
Ziruko menemui banyak ruas jalan. Dia membagi-bagi pasukannya lagi. Dan sekarang dia hanya berjalan berdua dengan Azalea.
Mungkin saja keadaan Mizu juga seperti keadaannya. Tapi dia tidak bisa membayangkan Mizu berjalan dengan seorang laki-laki. Kemungkinan besar Mizu memilih untuk berjalan sendiri, itulah yang dia pikirkan.
"Aza, menurutmu bagaimana keadaan yang lainnya?"
"Kalo aku sih percaya pada Mizu. Dia pasti akan selamat.
"Aku tidak bisa terus optimis... tapi sebisa mungkin aku akan mencoba untuk berpikir optimis."
"Kamu juga harus mencoba untuk mempercayainya."
"Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya pada Mizu."
Mereka berdua terus menyusuri labirin ini. Namun, merema tak kunjung menemukan ujung dari labirin ini.
"Aza, bagaimana kalau labirin ini tidak ada ujungnya?"
"Tenang saja, semua labirin pasti ada ujungnya."
"Kamu itu terlalu berpikir optimis Aza. Pernahkah kau berpikir kalau mungkin ini bukanlah labirin?"
"Mungkin kamu saja yang terlalu pesimis, Ziruko."
"Oh iya Aza, apa menurutmu kuil ini akan terkubur kembali kedalam tanah?"
"Jika itu terjadi aku hanya akan berharap dan mengikutimu. Jika kamu panik, aku akan ikut panik."
"Ternyata sekarang, kamu sudah sangat mempercayaiku ya. Tapi, aku merasa seperti menjadi acuan."
"Memangnya kenapa? apa tidak boleh?"
"Bukan begitu, hanya saja aku merasa sangat senang."
Tidak lama kemudian, mereka berada di jalan yang buntu. Awalnya Ziruko memutuskan untuk kembali lagi. Tapi, Azalea meminta untuk beristirahat sejenak.
"Baiklah Aza, sepertinya ini jalan buntu. Kita harus kembali lagi kejalan yang tadi."
"Sebaiknya kita diam saja dulu disini."
"Kenapa?"
"Aku ingin istirahat sebentar."
Ziruko menunggu sampai rasa lelah Azalea mereda.
"Ziruko, sepertinya kita harus berdiam lebih lama lagi. Dan mungkin saja jalannya ada disini."
"Ini cuma jalan buntu... tidak ada hal yang harus dilakukan lagi sekarang kecuali kembali dan mengambil jalan yang lain."
"Kamu terasa lebih emosional, apa ini karena Mizu?"
"Bukan seperti itu."
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi saat kamu tidur dengan Mizu."
"Tidak ada hal yang terjadi, aku pun baru tau ada Mizu saat aku bangun di pagi hari."
"Aku akan mencoba untuk mempercayai hal itu."
"Apa kamu menemukan sesuatu yang aneh?"
"Sepertinya aneh jika ujung labirinnya ada disini."
"Ini adalah labirin, kita tidak bisa menduga dimana ujungnya."
"Karena itu, aku menyuruhmu untuk diam dulu sejenak Ziruko!!!"
__ADS_1
"Jangan merasa kamu yang paling pintar Azalea!!!"
"Siapa sebenarnya yang sok pintar?"
"Kalau begitu buktikan ucapanmu itu!!!"
"Aku akan berpikir sejenak."
"Maaf, Aza aku tidak sengaja membentakmu."
"Tidak apa-apa, aku sedikit senang karena kita sudah seperti suami istri."
"Terserah kamu saja."
"Ziruko bukankah aneh rasanya jika ada labirin yang sangat besar di kuil yang kecil ini."
"Kalau dipikir-pikir juga, ucapanmu itu benar. Tapi, ini kan di bawah tanah. Jadi bisa saja ini memang labirin asli."
"Bagaimana jika labirin ini hanyalah sebuah ilusi?"
"Aku tidak bisa membayangkan kalau semua ini hanyalah sebuah ilusi. Lagipula mana ada orang yang mempunyai kekuatan magis sebesar ini di Kota Belerick."
"Begini saja, bagaimana kalau kuil ini palsu?"
"Mana mungkin palsu, kamu juga kan melihatnya dengan jelas saat kuil ini naik ke permukaan."
"Aku mempunyai suatu pemikiran."
"Coba jelaskan!"
"Jika aku benar, dalang dibalik semua ini adalah manusia yang bersekongkol dengan minotaur."
"Minotaur? bukannya kerajaan mereka bukan bagian dari Kekaisaran Rossweild?"
