Legenda Arcana

Legenda Arcana
Membentuk Kelompok


__ADS_3

Ziruko sedikit menyesal telah menyelamatkan perempuan yang bernama Azalea itu. Padahal dia mempunyai arcana, tapi dia tidak menggunakan semestinya. Ziruko mencoba untuk berpikir positif dengan berpikiran kalau mungkin arcana miliknya itu bukan tipe untuk bertarung.


Ziruko juga merasa bahagia karena partner pertamanya adalah seorang perempuan yang cantik, dia tidak pernah berpikir tentang ini sebelumnya. Yang dia pikirkan dulu, partner pertamanya adalah seorang laki-laki yang gagah, berambut pirang dan mempunyai tato. Tapi itu hanya khayalannya semata.


Sebaliknya, Azalea terlihat sangat cantik dan rupawan. Dia terlihat seperti keturunan dari seorang bangsawan, kekuarganya pasti orang yang terkenal. Jika hal itu benar, akan ada banyak hal merepotkan yang akan dihadapi oleh Ziruko.


Dan yang lebih penting dari itu semua, Ziruko tidak ingin terjebak pada rasa cinta yang tiba-tiba muncul. Bukannya dia menolak Azalea, hanya saja untuk saat ini dia ingin fokus mengejar impiannya.


Tidak terasa hari semakin gelap, Ziruko tidak bisa melanjutkan perjalanan demi keamanan Azalea. Lebih baik dia beristirahat dulu sebelum melapor ke guild.


"Langit sudah gelap gulita. Lebih baik kalau kita sekarang kemah saja disini."


"Apa? kamu tidak menyewa penginapan? dan juga kenapa kita harus berkemah?"


"Kalau tidak suka pergi saja. Lagipula di dekat sini tidak ada penginapan."


“Aku tidak bisa tidur dengan laki-laki dengan mudahnya. Aku khawatir dengan kesucianku sebagai seorang perempuan.”


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu. Begini-begini aku ini bukan seorang binatang buas, aku masih memiliki akal."


"Hanya saja aku merasa, aku adalah wanita yang cantik. Jadi aku sangat khawatir pada diriku sendiri."


"Cepat tidur saja, besok kita akan pergi ke kota. Jika kamu masiu khawatir, tenang saja aku tidak akan tidur. aku akan berjaga disini. Kita tidak tahu, kapan bahaya akan datang."


"Kali ini aku maafkan kamu."


"Entah kenapa rasanya aku malah seperti orang yang bersalah. Kalau kamu tidak suka denganku jangan ikuti aku."


"Santai saja... aku cuma bercanda. Aku sudah memikirkan konsekuensinya kok. Kalau kamu mau tidur, tidur saja aku tidak keberatan. Aku akan mencoba untuk percaya padamu."


"Cepat tidur saja, ini sudah malam."


Keesokan harinya, Azalea bangun dari tidurnya. Dia melihat ke sekelilingnya tapi dia tidak menemukan Ziruko. Dia mencari Ziruko dan merencanakan untuk merayunya.


"Sepertinya seru juga merayu Ziruko."


Azalea masuk kedalam hutan. Dia melihat Ziruko sedang duduk diatas batu tempat ia makan kemarin.


"Selamat pagi, tuan."


"Selamat pagi, apa-apaan dengan gaya bicaramu itu!!!"


"Apa kamu sehat tuan???"


"Ya, aku baik-baik saja."


Ziruko memang menjawab pertanyaan Azalea, tapi pandangan matanya tidak mengarah ke Azalea. Azalea memegang kepala Ziruko, dan mengarahkan agar dia melihat dirinya.


"Tuan, coba lihat aku."


Akhirnya Ziruko pun memandang Azalea. Tapi dia tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya melihat kearahnya saja.


"Apa kamu perlu aku peluk, tuan."


"Kamu kerasukan apa Aza???"


"Mungkin aku terinfeksi oleh virus, tuan."


"Benarkah, kalau begitu akan aku segera obati. Mungkin disini ada tumbuhan yang bisa menetralkan virus.”


"Tenang saja~ virusnya tidak perlu diobati, tuan."


"Memangnya virus apa???"

__ADS_1


"Virus ini dinamakan dengan virus cinta. Kamu sudah membuatku jatuh hati padamu, tuan."


“Sepertinya kamu sudah tidak mengantuk. Kalau begitu langsung saja kita pergi.”


"Sekarang kita akan kemana.... tuan."


"Berhenti memanggilku seperti itu."


"Baik tuan."


"Kubunuh kamu!!!"


"Maafkan aku tuan."


"Hwaaaaaaaa...."


Azalea terlihat senang bisa menjahili Ziruko. Sepertinya Ziruko belum terbiasa berinteraksi dengan seorang perempuan.


Setelah itu, mereka berdua pergi ke Central City. Tempat dimana itu adalah awal perjalanan dari Ziruko.


Tidak lama mereka berjalan, mereka sudah sampai di pintu masuk menuju Central City. Mereka berdua berencana untuk melaporkan kebenaran humor yang beredar mengenai pasukan ogre yang ada di Hutan Ezelic kepada guild setempat.


"Aza... sebaiknya kita laporkan kejadian kemarin kepada guild yang ada disini."


"Sepertinya itu ide yang bagus. Aku ikut kemana pun kamu pergi, Ziruko."


"Baguslah kalau begitu."


"Apa kamu keberatan jika aku meninggalkanmu?"


"Aku tidak keberatan. Tapi, akan lebih bagus jika kamu tetap berada di sampingku sampai aku berhasil meraih impianku."


