
Perempuan bertelinga rubah itu menoleh kearah Ziruko. Dia kemudian berlari menuju tempat Ziruko berada.
"Kumohon, tolong!" kata perempuan itu.
Ziruko langsung mengeluarkan sihir es kepada laki-laki bertelinga serigala itu. Laki-laki bertelinga serigala itu mengetahui apa yang akan terjadi jika ia terus melawan. Jadi, dia terpaksa untuk melarikan diri.
"Terimakasih tuan."
"Sama-sama."
Tiba-tiba Kagura menarik perempuan itu yang sedang memeluk punggung Ziruko.
"Kamu jangan sok polos, menjauhlah dari calon suamiku," kata Kagura.
"Hee~ kamu tidak boleh memilikinya sendirian. Dia itu milik semua orang. Perkenalkan namaku adalah Miho," kata perempuan itu tanpa menunjukkan ekspresinya.
"Dasar perempuan tak punya ekspresi!"
"Kalau begitu ayo kita pergi ke desa, tuan, Kagura, dan yang lainnya."
Miho memimpin jalan menuju ke desa. Dia berjalan sambil memeluk tangan kanan Ziruko. Karena merasa tersaingi, Kagura pun memeluk tangan kiri Ziruko.
"Kenapa kamu menurunkanku, Ziruko!" protes Irina.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di desa. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berlari menuju kearah Miho yang ada di samping Ziruko.
"Tuan putri apa kamu baik-baik saja?"
"Jangan khawatirkan aku, saat ini seseorang yang sudah ditakdirkan ada bersamaku."
"Maksud anda orang yang anda peluk tangannya."
"Iya."
"Kalau begitu silahkan masuk kedalam."
Laki-laki itu mengantarkan mereka semua masuk ke kediaman Miho. Mereka semua disuruh duduk oleh Miho. Sedangkan itu, Miho pergi meninggalkan mereka.
"Perasaan... aku selalu bertemu dengan seorang putri," keluh Ziruko.
"Bukannya itu bagus?" tanya Kagura.
"Pertemuan yang seperti ini selalu berakhir dengan sebuah masalah."
"Terkadang kamu harus berpikir positif."
Miho kembali masuk kedalam ruangan ini sambil membawakan teh hijau.
"Tumben sekali kamu rajin," kata Kagura.
"Aku harus melayani tuanku," jawab Miho.
"Jangan panggil aku tuan, panggil saja aku Ziruko. Aku kurang nyaman dipanggil tuan," kata Ziruko.
"Apa panggilan 'tuan' itu bisa membuatmu terangsang tuan?" tanya Miho.
"Panggil saja aku Ziruko! jangan panggil aku dengan sebutan lain," kata Ziruko.
"Oke."
Miho melanjutkan perkataannya.
"Ngomong-ngomong Kagura ada apa datang kesini? biasanya kalau kamu datang kesini pasti ada butuhnya."
"Kata-katamu itu menusuk kedalam hatiku. Sebenarnya aku sedang mencari api phoenix."
"Untuk apa kamu mencarinya?"
"Untuk membebaskan para orang yang terkena sihir es abadi milik ratu es," kata Ziruko.
"Sepertinya kalian mendatangi tempat yang salah. Soalnya disini ada benda yang seperti itu."
"Tidak ada ya...." keluh Ziruko.
"Dia bilang bendanya ada disini, bodoh!" teriak Kagura.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Benar," kata Miho.
"Lalu benda apa yang kamu maksud itu?" tanya Ziruko.
"Benda untuk membangkitkan roh yang kalian sebut phoenix."
"Kalau begitu dimana benda tersebut berada?"
"Ada disini!" kata Miho sambil memegang dadanya.
"Apa maksudmu?" tanya Ziruko kebingungan.
"Maksudku itu adalah kalung ini!" kata Miho sambil mengeluarkan kalungnya yang ia sembunyikan.
"Kalau begitu boleh aku pinjam???"
"Boleh saja, tapi kalung ini tidak bisa digunakan."
"Kenapa begitu?" tanya Ziruko.
Tiba-tiba empat orang lainnya mengganggu percakapan mereka berdua.
"Kalian omongkan saja berdua, aku butuh istirahat,' kata Momo.
"Begitupun denganku," tambah Mizu.
"Kalau aku tidak beristirahat nanti mataku berubah jadi mata panda," keluh Irina.
"Karena mereka semua pergi tidur aku pun akan tidur," kata Kagura.
"Ya sudah, kalian beristirahat saja," kata Ziruko.
