
Semua goblin yang berada disini menatap sinis kepada mereka berempat. Tapi, Lili terus berjalan dengan santai seolah tak mempedulikan tatapan sinis itu.
Dan akhirnya mereka dihadang saat akan masuk menuju tempat kepala suku goblin.
"Kalian siapa!"
Sontak Lili menjawab pertanyaan goblin itu.
"Namaku adalah Liliana de Rabby no Luca IX."
"Ada apa orang penting sepertimu datang kesini. Apa kamu mau menyatakan perang."
"Kami datang kesini untuk bernegosiasi dengan kepala suku. Kami tidak akan membuat keributan."
"Aku tidak akan percaya begitu saja."
"Meskipun kamu bilang begitu, jumlah kami sedikit. Kami tidak akan berani melawan kalian yang jumlahnya lebih banyak dari kami."
"Perkataan itu tidak bisa meyakinkanku."
Tiba-tiba keluar dari tempat kediamannya, seorang kepala suku goblin.
"Sudahlah, biarkan dia masuk."
"Baik tuan."
Setelah itu mereka pun masuk ke dalam tempat kediaman kepala suku goblin. Tapi tiba-tiba langkah kami dihentikan oleh kepala suku goblin.
"Tunggu dulu! yang boleh masuk cuma satu orang saja. Yang berarti cuma penerus dari Desa Rabby saja."
Ziruko tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Bisa saja nanti Lili diancam oleh kepala suku goblin itu.
"Tunggu dulu! aku juga tidak bisa menerima hal ini. Begini saja, bagaimana kalau aku ikut menemani Nona Liliana."
"Kenapa?"
"Aku harus memastikan keamanannya. Aku sudah diberi kepercayaan oleh Tetua Desa Rabby."
"Baiklah. Tapi hanya kamu saja yang boleh menemani. Yang lainnya tunggu saja diluar."
"Baiklah."
Setelah itu mereka berdua masuk kedalam kediaman Kepala Suku Goblin. Kepala Suku Goblin itu langsung duduk.
"Silakan duduk. Tapi maaf cuma ada satu kursi, jadi kamu berdiri saja bodyguard!"
Ziruko tidak senang dibilang bodyguard oleh Kepala Suku Goblin. Kepala Suku Goblin seperti ingin merendahkan Ziruko dengan cara yang halus. Nada bicaranya juga rendah. Setelah itu Kepala Suku Goblin memulai pembicaraan.
"Jadi, ada keperluan apa kamu datang kesini."
"Kami ingin menawarkan perdamaian."
"Perdamaian? jadi kamu akan menyerahkan luca itu?"
"Tidak."
"Kalau begitu aku menolaknya."
"Tolong jangan terlalu gegabah. Dengarkan penjelasan kami dahulu."
"Baiklah, apa kamu menawarkan sesuatu yang menarik?"
"Untuk saat ini, kami menawarkan untuk melakukan gencatan senjata."
"Terus apa keuntungannya bagiku?"
"Jujur saja, kami tidak tahu dimana lokasi luca berada. Jadi kita bisa mencarinya bersama-sama."
"Jika seperti itu, tetap saja pihakku yang merugi."
__ADS_1
"Tidak akan, karena kalian juga akan bersama-sama membangun sebuah desa yang besar dan mengelola desa."
"Yang aku inginkan itu luca, bukan desa. Jika aku menginginkan desa aku bisa mengambilnya dari dulu."
"Tapi, kamu bisa mengelola desa sepenuhnya. Seperti membuat peraturan dan lain-lain."
Sebenarnya Ziruko tidak setuju dengan tawaran yang diajukan oleh Lili. Tapi, untuk saat ini dia tidak bisa menganggu percakapan mereka. Dia hanya akan menyimak pembicaraan mereka saja, jika ada hal yang diluar kendali aku akan turun tangan.
"Sudah kubilang, aku tidak tertarik dengan mengelola desa."
"Baiklah, sepertinya tidak ada pilihan yang lain. Bagaimana kalau Desa Rabby tunduk kepada kalian?"
"Menarik. Sepertinya menarik. Tapi aku tetap tidak akan menerima tawaran itu."
"Terus, selain luca apa yang kamu inginkan?"
"Dengar ya, aku tidak tertarik selain kepada luca."
"Sepertinya kamu tidak bisa diajak kompromi."
"Begini saja, aku mempunyai tawaran yang menarik untuk berdamai."
"Tawaran apa itu, wahai Kepala Suku Goblin."
"Jika dilihat-lihat kamu itu cantik juga. Bagaimana kalau kita menikah untuk menyelesaikan permasalahan ini."
