
Desa ini terlihat seperti sudah lama ditinggalkan. Desa ini dihiasi oleh bangunan yang ambruk. Ziruko merasa sedikit prihatin dengan keadaan desa ini.
"Mizu, bagaimana menurutmu tentang desa ini?"
"Kalau menurutku sih, desa ini sudah ditinggalkan sejak tiga hari yang lalu."
"Apa kamu yakin, Mizu?"
"Aku percaya 100% kepada instingku."
"Kalau menurutmu bagaimana, Aza???"
"Kalau dari kelihatannya, desa ini seperti sudah ditinggalkan sejak tujuh hari yang lalu."
"Begitu ya. Lagipula tidak ada gunanya aku membanding-bandingkan pendapat kalian mengenai desa ini."
"Ya, yang kamu lakukan itu sia-sia."
Tiba-tiba aku merasakan kehadiran akan seseorang. Aku merasa ada yang sedang memerhatikan aku.
"Apa kamu merasa ada yang mengikuti kita, Mizu?"
"Dari tadi aku ingin mengatakannya."
"Kita harus berhati-hati terhadap penyergapan."
Aku melihat ke sekeliling puing-puing reruntuhan.
Plakkk!!!
Tiba-tiba aku mendengar suara kayu yang terjatuh. Kami bertiga menghampiri suara itu.
Kami menyingkirkan kayu-kayu yang tadi jatuh dan langsung melirik ke balik tumpukan kayu itu.
Kami melihat seorang perempuan yang mempunyai telinga kelinci. Dia mempunyai rambut berwarna merah.
Aku jadi teringat dengan perkataan Riz, warga Desa Rabby adalah seorangĀ manusia bertelinga kelinci.
Perempuan itu terlihat ketakutan, dan mengarahkan kayu yang tajam kearah kami bertiga.
"Mau apa kalian kesini?"
"Kami..."
"Kalian kawan atau lawan?"
"Tenang saja! kami disini ingin membantu kalian."
Perempuan itu tidak berhenti mengarahkan kayu yang tajam itu. Dia masih terlihat waspada. Kami bertiga memutuskan untuk mengenalkan diri.
"Perkenalkan aku Ziruko."
"Aku Mizu."
"Namaku Azalea Rossweiss. Lalu siapa namamu?"
"Rossweiss ya, berarti kamu keluarga kekaisaran."
"Benar sekali!"
"Tapi aku tidak percaya kepada kalian."
"Ziruko, kita harus bagaimana?"
"Hmmm..."
Aku berpikir sejenak, dan akhirnya aku menemukan sebuah ide.
"Begini saja, apa kamu tahu mengenai insiden tentang penyerangan pasukan ogre???"
"Tentu saja, itu menjadi perbincangan suku kami waktu itu."
"Perbincangannya seperti apa?"
"Tetua kami mengatakan kalau orang yang memukul mundur pasukan ogre itu, kelak akan datang menyelamatkan konflik di desa kita yang sudah bertahun-tahun belum terselesaikan."
"Jadi, desa ini hancur sudah lama?"
"Ya, sekitar dua tahun yang lalu."
__ADS_1
"Terus kenapa tidak diperbaiki?"
"Setiap kali kami memperbaiki, desa ini hancur lagi dan lagi."
"Oh begitu ya."
"Lalu, kenapa kamu membicarakan tentang insiden penyerangan pasukan ogre?"
"Bagaimana kalau aku bilang, aku yang memukul mundur para pasukan ogre itu."
"Aku tidak akan percaya, sebelum melihat buktinya."
"Hmmm.... susah juga mencari buktinya."
"Kalau begitu aku tidak akan percaya."
"Untuk membuatmu percaya, aku harus melakukan apa?"
"Bagaimana kalau kita duel kekuatan."
"Duel kekuatan? aku harus melakukan apa?"
"Kalau berkelahi, apa kamu setuju?"
"Tentu saja tidak, aku tidak bisa memukul seorang perempuan."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar."
"Begini saja, kamu hancurkan saja batu yang paling besar dan kuat disini. Jika batu itu hancur aku akan percaya."
"Menghancurkan batu ya, sepertinya mudah."
"Benarkah? kamu terlalu meremehkan batu itu."
"Tunjukkan dimana batu tersebut berada!"
"Ikuti aku."
Kami bertiga pun berjalan mengikuti perempuan ini. Kami memasuki kawasan hutan terlarang.
"Ini dia batunya. Kalau kamu bisa menghancurkannya, aku akan percaya."
"Sepertinya batunya terlalu besar untuk bisa aku hancurkan."
"Jadi kamu menyerah?"
"Tentu saja tidak. Aku akan mencoba menghancurkannya."
