Legenda Arcana

Legenda Arcana
Kekacauan di Guild Gladiator


__ADS_3

Azalea dan yang lainnya masuk kedalam guild. Mereka berlari berbarengan mencari ruangan Alsen.


"Mizu, bukannya sebaiknya kita jangan berlari."


"Tidak apa-apa Azalea, ini dilakukan supaya kita cepat sampai."


"Tapi ini mengundang perhatian banyak orang loh Mizu!"


"Benar juga."


Mizu pun berhenti berlari, membuat Azalea dan yang lainnya juga ikut berhenti berlari.


"Mizu! aku merasa sedikit khawatir dengan keadaan Ziruko, meskipun dia bisa menggunakan gaia tapi dia tidak mempunyai arcana. Jika lawannya menggunakan arcana dia bisa kerepotan, benarkan Mizu?"


"Tenang saja, Ziruko itu lebih kuat dari kelihatannya. Meskipun Ziruko tidak mempunyai arcana."


"Kenapa kamu bisa begitu percaya kepada Ziruko?"


"Sekarang ini, tidak ada yang bisa kita lakukan selain mencoba untuk mempercayai. Dan juga, setelah melihat pertarungannya yang dulu bukannya kamu percaya kalo dia bisa mengalahkan Hanzo sendirian?"


"Sepertinya kamu benar."


"Tenanglah, jangan terlalu khawatir."


Tidak lama berjalan, mereka sampai di aula guild. Mereka hanya bisa melihat para anggota guild yang sedang bersantai.


Tiba-tiba orang-orang yang sedang bersantai di guild terlihat terkejut, dan berteriak, "Ada penyusup!!!"


Selang beberapa detik, mereka langsung maju kearah Azalea dan teman-temannya. Mereka berpikir kami akan kalah jika dikepung.


Tidak ada pilihan lain selain meladeni mereka. Jumlah anggota guild ini terhitung banyak sekali, mereka seperti tidak ada habisnya.


Untuk mempersingkat waktu, Azalea harus menyuruh Paman Nathan untuk mencari ruangan Alsen.


"Paman Nathan, pergilah temui Alsen duluan. Disini biar kami saja yang urus."


"Baiklah tuan putri. Hati-hati ya! aku akan menyelesaikannya dengan cepat."


Azalea dan Mizu membukakan jalan untuk Paman Nathan. Dan Paman Nathan pun langsung berlari menuju ke lorong yang ada di sisi lain aula ini.


Sedangkan itu, Ziruko masih tertahan oleh bayangan milik Hanzo. Dia tidak bisa bergerak.


"Ternyata kamu pengguna arcana, Hanzo. Kamu licik, menyembunyikan hal ini."


"Kau tidak akan bisa lepas dari cengkeraman bayanganku, dan juga aku itu bukan orang bodoh yang memberitahukan kekuatan penuhku."


"Jadi arcana-mu itu bayangan ya."

__ADS_1


"Benar sekali, Ziruko. Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


Ziruko mencoba untuk lepas dari cengkeraman bayangan milik Hanzo. Dia sudah bergerak-gerak, tapi tetap saja dia tidak bisa melepas bayangannya.


"Hanzo, ternyata bayangan milikmu ini kuat juga."


"Apakah masih ada waktu untukmu memujiku? bukannya sekarang yang harus kamu utamakan itu keselamatanmu sendiri. Aku tidak bisa mengerti dengan apa yang kamu pikirkan."


"Tenang saja, aku tidak akan lupa dengan keselamatanku sendiri. Yang paling penting saat ini adalah aku harus menghajarmu, Hanzo!"


"Coba saja kalau bisa!"


Ziruko tidak boleh berpikir terlalu lama, jika dia ingin selamat. Dia langsung memusatkan energi gaia ke seluruh tubuhnya.


Ternyata benar, dia berhasil lepas dari cengkraman bayangan milik Hanzo. Meskipun itu hanya untuk saat ini saja.


"Ziruko, percuma saja kamu lepas dari cengkramanku. Aku tinggal mengeluarkan lebih banyak bayangan lagi. Jadi, tidak mungkin kamu bisa lari dariku."


Ziruko langsung menjauh dari Alsen. Dia melihat Alsen menampakkan kedua tangannya ke tanah.


Tiba-tiba muncul banyak bayangan yang melesat cepat menuju kearah Ziruko.


Karena Ziruko sudah tahu, dia jadi bisa lebih mudah untuk menghindari cengkeraman bayangan milik Hanzo.


Tapi kali ini bukan hanya satu bayangan. Banyak sekali bayangan yang mengejar Ziruko. Jika dia sampai terikat lagi, bisa jadi itu adalah akhir baginya.


