Legenda Arcana

Legenda Arcana
Tujuan Selanjutnya, Desa Rabby!!!


__ADS_3

Ziruko bangun dari tidurnya. Sebenarnya sekarang dia tidak terkejut lagi melihat Mizu yang ada di kamarnya.


Tapi, sepertinya dia merasakan sesuatu yang berbeda. Dia mencoba untuk menoleh kebelakang.


Dan ternyata Azalea tidur di belakangnya. Mizu sedang tidur di depannya.


Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia tidak ingat kejadian semalam. Mungkin karena disebabkan dia sangat mengantuk pada saat itu.


Mizu pun membuka matanya, dan menatap kearahku.


"Selamat pagi, Ziruko!"


"Pagi juga Mizu."


"Kenapa kamu tidak bereaksi heboh?"


"Sssttt, nanti Aza bangun. Sebelum dia bangun lebih baik aku pergi."


Tiba-tiba ada seseorang yang menarik baju Ziruko dari belakangnya.


"Kamu mau kemana Ziruko?"


"Aza, tentu saja aku akan keluar dari kamar ini."


"Kamu masuk ke kamar ini lalu keluar begitu saja?"


"Aku tidak sadar saat aku pergi kesini."


"Apakah itu sebuah alasan?"


"Oh iya, Aza aku harus berbicara dengan Riz dulu."


"Riz kan gak ada disini."


"Kalau begitu aku akan menunggu Riz."


Azalea melepaskan pegangannya. Ziruko pun langsung cepat-cepat keluar dari kamar ini.


Dia langsung menuju keruang tengah untuk bersantai. Azalea lun datang menghampirinya.


"Ziruko, kamu tidak mengambil pekerjaan?"


"Nanti saja."


"Kalau begitu, bakalan nunggu lama dong kamu jadi kaisarnya."


"Ya, nggaklah"


"Kalau begitu cepat kerja!"


"Aku masih capek."


"Kamu kan kemarin sudah bersenang-senang."


"Kalau begitu nanti siang saja."


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ziruko langsung membukakan pintu. Ternyata itu adalah Riz.


"Hei, Riz. Akhirnya kamu kembali."


"Hehehe.... sebenarnya aku pulang kesini membawa kabar baik dan kabar buruk."


"Apa itu?"


"Kamu mau mendengar kabar yang mana dulu?"


"Tentu saja kabar baiknya."


"Kabar baiknya... aku menemukan tempat yang akan kita tuju."


"Lalu, kabar buruknya?"


"Aku sepertinya akan pergi."


"Benarkah?"


"Benar."

__ADS_1


"Pergi kemana Riz?"


"Sebenarnya alasannya ada di pertemuanku dengan keluargaku."


"Waktu pertemuan kemarin lusa?"


"Ya. Keluargaku menyuruhku untuk pulang. Ada hal yang sangat penting, hanya aku yang bisa menyelesaikannya. Jadi, maaf ya Ziruko aku tidak bisa menemanimu."


"Bagaimana dengan janji kita?"


"Untuk itu, aku minta maaf sekali lagi. Aku tidak bisa melawan kehendak keluargaku."


"Meskipun berat, aku izinkan kamu untuk pergi. Aku tidak bisa ikut campur dengan permasalahan keluargamu."


"Terimakasih Ziruko."


"Lalu tempat apa yang harus aku tuju selanjutnya?"


"Tempat itu adalah tempat yang jarang orang mengenalnya."


"Sepertinya seru, tempat apa itu?"


"Tempat itu dinamakan Desa Rabby. Pada saat ini desa itu sedang dilanda kekacauan."


"Kekacauan? kalau begitu itu bukan kabar baik."


"Ya. Desa itu sedang diserang oleh para goblin. Entah apa penyebabnya, aku juga tidak tahu. Kalau pingin tahu pergi saja ke sana."


"Dimana letak tempat itu?"


"Tanyakan saja pada Mizu, dia pasti tahu lokasinya."


"Baiklah."


"Oh iya Ziruko, sebaiknya kamu harus mencari arcana."


"Setelah melawan Hanzo, aku jadi merasa kalau aku juga butuh arcana."


"Kalau bisa secepatnya, kamu tidak akan pernah tahu kapan musuh yang kuat akan menyerang."


Setelah itu Riz pun pamit dan langsung pergi.


Ziruko sedikit kesal karena Riz tidak mempedulikan janji yang pernah dibuat. Tapi Ziruko benar-benar tidak bisa memaksakan kehendak Riz.


Ziruko berpikir kalau lebih baik mengikuti saja arus takdir ini. Hal itu mungkin lebih baik untuk Ziruko.


Ziruko langsung memanggil Azalea dan Mizu. Setelah mereka datang, dia langsung menceritakan semuanya.


