
"Bangun!!!"
Elena berteriak kepada Ziruko. Namun Ziruko tidak kunjung bangun.
"Bangun, anjingku yang manis."
Ziruko terlihat bergerak, dan dia langsung bangun dari tidurnya.
"Kenapa ada anak kecil yang cantik disini?"
"Aku bukan anak kecil!"
"Oh Elena..."
"Sejak kapan aku mengizinkanmu memanggil namaku?"
Mereka terus beradu argumen, namun pada akhirnya mereka membicarakan tentang arcana.
"Berbahagialah, hari ini kita akan mencari arcana yang kamu cari."
"Oh itu bagus. Kalau begitu ayo kita pergi!"
"Tunggu dulu kita harus bersiap-siap dulu, bodoh!"
"Baiklah, aku akan menunggu diluar."
Beberapa saat kemudian, Elena keluar dari istananya.
"Ayo kita berangkat, anjingku yang manis!"
"Kita akan jalan kaki?"
"Bukannya kamu sudah terbiasa jalan kaki?"
"Iya sih, tapi sepertinya bakalan lama."
"Kalau begitu aku mempunyai ide bagus."
"Ide apa?"
"Kita akan menaiki naga."
"Apa katamu?"
"Ya, kita akan menaiki naga."
"Naga yang aku temui kemarin?"
"Ya, dia Momo temanku."
Elena terlihat sedang bersiap-siap menggunakan sihir. Ternyata dia mengeluarkan sihir "Frost Geyser" Sihirnya itu digunakan untuk memberi tanda kepada naga itu.
Tidak lama kemudian, naga itu datang. Naga itu mengepakkan sayapnya dan turun ketempat Elena dan Ziruko berdiri.
"Sobatku Momo, aku membutuhkan bantuanmu!"
Sepertinya naga itu mengerti, dia membiarkan Elena naik ke punggungnya. Ziruko menghampiri naga itu dan mengelus-elus kepalanya.
"Kalau kamu seperti ini, kamu kelihatan cantik naga. Jangan marah ya!"
Ziruko langsung naik ke punggung naga. Dia duduk dibelakang Elena.
Setelah itu naga itu pun lepas landas. Karena reflek Ziruko memeluk Elena.
"Apa-apaan kamu, dasar anjing mesum! Kenapa kamu pegang-pegang?"
"Kalo aku nggak pegangan nanti aku jatuh, bodoh!"
"Sekarang kamu sudah berani melawan majikanmu ya! Mau aku jatuhkan sekalian?"
"Nggak usah segitunya juga, baiklah aku akan memeluk naga ini saja."
"Jangan begitu, nanti aku jatuh bodoh!"
"Bukannya tadi kamu melarangku untuk berpegangan padamu?"
"Itu kan tadi... Baiklah untuk kali ini saja, aku izinkan kamu untuk memegang tubuhku."
"Kok kesannya sepertinya aneh ya."
Beberapa saat kemudian...
"Ya kita sudah sampai!!!"
__ADS_1
"Berisik Elena!!!"
Mereka mendarat dengan selamat. Elena dan Ziruko turun dari punggung itu. Elena mengelus-elus kepala naga itu.
"Momo! Kamu kembali saja, aku bisa sendiri mulai saat ini."
Naga itu terlihat jinak di hadapan Elena. Ziruko juga ingin mengelus-elus kepala naga itu juga.
"Apa aku boleh mencoba mengelus-elusnya juga?"
"Silakan saja, tapi ingat dia itu perempuan."
"Jadi, kamu perempuan ya." Kata Ziruko sambil mengelus-elus kepala naga.
Kemudian Ziruko memegang sayapnya juga.
Lama-kelamaan Elena langsung menarik baju Ziruko.
"Ayo kesini anjing mesum, sudah kubilang dia itu perempuan. Dasar mesum!!!"
"Mau bagaimanapun juga dia itu hewan kan?"
"Hewan apanya?"
"Naga itu kan hewan mitologi."
Tiba-tiba terdengar suara perempuan berbicara, tapi itu bukan suara yang berasal dari Elena.
"Elena sepertinya aku memang harus ikut denganmu."
Elena langsung berbalik kearah naga itu. Aku juga ikut berbalik.
"Tidak apa-apa Momo aku bisa menjaga anjing mesum ini."
"Apakah Elena yang angkuh menyukai orang itu?"
"Mana mungkin aku suka kepada anjing mesum yang bodoh ini."
Ziruko terlihat kebingungan.
"Oyy~~ kenapa naga itu bisa bicara."
"Emangnya aku tidak boleh bicara."
"Tapi aku bukan sembarang naga."
"Apa katamu?"
"Namaku Momo RE. Dragonewth."
