
Setelah itu, para goblin itu pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa ini bisa disebut kemenangan, Ziruko?"
"Hal seperti ini tidak bisa disebut kemenangan."
"Kenapa?"
"Kita tidak boleh puas hanya dengan terbebas untuk sementara. Yang kamu butuhkan sekarang adalah kebebasan hidup untuk selamanya."
Lili berubah kembali menjadi wujudnya semula.
"Aku kira kamu tidak bisa kembali menjadi seperti semua lagi."
"Mana mungkin aku akan berubah jika resikonya seperti itu."
"Hoo~~~ ayo kita pergi ke Kota Belerick."
Mereka bertiga berjalan bersama pergi menuju Kota Belerick. Mereka berjalan dengan disinari oleh cahaya bulan.
"Mizu, terimakasih untuk hari ini dan hari-hari sebelumnya."
"Ada apa Ziruko?"
"Kamu berani mengambil resiko, hanya untuk kepentinganku."
"Tidak apa-apa Ziruko. Aku melakukan ini karena aku mau."
"Kamu tidak mengucapkan terimakasih padaku?" Lili langsung masuk kedalam obrolan dengan memasang wajah yang musam.
"Terimakasih juga Lili, kalau tidak ada kamu mungkin kita akan kerepotan."
"Aku harap yang lainnya baik-baik saja."
"Kita perlu pasukan yang lebih banyak."
"Kamu benar Ziruko. Sesampai di sana kita harus mencari orang yang suka rela mengikuti perang."
"Kalau begitu sepertinya akan susah, Lili!"
"Memang benar. Mana ada orang yang mau ikut perang tanpa ada bayaran."
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan Kota Belerick. Terlihat disana ada Azalea dan rombongannya.
"Aza~" Ziruko berteriak.
Azalea menghampirinya sambil menunjukkan senyuman.
"Syukurlah kamu selamat. Apa kalian menang?"
"Kalau dibilang menang sih... sepertinya terlalu cepat."
"Apa yang terjadi?"
"Kepala Suku Goblin mempunyai tawaran untuk menunda perang ini."
"Kenapa tidak kamu langsung selesaikan saja?"
"Aku tidak bisa terus bertarung dengan pasukan sebanyak itu."
"Kalau begitu, pilihanmu benar. Kalau kamu mati yang akan merasakan kesedihan adalah aku."
"Aku tidak bisa membuat kamu menangis. Kalau kamu menangis aku bisa dihajar Paman Nathan."
Mereka berdua tertawa bersama-sama.
"Ini bukan waktunya untuk tertawa. Kita harus mencari relawan untuk suka rela ikut ke medan perang."
"Tunggu dulu Ziruko."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Dimana kita akan tinggal?"
"Benar juga, kita sudah memutus kontrak sewa penginapan."
"Lagipula kalau masih ada kontraknya tetap saja tidak bisa tinggal di sana. Orang sebanyak ini tidak bisa muat di sana."
"Kalau begitu, kita akan berkemah di Padang Belerick."
"Sepertinya itu pilihan yang bagus."
Ziruko dan Azalea memberikan arahan kepada Penduduk Desa Rabby untuk pergi ke Padang Belerick.
Penduduk Desa Rabby bergotong royong untuk menciptakan tempat yang bisa ditinggali. Mereka memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Mereka juga membuat api unggun.
Dari kejauhan, terlihat Tred berlari menghampiri Ziruko yang saat ini sedang bersama dengan Lili.
"Tuan Ziruko, Nona Lili, sekali lagi saya minta maaf." Tred mengatakan hal itu sambil menundukkan kepalanya.
Lili menjawab perkataan dari Tred.
"Tidak apa-apa Tred, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mau bagaimanapun keadaannya, sangat tidak etis jika ada peperangan yang tidak menimbulkan korban jiwa."
"Lagipula seharusnya kamu meminta maaf kepada keluarganya," tambah Ziruko.
"Benar juga, terimakasih atas kebaikan hati tuan, nona. Saya izin undur diri."
"Satu lagi Tred, kamu sudah berjuang keras. Aku tidak pernah menyangka kamu mempunyai potensi yang hebat seperti ini."
"Tidak usah terlalu memuji saya, nona. Saya tidak akan bisa seperti ini jika Tuan Ziruko tidak mengajarkan saya cara untuk bertarung."
Ziruko dan Lili memutuskan untuk tidur.
