Legenda Arcana

Legenda Arcana
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Hanya rasa bimbang yang Ziruko rasakan saat melihat Kagura terbaring dan berlumuran darah di hadapannya.


"Kagura! bukannya kamu sudah berjanji? Cepat bangun! Apa cuma segini saja kemampuan dari Ksatria Zodiak?"


Namun hal yang dilakukan Ziruko itu sia-sia. Mau bagaimanapun caranya orang mati tidak akan bisa hidup lagi.


"Sekarang aku harus bagaimana?"


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, yang datang adalah Irina.


"Ada apa Ziruko, pagi-pagi begini kamu teriak?" tanya Irina.


Selang beberapa detik Irina kembali berbicara, "Apa yang terjadi dengan Nona Kagura?". Irina mengatakan hal itu sambil berlari kearah Ziruko.


"Aku pun tak tahu, saat aku terbangun semuanya sudah seperti ini. Aku benar-benar tidak menduga hal ini akan terjadi."


"Sepertinya yang harus kita lakukan sekarang adalah melaporkannya kepada ayahku," kata Irina dengan tegas.


Mereka berdua pun langsung pergi menemui Kaisar Luis. Terlihat Kaisar Luis sedang duduk di singgasananya, dan disampingnya ada Pangeran Aslan.


Irina langsung memberitahukan kepada Kaisar Luis tentang kematian Kagura. Saat Irina selesai berbicara, Aslan langsung mengucapkan opininya.


"Kalau begitu bukankah sudah jelas pembunuhnya itu adalah kamu, Ziruko!"


Ziruko tidak bisa diam saja ketika Aslan memberikan tuduhan padanya.


"Maaf saja, tapi bukankah opinimu itu adalah opini yang tanpa bukti? itu sama saja kamu menuduh seenaknya saja."


"Bukankah sudah jelas, ayahanda. Iblis akan tetap menjadi seorang iblis. Bahkan dia membunuh temannya sendiri. Jujurlah, kamu itu adalah iblis bukan?"


"Ya... memangnya kenapa? apa itu masalah buatmu."


"Ras iblis itu tidak memiliki akal, dari beberapa ribuan tahun yang lalu mereka terus membunuh manusia demi kekuasaan yang mereka inginkan. Bukankah itu saja sudah menjadi alasan yang tepat untuk membuktikan kalau kamu adalah pelakunya."


"Aku tidak suka dengan sikapmu itu, hanya saja bagaimana jika aku balik bertanya padamu. Lalu apakah manusia itu adalah sosok yang sangat bijaksana. Mereka pun membantai ras iblis dengan habis-habisan. Lalu apakah hal itu merupakan suatu kebaikan?"


"Ras iblis itu memang seharusnya tidak ada di dunia ini."


"Ingat saja, tidak semua manusia itu mempunyai pikiran yang baik. Bahkan ada manusia yang memiliki pikiran tak bermoral sampai-sampai memperbudak manusia lainnya. Semuanya tergantung cara pemikiran kita."


"Dasar...."


Kaisar Luis berdiri dari duduknya dan langsung menghentikan perdebatan mereka berdua.


"Baiklah, tidak usah diperdebatkan lagi. Sebenarnya aku juga curiga padamu Ziruko."


"Kenapa Kaisar Luis?"


"Semuanya berjalan begitu aneh sejak kamu datang ke istana ini. Bermacam-macam masalah silih berganti terus berdatangan. Jadi, jika kamu memang benar-benar tidak membunuh Kagura, carilah pelaku sebenarnya! karena tidak mungkin ada orang yang seenaknya masuk ke dalam istana, apalagi ke kamar pribadi. Jika kamu belum menemukannya sampai fajar tiba di esok hari maka kamu akan menerima konsekuensinya."


"Baik, Kaisar Luis. Namun bukankah waktu itu terlalu singkat?"


"Jika kamu memang tidak bersalah, kamu pasti bisa dengan mudah menemukan pelakunya bukan?"

__ADS_1


Setelah itu tiba-tiba Aslan tertawa, dan mengatakan "bersenang-senanglah meratapi kematianmu. Konsekuensinya adalah eksekusi mati. Besok kita bisa melihat dua iblis di eksekusi sekaligus."


Ziruko yang mendengarnya menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Aslan.


"Aslan, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu..."


"Tidak usah dilanjutkan, aku tau kamu mau menanyakan hal apa... jawabannya adalah seorang perempuan dari ras vampir. Apa mungkin itu adalah kenalanmu? Hahahaha"


Ziruko menjadi semakin bimbang, dia mempunyai firasat kalau perempuan yang Aslan maksud itu adalah Mizu. Tanpa berpikir panjang lagi, Ziruko langsung menyelidiki TKP.


"Aku tidak bisa berpikir jernih... aku terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Sial! andai saja sekarang ada Kagura disini, pasti dia akan memberitahukan padaku yang sebenarnya terjadi."


