
Simbol terpapar di atas kepala Ziruko. Para penduduk Desa Rabby dan penduduk Kota Belerick yang melihat simbol itu jadi bersemangat lagi.
Setiap simbol memiliki efek, dan simbol milik Ziruko mempunyai efek untuk peningkatan stamina. Artinya selama semuanya percaya pada Ziruko, maka staminanya tidak akan pernah habis.
"Hahaha... Akhirnya aku mempunyai simbol."
"Kalau begitu tuan, aku dan pasukanku akan menghabisi para goblin itu."
"Laksanakan, Minos!"
Dengan adanya Minos dan pasukannya, sekarang peperangan ini dikuasai oleh pihak Ziruko. Para goblin ada yang berlarian ketakutan.
Ziruko kembali ke medan pertempuran. Dia menggunakan gaia miliknya, seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian, para goblin sudah dikalahkan. Tinggal tersisa Kepala Suku Goblin saja. Ziruko menghampiri Kepala Suku Goblin itu yang terlihat sedang frustasi.
"Jadi, siapa pemenangnya?"
"Ini tidak adil, kamu membawa pasukan minotaur."
"Bukannya kamu juga tidak adil, kamu membawa seluruh pasukanmu yang lebih banyak sepuluh kali lipat dari jumlah pasukanku. Jadi, apa salahnya jika aku meminta bantuan dari luar."
"Bukan hanya itu saja, tapi kenapa kamu bisa mempunyai simbol?"
"Entahlah, mungkin ini terjadi karena pasukan minotaur tunduk kepadaku. Lalu sekarang bagaimana? Apa kamu akan tunduk kepadaku juga."
"Kamu ini menyeramkan sekali."
"Aku memang seperti ini, jadi apa yang akan kamu lakukan? Tunduk atau mati? Aku tidak bisa membuat keringanan yang lainnya. Kamu sudah mengambil banyak korban jiwa."
"Lebih baik aku mati daripada tunduk kepada orang sepertimu."
"Padahal aku berbaik hati, memberikanmu kesempatan untuk hidup."
"Lagipula aku sudah tidak memiliki pasukan lagi. Percuma saja kalau aku hidup."
"Bagaimana jika pasukanmu masih hidup?"
"Benarkah?"
"Kami tidak sejahat dirimu yang langsung membunuh lawanmu. Kalau begitu apa keputusanmu?"
"Aku... akan... maksudku aku tetap tidak akan tunduk padamu."
"Keras kepala sekali... Minos cepat kesini!"
Minos pun datang dengan membawa kapak miliknya.
"Ada apa tuan?"
"Penggal Kepala Suku Goblin ini."
Tanpa pikir-pikir Minos langsung mengayunkan kapaknya ke kepala milik Kepala Suku Goblin ini.
Darahnya bercucuran, Ziruko langsung berbalik dan berkumpul dengan yang lainnya.
"Semua urusan sudah selesai, sekarang kamu dan pendudukmu bisa hidup dengan damai Lili."
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyangka kamu sekejam itu."
"Hanya saja, aku tidak bisa membiarkan orang yang membuat banyak orang menderita. Jujur saja, tidak semua pasukan goblin itu bersalah. Mereka terpaksa melakukannya karena itu perintah dari ketuanya."
"Benar juga, tapi RE itu tetaplah RE!"
"Ada apa dengan namaku?"
"Tidak, bukan apa-apa. Kamu harus memberikan ucapan kemenangan bagi semuanya."
Ziruko pun naik ke atas reruntuhan. Dia mendeklarasikan kemenangan yang diraih.
"Semuanya, seperti yang kalian ketahui. Perjuangan ini akan sia-sia jika tidak ada kalian semua. Yang pertama kita turut berduka atas kepergian teman kita yang tewas di medan perang. Tapi, perjuangan mereka tidak akan sia-sia. Berkat kita semua, kita bisa hidup dengan damai untuk kedepannya. Karenanya terimakasih untuk semua."
Satu persatu goblin yang terpapar di tanah bangkit. Tapi, tidak semuanya. Hanya beberapa goblin saja yang selamat.
"Kepada para goblin, jika kalian berkenan kalian juga bisa tinggal bersama dengan para penduduk Desa Rabby. Apakah para penduduk Desa Rabby setuju?"
"Ya kami setuju Tuan Ziruko. Asalkan mereka bisa hidup dengan rukun."
"Begitu katanya. Jadi, kalian bisa tinggal bersama di Desa Rabby. Bagi yang lainnya yang ingin tinggal di Desa Rabby saya perkenankan untuk tinggal disana. Ini semua sudah didiskusikan sebelumnya dengan tetua desa. Dia mengatakan, kalau dunia lebih indah jika semuanya damai. Jadi, untuk itu aku mengharapkan kalian bisa hidup rukun."
