Legenda Arcana

Legenda Arcana
Gadis Bertudung Merah


__ADS_3

Mereka semua terdiam, tidak ada satupun yang berani bergerak. Keadaan pun terasa hening, tidak ada satupun yang berbicara. Hal ini membuat tempat ini seperti rumah hantu.


"Apa jangan-jangan dia adalah seorang pembunuh bayaran?" tanya Ziruko.


"Tentu saja bukan. Sepertinya dia adalah bawahan dari Sygard." jawab Paman Nathan.


"Kalau begitu apa perlu kita lawan?"


"Tentu saja tidak. Kita akan coba melewatinya saja. Soalnya dari tadi dia tidak bergerak sedikitpun."


"Kalau begitu ayo kita lakukan."


"Bodoh sekali!" Kagura berkomentar.


Karena tidak ada yang mau maju duluan, akhirnya Ziruko memberanikan diri untuk berjalan melewatinya. Dengan pelan-pelan dia melewatinya.


"Huh~ sepertinya tidak apa-apa."


Setelah itu Ziruko berlari. Seketika perempuan bertudung merah itu ada di hadapan Ziruko. Sabit miliknya menempel di leher Ziruko. Namun, dia tidak langsung memenggal lehernya.


Gerakannya cepat sekali, Ziruko tidak bisa melihatnya.


"Kak, kumohon jangan lewat." kata perempuan itu dengan muka datar.


"Ternyata kamu manis ya."


"Ruri tidak manis!!!"


Tiba-tiba perempuan bertudung merah itu menendang Ziruko. Ziruko pun terhempas kearah pintu masuk. Pintunya pun langsung hancur lebur.


"Kekuatannya gila, untung saja bukan aku yang tadi maju." kata Bard sambil melihat Ziruko.


"Ini gawat, dia sangat cepat. Akan sulit untuk mengalahkannya, tapi kita tidak bisa membuang-buang waktu." kata Kagura.


"Lalu siapa yang mau mengahadapinya?" tanya Irina.


"Yang pasti bukan aku, mungkin saja di sana masih ada musuh yang lebih kuat. Aku tidak bisa menahannya."


"Benar juga, Kagura. Mungkin nanti kamu akan dibutuhkan Ziruko."


"Tidak perlu berbicara begitu, sedari awal Ziruko memang membutuhkanku. Dia tidak bisa hidup tanpaku."


"Kamu ini... sudahlah, aku tidak usah memikirkannya."


"Lalu siapa yang akan menghadapinya."


"Sepertinya tidak ada pilihan lain. Aku akan melawannya."


"Benarkah tuan putri Irina?"


"Begini-begini aku ini kuat. Diantara anak kaisar aku adalah orang terkuat ketiga."


"Semuanya kan ada empat."


"Kalau untuk menahannya saja, aku bisa."


"Kalau begitu, jangan mati. Kalau kamu mati akan merepotkan."


"Aku tidak butuh perhatianmu, Nona Kagura."


"Jadi yang kamu butuhkan adalah perhatian Ziruko, ya?"


"Sudahlah jangan berisik."

__ADS_1


Mereka semua kecuali Irina berlari ke pintu selanjutnya. Irina langsung menyerang perempuan bertudung merah itu. Perempuan bertudung merah itu merasa bingung entah harus menahan serangan Irina atau menghalangi mereka.


Akhirnya perempuan itu menyerang balik Irina. Irina terus menghindari serangannya.


"Ruri tidak tahu apa yang harus Ruri lakukan."


"Kalau begitu berhentilah menghalangiku."


"Ruri tidak bisa melakukan hal itu, jika Ruri melakukan hal itu Ruri akan ditahan."


"Kalau begitu..."


Sabit milik Ruri mengenai sehelai rambut dari Irina.


"Tadi itu hampir saja. Baiklah aku akan mulai serius."


Irina mengeluarkan arcana miliknya. Dia langsung mengeluarkan sihir "Wind Slash" berkali-kali dan sihirnya itu tidak ada yang mengenai Ruri.


"Ini akan sulit."


"Ruri juga tidak mau bertarung lama. Nanti Ruri bisa lelah."


Ruri terus berbicara dengan muka datar. Semakin lama gerakannya semakin cepat.


"Gawat! sepertinya aku tidak bisa menang. Dia semakin cepat sedangkan aku sebentar lagi akan mencapai batas."


"Menyerahlah kak, Ruri tidak ingin berlama-lama. Kalau kakak tidak menyerah bisa-bisa Ruri memotong kepala kakak."


"Ih, serem!!!"


Irina langsung mengeluarkan "Wind Tornado" dan Ruri pun mundur karena takut terkena angin tersebut.


"Ruri takut tornado, itu mengingatkan Ruri kepada masa lalu."


"Memangnya masa lalumu seperti apa?"


"Begitu ya, kalau begitu lebih baik kamu menyerah saja."


"Tidak, tidak bisa."


