Legenda Arcana

Legenda Arcana
Kisah Ratu Es Elena


__ADS_3

Momo sudah selesai menceritakan cerita tentang asal mula arcana.


"Terimakasih Momo sudah menceritakan asal mula arcana."


"Aku cuma tahu segitu. Dan banyak orang yang bilang kalau yang mengalahkan Bahamut itu adalah Gilgamesh."


"Gilgamesh? Raja dari para pahlawan. Itulah ceritanya."


"Ya, kamu benar. Tapi dia mati bunuh diri."


"Benar sekali mana ada pahlawan yang mati bunuh diri."


"Dan banyak juga rumor yang beredar, kalau dia membunuh semua rakyat dan bawahannya sebelum bunuh diri."


"Itu semua karena ada revolusi bukan?"


"Ya, kamu benar."


"Hari sudah semakin malam, sebaiknya kita tidur."


"Aku tidur disini ya."


Ziruko pun langsung tidur, dan tidak menyadari kalau dia tidur dengan dua orang perempuan.


Keesokan harinya...


"Ziruko bangun, sudah pagi!"


"Baiklah Lili."


"Hoo~ jadi kamu sudah terbiasa tidur dengan Lili ya."


Setelah itu, Ziruko membuka matanya. Yang dia lihat adalah Elena.


"Maaf, Elena. Aku kira ini di Desa Rabby."


"Tidurmu nyenyak kan?"


"Seperti biasanya, tidak ada yang spesial."


"Benarkah?"


"Ya, benar. Aku tidak berbohong sedikitpun."


"Baiklah kalau begitu."


Tidak lama kemudian, Momo pun bangun dari tidurnya.


"Ini sudah siang ya? Kalau begitu aku akan berendam dulu. Apa kamu mau ikut Ziruko?"


"Tentu saja tidak."


"Apa aku tidak menarik di matamu?"


"Bukan begitu, karena hal itu makanya aku tidak mau."

__ADS_1


Setelah itu Momo keluar dari ruangan ini, dan sekarang di ruangan ini cuma ada Ziruko dan Elena.


"Ziruko, aku mengetahui tempat bagus. Apa kamu mau ikut?"


"Ayo, kita pergi."


Mereka berdua pun pergi keluar istana, dan masuk ke dalam Hutan Terlarang.


"Mau kemana kita sekarang, Elena."


"Kita akan mengunjungi desa di dekat sini."


"Emangnya di hutan terlarang ada desa ya?"


"Tentu saja ada. Padahal di tempat ini subur sekali, dan banyak hewan buas. Jadi tempat ini cocok untuk dijadikan tempat tinggal."


"Apa maksudmu? Bukannya hewan buas itu berbahaya."


"Tapi, hewan buas itu jinak kepada warga desa yang tinggal disini."


"Aku jadi penasaran, seperti apa rupa penduduk desa yang tinggal di tempat seberbahaya ini."


Tidak lama kemudian mereka sampai di desa yang Elena maksud. Elena disambut dengan baik oleh para penduduk desa. Penduduk desa disini sama seperti layaknya manusia biasa.


"Ratu Elena, selamat datang kembali. Apa hari ini kamu tidak bersama Momo."


"Tidak, hari ini aku ditemani oleh teman laki-lakiku."


"Teman laki-laki? Apa itu calon suamimu?"


Ziruko sedikit terkejut karena Elena bisa berinteraksi dengan warga desa disini. Setidaknya dia ramah kepada warga desa disini. Kami berdua disuruh masuk ke rumah ketua desa.


Ketua desa itu menyajikan kopi kepada kami berdua.


"Silakan dinikmati!"


"Terimakasih."


"Nama kamu siapa?"


"Aku adalah Ziruko RE. Vanargard."


"RE? Apa kamu saudaranya Momo."


"Entahlah, sepertinya saudaraku itu banyak."


"Oh begitu ya. Kalau begitu aku pamit dulu, aku mau pergi ke ladang dulu."


Tiba-tiba Elena berdiri.


"Tunggu dulu, aku akan ikut membantumu."


"Tidak perlu seperti itu, Ratu. Kami sudah banyak merepotkanmu."


"Tidak apa-apa, aku itu mempunyai tenaga yang banyak."

__ADS_1


Ziruko mengikuti Elena yang pergi ke ladang, ladangnya itu adalah ladang jagung. Saat ini jagungnya sudah siap panen. Ziruko ikut membantu memanen jagung.