"Tapi kan mungkin saja ada beberapa Minotaur yang tinggal di Kekaisaran Rossweild."
"Jadi selanjutnya bagaimana?"
"Oh benar, alasanmu masuk akal juga. Kalau begitu ayo coba kita buktikan."
"Bagaimana caranya?"
"Apakah kamu tidak menyadarinya? sebenarnya kita tidak pernah menyentuh dinding sejak kita masuk ke kuil ini."
"Benar juga."
Setelah itu, mereka berdua mencoba untuk menyentuh dinding yang ada di depannya. Ternyata, tebakan Azalea benar. Ini semua hanyalah sebuah ilusi semata.
Jika saja Ziruko tahu lebih awal mungkin dia akan bertemu dengan raja dari para Minotaur lebih cepat, dan juga tidak perlu membagi-bagi pasukan.
"Kamu hebat sekali Aza. Ternyata benar semua ini adalah ilusi."
Azalea pun memalingkan wajahnya, dan terlihat seperti sedang membanggakan dirinya sendiri.
"Tapi jangan bangga dulu, Aza. Ada satu hal lagi yang harus dilakukan."
"Apa itu?"
"Bagaimana cara menghilangkan ilusi ini?"
"Bagaimana ya? kalau mengenai hal itu aku sih tidak tau."
"Kamu ini..."
"Aku kenapa? apa aku pintar? atau... aku cantik? oh iya, mungkin kamu mulai menyukaiku ya."
"Pede banget kamu, mana mungkin aku suka sama kamu."
__ADS_1
"Aku pegang, kata-katamu. Tapi aku yakin sebentar lagi kamu akan menyukaiku."
"Sepertinya hal itu tidak akan terjadi."
Mereka berdua memikirkan cara untuk menghilangkan ilusi ini. Mungkin, mereka akan bertemu dengan yang lainnya jika ilusi ini dihilangkan.
"Azalea, aku tau gunakan arcanamu untuk membuat tornado."
Azalea hanya tersenyum melihat Ziruko. Ziruko tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Azalea.
"Ada apa Azalea? apa kamu sakit?"
"Aku tidak sakit!!! hanya saja aku merasa senang karena kamu memanggil namaku dengan lengkap."
"Ternyata cuma karena hal itu. Terus apa kamu mau menuruti perkataanku."
"Perkataanmu yang mana?"
"Kubunuh kamu!!!"
"Tenang saja. Kalau kamu membunuhku, nanti kamu akan merasa kesepian."
"Aku tadi menyuruhmu untuk menggunakan arcanamu untuk membuat tornado."
"Apa kamu ingin menghancurkan tempat ini?"
"Tidak, tidak. Kamu salah paham."
"Tapi itu kekuatan magis dengan skala kehancuran yang besar."
"Lama banget sih. Aku aja yang akan menghancurkan tempat ini."
Ziruko menghantam tanah tempatnya berdiri dengan menggunakan energi gaia yang dimilikinya.
Dia terlalu berlebihan menggunakan gaia sehingga menyebabkan ledakan yang membuat tanah yang dia pijak hancur.
Mereka berdua pun terjatuh ke bagian kuil yang lebih dalam lagi. Tapi dibandingkan hal itu, ilusinya sudah hilang.
"Kan beres, ilusinya sudah hilang."
"Kamu mencoba membunuhku ya."
"Tidak, ini hanya sebuah ide gila saja."
Sedangkan itu, Mizu yang sedang berjalan dengan Riz tiba-tiba dikejutkan oleh suara ledakan.
"Suara ledakan apa itu?"
"Sepertinya ledakannya kuat. Bisa-bisa pijakan kita runtuh."
"Jangan mendoakan hal seperti itu, Riz."
Tiba-tiba tanah yang Mizu dan Riz pijak runtuh.
"Pasti Ziruko yang melakukan hal ini."
"Dia benar-benar melakukan hal yang gila, Mizu."
"Pokoknya untuk sekarang kita akan pergi mencari Ziruko."
Akhirnya Mizu dan Riz berlari-lari menuju arah suara ledakan tadi.
Kembali ke keadaan Ziruko, dia bersyukur karena tidak tertimpa reruntuhan. Dia mengikuti instingnya untuk berjalan menuju arah utara.
Dari jauh terlihat ada satu minotaur yang berjalan ke arah Ziruko berada, dan dia berteriak seperti sedang berbicara kepada mereka berdua dari kejauhan.
Minotaur itu memutar-mutarkan kapak miliknya sambil berlari.
__ADS_1
"Kalian hebat juga ya, bisa mengetahui inti magis dari ilusi orang itu."
"Apa yang kamu maksud?"