Ruri kembali menyerang Irina, sekarang dia mengayunkan sabitnya dengan cepat dan bertenaga. Padahal tubuhnya kecil tapi ayunan sabitnya bisa menghancurkan lantai istana.


Irina mundur dan terus mundur sambil menghindari serangan Ruri. Sekarang Ruri mengincar kaki Irina juga. Hal itu memaksa Irina untuk sekali-kali melompat.


"Seharusnya aku tidak terlalu percaya diri. Aku tidak bisa menangani orang ini."


"Ruri juga baru pertama kali mendapatkan lawan yang seperti kakak. Biasanya dalam 1 menit Ruri sudah berhasil membunuh orang."


"Padahal kamu masih kecil."


"Ruri sudah besar, umur Ruri 14 tahun."


"Aku tidak menanyakan umurmu."


Irina langsung mengeluarkan "Wind Shield". Sihirnya itu seperti sebuah barrier yang mengelilingi tubuhnya. Irina pun langsung duduk.


"Akhirnya aku bisa beristirahat, namun sepertinya ini akan bertahan sebentar."


Benar saja, sabit milik Ruri menembus sihir "Wind Shield" milik Irina. Irina langsung melompat kebelakang untuk menghindari sabit milik Ruri.


"Baiklah akan ku kerahkan hasil latihanku."


"Percuma saja, selama kamu menggunakan sihir, Ruri akan menang. Ruri bisa menghindari semua sihir."

__ADS_1


"Asal kamu tahu saja, aky tidak hanya berlatih sihir."


Irina langsung berlari menerjang kearah Ruri. Dia langsung menghempaskan kakinya, sehingga dia terbang keatas. Dia langsung menyerang bagian belakangnya Ruri.


"Akhirnya aku bisa mengenaimu."


"Jadi begitu ya, sudah lama Ruri tidak bertemu musuh secepat ini."


"Jangan remehkan kekuatan dari putri Kekaisaran Rossweild."


Irina terus melakukan serangan. Ruri juga terus melakukan serangan. Mereka menyerang dan menghindar dengan cepat.


Tiba-tiba Irina mengeluarkan sihir "Wind Slash". Namun Ruri menangkisnya dengan sabit miliknya. Hal ini membuat Irina curiga dengan sabit milik Ruri.


Irina berpikir kalau sabit milik Ruri terbuat dari logam anti sihir dan anti gaia. Yaitu logam adamantite hitam.


Adamantite hitam biasa digunakan untuk membuat borgol dan jeruji besi. Adamantite hitam juga sering dibuat menjadi senjata-senjata. Namun biasanya yang memilikinya adalah orang-orang penting saja karena harganya yang sangat mahal.


"Sekarang aku tau kelemahanmu."


"Ruri tidak suka kelemahan Ruri diumbar-umbar."


Irina kembali melakukan serangan beruntun. Sekarang keadaanya berbalik Ruri terdesak, dia terus mundur dan menghindar tanpa menyerang. Ruri menjadi gelisah karena Irina tahu kelemahannya.


Pada akhirnya Irina menendang sabit miliknya, sabit miliknya pun terlempar jauh. Irina langsung mengeluarkan sihir "Wind Breath". Ruri terkena serangan itu dan terhempas.


Tiba-tiba Ruri berteriak.


"Jangan bunuh Ruri! jangan bunuh Ruri! Ruri masih ingin hidup."


"Tenang saja aku tidak akan membunuhmu."


"Benarkah?"


"Tapi ada satu syaratnya."


"Ruri tidak punya apa-apa untuk diberikan."


"Ruri tidak perlu memberikan aku hadiah. Aku hanya ingin kamu menjadi temanku. Kamu bisa ikut denganku, aku akan membawamu ke kekaisaran."


"Ruri belum pernah pergi ke kekaisaran. Ini akan menambah sebuah kenangan untuk Ruri."


"Kalau begitu apa kamu mau ikut denganku?"


"Tentu saja Ruri akan ikut."


"Kalau begitu kami akan mengurus dulu Sygard yang ada disini."


"Kak, sebenarnya Raja Sygard ingin menjadi seorang kaisar."


"Ya, aku tahu itu."


"Menurut kakak apa Raja Sygard cocok untuk menjadi kaisar."


"Kalau menurutmu bagaimana?"


"Raja Sygard memang sangat kuat, tapi dia tidak bisa memenuhi kebutuhan orang-orang. Dia saja bahkan menelantarkan Ruri sendirian."


"Begitu ya, sebenarnya aku juga tidak setuju kalau dia menjadi kaisar."


"Lalu kakak setujunya siapa yang akan menjadi kaisar?"


"Ziruko."

__ADS_1


"Apa itu orang yang sebelumnya, Ruri mengarahkan sabit padanya?"


"Ya, dia adalah Ziruko. Sepertinya aku percaya kalau dia yang menjadi kaisar. Mungkin dia bisa lebih baik dari ayahku."


__ADS_2