"Ngomong-ngomong Elena, aku jadi penasaran dengan masa lalumu."


"Memangnya kenapa? Yang pasti aku itu bukan orang jahat."


"Aku hanya penasaran saja."


"Kalau kamu memang ingin mengetahuinya, aku akan menceritakannya."


"Baiklah, aku akan mendengarkannya."


"Tapi jangan lupa, kamu juga harus memanen jagung ini dengan benar."


"Baiklah, aku akan memanen sambil mendengarkan ceritamu."


"Dulu, aku hidup dengan ibuku. Sejak aku lahir ayahku sudah meninggal. Saat itu ibuku selalu mengajakku untuk pergi ke tempat ini. Dia orang yang sangat ramah, sampai-sampai warga desa mengenangnya sampai sekarang. Apa kamu tahu kalau kerajaan ini adalah kerajaan yang tidak diakui oleh Kekaisaran Rossweild?"


"Tentu saja aku tahu. Di Kekaisaran Rossweild kan hanya ada dua kerajaan. Yang pertama Kerajaan Astar, dan yang kedua Kerajaan Edelweiss. Sisanya adalah wilayah yang diperintah langsung oleh kekaisaran."


"Ya, ternyata kamu tahu hal itu. Saat itu terjadi suatu hal yang diluar dugaan. Kekaisaran menyerang kerajaan ini."


"Apa? Benarkah itu?"


"Kekaisaran tidak akan membiarkan kerajaan yang berdiri tanpa seizinnya."


"Setelah itu, apa yang terjadi?"


"Ibuku memimpin pasukan untuk melawan kekaisaran itu. Tapi, sayangnya ibuku tewas dalam pertempuran itu. Meskipun ibuku sudah tewas, tapi perang masih berlanjut. Saat itulah, aku mencoba memakai arcana milik ibuku. Meskipun dengan terpaksa, tapi para prajurit kerajaan ini, memintaku untuk memimpin. Aku terpaksa maju ke medan perang saat aku berumur 7 tahun."


"Yang benar saja. Mana mungkin bisa begitu."


"Ini adalah kebenaran, julukan yang diberikan kepadaku bukan hanya sekedar julukan. Saat itu aku belum mengerti dan belum bisa menggunakan sihir. Saat itu lah aku menciptakan golemes."


"Jadi pada saat itu ya. Kamu ini memang berbakat."


"Golemes itu berhasil mengalahkan para pasukan kekaisaran. Tapi sayangnya, golemes itu menyerang pasukan kerajaanku sendiri. Saat itulah aku pertama kali bertemu dengan Momo. Momo melawan golemes itu tapi dia tidak bisa membakarnya karena dia bukan makhluk hidup. Jadi Momo memancing golemes itu untuk pergi ke dalam gua. Aku jadi sedikit lega. Tapi, perang masih belum berakhir."


"Sampai kapan perang ini berlanjut?"


"Saat itu, aku sudah mulai putus asa. Aku sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Saat itu aku menyadari kesalahanku karena telah membunuh banyak orang. Aku putus asa, dan tanpa sengaja aku mengeluarkan sihir terlarang."


"Sihir terlarang?"


"Ya. Nama sihirnya adalah "Zaman Keabadian" itu adalah sihir yang mengubah seluruh makhluk disekitarnya menjadi es. Baik musuh atau rekan semuanya berubah menjadi es."


"Jadi patung yang banyak itu benar-benar manusia ya."


"Iya, ibuku pernah menceritakan tentang hal ini. Satu-satunya yang bisa mencairkan es dari sihir ini hanyalah api phoenix."


"Api phoenix? Bukankah itu celestial?"


"Iya, di kekaisaran ini tidak ada burung phoenix. Jadi, sangat tidak mungkin untuk mencairkan seluruh patung itu. Sejak saat itulah para warga desa mulai menganggapku seperti pahlawan karena sudah menghentikan perang."


Setelah dia selesai bercerita, mereka berdua juga sudah beres memanen jagung. Mereka berdua menyimpan hasil panenannya di gudang desa. Setelah itu mereka berpamitan.

__ADS_1


Sebelum pulang mereka berdua diberi beberapa jagung oleh ketua desa. Katanya, jagung yang diberikannya itu sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantu memanennya. Tanpa melakukan apa-apa lagi, mereka langsung kembali ke istana milik Elena.


__ADS_2