
Keesokan harinya...
Ziruko bangun dari tempat tidurnya. Dia sudah tidak terkejut lagi kalau ada seorang perempuan yang tidur dengannya.
"Lili bangun!"
"Ada apa Ziruko?"
"Bukannya kita akan melatih para warga?"
"Benar juga! maafkan aku karena lupa akan hal itu."
"Tenang saja, aku tidak akan marah kok."
"Baiklah, aku akan siap-siap dulu."
Ziruko langsung keluar dari kamarnya. Dia membangunkan Azalea dan Mizu.
"Aza, Mizu, bangun!!! ini udah siang."
Mereka berdua serentak menjawab, "baik, sayangku."
"Sejak kapan mereka jadi kompak."
Setelah semua persiapan selesai mereka langsung pergi ke tempat kemarin terjadinya kebakaran.
"Jadi, Lili kenapa tidak ada orang disini?"
"Aku lupa tidak melaporkan hal ini."
"Ya... ini akan jadi hari yang sangat panjang."
Setelah itu mereka langsung pergi ke tempat tetua desa berada. Mereka langsung masuk.
"Kakek, kemarin aku sudah melakukan pertemuan dengan Kepala Suku Goblin."
"Lalu, bagaimana hasilnya?"
"Hasilnya buruk, mereka ingin mengadakan perang."
"Perang katamu?"
"Ya, tapi setidaknya mereka tidak akan menyerang tempat ini sampai waktu yang telah dijanjikan tiba."
"Lalu hari yang dijanjikan itu kapan?"
"Enam hari lagi."
"Enam hari katamu? itu waktu yang sangat sedikit. Berani-beraninya kamu mengambil keputusan sembrono seperti itu."
Lili diam saja dimarahi oleh kakeknya. Ziruko langsung menyela perkataan tetua desa.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya saya telah menyela omongan anda. Tapi, menurut saya keputusan Nona Lili tidaklah salah."
"Tidak usah formal begitu. Jelaskan kenapa menurutmu keputusan Lili itu tidak salah!"
"Lili tidak salah karena sejak awal Kepala Suku Goblin ingin menyatakan perang dengan penduduk Desa Rabby. Sebenarnya, dia memberikan penawaran agar tidak menjadi perang."
"Tawarannya apa?"
"Dia tidak akan memerangi Desa Rabby jika luca yang mereka inginkan diserahkan kepada mereka, atau Kepala Suku Goblin ingin menikah dengan Lili. Tapi, aku tidak bisa menerima hal itu."
"Kalau begitu, aku juga pasti tidak bisa menerimanya. Tapi, apa aku bisa percaya padamu?"
"Tenang saja, sebagai bentuk pengabdianku, dengan senang hati aku dan teman-temanku akan melatih para penduduk Desa Rabby cara berburu."
"Kalau berburu kita juga bisa."
"Berburu yang saya maksud sekarang ini berbeda."
"Menarik sekali kamu... sebagai imbalannya kamu ingin apa? jika kamu menginginkan Lili aku tidak bisa memberikannya begitu saja."
"Aku ingin tahu lokasi luca berada."
"Luca katamu?"
"Ya, aku sangat membutuhkannya untuk sekarang ini. Aku sedang dalam perjalanan untuk mewujudkan impianku menjadi seorang kaisar."
"Kaisar? kamu memiliki impian yang tinggi juga."
"Menyedihkan sekali hidupmu. Aku mulai menyukai cara pikirmu. Tapi, apa yang sudah kamu raih untuk menggapai impianmu itu."
"Aku tidak melakukan banyak hal yang berarti. Tapi, setidaknya aku sudah mengantisipasi terjadinya beberapa peperangan."
"Jadi, kamu tidak ingin menyebutkannya?"
"Aku tidak ingin sombong dengan pencapaianku?"
"Kamu berkata seperti itu, tapi sebenarnya sebaliknya. Apa kamu mengerti perkataanku?"
"Tentu saja mengerti. Aku juga senang kamu mengerti."
"Jadi aku sudah memberimu kepercayaan untuk melatih penduduk Desa Rabby. Jangan sampai kamu menghancurkan kepercayaanku."
"Baik, kakek."
"Kenapa kamu memanggilku kakek?"
"Karena Lili memanggilmu kakek."
Mereka berempat langsung keluar dari tempat ini. Dan Kakeknya Lili mengutus bawahannya untuk membantu Ziruko dan yang lainnya.
