
Beberapa saat kemudian, Ziruko dan yang lainnya sampai di puing-puing reruntuhan Desa Rabby.
"Semuanya, sekarang kalian akan tinggal disini. Kita akan membuat sebuah kota yang sangat besar. Dan untuk itu, aku akan mengganti nama tempat ini. Ini dulunya adalah Desa Rabby, sekarang juga ada goblin, sekarang juga ada penduduk dari Kota Belerick, Minos dan pasukannya pun berasal dari bawah reruntuhan yang ada di Padang Belerick. Untuk itu aku sudah mengambil kesimpulan, nama tempat ini adalah Kota Ragorick. Singkatan dari Rabby Goblin dan Belerick. Apa kalian semua setuju?"
Mereka semua serentak menjawab "setuju."
Ziruko memanggil Lili.
"Lili apa aku boleh membiarkan mereka beristirahat di ruangan bawah tanah?"
"Lakukan saja sesukamu, Ziruko! Untuk saat ini aku percaya padamu."
Setelah itu Ziruko memberitahukan hal ini kepada yang lainnya.
"Karena hari ini sudah malam, kalian bisa masuk ke bawah tanah. Kalian bisa beristirahat disana."
Mereka semua pun berjalan ke bawah tanah dengan dibimbing oleh para penduduk Desa Rabby.
Keesokan harinya...
"Lili, sekarang aku akan membuat impianmu menjadi kenyataan. Lihat saja, semua yang ada disini akan hidup damai."
"Ziruko, apakah ini yang kamu inginkan?"
"Apa maksudmu?"
"Apakah tidak apa-apa jika kamu disini sedangkan Azalea dan Mizu pergi?"
"Aku tidak boleh bersedih hati terus kan? Aku percaya suatu saat kita pasti akan bertemu lagi."
"Baiklah, sepertinya tidak apa-apa."
"Entah kenapa kamu terasa jadi lebih baik."
"Benarkah? Untuk sekarang kamu harus mengarahkan para penduduk."
"Baiklah."
Setelah itu Ziruko bangun dari tempat tidurnya dan langsung pergi ke tempat dimana para penduduk berkumpul.
"T-tunggu dulu! Sepertinya ada yang aneh. Semalam aku... tidur dengan Lili? Kenapa? Apa mungkin aku sudah terbiasa?" Itulah yang dia katakan sambil berjalan.
Setelah sampai di tempat para penduduk berkumpul, Ziruko langsung membagi-bagi tugas.
"Kita tidak bisa diam terus. Kita harus membuat rumah untuk kita tinggal. Kita juga ingin tinggal di tempat yang nyaman. Untuk mewujudkan itu, aku akan membagi-bagi tugas. Yang pertama, untuk pembuatan jalan aku serahkan tugasnya kepada para minotaur. Yang kedua, untuk pengumpulan bahan kami serahkan kepada para goblin. Untuk pembangunan rumah dan fasilitas lainnya aku serahkan kepada para penduduk dari Desa Rabby dan Kota Belerick."
Semuanya langsung melakukan pekerjaan seperti yang diperintahkan.
Setelah itu, Ziruko pergi menemui Lili.
"Lili, apa kamu tidak lupa dengan janjimu?"
"Maksudmu tentang Luca?"
__ADS_1
"Tidak ada hal yang lain, selain hal itu."
"Aku benar-benar tidak tahu lokasinya. Kakekku yang tahu, kalau begitu lebih baik kita temui saja dia."
"Baiklah."
Mereka berdua pergi ketempat berdiamnya tetua desa. Saat mereka masuk, mereka disambut dengan hangat oleh tetua desa.
"Selamat datang kalian berdua. Apa sekarang kamu ingin melamar cucuku, Ziruko?"
"Bukan, kakek."
"Kamu sudah berani memanggilku kakek ya, berarti sebentar lagi aku punya cucu."
"Jangan terlalu berpikir jauh, aku datang kesini untuk suatu urusan."
"Ada urusan apa, Ziruko?"
"Aku ingin tahu tentang Luca."
"Maksudmu arcana itu ya."
"Iya, aku ingin sebuah arcana."
"Kenapa kamu menginginkannya?"
"Aku ingin menjadi sebuah kaisar. Tapi sepertinya sangat rancu, jika kaisar tidak mempunyai arcana."
"Terus kenapa kamu menginginkan luca?"
"Itu tergantung pemakainya. Bisa saja kamu tidak mempunyai cukup mana untuk mengaktifkan sihir dari luca."
