
Hari sudah menjelang malam. Perang akan segera dimulai. Ziruko mencoba untuk membangkitkan semangat para penduduk Desa Rabby.
"Matahari sudah terbenam, kemungkinan besar sebentar lagi para goblin akan menyerang. Kita bukan orang lemah lagi, selama kita bersama tidak akan ada yang bisa mengalahkan kita."
Setelah itu, dari jauh terlihat beberapa obor yang berkilauan.
"Para goblin sudah mulai terlihat. Semuanya pergi ke posisi kalian masing-masing. Saat suara perang dimulai terdengar, kalian langsung lakukan rencananya."
"Baik, tuan Ziruko."
"Setelah itu, untuk Lili aku memerintahkan kamu untuk tidak ikut bertarung."
"Kenapa?"
"Kamu itu kan seorang perempuan."
"Tapi Mizu, dan Azalea juga kan perempuan."
"Pokoknya kamu berdiri saja ditempat yang tinggi, untuk memberitahukan kondisi medan perang."
"Begitu ya, baiklah Ziruko."
Setelah itu mereka langsung pergi ke posisinya masing-masing.
Ziruko mencoba untuk berbicara dengan kelompoknya.
"Kalian... saat aku bilang maju, kalian juga harus maju. Saat aku bilang mundur kalian juga harus mundur."
Lalu tiba-tiba ada yang menyela perkataan Ziruko.
"Kenapa? bukannya kita sudah kuat."
"Jangan terlalu percaya diri, percaya diri bisa berdampak kepada hasil yang buruk."
"Mana ada seorang pahlawan yang mundur dari medan pertempuran."
"Sebenarnya mundur dari pertempuran itu, adalah suatu keberanian. Jika kamu tidak cukup berani kamu tidak akan bisa memutuskan untuk mundur dari medan pertempuran."
"Bukannya kalau kita terus menyerang akan lebih terlihat menjadi seorang pahlawan."
"Jika kamu pikir begitu, pikiranmu salah total. Percuma saja, jika kamu maju terus dan kamu mati. Semua pencapaianmu akan hilang begitu saja."
"Bukannya pencapaian itu akan membekas."
"Ya, itu juga jika kamu memberikan dedikasi yang tinggi. Jika diibaratkan, Gilgamesh adalah seorang kaisar yang kuat. Bayangkan kamu adalah prajuritnya. Apakah semua orang akan tau nama dari kamu yang hanya seorang prajurit. Bukan maksud merendahkan, tapi untuk sekarang lebih baik kamu terus hidup, dan raih suatu tujuan yang lebih besar. Jika mati disini, kamu akan menyesal."
Laki-laki itu tidak lagi menjawab perkataan Ziruko.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Lili, dia berteriak, "Para goblin itu mulai berlari, mereka akan sampai keparit sekitar lima puluh detik lagi!!!"
"Semuanya, serang!!!"
Semua orang yang bersama Ziruko berlarian dibelakangnya. Ziruko memimpin pasukan ini. Dia mengarahkan kapan waktu untuk menyerang.
__ADS_1
"Saat mereka sudah dekat langsung serang saja!"
"Siap!!!"
"Aku akan menghancurkan formasi mereka dulu. Kalian lari saja terus sampai kesana, setelah itu serang mereka!"
"Siap!!!"
Ziruko mengumpulkan energi gaia-nya pada kedua tumpuan kakinya. Setelah itu dia melesat kearah para goblin itu berada.
Teknik ini adalah teknik yang dia gunakan saat melawan Hanzo. Dan dia menamakannya, "Langkah Kilat"
Sambil melesat dia mengumpulkan energi gaia-nya pada tangan kirinya. Setelah itu memukulkan ke tanah yang ada di depan para goblin itu.
Lalu Ziruko menyerang para goblin yang menyerangnya. Dia berhasil menghindari semua serangannya.
Beberapa saat kemudian, pasukan Ziruko sampai dan mereka langsung berperang dengan goblin.
"Terus semangat, kita pasti akan menang. Tunjukkan hasil latihan kalian!!!"
Para penduduk Desa Rabby terlihat sangat hebat. Hanya dengan latihan enam hari mereka bisa menyeimbangi para goblin yang terbiasa bertarung.
Ziruko langsung mengumpulkan energi lagi ke tangan kanannya. Setelah itu dia memukulkannya ke tanah pijakannya.
Debu pun mulai menghiasi pandangan. Baik para goblin ataupun para penduduk Desa Rabby, ada yang terkena efek dari debu tersebut.
Ziruko melakukan hal ini, untuk menjaga stamina Penduduk Desa Rabby. Beberapa dari mereka ada yang sudah terlihat kelelahan.