"Menikah? aku akan memikirkannya dulu."
Tiba-tiba Kepala Suku Goblin memegang tangan Lili dengan frontal, sambil mengucapkan "ayo, menikahlah denganku."
Melihatnya saja sudah membuat Ziruko muak. Dia langsung menyingkirkan tangan Kepala Suku Goblin dari Lili.
"Baiklah! sepertinya pembicaraan ini tidak ada hasilnya."
"Beraninya kamu mengangguku."
"Cihh.... padahal tadi dia ingin mengajukan perdamaian."
"Tapi, tidak boleh begitu juga."
"Memangnya apa aku tidak boleh memberikan tawaran?"
"Jika bicara saja sih, aku tidak akan ikut campur. Tapi, kalau sampai memegang Nona Lili, aku tidak akan membiarkannya. Orang sepertimu tidak cocok untuk Nona Lili."
"Berani sekali kamu berkata begitu. Begini-begini aku mempunyai satu istri dan delapan selir."
"Banyak banget dah..."
Tiba-tiba Lili berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah cukup hentikan."
"Jadi, apa keputusanmu?"
"Aku tidak akan menerima tawaranmu."
"Kenapa?"
"Aku akan menikah dengan Ziruko. Jadi aku tidak bisa menikah denganmu."
Ziruko terkejut mendengar perkataan Lili.
"Jadi kau lebih memilih dia ya, dibanding aku."
"Lagipula siapa yang ingin menikah dengan orang yang mempunyai selir banyak."
"Hahahaha, kalau begitu apa kita akan berperang?"
"Aku akan mendeklarasikan perang dengan kalian. Tapi aku meminta satu syarat."
__ADS_1
"Apapun syaratnya aku akan terima. Lagipula penduduk Desa Rabby tidak akan pernah menang melawan kami."
"Kalian tidak boleh menyerang sampai satu minggu kedepan."
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu saja."
"Aku terima syaratnya."
"Kalau begitu, izin pamit."
Lili berjalan menuju pintu keluar dengan muka yang masam. Ziruko mengikutinya.
Mizu dan Azalea yang berada diluar mengikuti Lili yang terus berjalan dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Desa Rabby dengan selamat. Lili terlihat kebingungan.
"Bagaimana cara aku membicarakan hal ini kepada kakek, Ziruko?"
"Ketika kamu berbuat sesuatu, seharusnya kamu bertanggung jawab."
"Aku membutuhkan saranmu, Ziruko."
"Katakan saja yang sejujurnya kepada kakekmu."
"Kalau begitu aku bisa dimarahi."
"Daripada berbohong, itu bukan perbuatan yang baik Lili."
"Tapi..."
"Lagipula jika kamu berbohong, maka kedepannya kamu pasti akan berbohong tentang hal yang lain. Dan kemungkinan besar hasilnya juga akan tidak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan."
"Apa kamu bisa menggunakan pedang, Ziruko?"
"Aku sih bisa. Tapi, pedang kebanggaanku patah."
"Tenang saja, kami mempunyai banyak stok pedang. Meskipun sudah sedikit karatan."
"Terus kenapa kamu menanyakan hal ini. Aku merasakan hal yang buruk tentang ini."
"Mungkin ini permintaan yang sedikit egois, aku ingin kamu dan teman-temanmu melatih para penduduk Desa Rabby."
"Sedikit egois bagaimana.... kalau menurutku sih ini adalah permintaan yang egois. Tapi, untuk mendapatkan luca sepertinya aku akan membantumu."
"Baiklah, jadi kita sepakat ya?"
"Ya. Tapi, ada hal yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu?"
"Apa kamu benar-benar mengetahui lokasi luca?"
"Kalo aku sih tidak tahu. Tapi, kakekku tau hal itu. Jadi anggap saja aku tidak berbohong waktu tadi berbicara dengan Kepala Suku Goblin."
"Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya padamu. Jadi jangan sampai kamu membuat kepercayaanku hilang."
"Ternyata kamu bisa menyeramkan juga ya. Tapi aku suka kamu saat kamu seperti ini."
"Terus apa-apaan dengan kamu yang bilang akan menikah denganku?"
"Kalau itu... anggap saja itu adalah kenyataan yang tertunda."
"Jadi apa kamu akan benar-benar menikah denganku?"
"Tergantung jawabannya. Kalo kamu serius aku akan siap sedia untuk menjadi istrimu. Tapi, kalau kamu menolaknya anggap saja kalau pernyataanku itu hanya gurauan."
"Memangnya ada ya pemikiran yang seperti itu?"
__ADS_1