"Benarkah? kalau benar aku akan melakukan sedikit improvisasi."


Dia terus menghindari bayangan yang berdatangan. Tapi, bodohnya dia. Dia terlalu fokus menghindari bayangan ini.


Saat dia melihat ke tempat Hanzo tadi berdiri, Hanzo sudah tidak ada disitu. Sekarang Ziruko harus menghindari serangan dadakan lagi.


Tiba-tiba Hanzo ada di hadapan Ziruko. Dia langsung menendang perut Ziruko. Sontak Ziruko langsung terhempas ke tembok bangunan guild.


Ziruko tidak bisa bergerak lagi, dia benar-benar tidak bisa bergerak. Sepertinya ini akhir baginya.


Dari kejauhan Ziruko melihat bayangan milik Hanzo melesat cepat kearahnya. Dia tidak bisa menghindar lagi. Tentu saja akibatnya dia terkena cengkraman bayangan milik Hanzo lagi.


Ziruko sudah menyerah. . .


Namun, beberapa saat kemudian tiba-tiba telintas di pikiran Ziruko ucapan Azalea.


Dia membayangkan Azalea berkata, "Hati-hati ya, Ziruko!"


Setelah dia mengingat hal itu, tiba-tiba dia jadi tidak ingin mati disini.


Ziruko berteriak mengucapkan terima kasih kepada Azalea. Walaupun cuma sepercak ingatan, itu sudah membuatnya bisa bangkit dari keputusasaan ini.

__ADS_1


Dia mencoba untuk mengumpulkan energi gaia kesatu titik, seperti yang dia lakukan tadi.


Betapa terkejutnya Ziruko, cara ini tidak berhasil untuk kedua kalinya. Dia sudah kehabisan cara, untuk bisa lepas dari cengkeraman ini.


Hanzo pun tertawa seperti sedang merendahkan Ziruko.


"Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan bayanganku dengan cara yang sama. Jadi kaisar? itu hanya akan jadi mimpimu saja! sama seperti para anak kecil."


Perkataan Hanzo ada benarnya juga. Jika begini terus Ziruko bisa kalah dengan mudah. Tapi, dia yakin hal itu tidak akan terjadi.


Setelah ini Ziruko masih punya urusan. Dia harus bisa membantu Azalea dan yang lainnya.


Ziruko tidak bisa membiarkan mereka berjuang sendirian, jika Alsen kekuatannya sama seperti Hanzo. Tamatlah riwayat mereka. Karena itu, Ziruko harus mengalahkan Hanzo secepatnya.


Paman Nathan terus berjalan menyusuri lorong ini. Dia berpikir kalau tidak berhasil menemukan ruangan Alsen, maka perjuangan tuan putri akan sia-sia.


Memang sih, dia mengatakan hal itu. Tapi dia benar-benar tidak tahu dimana ruangan Alsen berada.


Semua ruangan terlihat sama, tidak ada satu ruangan pun yang memiliki ciri khas.


Dia merasakan hawa ingin membunuh berada dibelakangnya. Tapi, Paman Nathan tidak merasa khawatir sama sekali.


Terjadi ledakan di punggungnya, untung saja dia selalu mengaktifkan barrier miliknya setiap saat.


Dia sangat yakin tidak ada orang lagi yang menggunakan peledak selain Alsen.


Tapi Paman Nathan berpura-pura tidak menyadarinya. Ini adalah salah satu strategi terbaik.


Saat dia merasakan hawa pembunuh dibelakangnya lagi. Dia langsung berbalik dan langsung memukulnya.


Alsen pun terhempas jauh ke ujung lorong ini. Alsen langsung berlari dengan cepat menuju kearah Paman Nathan.


Paman Nathan hanya menunggunya dengan santai, untuk saat ini dia yakin bisa mengalahkannya dengan mudah.


"Kamu menyambutku dengan baik, Alsen. Hanya saja peledaknya tidak bisa melukaiku."


"Ternyata paman sudah menyadarinya ya. Kalau begitu ayo selesaikan dengan cepat."


"Jangan begitu, Alsen. Kalau cepat selesainya, nggak akan seru. Tapi kalau disini kamu tidak akan menahan diri kan?"


"Tentu saja paman, padahal lebih baik paman tidur dengan tenang saja di rumah."


"Aku tidak setua yang kamu pikirkan."


Alsen langsung bersiap-siap, dia menggunakan kuda-kudanya. Paman Nathan tidak tahu bela diri apa yang digunakan oleh Alsen.


Tapi, dia sangat yakin bisa mengalahkan Alsen dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2