
Tidak terasa hari sudah malam, mereka semua tiba di Padang Belerick.
"Semuanya, ayo kita masuk."
"Ternyata benar ada kuil yang muncul disini."
"Kita tidak bisa diam disini terus, semuanya cepat kita masuk kedalam."
Setelah itu, mereka langsu masuk ke dalam reruntuhan yang ternyata sebenarnya adalah kuil.
Ziruko memandangi area di dalam kuil ini, dia mempunyai kesimpulan kalau tidak ada yang berbahaya disini.
Namun, tiba-tiba ada seorang minotaur yang melompat dari atas. Ziruko bisa menghindari serangan kejutan dari minotaur itu.
"Untung saja aku masih hidup."
"Apa kamu baik-baik saja Ziruko???"
"Ya, aku baik-baik saja Mizu."
Meskipun ada banyak minotaur yang menyerang Ziruko, dia sama sekali tidak takut. Minotaur seperti ini bukan masalah bagi mereka bertiga.
"Kalian jangan takut, disini ada kami. Untuk sekarang kalian simpan saja tenaga sampai kita menemukan pemimpin dari minotaur ini."
Ziruko dan Mizu langsung menyerang minotaur itu. Ziruko menggunakan pedang kebanggaannya, karena hal itu dia jadi sangat mudah untuk mengalahkan para minotaur itu.
Setelah itu, mereka terus berjalan menuju ke bagian kuil yang lebih dalam lagi. Mereka harus berhadapan dengan para minotaur lagi. Sekali lagi, itu bukan masalah bagi Ziruko.
"Bertemu minotaur lagi, itu bukan masalah untuk kami semua."
Mereka semua terus berjalan mengarungi kuil ini. Sampai akhirnya, mereka sampai di ujung kuil.
Di ujung kuil ini terdapat sebuah tangga yang menuju kebawah. Mereka semua tidak memiliki pilihan lain selain menuruni tangga ini.
"Aza, apa kamu masih ingin menjelajahi kuil ini?"
"Ya, apa kamu bercanda... tentu saja aku akan melanjutkan penjelajahan ini."
Tangga ini sangat curam, ditambah licin. Akan menjadi cerita yang konyol, jika ada seseorang yang mati disini.
"Aza, Mizu, hati-hati... tangga ini sangat curam. Jangan sampai terjatuh."
"Tenang saja, aku tidak akan mati Ziruko."
"Ya aku bisa percaya padamu Mizu."
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di dasar kuil ini. Ternyata di bawah tanah ini terdapat sebuah labirin raksasa yang tinggi dindingnya sekitar 20 meter.
"Keren, di depan mata kita terdapat labirin yang tinggi."
"Kamu kelihatan senang Ziruko."
"Ya, aku benar-benar senang Mizu! mungkin saja aku bisa bertemu musuh yang kuat."
"Ketemu orang yang kuat kok seneng, kalau kamu mati gimana???"
__ADS_1
"Tenang saja Aza, aku tidak akan mati disini."
Mereka langsung memasuki labirin yang sangat tinggi ini. Baru saja mereka masuk, mereka langsung berhadapan dengan dua ruas jalan.
Ziruko mencoba untuk membagi-bagi pasukan. Sebagian ke arah sebelah kiri dan sisanya ke arah sebelah kanan.
"Sepertinya aku harus membagi dua pasukan kita. Aku dan Azalea akan pergi ke arah kiri. Yang ingin ikut, nanti ikuti kami. Terus disebelah kanan di pandu oleh Mizu, yang akan ikut dengan Mizu silakan gabung dengannya. Lalu, jika nanti kalian melihat ruas jalan lagi kalian bagi dua pasukan lagi. Bagaimana menurutmu Mizu, dengan rencanaku ini?"
"Menurutku rencana ini jauh dari kata sempurna. Tapi, apa boleh buat... kita tidak bisa berdiam diri disini terlalu lama. Kita juga tidak tahu apakah ada batas waktu kuil ini muncul. Jadi, sebisa mungkin kita lakukan secepat mungkin. Kita tidak ingin terkubur hidup-hidup, kan???"
"Baiklah, kita menggunakan rencana ini saja. Berhasil atau tidaknya rencana ini tergantung kepada kemampuan dan keberuntungan kita."
"Ziruko."
"Ada apa Mizu?"
"Kamu curang."
"Curang kenapa?"
"Aku ditinggal sendirian, sedangkan kamu berduaan dengan Azalea. Kamu jahat!"