Setelah itu Ziruko turun dari reruntuhan dan menghampiri Minos.
"Minos apa kamu juga akan tinggal di Desa Rabby."
"Jika anda yang meminta saya akan terima."
"Aku senang karena kamu datang. Aku hampir putus asa. Tapi, intinya terimakasih Minos."
"Ada apa Mizu?"
"Aku khawatir... aku masih belum bisa menemukan Paman Nathan."
"Memangnya ada apa?"
"Ada apa gimananya? Sudah jelas, kalau ini berlanjut kekaisaran akan turun tangan."
"Turun tangan?"
"Soalnya pasukan yang besar sudah terbuat. Dan muncul seseorang yang memimpin yang mempunyai kekuatan besar."
"Apa yang kamu maksud itu aku? Terimakasih atas pujiannya."
"Ini bukan waktunya untuk tersenyum. Bagaimana jika kekaisaran menganggap ini adalah pemberontakan?"
"Tapi, bukannya para goblin juga tidak dilaporkan."
"Itu karena mereka tidak mempunyai niat untuk melawan kekaisaran. Sedangkan kamu, kamu ingin menjadi kaisar kan?"
"Tentu saja aku mau."
"Hal ini terkait dengan syarat untuk menjadi seorang kaisar. Yang pertama diakui oleh tiga kekaisaran, atau..."
"Mengalahkan kekaisaran."
"Ya benar, bagaimana kalau kekaisaran menganggap hal ini adalah hal yang mengancam kekuasaannya."
__ADS_1
"Ini akan menjadi semakin rumit."
"Ditambah lagi kamu berhasil menyatukan berbagai ras. Itu bukan pencapaian yang main-main lagi. Sudah jelas kalau kamu akan diincar."
"Kita positif thinking saja, semoga saja Paman Nathan tidak memberitahukan hal ini kepada kekaisaran."
"Kalau begitu, aku ingin pergi untuk mencari Riz dan memberitahukan hal ini."
"Aku akan menunggumu di Desa Rabby."
"Aku akan mengingatnya."
"Hati-hati, Mizu."
Mizu pun pergi melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Terlihat dari jauh tetua desa sedang berjalan menghampiri Ziruko.
"Ziruko, ini waktunya aku untuk lengser."
"Kenapa?"
"Aku ini sudah tua. Maukah kamu yang menjadi tetua desa selanjutnya."
"Apa sebaiknya tetua desa bicarakan ini dulu dengan Lili?"
"Tidak apa-apa, Lili pasti akan setuju."
"Tapi, aku menolaknya. Akan lebih baik jika Lili jadi tetua desa yang selanjutnya."
"Hmm... Semuanya kupercayakan saja padamu."
Setelah itu tetua desa pergi berjalan menjauhiku. Mereka semua pun berjalan menuju Desa Rabby yang hancur.
Tiba-tiba Azalea berlari menghampiri Ziruko dan memeluknya sambil menahan tangis.
"Ziruko, kamu hebat. Tapi, sepertinya perjuanganmu akan semakin berat. Bisa saja nanti aku akan menjadi musuhmu."
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Paman Nathan menyuruhku kembali ke kekaisaran. Sepertinya dia akan melaporkan hal ini kepada kekaisaran. Jika itu terjadi, posisimu juga akan terancam. Dan semua orang akan dalam bahaya."
"Jadi semua ini salahku ya. Kenapa semuanya berakhir seperti ini. Ini bukanlah yang aku inginkan. Yang aku inginkan adalah bisa hidup damai dengan semuanya."
"Kamu jangan pesimis begitu. Ini semua terjadi karena salahku. Andai saja aku tidak bertemu denganmu. Mungkin saat ini kamu bisa mengelola desa tanpa diketahui oleh kekaisaran."
"Tidak, kamu salah Aza! Tanpa kamu perjalanan ini akan terasa sunyi. Aku tidak bisa membayangkannya."
"Terus semangat Ziruko! Sepertinya ini akan menjadi pertemuan terakhir kita."
"Kenapa?"
"Aku merasakan kehadiran Paman Nathan. Sebentar lagi dia akan datang kesini dan menyuruhku pulang dengan paksa. Paman Nathan yang sudah mengetahui kalau kamu itu RE. tidak akan membiarkannya begitu saja."
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik Aza. Titipkan salamku kepada Irina. Padahal aku pikir kita akan bisa berpetualang lebih lama lagi."
Ziruko memberikan senyuman kepada Azalea dengan air mata yang mengucur di matanya.
"Kenapa ini? Apa aku menangis? Aku seperti anak kecil saja. Ini benar-benar berbeda dengan yang aku bayangkan sebelumnya. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan tetap menjadi seorang kaisar!!!"
__ADS_1