"Meskipun begitu, setidaknya aku akan mencobanya dulu."
"Arcana seperti luca itu, pilih-pilih. Dia tidak akan membiarkan orang membukanya kecuali orang yang dikehendakinya."
"Bukannya semua arcana juga begitu."
"Semua arcana begitu kalau sudah ada yang mempunyai. Tapi, kalau penggunanya sudah mati, maka siapapun yang mendapatkan arcana itu akan menjadi pemilik selanjutnya. Tapi, hal ini tidak berlaku untuk luca."
"Kalau aku sudah mencobanya, aku tidak akan penasaran lagi. Jadi, setidaknya beritahu aku lokasi pasti dari arcana itu."
"Ini adalah tempat yang berbahaya, Ziruko. Untuk mendapatkannya kamu harus melewati tempat terlarang."
"Apa maksudmu Hutan Terlarang yang itu?"
"Ya, yang katanya ada naga sedang tidur. Sudah lama naga itu tidak bangun, jika dia bangun mungkin bencana akan terjadi."
Tiba-tiba Lili menyerobot pembicaraan mereka.
"Kakek, aku lupa menceritakannya."
"Ada apa Lili?"
__ADS_1
"Waktu aku mengumpulkan pasukan. Aku dan Mizu melihat bayangan hitam yang besar di atas langit. Bentuknya seperti naga, tapi Mizu menyuruhku untuk positif thinking. Jadi kami mengira itu hanya seekor wyvern."
"Itu gawat. Sepertinya kekacauan sebentar lagi akan terjadi. Untuk itu Ziruko, aku perintahkan kamu untuk mengambil luca. Ini untuk antisipasi jika naga itu menyerang tempat ini. Kemungkinan naga itu bisa kamu kalahkan jika kamu menggunakan luca."
Dengan semangat Ziruko langsung menanyakan lokasinya.
"Dimana tempatnya, kakek?"
"Terakhir kali aku menitipkannya kepada Elena. Ratu es dari kerajaan es yang ada dibalik Hutan Terlarang. Meskipun tidak bisa aku sebut kerajaan sih. Soalnya disana tidak ada penduduknya selain dia. Tapi, kamu harus hati-hati kepadanya. Dia perempuan yang berbahaya."
"Kenapa kamu menakutiku?"
Lalu, Lili langsung menjawab pertanyaan Ziruko.
"Kakek benar Ziruko! Aku pernah sekali kesana, Ratu Es itu sangat menyeramkan. Masuk saja ke sekitaran kastilnya kamu akan merasa merinding yang tidak bisa kamu tahan."
"Memangnya ada apa sih."
"Sama seperti kata kakek, aku akan mengucapkan hati-hati kepadamu. Semoga kamu bisa selamat."
"Jadi, menurutmu Ratu Es lebih menyeramkan dari seekor naga."
"Entahlah, cari tahu saja sendiri. Aku tidak mau ikut campur."
"Apa kamu akan ikut denganku?"
"Aku sih pengen, tapi aku harus menjaga penduduk yang ada disini. Lagipula aku tidak mau bertemu dengan Ratu Es."
"Kalau begitu aku titipkan pembangunan ini. Jika aku kembali aku berharap semuanya sudah selesai."
"Itu pun jika kamu bisa kembali."
"Kok terasa semakin menyeramkan ya."
"Pokoknya jangan sampai kamu mengeluarkan perkataan yang bisa merugikanmu."
"Contohnya?"
"Tidak akan aku beritahu!"
"Apakah Ratu Es masih muda?"
"Heh~~ apa kamu akan mengincar Ratu Es juga? Tenang saja umurnya sekitar lima tahun lebih tua darimu."
"Berarti umurnya sekitar dua puluhan."
"Kira-kira seperti itu. Kalau kamu ingin lebih jelas tanyakan langsung padanya."
Tetua desa memberhentikan pembicaraan kami.
"Hmm~~ mau sampai kapan kamu berada disini? Apa kamu benar-benar menginginkan luca itu?"
"Iya maaf kakek, aku akan segera pergi. Kakek aku ingin kamu yang mengelola desa ini. Eh, maksudku kota ini. Kalau begitu selamat tinggal."
__ADS_1
"Semoga kamu selamat!"
Setelah itu Ziruko pun pergi keluar dari tempat ini. Dia langsung menuju ke Hutan terlarang. Dia terus memikirkan wujud dari ratu es, namun semakin dia memikirkannya semakin dia ketakutan.