"Ziruko, kalau begitu ayo kita pergi."


"Tunggu dulu, Aza."


"Ada apa?"


"Kalau kita pergi kesana kita harus tidur dimana."


"Jangan diambil pusing, kita menyewa penginapan saja disana."


"Sepertinya aku mempunyai firasat yang buruk."


"Jangan terlalu dipikirkan, aku yakin kamu bisa mengalahkan musuh sekuat apapun. Kamu kan orang yang akan menjadi seorang kaisar."


"Kamu benar juga. Kalau begitu ayo kita berangkat."


"Emang kamu tau dimana lokasinya?"


"Tentu saja tidak. Mizu yang tahu lokasinya."


Mizu pun mengiyakan ucapan Ziruko. Mereka langsung bersiap-siap dan langsung pergi.


Di perjalanan. . .


"Ziruko, aku lapar."


"Benar juga Mizu, kita kan belum makan. Kalau begitu lebih baik kita makan dulu."


Mereka bertiga pergi ke resto, yang sebelumnya pernah Ziruko datangi dengan Irina.

__ADS_1


Disana sedang berkumpul para petualang Guild Los Veresa. Ziruko mendengarkan pembicaraan mereka.


Ternyata mereka sedang menceritakan konflik di Desa Rabby. Mereka mengatakan kalau Desa Rabby adalah desa yang dihuni oleh sekumpulan manusia setengah hewan.


Ziruko jadi semakin penasaran. Apa yang akan dia temukan? apakah seekor manusia rubah? atau manusia kucing? Dia juga tidak tahu.


Pesanan kami bertiga pun sampai. Dia makan sambil mendengarkan percakapan mereka.


Dan inti dari percakapannya adalah tidak berarti sama sekali. Mereka mengatakan kalau Desa Rabby tidak perlu dibantu.


Padahal kalau menurut Ziruko, desa itu sudah terkena konflik yang sangat bermasalah bagi kestabilan negara ini.


Sekarang dia jadi heran dengan kaisar yang sekarang, kenapa dia tidak mempedulikan rakyatnya.


Sudah banyak hal yang Ziruko lalui, tapi kenapa kaisar tidak sadar akan kesengsaraan rakyatnya.


Ziruko makan dengan cepat, lalu langsung menyimpan sendok diatas piring. Ziruko jadi terbawa emosi, Azalea kaget melihat reaksiku.


"Aza, Mizu, kalau sudah ayo kita pergi secepatnya."


Beberapa saat kemudian, mereka pun melanjutkan perjalanan. Ziruko memutuskan untuk bertanya mengenai ayah Azalea kepadanya.


"Aza, ayahmu kan seorang kaisar?"


"Ya, memangnya ada apa Ziruko?"


"Apa dia baik-baik saja?"


"Jika aku bilang dia baik-baik saja sih tidak, dia sedang sakit. Saat terakhir kali aku melihatnya, dia sedang terbaring di kamarnya."


"Lalu, siapa yang saat ini mengelola kekaisaran? apa ibumu?"


"Tidak, ibuku sudah lama meninggal. Yang menjaga pemerintahan sekarang adalah kakakku."


"Maaf. kakakmu yang perempuan?"


"Bukan, tapi kakakku yang laki-laki. Namanya Aslan. Sepertinya dia yang akan jadi kaisar selanjutnya."


"Jadi kamu tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu juga sih, tapi untuk saat ini tidak ada calon yang cocok selain dia."


"Kakakmu yang bernama Aslan mempunyai arcana tipe apa?"


"Dia mempunyai arcana angin."


"Sepertinya seluruh keluargamu memiliki arcana angin."


"Tidak juga, kakak perempuanku tidak mempunyai arcana. Tapi, dia adalah seseorang yang hebat."


"Sepertinya kamu ingin jadi sepertinya ya?"


"Tentu saja."


"Azalea, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan?"


"Kamu mau bertanya tentang apa?"


"Apa Irina benar-benar berumur 15 tahun?"


"Kenapa kamu menanyakan hal itu. Kalau memang iya kenapa?"


"Hanya saja ia lebih terlihat dewasa dibandingkan dirimu."


"Ziruko, kamu jahat. Membandingkan wanita di depan wanita."


"Bukan begitu juga sih maksudku. Tapi, aku jadi ingin Irina ikut berpetualang bersama kita."


"Ada satu hal yang ingin aku ingatkan lagi kepadamu Ziruko."


"Mengingatkan apa?"


"Jangan pernah membuat harem. Aku tidak suka itu."


"Baiklah. Nah sepertinya kita sudah sampai."


"Kamu benar Ziruko, tidak terasa kita sudah ada di depan Desa Rabby. Tapi, kenapa desa ini terlihat seperti sudah lama ditinggalkan?"

__ADS_1


__ADS_2