"Itu mustahil bukan Ziruko, sepertinya kamu terlalu bergantung pada Nona Kagura," kata Violet yang tiba-tiba datang menemuinya.


"Jadi, ada apa Violet?"


"Aku sudah mendengar tentang apa yang terjadi. Yang terpenting kamu harus berpikir jernih. Hanya itulah yang dapat aku katakan."


"Seharusnya hari ini aku melakukan perjalanan ke Kerajaan Astar. Namun mau bagaimana lagi... andai saja aku tidak membiarkan Kagura pergi sendirian... andai saja aku tidak tidur semalaman."


"Berhentilah mengeluh, Ziruko! Kamu menunjukkan hal yang tidak biasanya. Kamu jadi terlihat semakin menyebalkan," kata Azalea sambil menepuk punggung Ziruko.


"Ziruko aku mempunyai cara untuk menyelesaikan kasus ini," kata Irina dengan nada yang sedikit menyombongkan diri.


"Tidak seperti biasanya, Irina." jawab Ziruko.


"Caranya adalah berpikiran negatif kepada semua orang."


"Sudah kuduga, ternyata ide bodoh yang kamu katakan."


"Kalau begitu... aku mencurigai Irina."


"Kenapa kamu jadi curiga padaku?"


"Karena kamu yang pertama kali datang kesini. Dan juga kenapa kamu bisa mendengar suara teriakanku, padahal kamar kita itu jaraknya sangat jauh."


"Hee~ sebenarnya..."


"Sebenarnya kenapa?"


"Aku sedang berada di depan lorong kamarmu."


"Hee~ untuk apa kamu melakukan itu?"


"Tadinya aku ingin membangunkanmu."


"Alasan yang tidak masuk akal, sepertinya memang bukan kamu pelakunya."


"Selanjutnya aku mencurigai kakakmu Irina."


"Ngomong-ngomong kakak yang mana ya? aku kan punya tiga kakak."


"Tentu saja aku mencurigai Azalea, tumben sekali dia baik seperti ini."

__ADS_1


"Tumben? lalu waktu yang kita habiskan.... sudahlah lupakan saja." Setelah mengatakan hal itu Azalea langsung berbalik dan berniat untuk meninggalkan ruangan ini.


"Jangan pergi dulu Aza, lagian aku jadi bingung kenapa semua orang jadi baik seperti ini."


Azalea mengurungkan niat untuk pergi dari ruangan ini.


"Jadi, sekarang siapa yang kamu curigai," kata Azalea.


"Andai saja dari pertama masuk ke istana ini, kamu bersikap ramah seperti ini, Aza. Apa kamu gengsi?"


"Sudahlah cepat katakan siapa yang kamu curigai lagi."


"Yang selanjutnya aku curigai adalah Aslan. Dia terlalu membenci ras iblis, itu menjadi sebuah alasan yang tepat."


"Kamu tidak bisa menyimpulkan hanya dengan alasan seperti itu bukan? ngomong-ngomong Kak Aslan itu orangnya idealisme. Kalau menurut dia salah, ya salah. Dia memang si kepala batu."


"Selanjutnya aku mencurigai Kaisar Luis."


"Kenapa kamu sampai mencurigai ayahku juga?"


"Bukan begitu Aza, hanya saja kaisar tidak seperti biasanya. Dia seperti terlalu memojokkanku."


"Begitu ya, lalu siapa lagi yang kamu curigai?"


"Mungkin orang ini tidak mempunyai hubungan dengan istana ini. Tapi orang ini benar-benar mencurigakan."


"Siapa yang kamu maksud, Ziruko?"


"Namanya adalah Walterz, dia adalah pesulap yang saat itu aku temui saat berkencan dengan Irina."


"Berkencan?"


"Sepertinya aku salah mengatakan kata itu. Maksudku itu berkenalan."


"Jelas sekali kamu sedang berbohong."


"Irina, bukankah pesulap itu sedikit mencurigakan?"


"Ya, kamu benar... waktu itu aku merasakan firasat buruk." jawab Irina dengan nada yang kecil.


"Sepertinya aku terlalu berpikiran negatif, saat-saat seperti ini harusnya aku meminum segelas air putih."


"Kalau begitu biar aku ambilkan," kata Violet.


"Dugaanku benar, semua orang tiba-tiba jadi baik."


"Jangan salah sangka, aku hanya berniat memanggil pelayan untuk membawakan air kesini."


Beberapa saat kemudian air yang ditunggu-tunggu oleh Ziruko pun tiba. Violet langsung memberikannya kepada Ziruko. Dengan sigap Ziruko langsung meminum air itu.


"Hee~ kenapa tiba-tiba aku merasa pusing ya."


"Kamu kenapa Ziruko, jangan lebay!" kata Azalea.

__ADS_1


Selang beberapa detik, Ziruko langsung pingsan di tempat itu.


__ADS_2