"Apakah itu adalah sebuah pengakua cinta?"


"Jika aku mencintaimu, kamu harus bertanggung jawab."


Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai di depan guild. Mereka pun langsung melaporkan kejadian ini kepada Guild Gladiator.


Laporan mereka dianggap sebagai laporan abal-abal. Resepsionis guild mengabaikan Ziruko dan Azalea, dan menganggap mereka berdua sebagai pembohong yang ingin populer dengan melaporkan berita palsu.


Selanjutnya mereka berdua mencoba untuk melaporkan kepada Guild Barbarian. Tapi usaha mereka berdua, kali ini juga tidak membuahkan hasil mereka malah dianggap berbohong lagi.


Waktu berlalu begitu cepat, saat ini waktu sudah berada pada antara pagi dan siang hari. Tapi mereka berdua belum mendapatkan hasil.


"Aza, apa kamu sudah merasa lapar?"


"Pokoknya aku ikut sama kamu saja."


"Kalau begitu mendingan kita makan dulu, daripada diam-diam tidak ada kerjaan."


Ziruko memutuskan untuk pergi makan dulu. Mereka berdua pergi ke restoran terdekat.


"Kamu mau makan sama apa, Aza???"


"Samakan saja dengan kamu, supaya kita terlihat seperti pasangan."


"Paman, beli sup ayam dua porsi."


"Baiklah, bro. Tunggu bentar ya!"


Restoran ini dipenuhi oleh pelanggan, seperti bar yang aku kunjungi kemarin. Akibatnya, makanan yang Ziruko pesan lama sekali sampainya. Sambil menunggu pesanan datang, Ziruko memutuskan untuk berbincang-bincang dengan Azalea.


"Aza... menurutmu kita harus bagaimana?"

__ADS_1


"Bagaimana apanya?"


"Tentang Pasukan ogre itu... para pengurus guild tidak mempercayai omongan kita."


"Kita serang pasukan ogre itu. Berdua saja sudah cukup untuk mengalahkan para ogre itu."


"Aku tau... lebih baik kita laporkan saja langsung ke kekaisaran. Bagaimana menurutmu, Aza???"


"Mendingan jangan Ziruko... nanti bakal repot kesananya."


"Kamu bilang gitu, kaya kamu pernah saja melapor ke kekaisaran."


"Kenalanku pernah melapor ke kekaisaran."


Tiba-tiba seorang laki-laki yang kekar datang kepada meja yang di duduki mereka berdua dan menghidangkan makanan yang mereka pesan.


Mereka berdua langsung menyantap makanan itu, dan setelah habis mereka langsung membayarnya dan keluar dari restoran ini.


"Bagaimana kalau kita membentuk sebuah kelompok, Aza."


"Ngomong saja sih gampang."


"Tidak apa-apa aku mempunyai cara yang pasti akan berhasil."


"Coba jelaskan!"


"Kita manfaatkan kecantikanmu untuk menarik perhatian orang-orang agar bergabung dengan kelompok kita."


"Pertama, makasih sudah memanggilku cantik. Kedua, jika kita memakai cara itu kebanyakan orang yang ikut adalah orang yang tidak serius. Dan yang terakhir, sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentangku? kecantikanku ini hanya untukmu, Ziruko!!!"


"Berhentilah merayuku, Aza."


“Dasar jahat!!!”


Setelah Azalea mengungkapkan kalimat itu, dengan spontan Ziruko langsung dipukulnya.


Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan tanpa tujuan. Saat sedang berjalan tiba-tiba Ziruko mendengar beberapa petualang yang sedang berbicara mengenai pasukan ogre.


"Bagaimana ya nasib kota ini kedepannya. Kemarin pasukan ogre sudah sampai di Hutan Ezelic, dan sepertinya mereka akan melakukan penyerangan malam ini."


"Meskipun kita sudah melaporkan hal ini ke guild, tapi para pengurus guild tidak ada yang mempercayai perkataan kita."


"Apa kita harus melaporkan langsung ke kekaisaran."


"Pura-pura nggak tau aja, kalau lapor ke kekaisaran nanti urusan kesananya bakalan repot."


Setelah mendengarkan perkataan itu, Ziruko dan Azalea langsung menghampiri para petualang itu.


"Hey, kalian... mau bergabung nggak dengan kami?"


"Bergabung untuk apa?"


"Untuk mengalahkan pasukan ogre. Tapi, kita harus mencari relawan lagi yang mau menghentikan pasukan ogre, tanpa dibayar."


"Baiklah aku bergabung. Ada keluargaku di kota ini. Aku tidak bisa membiarkan para ogre itu menyakiti keluargaku. Aku juga mempunyai empat orang rekan setimku. Kita bisa mengajaknya juga."


"Kita membutuhkan lebih banyak orang lagi, pasukan ogre yang ada di Hutan Ezelic bisa dibilang sangat banyak."


“Baiklah.”


Setelah itu mereka mengajak kesetiap petualang yang berjalan di kota ini. Mereka melakukan hal itu lama sekali, dan akhirnya selesai pada sore hari.


Mereka berhasil mengumpulkan delapan belas orang, sehingga jumlah semuanya menjadi dua puluh lima orang. Jumlah sebanyak ini mungkin sudah cukup untuk memukul mundur pasukan ogre.

__ADS_1


"Baiklah semuanya.... ayo kita kalahkan pasukan ogre. Jika tidak bisa mengalahkannya kita akan memaksa mereka mundur dari kota ini. Tujuan kita itu adalah kemenangan bukan kekalahan. Tak perlu tunggu lama, ayo kita berangkat sekarang juga!!!"


__ADS_2