"Cepat pandu pasukanmu Mizu!!!"
"Baiklah, Ziruko sayang."
"Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan, Mizu???"
"Apa? jika kamu atau yang lainnya merasa tidak akan menang melawan musuh yang ada di hadapan kalian. Jangan takut membuat keputusan untuk lari dari pertempuran. Hal seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai pengecut. Daripada mati disini, lebih baik mati saat berjuang nanti."
Mizu berjalan di arah yang berbeda dengan Ziruko dan Azalea. Mizu merasa sedikit kecewa dengan keputusan Ziruko.
"Kenapa aku harus sendirian begini. Ziruko benar-benar tidak mengerti perasaanku, dia memberikan beban yang berat untukku."
Mizu merasakan kehadiran seseorang yang datang kearahnya.
"Kalian berhati-hatilah! aku merasakan kehadiran seseorang."
"Baik, nona muda."
Mizu merasa aneh dengan mereka yang menyebutnya nona muda. Dia tidak nyaman dipanggil begitu oleh orang lain.
Setelah itu, Mizu menemukan tiga ruas jalan. Tidak ada cara lain selain membagi pasukan. Tapi, masalahnya adalah jumlah pasukan yang dipimpin Mizu jumlahnya ganjil. Jika dihitung jumlahnya lima orang.
Mizu mempunyai pemikiran, “daripada mereka mati, lebih baik aku saja yang mati.” Jadi dia memutuskan untuk berjalan sendirian.
"Semuanya!!! saat ini, keberuntungan tidak memihak pada kita semua. Harus ada yang berjalan sendirian."
"Terus siapa nona muda yang akan berjalan sendirian."
"Sepertinya, aku akan berjalan sendirian. Jika kalian ada yang ingin berhenti, berhenti disini saja. Kembali keatas, selagi kita masih belum menyusuri lebih dalam lagi. Aku tidak tahu kedepannya, kalian akan menghadapi makhluk seperti apa."
"Tidak apa-apa nona muda, aku akan terus melanjutkan penjelajahan ini."
"Berhati-hatilah semuanya, aku pergi dulu."
__ADS_1
"Baik, nona muda."
Mereka mengambil jalan yang berbeda-beda. Sekarang Mizu benar-benar ditinggal sendirian. Dia berjalan sambil berkeluh kesah yang kenyatannya sama sekali tidak ada gunanya.
Tiba-tiba, Mizu mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Dari suaranya saja, dia sudah bisa menebak kalau langkah kaki itu bukan berasal dari minotaur.
Mizu membalikkan badannya. Dia melihat bayangan manusia yang semakin membesar. Itu tandanya kalau dia semakin mendekat.
Mizu langsung memegang pisau ditangannya.
"Siapa disana!!!”
Mizu berulang kali mengatakan hal itu. Tapi tidak ada yang menjawabnya.
Bayangan itu semakin mendekat, mendekat, dan terus mendekat kearah Mizu. Sampai akhirnya muncul seseorang di hadapanku.
Orang itu adalah seorang laki-laki yang Mizu kenal. Tentu saja orang itu bukan Ziruko.
"Hai, Mizu."
"Riz?"
"Bagaimana keadaan Ziruko?"
"Dia sedang bermesraan dengan perempuan cantik."
Di tempat yang berbeda, tiba-tiba Ziruko bersin ketika Mizu sedang membicarakannya.
Setelah itu Mizu terus melanjutkan menjelajahi labirin ini bersama dengan Riz.
"Jadi kamu cemburu ya, Mizu?"
"Tentu saja, seharusnya aku yang ada di sampingnya."
"Jika kamu bersikap seperti itu terus, nanti orang itu bisa marah."
"Aku tidak peduli dengan orang lain."
"Kalau tidak salah Ziruko berhasil memukul mundur pasukan ogre ya."
"Ya."
"Ditambah dia berpetualang dengan seorang putri dari kekaisaran."
"Sebenarnya aku juga bingung, kenapa Ziruko bisa berpetualang dengan seseorang dari kekaisaran. Terlebih lagi Azalea itu seorang putri mahkota."
"Apa Ziruko tahu tentang hal ini."
"Sepertinya dia tidak mengetahuinya."
"Kalau begitu, jika dia tidak bertanya... kita tidak boleh mengatakan hal ini. Mungkin saja Ziruko akan menjadi seseorang yang berbeda."
"Kok kamu jadi sok pintar, Riz!!!"
"Emangnya masalah buatmu? yang penting aku hidup."
__ADS_1