
Ziruko tak menyangka akan bertemu dengan Raja Minotaur yang bernama Minos. Minos, langsung berlari kearahku dan mengayunkan kapaknya.
Ziruko menghindari semua serangannya sambil berbicara kepadanya.
"Minos!!! siapa yang kamu maksud dengan orang itu?"
"Manusia rendahan sepertimu tidak perlu tau."
"Apa??? kamu memanggilku manusia rendahan? kamu akan menyesal mengatakan hal itu!"
"Tidak ada gunanya jika aku beritahukan kepadamu juga. Dia benci kepada orang yang lemah."
Minos pun melemparkan kapaknya kearah Ziruko. Untung saja dia berhasil menghindarinya.
"Kamu mau membunuhku ya?"
"Kamu sedang beruntung manusia rendahan, lemparan selanjutnya takkan meleset lagi."
Minos berlari untuk mengambil kapaknya kembali. Ini adalah kesempatan yang bagus bagi Ziruko.
Ziruko langsung menggunakan gaia dan memukul badan Minos. Tapi, Minos bisa menahan pukulannya.
"Serangan seperti ini takkan bisa melukaiku."
"Ini curang sekali, kulitmu sekeras besi, sepertinya aku memang harus serius melawanmu."
"Yang benar saja, kamu belum serius setelah menggunakan energi gaia sekuat itu."
"Benar kok, aku belum serius. Jangan-jangan sebenarnya kamu ini sedang terluka?"
"Jangan sombong dulu manusia rendahan! aku beri waktu kepadamu untuk kamu bersiap sebelum serangan berikutnya."
"Kamu membuat peluangku untuk mengalahkanmu semakin besar."
"Terserah saja kamu mau mengatakan apa."
Ziruko pun langsung mengeluarkan pedang kebanggaannya.
"Kamu menggunakan pedang bocah?"
"Aku itu sudah berumur enam belas tahun jadi jangan panggil aku bocah."
"Ternyata kamu sudah setua itu."
"Aku ini masih muda!!!"
"Kalau begitu aku memanggilmu bocah saja."
Ziruko langsung menebas Minos menggunakan pedangnya. Tapi dengan mudahnya Minos menangkis serangannya menggunakan kapaknya.
"Serangan seperti ini juga, tidak akan bisa melukaiku. Memangnya kamu pikir aku itu siapa? aku ini Raja Minotaur!!!"
"Sial! aku harus mengakuinya, paman kuat juga ya."
"Terimakasih pujiannya. Sepertinya aku sudah lelah, umurku sudah tidak muda lagi."
"Kalau begitu paman pulang saja beristirahat dirumah."
"Aku tidak akan melakukan hal itu."
Ziruko kembali menebas Minos, namun lagi-lagi Minos bisa menangkisnya.
"Sepertinya kamu tidak mempunyai arcana, bocah!"
"Untuk saat ini aku tidak punya. Tapi, aku sudah merasa kuat walaupun tanpa menggunakan arcana."
"Kalau begitu aku akan memanggil pasukanku."
Minos pun langsung meraung-raung, dan tiba-tiba tanah yang Ziruko pijak bergetar. Getaran itu terjadi karena para minotaur berlari bersamaan.
Para minotaur itu menuju kearah Ziruko dan Azalea. Melihatnya saja sudah seperti di Medan perang. Namun bedanya, kali ini satu pasukan melawan dua orang saja.
Jika dipikir oleh logika, memang pertempuran ini tidak adil. Tapi, Ziruko yakin kalau dia bisa mengalahkan para minotaur itu.
"Paman ini, bisanya cuma nyuruh-nyuruh orang saja ya."
__ADS_1
"Ini semua karenaku sudah tua."
Para minotaur semakin dekat, dan Minos pun berbalik lalu melompat kebelakang kerumunan pasukannya.
"Kalau kamu ingin melawanku, kalahkan semua pasukanku dulu, bocah!!!"
Ziruko dan Azalea mencoba untuk berdiskusi untuk menyusun sebuah rencana singkat.
"Aza, kerumunan ini banyak sekali. Jika aku menggunakan gaia, pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Karena itu, bolehkah aku minta tolong?"
"Minta tolong apa?"
"Gunakan Wind Tornado."
"T-Tapi Ziruko."
"Ada apa?"
"Aku tidak bisa menggunakannya."
"Waktu itu kan kamu pernah bilang kalau tornado itu serangan skala besar."
"Yang bisa menggunakan itu adalah adikku."
"Jadi kamu punya adik ya."
"Tentu saja."
"Lagian kenapa adikmu lebih hebat darimu?"
"Entahlah."
"Kalau begitu, gunakan saja serangan yang berskala besar. Kita harus menghemat waktu, ada pepatah yang mengatakan kalau hemat pangkal kaya."