Semua penduduk Desa Rabby mengikuti perintah dari Ziruko. Hal ini berjalan dengan lancar.
"Kalian di duluan saja, aku akan menghalau mereka disini."
"Tapi..."
"Tidak apa-apa aku tidak selemah itu."
Mereka pun mengikuti instruksi dari Ziruko. Dan seperti yang tadi dia katakan, dia menahan pasukan goblin yang berlarian ingin mengejar para penduduk Desa Rabby.
Setelah itu dia ikut berlari dengan penduduk Desa Rabby. Saat mereka hampir sampai, pasukan yang berada di parit-parit mulai melompat keluar. Dan mereka menyerang para goblin yang jaraknya lumayan dekat.
Yang maju duluan adalah pasukan yang dipimpin oleh Mizu. Mereka berlari sangat cepat, mungkin mereka murid andalan Mizu.
Pasukan yang dipimpin oleh Azalea mengikuti pasukan Mizu. Dan pasukan yang dipimpin oleh Ziruko masuk kedalam parit.
"Bagaimana semuanya, apa kalian yakin akan menang?"
"Sekarang kami yakin kalau kami bisa menang."
"Ingat jangan terlalu percaya diri. Selama kalian mengikuti arahanku, kalian akan aman-aman saja."
"Baik."
"Untuk saat ini kalian istirahat saja dulu. Medan perangnya sebentar lagi akan berakhir."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Ya, jika diperkirakan jumlah goblin yang tersisa tinggal sekitar seribu dua ratus orang lagi."
"Bukannya kalau segitu, masih banyak?"
"Ya, tapi kalian lihat saja. Dalam sekejap akan ada puluhan korban yang berjatuhan."
Mereka naik keluar dari parit, dan melihat pertempuran sambil duduk.
Sedangkan itu, keadaan pasukan yang dipimpin oleh Mizu terlihat sangat ahli. Mereka menggunakan pedang layaknya, seorang prajurit kekaisaran. Artinya, mereka seperti sudah lama dilatih padahal mereka cuma latihan enam hari.
Mizu kembali kebelakang dan berbicara dengan Azalea.
"Aza, ayo kita selesaikan ini dengan cepat."
"Baiklah."
Setelah itu Azalea mengeluarkan "Tornado" kearah para goblin itu berada. Para penduduk Desa Rabby yang berada didekat situ mundur kebelakang.
Kali ini formasi pasukan goblin benar-benar kacau balau. Mereka berlarian kesana-kemari.
Ada beberapa goblin yang terlempar oleh tornado yang dikeluarkan oleh Azalea.
Mizu terlihat sangat bahagia, dia seperti sedang merencanakan sesuatu.
Tornado nya sudah hilang. Meskipun ini serangan yang mengakibatkan kehancuran dengan skala besar, tetapi waktu penggunaan dari sihir itu sangat sebentar.
Mizu menyuruh Azalea menggunakan sihir itu lagi. Kali ini dia juga menggunakan sihirnya. Dia menggunakan "Water Splash" dan mengarahkannya kepada tornado yang dikeluarkan oleh Azalea.
Sontak air itu menjadi terciprat kemana-mana. Satu persatu obor yang dipegang oleh para goblin mulai padam. Sekarang medan perang benar-benar gelap.
"Ini adalah kombinasi yang bagus, bukan?"
"Bagus darimananya, bajuku juga terkena cipratan."
"Setidaknya bajumu tidak tembus pandang kan?"
"Ternyata kamu lebih mesum daripada Ziruko."
Dari kejauhan Ziruko memandang medan pertempuran. Dia sedikit kebingungan karena pasukan yang dipimpin oleh Tred masih belum menyerang.
"Kalian, aku khawatir dengan keadaan Tred dan pasukannya. Aku mempunyai firasat buruk."
Tiba-tiba berjatuhan anak panah dari langit. Untung saja mereka semua sadar akan ancaman dari anak panah itu.
Ada yang memanggil Ziruko. Orang yang memanggilnya tidak lain tidak bukan adalah Lili. Dia terlihat seperti kelelahan, sepertinya dia sangat berusaha keras untuk bisa cepat sampai ke tempatnya Ziruko.
"Ada apa Lili?"
"Ini gawat, dari arah hutan terlihat banyak obor. Dan mungkin saja mereka lebih banyak dari goblin yang sekarang ini."
"Gawat!!! kemungkinan besar Tred sedang melawan mereka. Dan juga kamu aku perbolehkan untuk masuk ke medan perang. Kali ini situasinya sudah sangat kacau. Aku benci dengan ini, tapi ternyata firasatku saat ini itu benar."
__ADS_1