
Saat Ziruko terbangun dia sudah berada di penginapan. Dan dia sadar ada sesuatu yang terlupakan olehnya.
Tadinya dia berencana kalau setelah selesai melakukan misi yang diberikan oleh Paman Nathan, dia akan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Azalea.
Setelah itu dia akan mengajak Azalea untuk pergi makan malam. Tapi, entah kenapa dia bisa pingsan.
Apa Azalea tidak akan marah ya. Semoga saja dia masih menganggap Ziruko sebagai temannya yang berharga.
Tidak boleh membuang waktu lagi, Ziruko harus menemui Azalea secepatnya.
Dia pergi ke ruang tengah, tapi dia tidak melihat Azalea. Lalu dia memutuskan untuk pergi ke kamar Azalea.
Pintu kamarnya terbuka, dia langsung masuk ke kamar Azalea.
"Azalea, apa kamu ada disini?"
Dia tidak menemukan Azalea, tapi dia melihat Mizu.
"Kamu mau mengintip ya, Ziruko."
Ziruko langsung menutup matanya.
"Tenang saja Ziruko, aku tidak sedang mengganti pakaian kok."
"Kamu bikin kaget aku saja. Apa kamu lihat Azalea?"
"Tadi, dia bilang ingin pergi jalan-jalan keluar. Tapi aku tidak tahu dia ingin pergi kemana."
Tanpa menunggu lama, dia langsung lari keluar. Ternyata benar, dia melihat Azalea sedang berdiri di depan pintu.
"Azalea!!!"
"Ziruko ada apa??? tumben sekali memanggil nama lengkapku."
"Maaf untuk yang kemarin, aku malah pingsan."
"Tidak apa-apa Ziruko, tenang saja. Waktu itu Paman Nathan datang dan mengalahkan musuh itu dengan sekali pukulan."
"Bukan itu maksudku Azalea."
"Lalu apa..."
"Aku lupa memberikan hadiah ulang tahun padamu. Dan juga meskipun ini terlambat tapi, selamat ulang tahun Azalea."
"Ternyata kamu tahu ulang tahunku. Dikira aku kamu tidak tahu ulang tahunku."
"Riz yang memberitahuku."
"Sepertinya aku tidak jadi memujimu."
"Sebagai gantinya aku ingin mengajakmu untuk jalan-jalan bareng."
"Kamu ingin berkencan denganku???"
"Ya kurang lebih seperti itu."
"Aku senang kamu lebih memilihku dibanding Mizu."
"Kalau begitu ayo kita pergi!!!"
"Tunggu dulu Ziruko, maaf... aku senang atas tawaranmu tapi sepertinya aku tidak bisa ikut."
"Kenapa Azalea???"
"Aku sedang menunggu seseorang."
"Apa dia laki-laki???"
"Kamu cemburu??? tenang saja aku sedang menunggu seseorang perempuan cantik."
"Aku tidak cemburu kok. Berarti lain kali saja ya."
"Aku pegang kata-katamu."
Ziruko pun langsung berbalik untuk kembali ke penginapan. Tapi, tiba-tiba dia mendengar ada seorang perempuan yang berbicara.
__ADS_1
"Kenapa kamu kembali?"
Ziruko langsung membalikkan badannya. Dia melihat seorang gadis kecil meskipun tidak sekecil anak-anak tapi dia lebih pendek dariku, dan rambutnya pirang.
"Selamat pagi, kakak."
"Selamat pagi juga Irina."
"Dan juga selamat pagi, kakak ipar. Perkenalkan namaku Irina Rossweiss."
"Apa maksudmu dengan kakak ipar?"
"Paman Nathan sudah menjelaskan semuanya. Kak Lea tidak pulang karena ada kakak ipar. Jadi siapa namamu?"
"Namaku Ziruko. Lain kali, bicara lebih sopan lagi kepada orang yang lebih tua."
"Memangnya kamu siapa? kamu dari keluarga mana?"
"Aku tidak perlu menyebutkannya."
"Kalau begitu, Kak Lea jangan tolak ajakan Ziruko."
"Terus bagaimana denganmu Irina?"
"Aku akan ikut denganmu. Tapi tenang saja, aku tidak akan menganggu kalian."
"Apa tidak apa-apa Ziruko?"
"Meskipun kalau begitu berarti tidak bisa disebut kencan. Tapi, tidak apa-apa ayo kita pergi!"
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bertiga. Tapi Ziruko benar-benar tidak tahu harus pergi kemana.
"Maaf Aza, tapi aku tidak tahu mau pergi kemana."
Saat Ziruko mengatakan itu, Irina langsung menyerobot perkataannya.
