
Rasanya aneh sekali duduk berdua di kereta kuda bersama dengan seorang perempuan yang seperti anak kecil.
Itulah yang dipikirkan oleh Ziruko.
"Apa kamu liat-liat?"
"Santai aja kali."
"Bagaimana bisa santai. Wajahmu seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya."
"Apa aku kelihatan sejahat itu?"
Kereta kuda pun berhenti, Ziruko terpental dari tempat duduknya. Tanpa sengaja ia memeluk Ratu Es Elena.
"Dasar anjing mesum."
"Kok kamu panggil aku anjing?"
"Cepat lepaskan bodoh."
Ziruko melepas pelukannya. Dia langsung turun dari kereta kuda. Elena berjalan di depannya.
Di samping kiri dan kanan berjajar patung seperti manusia yang membeku. Elena membukakan pintu istana. Ziruko mengikutinya.
"Mau apa kamu kesini?"
"Aku kan sudah bilang mau mengambil luca."
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?"
"Jahat banget sih."
Ziruko akhirnya duduk di depan pintu tersebut. Dan menunggu diizinkan masuk oleh Elena.
Berjam-jam telah berlalu, namun Elena tidak kunjung kembali.
"Apa dia benar-benar tidak mempedulikanku? Mungkin yang dimaksud dengan Ratu Es itu adalah sifatnya yang seperti ini."
Ziruko akhirnya memutuskan untuk bangkit dari duduknya, dan langsung masuk kedalam istana.
Dia melihat sekelilingnya, dia melihat ada banyak patung manusia yang seperti membeku dengan berbagai pose.
"Aku tidak pernah membayangkan bagaimana kalau ini semua adalah manusia asli."
Ziruko menemukan pintu di atas tangga yang ada di depannya. Dia langsung pergi menuju pintu tersebut dan langsung masuk kedalamnya.
"Halo! Apa ada orang disini?"
"Siapa itu?"
Terdengar suara seorang perempuan berbicara. Tentu saja suara itu berasal dari Elena.
"Aku Ziruko RE. Vanargard."
"RE? Mau apa kamu kesini?"
"Apa ini Déja Vu atau memang kamu mengulangi terus pertanyaan itu?"
"Lancang sekali kamu!!! Cepat tundukkan kepalamu!!!"
Ziruko tidak mematuhi perkataannya, dia tetap berdiri tegak.
"Kamu ini!!! Baru kali ini ada orang yang seperti ini. Apa kamu tidak tahu kekejaman Ratu Es!?!?"
"Kejam? Menurutku kamu itu manis."
"Manis katamu!?!?"
Elena langsung membekukan kaki Ziruko. Ziruko mencoba untuk bergerak, namun tidak bisa.
"Apa-apaan ini?"
"Inilah akibatnya menentang Ratu Es."
"Jadi, apa semua patung-patung itu adalah manusia asli?"
"Tentu saja. Mana mungkin aku memajang patung seperti itu ditempatku."
"Lepaskan aku!"
__ADS_1
"Sekarang kamu berani memerintahku? Dasar tidak mau di untung, aku tidak langsung membekukanmu tapi apa balasanmu?"
"Hee~~ aku tidak merasa senang jika seperti ini. Aku lebih senang hidup bebas daripada terperangkap di tempat ini. Kalau kamu tidak tahu tentang luca aku akan pergi."
"Baiklah aku akan membebaskanmu. Tapi ada syaratnya!"
"Syarat? Syarat apa?"
"Aku sudah memikirkan ini dari awal kita bertemu."
"Memikirkan apa? Apa kamu ingin menikahiku?"
"Kamu akan menjadi anjingku!!!"
"Hee~~ apa-apaan itu? Mana mungkin aku mau."
"Ya sudah kamu diam saja seperti itu terus."
"Palingan bentar lagi juga dilepasin."
Beberapa jam kemudian...
"Apa kamu tidak bosan duduk disitu terus?"
"Bosan apanya? Aku sudah terbiasa seperti ini."
"Ternyata benar, kamu ini benar-benar tidak punya perasaan."
Tiba-tiba Elena berdiri dari singgasananya. Dia berjalan mendekati Ziruko. Dia memegang dagu Ziruko.
"Hoo~~ anjingku yang manis, apa kamu ingin bebas?"
"Aku bukan anjing."
Akhirnya, Elena mencairkan es yang membekukan kaki Ziruko.
"Hufh~ selamat."
"Berterimakasihlah padaku sebagai majikanmu!"
"Terimakasih, tuan. Ehh~~ kok jadi gini."