"Perkenalkan namaku Tred, tetua menyuruhku untuk menyiapkan semua yang anda butuhkan Tuan Ziruko."
__ADS_1
"Baiklah, untuk sekarang aku meminta kamu untuk mengumpulkan semua laki-laki yang ada di sini untuk berkumpul di tempat ini. Setelah itu suruh mereka mengambil pedang yang ada di gudang. Hanya itu saja."
"Baik, tuan."
Setelah semua warga desa berkumpul, Ziruko langsung memberikan sebuah pidato yang menjelaskan cara menggunakan pedang.
Setelah itu Mizu, melatih mereka teknik serangan sembunyi-sembunyi.
Setelah semua itu, Ziruko langsung mempraktekkan teori itu dengan satu lawan satu antar penduduk. Beberapa orang ada yang ingin menantang Ziruko, dan Mizu.
Lili terlihat sangat senang melihat semuanya berjalan lancar. Tapi, ini hanyalah tahap awalan saja. Jika seperti ini saja kemampuannya tidak mungkin bisa menjadi prajurit kekaisaran.
Di hari kedua, Ziruko dan yang lainnya mengajarkan para penduduk tentang cara menghindari serangan.
Di hari ketiga, Ziruko dan yang lainnya mengajarkan para penduduk tentang cara menangkis serangan.
Di hari keempat, Ziruko dan yang lainnya mengajarkan para penduduk untuk menjaga stamina dan kekuatan fisik.
Di hari kelima, Ziruko dan yang lainnya mengajarkan para penduduk untuk membuat pertahanan.
Sedangkan itu, para perempuan yang berada di desa ini di perintahkan untuk membuat perbekalan, dan membuat armor yang terbuat dari batu.
Batunya disediakan oleh para bawahan tetua desa.
Di hari keenam, Ziruko dan para penduduk mempersiapkan medan perang. Mereka membuat beberapa parit.
Mereka juga membuat benteng ringan yang terbuat dari kayu yang diruncingkan.
Setelah itu mereka mengatur strategi, yang dipimpin oleh Ziruko.
"Ini adalah hari penentuan. Kita harus bisa memenangkannya setelah semua jerih payang kita selama enam hari terakhir ini. Jangan biarkan goblin itu mengambil alih hak kita untuk hidup. Kita akan menggunakan strategi gerilya. Kenapa kita menggunakan strategi ini? itu karena jumlah kita lebih sedikit dari jumlah goblin. Supaya lebih mudah pembagian strateginya aku bagi-bagi dulu pasukannya. Pasukan 1 dipimpin olehku. Pasukan 2 dipimpin oleh Mizu. Pasukan 3 dipimpin oleh Azalea. Dan pasukan 4 dipimpin oleh Tred."
"Sepertinya bagus, aku setuju."
"Untuk pembagiannya, silahkan kalian berhitung dari satu sampai empat, setelah angka empat kembali lagi ke angka satu."
Beberapa saat kemudian...
"Pasukan 1 yang dipimpin olehku akan menarik perhatian musuh. Kita akan maju kedepan. Setelah mereka mengejar kita mundur lagi, dan masuk kedalam parit. Pasukan 2 dan 3 berada di parit saat pasukan 1 mundur dan sudah dekat dengan parit kalian maju menyerang para goblin itu. Pasukan 4 berdiam di hutan. Saat pasukan goblin sudah maju, kalian menyerang mereka dari arah belakang. Dan setelah itu pasukan 1 kembali menyerang. Kita tinggal mengulangi strategi seperti ini saja terus, sampai kita menang. Mungkin ini akan sedikit melelahkan. Tapi kalau kita menggunakan strategi ini, kemungkinan kemenangan kita meningkat menjadi 80%."
"Itu harapan yang sangat besar. Kita pasti bisa memenangkannya, ini semua berkat Tuan Ziruko. Semuanya sorak untuk Tuan Ziruko."
Semuanya bersorak untuk Ziruko. Suaranya menjadi ribut. Ziruko mengambil tindakan untuk menenangkan mereka.
"Baiklah semuanya, lebih baik hemat energi kalian untuk peperangan nanti. Kita tidak boleh merayakannya sampai kita benar-benar memenangkan peperangan ini."
Mereka semua bersama-sama mengatakan, "Tuan Ziruko yang terbaik!!!"
__ADS_1
Chapter sebelum\-sebelumnya sudah direvisi menjadi menggunakan sudut pandang orang ketiga ^ v ^ Keep Happy Reading.