"Kenapa ini malah jadi rencana yang panjang ya. Hati-hati Ziruko."
Azalea mendorong Ziruko, karenanya Ziruko berhasil menghindari serangan minotaur.
Mereka berdua terpisah, gara-gara serangan para minotaur yang membabi buta itu.
Mereka berdua berhasil membunuh banyak minotaur. Namun, tiba-tiba terdengar suara raungan dari Minos.
Tiba-tiba terlihat simbol di langit gua. Simbol itu berwarna merah dan terlihat seperti kepala minotaur.
Semua minotaur yang sudah mati bangkit kembali. Meskipun mereka bangkit lagi, dan lagi, tapi Ziruko dan Azalea terus menyerang para minotaur itu.
"Sepertinya ini berjalan dengan baik, Aza."
"Tapi tunggu dulu, kenapa mereka bangkit lagi bangkit lagi."
"Ya ini terasa aneh. Mata para minotaur itu juga menjadi warna merah. Ziruko bukannya simbol yang tadi itu simbol pemimpin."
"Aku tidak tahu."
Ziruko berteriak menanyakan hal ini kepada Minos.
"Minos sebenarnya apa yang terjadi?"
Tiba-tiba Minos pun melompat-lompat menuju ke arahnya. Sambil melompat, Minos mengayun-ayunkan kapaknya. Tapi, Ziruko berhasil menghindarinya.
"Aku tidak pernah menduga kamu akan menyerangku. Sekarang jelaskan!"
"Yang tadi warna merah itu namanya simbol pemimpin. Siapapun pemimpin yang diakui oleh rakyatnya akan memiliki simbol itu."
"Terus kenapa mereka jadi seperti terkendali."
"Ini adalah efek dari simbolku. Siapapun yang berada di bawah kekuasaanku akan menjadi mengamuk, dan tidak bisa mati."
"Terus bagaimana cara menghentikannya???"
"Mereka tidak akan bisa berhenti, sampai tujuan pemimpinnya terpenuhi atau si pemimpin menyuruh mereka berhenti."
"Kalau begitu ini tidak adil Minos!"
"Di dalam pertarungan tidak ada yang namanya curang. Semua orang bisa menggunakan trik khusus."
__ADS_1
Minos pun mengeluarkan suara raungan lagi, dan pasukannya pun ikut berteriak. Mereka jadi semakin agresif, Ziruko mencoba untuk menghindari semua serangan para minotaur itu dan menebasnya satu persatu.
"Sial! Azalea cepatlah berlindung padaku."
"Untung saja yang lainnya tidak ada disini Ziruko. Mereka bisa saja mati kalau ada disini."
"Tapi, alangkah baiknya ada Mizu juga disini."
"Sebenarnya apa hubungan kamu dengan Mizu."
"Kita ini dibilang apa ya."
"Aku curiga."
"Mungkin aku sama Mizu bisa dibilang temenan."
"Bener tuh?"
"Soalnya aku, Mizu sama kakaknya suka main bareng."
"Mizu punya kakak?"
"Ya, namanya Riz. Dia orang yang menyebalkan sama seperti Mizu."
"Aku jadi inget sama Irina."
"Siapa itu?"
"Adikku."
"Aku jadi ingin bertemu dengannya."
Meskipun Ziruko dan Azalea saling berbicara, tapi mereka bisa menghindari semua serangan dari para minotaur itu.
"Tidak ada pilihan lagi Aza."
"Lari?"
"Ya, kamu benar. Kita harus bertemu dengan Mizu. Semakin banyak rekan semakin mudah untuk mengalahkan musuh."
Mizu yang sedang berlari dengan Riz, tiba-tiba mendengar suara raungan minotaur.
"Riz itu suara raungan minotaur. Sepertinya Ziruko sudah mulai bertarung."
"Kalau begitu kita pergi kesana."
Mizu mempercepat larinya untuk menuju kearah suara raungan itu berasal.
"Riz kita harus cepat!"
Mizu dan Riz terhambat oleh bebatuan yang runtuh. Semoga saja Ziruko masih bertahan hidup.
Beberapa menit kemudian, Mizu mendengar suara raungan lagi.
"Sepertinya Raja Minotaur sudah mulai kesal."
Mizu terus berlari menuju kearah suara raungan itu berasal.
Beberapa menit kemudian Mizu berhasil menemukan kerumunan minotaur.
"Ketemu! ayo kita hajar mereka semua."
"Kok kamu jadi serem ya, Mizu."
Mizu langsung menggunakan arcana miliknya.
"Water Splash"
Dia terus menggunakan sihir itu sampai dia melihat Ziruko.
"Maaf aku terlambat sayang."
Ziruko yang sedang menghindari serangan Raja Minotaur, melirik kearahnya.
"Sayang? jangan-jangan itu kau Mizu."
__ADS_1
"Ya, kamu benar."