Aku berjalan menuju ke depan batu yang besar itu. Aku mengambil nafas, dan mengumpulkan seluruh energi ke tangan kananku.
Ya, benar... aku menggunakan energi gaia. Dan sepertinya kapasitas energi gaia milikku sudah berkembang sejak terakhir kali aku melawan Hanzo.
Aku mengangkat tanganku ke belakang, lalu aku memukulkannya ke batu itu.
Sulit dipercaya...
"Jadi, kamu tidak bisa menghancurkannya ya Ziruko."
"Mungkin ada kesalahan kecil. Kalau kamu mengizinkan, bolehkah aku memukulnya sekali lagi?"
"Mau dicoba seratus kali juga tidak akan hancur."
"Tak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain, sebelum aku mencobanya aku tidak akan puas."
Aku menarik nafas lagi, dan mengumpulkan energi gaia ke seluruh tubuhku.
Kali ini aku memang menggunakan cara yang berbeda dengan yang tadi. Semoga saja cara ini akan berhasil.
Aku membuka mataku, dan langsung memukul batu itu.
Terdengar suara retakan yang berasal dari batu yang besar itu. Lalu, aku melihat kearah perempuan bertelinga kelinci. Dia terlihat sangat terkejut.
"Bagaimana mungkin? ini adalah batu yang tidak bisa dihancurkan sejak berabad-abad."
"Berarti kamu bisa percaya padaku?"
"Kalau sekedar memberitahu nama, sepertinya tidak apa-apa."
__ADS_1
"Kita mulai dari awal. Perkenalkan namaku Ziruko RE. Vanargard."
"Jadi kamu RE. ya?"
"Lalu nama lengkapmu siapa?"
"Nama lengkapku Liliana de Rabby no Luca IX. Panggil saja Lili"
"Kamu keturunan tetua Desa Rabby?"
"Ya begitulah."
"Tapi, kenapa kamu tidak terlihat seperti Azalea ya."
"Jangan samakan aku dengannya. Aku lebih suka hidup dengan cara begini."
"Ada yang ingin aku tanyakan?"
"Menanyakan tentang apa?"
"Para penduduk Desa Rabby, sekarang berada di mana?"
"Kalau begitu, ayo kita temui saja kakekku."
"Kakekmu? apa kakekmu itu tetua disini?"
"Ya, tapi kamu harus berhati-hati dengannya."
"Kenapa?"
"Dia tidak menyukai orang luar."
"Begitu ya."
Kami bertiga berjalan mengikuti Lili. Kami kembali ketempat dimana kami bertemu dengan Lili tadi.
Terus setelah itu, Lili mengangkat atap yang sudah runtuh.
Aku sedikit terkejut, karena walaupun dia tampak imut tapi dia memiliki kekuatan yang besar.
Hal ini seperti sebuah peribahasa yang mengatakan kalau kita tidak boleh menilai buku dari sampulnya.
"Cepat kalian masuk!"
Aku sedikit terkejut, karena dibalik atap yang sudah runtuh ini ada jalan menuju kebawah.
Kami menuruni tangga. Tangga ini dihiasi oleh beberapa lentera yang tergantung disampingnya.
Beberapa saat kemudian kami sampai di dasar tangga ini.
Aku melihat-lihat ke kanan dan kiri. Tapi, aku tidak melihat apapun. Lalu tiba-tiba Lili menarik tanganku dan langsung menabrakkan diri ke tembok.
Anehnya, aku tidak merasakan sakit. Dan lebih anehnya lagi, disekelilingku terlihat seperti sebuah pasar. Lalu tiba-tiba semua orang yang ada disini berlutut seperti memberi hormat.
Mereka mengatakan, "Selamat datang Nona Liliana."
Aku langsung melihat muka Lili, dia terlihat berbeda dibandingkan tadi. Bisa aku simpulkan kalau dia terlihat lebih anggun.
"Ziruko, jangan hiraukan mereka! terus saja berjalan ikuti aku."
"Tentu saja, soalnya kamu memegangi tanganku."
Beberapa saat kemudian, kami sampai di depan rumah tetua desa. Kami berdua pun masuk kedalam tempat yang terlihat seperti tenda.
"Saya kembali, kakek."
"Jadi siapa yang kamu pegang tangannya itu."
"Dia adalah Ziruko."
"Bukannya sudah kubilang kalau tidak boleh ada orang luar yang mengetahui tempat persembunyian ini."
"Tapi kakek, dia adalah orang yang berhasil memukul mundur pasukan ogre."
"Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja."
"Tadi aku sudah memastikannya."
"Tetap saja, orang luar tidak boleh masuk ke sini."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana kalau aku bilang dia adalah calon suami yang aku pilih."