"RE?"
"Ya, aku juga bisa berubah jadi manusia."
"Jangan bercanda, sudah hentikan saja."
Ziruko sangat terkejut melihat naga di depannya berubah menjadi seorang perempuan cantik.
"Apa!?!?"
"Apa kamu menyesal telah mengelus-elusku."
"Tentu saja tidak."
"Jika dipikirkan kamu mengelus-elus tubuhku saat aku dalam wujud naga. Kalau memang kamu tidak menyesal, bagaimana kalau kamu mengelus-elusku sekarang?"
"Tentu saja aku tidak bisa."
"Hee~~ jadi sebenarnya kamu tidak berani sama sekali terhadap perempuan."
"Bukan begitu! Tapi kamu kan perempuan, dan aku laki-laki. Kita tidak boleh melakukan hal itu."
"Tapi aku terlanjur suka..."
Tiba-tiba Elena memotong pembicaraan.
"Mau sampai kapan kalian berbicara. Kita kesini untuk mencari arcana!"
"Baiklah, Elena." Kata mereka berdua.
Mereka masuk kedalam gua tersebut. Langit-langit gua dipenuhi es. Momo mendekati Ziruko dan memeluk tangannya.
"Disini dingin, hangatkan tubuhku."
__ADS_1
"Kita tidak boleh melakukan ini, Momo!"
Mereka berdua berjalan dengan posisi seperti itu terus. Sedangkan Elena hanya melihatnya, dan mukanya cemberut.
"Kenapa kamu bermesra-mesraan Momo, kalau tahu begini lebih baik kamu tidak usah ikut saja."
"Tidak apa-apa Elena, sepertinya Ziruko juga nyaman tangannya dipeluk olehku."
"Jangan sombong karena dadamu besar Momo!!!"
"Padahal aku tidak membicarakan hal itu loh, Elena."
"Kamu juga Ziruko! Kenapa kamu diam saja! Atau mungkin kamu menikmatinya."
"Tentu saja tidak, aku hanya mencoba untuk menghangatkan tubuhnya."
"Kalau gitu ya sudah kalian berdua saja yang mencari arcana. Aku akan menunggu diluar!"
"Kenapa kamu marah Elena?"
Muka Elena semakin cemberut. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat yang luas.
"Kita sampai disini, apa arcana itu ada disini Elena?"
"Arcananya ada di seberang sana. Tapi..."
"Ada apa?"
Tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar. Muncul dari tumpukan salju golemes yang merupakan raksasa es.
"Itu dia masalahnya."
"Kenapa kamu tidak bilang kalau golemes itu sebesar ini."
"Ya, aku tidak berani bilang. Karena golemes ini dulunya bawahanku."
"Apa???"
"Ya, dulunya golemes mengabdi kepada kerajaanku. Tapi karena kerajaannya musnah. Jadi seperti ini lah..."
"Lagian kenapa kerajaan kamu bisa musnah. Dan apakah ada hubungannya dengan patung-patung yang ada di lingkungan istanamu."
"Nanti akanku ceritakan, tapi saat ini kita harus lolos dulu dari golemes ini."
"Aku akan menunjukkan kehebatanku."
"Memangnya anjing itu bisa ngapain."
"Lihat saja!"
Ziruko mengumpulkan energinya ke tumpuan kakinya. Setelah terkumpul dia langsung melesat kearah golemes. Sambil melesat dia mengumpulkan energi di tangan kanannya.
Setelah itu dia memukulkannya kepada golemes. Tubuh golemes itu retak setelah itu hancur. Ziruko terlihat senang.
Tapi kesenangannya sampai disitu saja. Bagian yang sudah hancur perlahan mulai menyatu kembali. Karenanya Ziruko sedikit terkejut.
"Bagaimana ini? Momo kekuatanmu itu seperti apa? Apa kamu punya nafas api?"
"Api milikku hanya berpengaruh kepada makhluk hidup yang berakal. Golemes itu tidak mempunyai akal."
"Kalau kamu Elena?"
"Aku tidak bisa. Kan katanya kamu mau menunjukkan kehebatanmu!"
"Sebenarnya kamu bisa kan menahannya?"
"Tidak bisa."
"Jangan bohong!"
"Aku benar-benar tidak bisa."
"Apakah seperti ini kemampuan Ratu Es yang terkenal itu."
"Ya maaf jika aku tidak sesuai dengan ekspektasimu."
"Kamu kan tinggal sendiri, bagaimana kalau kalian berdua nanti tinggal di kotaku."
"Kamu itu sedang bertarung, jangan hilangkan konsentrasimu!"
"Iya, iy-"
"Ziruko awas!!!"
__ADS_1