
Semuanya kembali ke kamp yang ada di Padang Belerick. Ziruko terkejut ada Paman Nathan.
"Kok ada paman?"
"Aku akan membantu kalian."
"Apa Irina ikut juga?"
"Kenapa sih kamu ngomongin Irina? apa mungkin kamu suka sama Irina?" kata Azalea yang langsung berbicara ketika Ziruko menyebutkan nama Irina.
"Tentu saja tidak Ziruko. Aku ada disini karena aku sedang libur. Jadi aku kesini bukan untuk liburan."
"Oh maaf paman sudah mengganggu hari libur paman."
"Anggap saja ini sebagai balas budiku karena kamu waktu itu sudah membantuku. Kalau ini selesai aku jadi tidak punya hutang budi lagi bukan?"
"Baiklah, paman."
Mizu tiba-tiba menghampiri Ziruko.
"Ziruko, tadi aku menemukan naga."
"Apa? naga?"
"Ya, meskipun tidak jelas, tapi aku dan Lili melihat bayangannya dibalik awan."
"Bisa gawat kalau naga itu tiba-tiba menyerang kita."
Tiba-tiba Paman Nathan memberitahu fakta tentang naga tersebut.
"Naga ya? sepertinya kalau dikawasan ini yang paling dekat adalah naga yang berasal dari Hutan Terlarang."
"Hutan Terlarang? tempat apa itu?"
"Itu tempat diamnya naga hitam. Ada yang bilang naga hitam itu terlihat selalu tidur. Mungkin dia sedang melakukan hibernasi. Bisa gawat kalau dia bangun dan tiba-tiba membuat kekacauan."
"Emangnya naga itu bisa hibernasi ya?"
"Entahlah aku juga tidak tahu, aku belum pernah bertemu dengan naga."
"Yang terpenting saat ini kita harus mempersiapkan diri untuk pertempuran. Bisa saja para goblin itu menyerang malam ini."
"Tapi, bukannya kamu yang bilang kalau para goblin akan menunggu selama dua hari?"
"Iya juga, tapi aku merasakan suatu firasat yang buruk."
"Aku harap kali ini firasatmu tidak tepat."
"Aku harap juga begitu."
Tiba-tiba Tred berlari sambil terengah-engah.
"Bahaya, Tuan Ziruko."
"Ada apa Tred?"
__ADS_1
"Para goblin sedang menuju kesini!"
"Seperti yang kuduga. Suruh semua pasukan bersiaga. Kali ini kita akan bertarung seadanya. Kita tidak mempersiapkan pertahanan. Tapi setidaknya masih ada harapan untuk menang. Meskipun kesempatan menangnya hanya 5% tapi selama itu bukan 0% kita masih bisa menang."
"Baiklah, Tuan Ziruko."
"Satu lagi, beritahukan kepada mereka untuk tidak memaksakan diri. Jika mereka merasa tidak akan menang, mundur pun tidak apa-apa."
Tred pun berlari memberitahukan hal ini kepada yang lainnya. Sedangkan itu, Ziruko menyusun rencana dengan orang-orang yang ada di dekatnya.
"Yang pertama, Aza kamu aku tugaskan untuk menghalau anak panah yang berjatuhan dari langit menggunakan sihirmu."
"Baiklah, Ziruko," jawab Azalea.
"Selanjutnya, Mizu aku tugaskan kamu untuk berada di medan pertempuran."
"Sudah kuduga akan seperti ini," kata Mizu.
"Paman Nathan, kamu bebas melakukan apa saja. Aku tidak enak memberimu perintah."
"Aku akan menghalau anak panah dari langit, dan melindungi barisan depan," jawab Paman Nathan.
"Yang terakhir, Lili jika kamu ingin bertarung, ikut saja! tapi kamu tidak boleh bertarung saat ini. Aku akan mengizinkanmu saat hari sudah malam."
"Tanpa kamu beritahu pun akan aku lakukan,"jawab Lili dengan muka yang masam.
Ziruko langsung keluar dari reruntuhan. Tiba-tiba dia mengeluarkan tanduk pemberian Minos.
"Apakah ini benar-benar akan berhasil. Aku gunakan tidak ya?"
Ziruko meniup tanduk itu. Tapi tidak terdengar suara apapun. Yang terdengar hanyalah suara angin yang berhembus pelan.
Ziruko langsung menyampaikan pidato singkat di depan pasukannya.
"Saat ini kita mendapat bala bantuan dari penduduk yang ada di Kota Belerick. Hal ini akan menjadi sebuah kemajuan. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, tapi kemampuan kita lebih hebat. Dengan ini kita akan buktikan, siapa yang akan menang. Yang lebih banyak jumlahnya atau yang lebih hebat kemampuannya."