"Eh~ Lili kok kamu tidur disini."
"Aku tidak ada waktu untuk mencari tempat untuk tidur."
"Kalau begitu aku saja yang pergi mencari tempat tidur."
Lili sudah tidur sambil memegang tangan Ziruko. Lili hanya tidur beralaskan daun.
Keesokan harinya...
"Hari yang cerah menantiku!"
"Ada apa Ziruko, apa kamu mengigau."
"Tidak. Maafkan aku, aku terlalu senang."
"Senang kenapa?"
"Aku mempunyai ide untuk mengumpulkan pasukan."
"Ide seperti apa?"
"Aku akan menghubungi orang-orang yang aku kenal untuk membantuku."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Benar juga, aku tidak kepikiran sampai kesitu."
Ziruko dan yang lainnya bersiap-siap untuk pergi ke Kota Belerick untuk mencari pasukan relawan.
"Kita berpisah saja untuk mempersingkat waktu!"
Ziruko berkunjung ke guild Los Veresa. Disana dia mencari petualang yang berani menawarkan diri untuk peperangan.
"Apa disini ada yang minat dengan perang?"
"Ada apa anak muda? sepertinya kamu sering kesini untuk melaporkan hal-hal yang diluar nalar."
"Terimakasih telah mengingatku. Tapi, yang lebih penting lagi... akan datang pasukan goblin untuk menyerang wilayah ini!"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Benar, mungkin ini karena kesalahanku juga."
"Memangnya apa kesalahanmu sampai-sampai membuat Kepala Suku Goblin marah?"
"Aku membantu Penduduk Desa Rabby."
"Bukannya desa itu sudah lama hancur. Semakin lama, semakin jauh kamu mengkhayal."
"Tidak apa-apa jika kalian tidak percaya, tapi jika kalian berubah pikiran... kalian bisa pergi ke Padang Belerick. Disana adalah kamp kami."
Sedangkan itu, Azalea pergi ke restoran.
"Jika kalian ada yang minat dengan perang, kalian bisa maju."
"Memangnya ada apa nona cantik?"
"Akan ada pasukan goblin yang menyerang tempat ini. Jika kita diam saja keluarga kita bisa terancam."
Seketika suasana menjadi hening. Tiba-tiba ada seorang laki-laki kekar yang mengangkat tangannya. Laki-laki itu lalu berdiri dan mengatakan, "aku ikut."
Azalea terkejut, karena laki-laki itu adalah Paman Nathan.
"Paman, sudah lama tidak ketemu."
"Baru juga kemarin-kemarin. Mumpung libur, lebih baik bantu tuan putri."
Orang-orang yang sedang makan, terkejut karena Paman Nathan memanggil Azalea dengan sebutan tuan putri.
"Apa benar kamu tuan putri?"
"Jarang-jarang ada orang kekaisaran kesini."
"Aku jadi pengen ikut perang kalau demi tuan putri."
"Aku akan melakukan perang untuk tuan putri dan keluargaku."
Entah mengapa Azalea bisa mendapatkan pasukan dengan mudahnya.
"Sudah, sudah. Kalau kalian berminat nanti bisa datang ke Padang Belerick, disana adalah kamp kami."
Strategi yang digunakan Azalea terbilang lancar. Sedangkan itu, Mizu dan Lili berjalan bersama.
"Aku tidak tahu harus mencari pasukan kemana."
"Kalau aku, tidak tahu jalan disini."
"Hee~ jadi kamu ikut juga tidak ada gunanya ya."
"Aku tidak suka dengan tanggapanmu itu."
Tiba-tiba mereka melihat bayangan yang besar di awan.
"Kira-kira itu bayangan apa ya?"
"Sepertinya itu naga."
"Naga? ada apa denganmu Lili. Tidak mungkin ada naga disini. Mungkin itu hanya wyvern saja."
"Tapi, bagaimana kalau itu naga? bagaimana kalau naga itu sedang mencari mangsa? kita bisa mati."
"Bukannya naga makan ikan."
"Sejak kapan naga makan ikan. Siapa yang bilang seperti itu sih?"
"Tadi aku baru mengatakannya, Lili."
"Semoga saja dengan adanya naga ini menjadi pertanda baik untuk kita."
"Jangan terlalu positif thinking, bagaimana kalau naga itu menyembur kita dengan api saat perang nanti?"
__ADS_1
"Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh Mizu."
"Sepertinya kita ada kemiripan."