"Letak kamarnya tanyakan saja kepada Kagura, dia sudah tahu denah rumah ini," kata Miho dengan muka tanpa ekspresinya.
Kemudian mereka melanjutkan percakapannya.
"Jadi, kenapa kalung itu tidak bisa gunakan? apa itu cuma replika?"
"Bukan begitu, kamu bisa lihat sendiri kan kalau kalung ini hanya setengah lingkaran?"
"Benar sekali, tuan."
"Sudang kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu. Kalau begitu aku bisa mendapatkan potongan yang lainnya dimana?"
"Kamu bisa mendapatkannya di penerus suku Wolves. Mereka tinggal di seberang danau yang ada di tengah desa ini."
"Kalau begitu antar aku kesana."
"Sayangnya tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
"Saat ini hubungan Suku Foxez dan Suku Wolves tidak berjalan dengan baik. Dalam artian singkat kita sedang berperang."
"Kenapa aku selalu terlibat di dalam situasi kacau seperti ini. Lalu apa alasan kalian berperang?"
"Untuk menentukan siapa yang lebih kuat."
"Hanya karena masalah sepele seperti itu?"
"Ini bukan masalah sepele, pemenangnya akan memimpin Suku Foxez dan Suku Wolves."
"Kalau memang begitu terus kenapa ada penerus dari setiap suku segala."
"Sepertinya kamu tidak mengerti aturannya."
"Aku memang tidak tahu aturannya."
"Baiklah akan aku jelaskan. Dalam artian singkat, suku yang menang, penerusnya akan menjadi pemimpin."
"Ternyata kamu tidak suka menjelaskan."
"Itu merepotkan."
__ADS_1
"Tapi, aku sudah bisa mengerti apa yang kamu maksud. Tapi, apa aku bisa meminta dengan cara baik-baik kepada Suku Wolves?"
"Kalau itu sih tergantung."
"Ya sudah, besok aku akan mencoba untuk berkonsultasi. Untuk saat ini lebih baik aku tidur saja."
"Biar aku tunjukkan kamarnya."
Miho menuntun Ziruko untuk pergi ke kamar untuk dipakai tidur.
"Ini dia kamarnya, semoga tidur nyenyak."
"Bukan begitu, harusnya semoga mimpi indah."
"Silahkan kamu duluan yang tidur."
"Apa maksudmu?"
"Kalau tidak mau biar aku saja yang tidur duluan?"
"Apa maksudmu?"
"Ini kan kamarku, jadi sudah semestinya kalau aku tidur disini."
"Lebih baik aku keluar dari sini saja."
"Coba pikirkan! lebih baik tidur dengan satu perempuan, atau tidur dengan empat perempuan?"
"Lebih baik aku tidak tidur."
"Tenang saja aku tidak akan menggigit."
Ziruko pun duduk di atas tempat tidur.
"Miho, apa kamu tahu alasan para perempuan ingin tidur bersamaku?"
"Mungkin itu hanya keinginannya saja."
"Kalau kamu kenapa?"
"Aku akan membuatmu memenuhi syarat menjadi Raja Iblis."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan membangkitkan Raja Iblis yang baru. Takhtanya sudah lama kosong. Raja Iblis yang paling hebat itu adalah Bahamut. Dia adalah iblis pertama yang masuk ke dimensi ini."
"Hee~ jadi kamu percaya kalau ada dimensi lain selain dimensi ini?"
"Tentu saja aku percaya. Kalau dimensi lain itu tidak ada berarti kamu pun tidak ada."
"Aku sering mendengar tentang Raja Iblis. Tapi, syarat untuk menjadi Raja Iblis itu apa?"
"Salah satu syaratnya adalah memiliki 7 dosa."
"Kalau 7 berarti bukan satu. Apa saja ketujuh dosa itu?"
"Superbia (kesombongan), avaritia (keserakahan), invidia (iri hati), ira (kemarahan), luxuria (hawa nafsu), gula (kerakusan), acedia (kemalasan)."
"Oh begitu ya."
"Dan aku akan membangkitkan luxuria milikmu."
"Apa maksudmu?"
"Mungkin hanya itu yang paling mudah dilakukan sekarang."
"Aku tidak tertarik."
"Aku bingung, padahal kamu dikelilingi banyak perempuan cantik, tapi nafsumu belum bangkit."
"Aku pun tak tahu itu."
"Mau aku bangkitkan sekarang?"
"Tidak usah."
__ADS_1
"Ya sudah, aku tidur saja."
Miho pun langsung tidur, dan Ziruko pun menyusulnya.