Seketika mereka berteriak sambil memanggilkan nama Ziruko.
Matahari mulai tenggelam, dan bulan mulai naik.
"Perang akan segera dimulai!"
Tiba-tiba para goblin keluar dari sisi lain hutan. Mereka berlarian sambil membawa senjatanya yang bervariasi, ada yang membawa pedang ada juga yang membawa kapak.
Tred langsung maju ke medan perang. Dia diikuti oleh pasukan yang ada di belakangnya.
"Tred berhati-hatilah."
Ziruko mengambil ancang-ancang, dia mengumpulkan energi di kedua tumpuan kakinya.
Setelah terkumpul dia langsung melesat kearah para goblin itu, dan memutarkan tubuhnya.
"Ini gerakan ini kunamakan dengan nama twice."
Mizu melemparkan beberapa pisau ke arah para goblin itu. Sekali-kali dia mengeluarkan sihir yang berasal dari arcana miliknya.
__ADS_1
Lili merubah wujudnya, dan langsung memporak-porandakan formasi pasukan goblin. Beberapa orang terkejut karena Lili bisa berubah.
Azalea terus menghalau anak panah yang berjatuhan dari langit. Paman Nathan juga melakukan hal seperti Azalea. Hanya saja dia melakukannya sambil bertarung dengan para goblin itu.
Ziruko memikirkan cara agar stamina mereka tidak terkuras habis. Karena percuma saja kalau stamina mereka habis, mereka hanya akan mendapatkan hasil yang seperti kemarin.
Jika Ziruko memerintahkan mereka untuk berhenti bertarung pun... sepertinya akan sia-sia. Hal ini dikarenakan kobaran semangat yang sangat besar.
Ziruko juga melihat kalau ternyata ada orang-orang yang ikut dengannya waktu itu saat menjelajahi reruntuhan.
"Aku tidak menyangka mereka juga membantuku."
Kepala Suku Goblin terlihat sedang duduk santai di atas singgasananya yang diangkat oleh beberapa goblin. Ziruko memikirkan sesuatu ide licik. Dia memanggil Mizu untuk membisikkan sebuah rencana.
"Mizu! aku mempunyai rencana."
"Rencananya seperti apa?"
"Mumpung bos nya terlihat, kenapa kita tidak menyerang bos nya saja. Jika bos nya kalah semua bawahannya pasti akan mundur."
"Sepertinya itu ide yang bagus. Aku akan mencoba menyerangnya."
Mizu melemparkan tiga buah pisau ke arah Kepala Suku Goblin. Pisau itu mengenai badan dari Kepala Suku Goblin, tapi dia mencabutnya seolah tidak merasakan sakit.
"Pisau seperti ini tidak akan bisa melukaiku."
Kepala Suku Goblin turun dari singgasananya dan membawa sebuah gada.
"Kali ini aku akan ikut bertarung!"
Kepala Suku Goblin menunjukkan simbolnya. Seketika para bawahannya menjadi sangat semangat. Tapi, pasukan yang dipimpin oleh Ziruko juga tidak ingin kalah.
Beberapa jam sudah berlalu, peperangan masih berlanjut. Meskipun banyak yang terluka tapi mereka tetap melanjutkan pertempuran mereka.
"Kapan ini akan berakhir? aku sudah tidak tega melihat para penduduk Desa Rabby berlumuran darah."
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Tanah yang mereka pijak tiba-tiba bergetar.
"Tidak mungkin. Apakah ini..."
Minos pun tiba dengan membawa pasukannya. Dia menyerang para goblin dari arah belakang.
"Tuan Ziruko."
"Tuan?"
"Ya, kami akan berada di bawah perintahmh, Tuan Ziruko. Simbol ini jadi milik anda."
"Kamu menyerahkan simbolmu? berarti kamu menyerahkan kekuasaanmu?"
"Tidak apa-apa, aku tidak akan pernah bisa membalas budi kemurahan hati Tuan Ziruko."
Tiba-tiba di tangan Ziruko muncul sebuah simbol.
Semua pasukan yang ada di medan perang menunduk sambil mengatakan, "kami akan berada di bawah perintahmu, Tuan Ziruko."
__ADS_1
Ziruko yang mendengar itu, tidak bisa menolak lagi. Dia mengangkat tangannya keatas dan mengeluarkan simbolnya.
"Dengan menyandang nama, Vanargard. Aku Ziruko akan mengubah harapan kalian menjadi nyata dan aku akan memberikan kemenangan pada pihak kita."