
"Ziruko awas!!!"
Ziruko terlihat kebingungan karena pukulan golemes tidak mengenainya. Ternyata Elena menahan pukulan itu dengan sihir es miliknya.
"Cepat menyingkir dari situ, bodoh!"
Waktunya tepat sekali, saat Ziruko melompat kedepan es milik Elena pecah.
"Terimakasih Elena, arcana milikmu sangat berguna ya."
"Jangan bicarakan itu sekarang. Ayo kita pergi dari sini!"
Mereka bertiga berlari sambil menghindari serangan demi serangan yang dukerahkan oleh golemes.
Pada akhirnya, mereka lolos dari golemes tersebut. Mereka melanjutkan menyusuri gua ini.
"Apa letak arcananya masih jauh?"
"Tidak, sebentar lagi kita sampai."
Baru saja Elena mengatakannya, tapi mereka dihadapkan dengan jalan buntu.
"Lalu sekarang bagaimana Elena?"
"Aku yakin waktu itu jalannya kesini."
"Aku tidak menyalahkanmu. Yang pasti apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Bagaimana kalau kita ambil jalan yang lain?"
"Tidak ada ruas jalan yang lain Elena."
"Kalau begitu kita kembali saja."
"Tidak bisa! Aku menginginkan arcana itu."
Tiba-tiba Momo menepuk pundak Ziruko.
"Serahkan saja urusan ini padaku."
"Apa kamu mau melelehkan es itu?"
"Aku kan sudah bilang kalau api milikku cuma mempengaruhi makhluk hidup saja."
"Berarti apinya tidak berguna."
"Berani sekali kamu mengatakan itu!"
"Ya, maaf."
"Kalian berdua mundur."
Ziruko dan Elena pun menjauhi Momo. Momo mengangkat tangannya keatas dan tiba tiba muncul sayap di punggungnya. Dan pada akhirnya dia berubah menjadi wujud naga.
Momo memukul-mukul es itu. Melihat hal itu, Ziruko juga ikut memukul-mukul es itu.
Beberapa saat kemudian, es itu hancur. Dan ternyata ada jalan dibalik es itu. Mereka bertiga melanjutkan menyusuri gua ini.
Aneh sekali, tidak ada satupun monster di tempat ini. Mungkin keadaan saat ini bisa dibilang terlalu tenang.
"Apa arcananya benar-benar ada disini?"
"Berhenti menanyakan hal itu!"
"Elena, ngomong-ngomong apa kamu tidak punya anggota keluarga?"
"Jangan tanyakan hal itu! Aku tidak ingin membahasnya."
Momo bergabung dengan pembicaraan.
"Ziruko, kamu itu tidak mengerti perasaan perempuan ya."
"Bukannya aku tidak mengerti, hanya saja aku ingin mengetahuinya."
"Pertanyaanmu itu bisa melukai perasaannya."
"Momo apa nanti kamu mau ikut ke tempatku."
"Apa maksudmu? Apa kita akan melakukan itu?"
"Melakukan apa?"
"Melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh penguasa."
__ADS_1
"Ya kita akan melakukan itu."
"Benarkah?"
"Benar."
"Tapi aku belum berpengalaman."
"Tunggu dulu, sebenarnya kamu itu sedang membicarakan hal apa?"
"Bukannya kita sedang membicarakan hal yang biasa dilakukan oleh pasangan di malam hari?"
"Sepertinya kamu salah paham."
"Apa kita akan melakukannya di siang hari?"
"Aku tidak membahas tentang hal itu. Yang aku maksud itu kita akan mengatur kota dan membuat kerajaan."
"Membuat kerajaan? Bukannya hal itu memerlukan izin dari kekaisaran."
"Tenang saja aku punya banyak kenalan."
"Sebenarnya kamu ini siapa?"
"Aku adalah Ziruko RE. Vanargard, orang yang akan menjadi kaisar."
"Terus kenapa membuat kerajaan, kalau begitu kan berarti kamu jadi raja bukan kaisar."
"Ingat satu hal ini, tidak ada sesuatu yang instan. Kita harus memulainya dari awal. Kita tidak bisa melewati proses begitu saja."
"Aku tidak mengerti dengan perkataanmu."
"Tidak apa. Nanti juga kamu akan mengerti."
"Entahlah, sepertinya aku tidak akan pernah mengerti. Yang aku mengerti adalah aku akan menjadi istrimu."
"Sejak kapan kamu memutuskannya?"
"Sejak pertama kali bertemu."
Tiba-tiba Elena berlari.
"Ziruko, arcananya ada disana!"
"Ya sudah kupanggil anjing lagi."
