tapi kenapa kamu bisa tahu kakiku sedang terluka, sedangkan lukaku tertutup oleh rokku yang panjang ini?"


"Bukan apa-apa, hanya saja aku mempunyai penglihatan tembus pandang."


Perempuan itu langsung menutupi tubuhnya, sepertinya dia mengira perkataan Ziruko itu benar.


"Dasar laki-laki gak peka yang mesum."

__ADS_1


"Tenang saja, aku itu cuma bohong. Aku hanya bisa mengetahuinya hanya dengan melihat dari caramu berdiri.”


“Dasar laki-laki pembohong yang gak peka dan mesum.”


“Sampai kapan gelarku akan bertambah.”


Perempuan itu tertawa kecil. Setelah itu Ziruko mengobati lukanya dengan dedaunan yang tadi sudah dia ambil. Ziruko memberikan roti bakar kepada perempuan itu.


"Maaf ya baru mengatakannya sekarang, tapi siapa namamu?"


"Menanyakan nama orang lain tanpa menyebutkan nama dirimu sendiri itu adalah suatu tindakan yang tidak sopan tahu."


"Maaf, aku tidak terlalu menjunjung tinggi pelajaran kesopanan para bangsawan. Namaku Ziruko, siapa namamu?"


"Namaku adalah Azalea Ro–"


"Azalearo?"


"Bukan, itu bukan namaku. Panggil saja aku Azalea."


"Hari sudah malam, mau kuantarkan pulang?"


"Tidak usah, sebenarnya aku ini kabur dari rumah. Kalau aku kembali lagi kesana, itu bukan kabur namanya."


"Kabur dari rumah? kenapa?"


"Ceritanya panjang... jika aku menceritakannya butuh waktu berhari-hari. Ziruko apa kamu seorang petualang dari guild?"


"Bukan... aku itu belum kepikiran untuk masuk guild. Dan juga sepertinya aku menikmati berpetualang seperti ini saja. Guild itu merepotkan."


"Aku ingin meminta satu hal. Apa kamu bisa mewujudkannya?"


"Tergantung permintaannya, jika aku bisa mewujudkannya aku tidak akan menolak."


"Apa boleh aku ikut berpetualang bersamamu?"


"Bagaimana ya... petualangan ini sangat berbahaya bagi perempuan cantik."


"Boleh ya..."


Perempuan itu terus memaksa Ziruko, sambil memberikan senyuman yang penuh harapan.


"Baiklah, lagipula aku tidak bisa meninggalkan perempuan cantik seperti kamu berkeliaran malam hari sendirian. Anggap saja ini adalah syarat yang kusebutkan tadi."


"Aza yang ada di punggungmu itu apa? apa itu arcana milikmu?"


"Ya... ini adalah arcana milikku. Jadi jangan khawatirkan aku saat bertarung. Kalau mau khawatir juga tidak apa-apa sih."


"Aku jadi sedikit iri, Aza."


"Iri kenapa?"


"Andai saja aku mempunyai arcana, mungkin saja aku bisa lebih cepat menjadi seorang kaisar."


"Jadi impianmu menjadi seorang kaisar?"


"Ya, Aza."


"Tapi, orang yang mempunyai arcana juga belum tentu bisa menjadi seorang kaisar. Jika kamu membutuhkannya, nanti kita cari saja."


"Benar ya? biasanya arcana terdapat di tempat yang berbahaya."


"Tenang saja aku akan terus ada disisimu."


“Heh? apa ini sebuah pengungkapan perasaan?”


“Jangan salah paham dulu, maksudku untuk bisa berpetualang terus bersamamu.”

__ADS_1


“Baiklah.”


__ADS_2