
Keesokan harinya Ziruko bangun dari tidurnya. Ia langsung bergegas keluar dari kamarnya untuk pergi ke tempat para manusia serigala berada. Miho mengikutinya dari belakang.
"Apa kamu yakin tidak akan memberitahu yang lain?"
"Mereka sepertinya belum cukup beristirahat."
"Begitu ya. Kalau begitu aku beruntung bisa berduaan denganmu."
Mereka berdua pergi ke dermaga kapal yang ada di sisi danau. Letak pulau yang dihuni oleh manusia serigala ada di tengah danau. Mereka harus pergi kesana menggunakan perahu.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di pulau tempat tinggal para wolvez.
"Disini terasa lebih sepi dari daerah tempat tinggalmu."
"Disini penduduknya lebih sedikit dibandingkan dengan penduduk di desaku."
Ziruko yang sedang berjalan dengan tenang tiba-tiba dikejutkan oleh wolvez yang tiba-tiba melompat dari semak-semak. Wolvez tersebut langsung menyerang Ziruko. Ziruko berhasil menghindar.
Meskipun begitu Ziruko nampak kesulitan karena wolvez tersebut bertarung dengan cara seperti seekor serigala. Gerakannya lincah dan sangat cepat. Ziruko yang tidak bisa mengimbangi kecepatannya terkena serangan dari wolvez itu. Setelah melakukan serangan itu, wolvez itu pergi.
"Ternyata kamu tidak sekuat yang aku pikirkan. Aku obati saja lukamu itu."
"Tidak apa-apa ini tidak seberapa."
__ADS_1
"Setidaknya kamu harus menutup lukanya untuk menghentikan pendarahan."
"Baiklah."
Miho mengeluarkan api dari tangannya. Setelah itu dia mendekatkan api itu kepada luka milik Ziruko.
"Apa kamu mau membunuhku?"
Namun seketika luka milik Ziruko tertutup setelah api itu di dekatkan pada lukanya.
"Hebat. Apa itu sihir milikmu?"
"Jika dibilang sihir sih tidak. Aku tidak mempunyai arcana."
"Ini salah satu kekuatan dari phoenix. Api phoenix itu terbagi dua. Yang pertama api yang aku punya, fungsinya untuk menyembuhkan semua luka. Yang kedua berada di pihak wolvez. Api milik mereka berfungsi untuk digunakan saat bertarung."
"Jadi begitu, ya."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan pintu masuk menuju desa para Wolvez. Namun, mereka tidak disambut dengan baik.
Terlihat ada banyak orang yang menunggu mereka, seperti ingin membunuh Ziruko dan Miho. Para wolvez itu tiba-tiba berlari dan menyerang Ziruko dan Miho.
Mereka berdua bisa menghindari serangan meskipun tidak semuanya berhasil dihindari.
__ADS_1
"Kenapa kalian menyerang kami?"
"Apa kamu tidak tahu kalau orang luar tidak boleh masuk kesini?"
"Hee~ ternyata ada aturan yang seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu ada peraturan seperti itu."
"Kalau kamu tidak tahu hal itu, berarti kamu bukan berasal dari daerah sini."
"Ya, aku baru tiba disini."
"Kalau memang begitu kamu tidak sepenuhnya salah. Tapi, karena kamu datang kesini dengan seorang penerus dari Suku Foxez. Maka kamu tetap saja salah."
"Aku kesini bukan untuk bertarung. Aku ingin bernegosiasi."
Ziruko berhasil mengunci tangan salah satu wolvez. Karena hal itu yang lainnya berhenti menyerang.
Setelah berunding akhirnya mereka mengizinkan Ziruko untuk masuk. Namun saat Ziruko dan Miho akan masuk melalui gerbang, tiba-tiba muncul api berwarna biru di depan gerbang itu.
"Ada apa?" tanya Ziruko kebingungan.
"Sepertinya tuan muda tidak mengizinkan kalian untuk masuk."
Tiba-tiba muncullah seorang laki-laki dari balik api biru tersebut. Laki-laki itu adalah orang yang saat itu menyerang Miho.
__ADS_1
"Hah? Ada urusan apa kalian datang jauh-jauh kesini? Apa kalian mau mengemis???" teriak laki-laki itu.