Ziruko mengikuti Elena. Dia berjalan melewati lorong-lorong istana. Tidak ada seorangpun disini, itulah yang bisa dia simpulkan.
Elena langsung membukakan pintu suatu ruangan, Ziruko pun masuk keruangan itu. Ternyata ruangan itu adalah kamar.
"Kita akan membicarakan masalahmu disini!"
Tiba-tiba pintu kamar ini tertutup.
"Serem juga kalau punya istana yang seperti ini."
"Jika luca yang kamu maksud itu adalah arcana, maka aku menyimpan arcana itu di gua."
"Gua? Gua dimana?"
"Di sebuah gua yang dijaga oleh golemes yang merupakan raksasa es."
"Kenapa kamu menyimpannya disana, itu malah mempersulitku."
"Dasar tidak tahu berterimakasih, aku sudah capek-capek memberitahukan lokasinya."
"Aku berpikir lain?"
"Berpikir apa?"
"Mempunyai istana seperti ini tidaklah buruk juga. Kita bisa berselancar disini."
Niatnya Ziruko ingin membuat Elena tertawa, atau tersenyum. Tapi, harapannya tidak terwujud. Saat dia meluncur, dia malah kehilangan kendali dan jatuh menabrak Elena.
"Apa-apaan kamu, dasar anjing mesum selalu mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Maaf."
Ziruko langsung berdiri dan langsung berbalik seakan ingin pergi keluar dari tempat ini.
"Aku pergi dulu, terimakasih informasinya!"
Ziruko mencoba membuka pintunya namun pintunya tidak terbuka.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, anjing mesum. Kamu ingin pergi setelah kamu jatuh di depan majikanmu. Tidak bisa dimaafkan!!!"
"Aku kan sudah minta maaf."
"Siapa yang bilang memaafkanmu. Kamu ingin hukuman seperti apa? Dicambuk sampai mati? Atau dibekukan menjadi patung? Atau dibunuh dalam sekali serangan?"
"Itu namanya bukan pilihan."
"Cepat putuskan, kalau tidak aku akan langsung membunuhmu!!! 1... 2..."
"Ya sudah aku mending lari saja."
"Itu tidak ada dalam pilihan yang aku berikan."
Elena langsung menciptakan cambuk yang terbuat dari es. Dia langsung menghampiri Ziruko.
"Kamu tidak bisa lari!!!"
"Ziruko langsung mengumpulkan energi di tangan kanannya dan langsung memukulkannya ke pintu yang menuju ke lorong istana.
"Sial!!! Tidak bisa dihancurkan."
Beberapa jam kemudian...
"Apa kamu sudah menyesali perbuatanmu, anjing mesum!?!?"
"Ya, aku menyesal. Untung saja aku tidak mati."
"Apa kamu ingin menambah hukumanmu?"
"Tentu saja tidak."
"Baiklah, aku akan menemanimu untuk pergi ke gua itu."
"Ada apa? Kok jadi tiba-tiba baik begitu."
"Bukan apa-apa, ini bukan urusanmu."
"Semoga kamu seperti ini terus."
"Ngomong-ngomong apa kamu kenal Liliana?"
"Maksudmu... Liliana de Rabby no Luca IX?"
"Ya... Siapa lagi kalau bukan dia."
"Jadi kalian teman masa kecil ya. Pantas saja sifat kalian sedikit mirip."
"Jangan asal menebak. Ngomong-ngomong nama kamu itu Ziruko RE. Vanargard, kan?"
"Memangnya kenapa?"
"Beberapa hari yang lalu ada orang yang berkunjung kesini, dan menyandang nama itu."
"Hee~~ seperti apa rupanya?"
"Dia putih, rambutnya hitam, matanya biru sepertimu. Dia perempuan."
"Sepertinya aku kenal... Siapa ya?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!"
"Jelaskan lebih rinci!"
"Tubuhnya langsing, lumayan tinggi. Rambutnya panjang, dadanya lumayan besar."
"Oh, aku tahu itu Kak Reina."
"Reina?"
"Dia kakakku. Namanya Reina RE. Vanargard. Ada apa ya dia kesini? Apa mungkin dia nyasar."
"Tidak mau tau dan tidak peduli. Sekarang, cepat tidur disitu!!!"
"Iya. Iya. Aku juga tau, ini kan sudah malam."
Tidak lama kemudian Ziruko tertidur. Elena langsung tidur di sampingnya dan mengucapkan, "maaf, mungkin aku terlalu berlebihan."
Perkataannya itu mungkin tidak berguna, karena tidak bisa didengar oleh orang yang sedang tidur.
__ADS_1