"Apa-apaan ini, kamu yang ngajak berkencan tapi kamu tidak tahu harus pergi kemana. Sebagai lelaki kamu ini payah sekali."
"Bukan begitu, ini disebabkan karena ada seseorang yang tiba-tiba nimbrung."
"Ziruko!!! sebenarnya kamu itu mau ngajak kencan aku atau Irina."
"Tentu saja kamu, Azalea."
"Mana mungkin aku kencan dengan Ziruko, Kak Lea."
"Benarkah Irina???"
"Tentu saja kak."
"Jika kamu nanti merengek ingin Ziruko, aku tidak akan memberikannya."
"Itu tidak akan pernah terjadi."
Sekarang Ziruko bingung, kenapa Azalea dengan Irina malah jadi adu mulut.
"Aza, daripada jalan tanpa tujuan. Lebih baik kita makan dulu."
"Kebetulan Ziruko, aku belum sarapan."
Mereka langsung masuk ke resto yang ada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Azalea kamu mau makan apa?"
"Sepertinya aku pesan roti bakar saja."
"Roti bakar ya, kalau begitu aku juga akan memesan itu."
"Kita sudah seperti pasangan saja."
"Lalu Irina kamu mau makan apa?"
"Aku kira kamu tidak memperhatikanku."
"Sudahlah hentikan sifat tsundere-mu itu. Aku sudah mulai kesal."
__ADS_1
"Benar-benar menyebalkan, aku memesan makanan yang sama dengan kalian saja."
Setelah itu mereka pun langsung memakan makanan itu bersama-sama.
Setelah itu mereka memutuskan untuk pergi ke danau. Lagipula disana mereka bisa menyewa perahu.
Dan beberapa saat kemudian mereka pun sampai ke danau itu.
Lalu mereka membayar biaya masuknya. Tapi ada sesuatu yang aneh yang dikatakan oleh penjual tiket.
"Pak Penjual Tiket, aku membeli 3 tiket."
"Baiklah, ini tiketnya. Sepertinya kalian adalah keluarga yang berbahagia."
"Apa maksudmu?"
"Kalian menyenggangkan waktu untuk membawa jalan-jalan anak kalian."
Aku pun tidak sengaja tertawa kecil. Lalu tiba-tiba Irina mengoceh.
"Apa-apaan yang dikatakan penjual tiket itu. Kenapa aku disebut anak kalian??? apa dia tidak mengenaliku, aku ini putri ketiga dari Kekaisaran Rossweild."
"Sudahlah Irina, kamu kan memang masih kecil."
"Masih kecil??? aku ini berumur 15 tahun, cuma beda dua tahun dari Kak Lea."
"Sudahlah, aku tidak peduli."
"Kau ini!!!"
Setelah itu mereka menaiki perahunya, dan waktunya pas sekali. Mereka bisa melihat matahari yang sedang terbenam.
"Ziruko sepertinya ini hadiah ulang tahun terbaik yang aku dapatkan tahun ini. Terima kasih."
"Tenang saja, Aza. Jika ada apa-apa panggil saja namaku. Aku pasti akan langsung datang."
"Kamu ngomong apa sih, tapi terimakasih."
Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang.
"Ayo kita pulang!!!"
"Kak Lea, maaf tapi sepertinya Paman Nathan sudah menjemputku."
Azalea pun melihat kearah yang ditunjuk oleh Irina. Ziruko juga melihat kearah itu.
Ternyata memang benar, kalau ada Paman Nathan. Tapi, kenapa dia melambaikan tangan.
Aku terkejut karena tiba-tiba Irina memanggilku.
"Ziruko!!!"
"Ada apa Irina?"
"Terimakasih untuk hari ini, bukan berarti aku menyukainya. Tapi lain kali ajak lagi aku."
"Baiklah tuan putri."
"Dasar bodoh!!!"
Ziruko tidak tahu alasan muka Irina memerah dan juga Irina malah terlihat kesal saat dipanggil tuan putri. Apa ada yang salah dari perkataannya? Ziruko pun tak tahu itu.
Tapi yang pasti Ziruko dan Azalea harus kembali ke penginapan. Tapi, dia harus memberikan hadiah dulu kepada Azalea.
"Aza, aku mempunyai hadiah untukmu."
"Hadiah apa???"
"Mungkin ini tidak seberapa, tapi terimalah hadiahku ini."
Hadiah yang Ziruko berikan adalah sebuah cincin. Azalea pun menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih, Ziruko.
Setelah pertarungannya dengan Hanzo, dia sadar kalau perjalanannya untuk menjadi seorang kaisar masih sangat jauh.
__ADS_1