"Jangan gitu dong."
Elena memegang tangan Ziruko dan berlari. Dia mengambil arcana itu dan menunjukkannya kepada Ziruko.
"Ini kan yang kamu sebut luca itu?"
"Ya, kamu benar Elena."
"Sekarang lakukan kontraknya."
"Kontrak?"
"Apa kamu tidak tahu kalau ingin menggunakan arcana harus melakukan kontrak dengan arcana itu sendiri?"
"Aku benar-benar tidak tahu."
"Kalau arcana itu menerima kontraknya. Maka arcana itu akan bercahaya dan menjadi milikmu."
"Lalu bagaimana caraku membuat kontrak dengan arcana?"
"Kamu hanya perlu meneteskan darah milikmu."
"Baiklah akan kulakukan."
Ziruko melukai jarinya dan meneteskan darahnya kepada arcana itu. Tiba-tiba arcana itu bercahaya.
"Selamat Ziruko, arcana ini menerima kontraknya."
Tiba-tiba arcana itu terlempar dan dari arcana itu muncul seekor harimau putih.
"Wah! Ada harimau putih muncul."
Harimau itu meraung dan mendekati Ziruko. Kemudian dia berbicara.
"Hey bocah. Aku adalah monster yang tidak dilepaskan oleh luca. Luca bilang kalau aku harus menjaga arcana ini. Jadi, ketika kamu membuat kontrak dengan arcana ini berarti kamu juga membuat kontrak denganku."
"Baiklah.... Eh, kenapa kamu bisa berbicara."
__ADS_1
"Hanya kamu yang bisa mengerti apa yang aku ucapkan. Ini adalah salah satu kemampuan dari arcana ini. Kamu sudah tahu kan kalau arcana ini adalah arcana celestial."
"Ya, aku tahu."
"Untuk saat ini kamu bisa menggunakan kekuatan milikku. Kekuatanku itu es. Jadi kamu bisa menggunakan sihir es."
"Apa sihirmu lebih kuat dari yang Elena punya?"
"Tergantung caramu memakainya. Baiklah aku akan masuk ke arcana lagi."
"Lalu bagaimana caraku memanggilmu."
"Cari saja sendiri caranya, bocah. Tapi meskipun aku berada di dalam arcana tapi aku bisa berkomunikasi denganmu."
"Baiklah aku mengerti."
"Aku percaya padamu. Jadi kamu jangan khianati kepercayaanku ini."
"Apa maksudmu?"
"Bukannya kamu ingin menjadi kaisar?"
"Tentu saja. Kenapa kamu bisa tahu."
"Entahlah..."
Setelah itu, harimau itu masuk kedalam arcana. Dan Ziruko langsung mengambil arcananya.
"Ya, aku lupa menanyakan namanya."
"Anjing apa kamu mengerti bahasa hewan?"
"Tidak... Aku tidak tahu."
"Lalu bagaimana caramu berbicara dengan harimau itu?"
"Ini adalah salah satu dari kemampuan arcana ini, Elena."
"Baiklah, anjingku yang manis."
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju ke tempat mereka datang pertama kali.
"Sekarang aku akan mengalahkan golemes itu."
"Lakukan yang terbaik, anjingku."
"Ngomong-ngomong Elena, kenapa bisa ada golemes disini?"
"Aku tidak tahu..."
"Bukannya golemes itu bukan monster ya?"
"Ya, kamu benar."
"Kalau bukan monster berarti makhluk itu ciptaan dari sihir ya."
"Ya..."
Tiba-tiba Momo tertawa terbahak-bahak.
"Lucu sekali. Ini lucu sekali."
"Ada apa Momo?"
"Apa kamu tidak mengetahuinya?"
Tiba-tiba Elena melompat dan menutup mulut Momo.
"Jangan katakan Momo, Momo jahat!"
"Emangnya kenapa?"
Momo melepaskan dekapan Elena. Dia langsung menjelaskan kebenarannya.
"Sebenarnya golemes itu tercipta dari sihir milik Elena."
"Apa?"
Ziruko pun tertawa terbahak-bahak. Muka Elena memerah. Kemudian Momo melanjutkan penjelasannya.
"Ini terjadi saat Elena masih kecil, waktu dia pertama kali menggunakan arcana. Dia bisa menggunakan sihir yang menakjubkan, yaitu menciptakan penjaga pribadi yang disebut golemes. Tapi, golemes yang dia ciptakan tidak bisa dikendalikannya. Tapi, untungnya golemes itu tidak keluar dari gua ini."
Elena langsung memegang baju milik Ziruko.
__ADS_1
"Jadi, tolong selesaikan masalah ini Ziruko!"