
Mizu datang menghampiri Ziruko. Ziruko tidak menyangka kalau Mizu mempunyai arcana. Dia jadi merasa tertinggal.
"Mizu, kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya arcana."
"Itu karena kamu tidak pernah menanyakannya."
Ziruko melirik ke belakang Mizu. Disana terlihat ada seorang laki-laki. Laki-laki itu adalah Riz.
"Ternyata ada Riz juga, ada apa ini? siapa yang ngadain reuni ya, Mizu?"
"Tadi aku ketemu sama dia dijalan."
"Kamu itu gak pernah berubah ya Mizu."
"Tidak berubah apanya?"
"Kamu memanggil kakakmu tanpa menambahkan kata ' kak '"
"Iya iya."
"Baiklah, yang paling penting sekarang adalah para minotaur ini."
"Kamu benar Ziruko, para minotaur ini sedang menggila."
Mereka langsung menyerang para minotaur. Ziruko menebas Minotaur menggunakan pedang. Azalea dan Mizu menggunakan sihir, sedangkan Riz menggunakan pistol.
Sebelum berpencar Mizu memberitahukan kepadaku satu hal yang sangat berguna.
"Ingat Ziruko, para minotaur ini tidak akan bangkit lagi jika kita mengalahkan rajanya."
"Raja? maksudmu minos?"
"Ya, dia bukan sembarang minotaur."
"Aku juga tahu itu, aku belum bisa melukainya. Terimakasih Mizu."
Para minotaur ini terus bangkit. Ziruko harus melakukan sesuatu hal yang nekad. Hal yang dimaksud olehnya adalah berhadapan dengan Minos.
"Kalian semua, aku akan pergi mengalahkan Minos. Kalian lawan para anak buahnya saja."
Karena tidak ada pilihan lain, mereka akhirnya menerima perintah Ziruko.
Ziruko yang berlari menuju arah Minos dihadang oleh banyak minotaur. Tapi, dia tidak mempunyai waktu untuk bermain-main dengan para pasukan Minos.
Minos langsung berlari kearah Ziruko, dan mengayun-ayunkan kapak nya sambil meraung-raung.
"Aku akan mengalahkanmu manusia rendahan!!!"
"Ingat Minos! ucapanmu itu akan menuntunmu kedalam kekalahan."
Ziruko berlari kearah Minos sambil mengarahkan pedangnya. Dia mencoba menebas Minos, tapi sama seperti terakhir kali dia mencoba, serangannya berhasil ditangkis oleh Minos.
Namun kali ini sedikit berbeda, tiba-tiba Mizu melemparkan pisau dari jarak jauh. Minos pun untuk pertama kalinya terkena sayatan pisau.
"Mizu, bagus sekali seranganmu itu. Kalau begini terus kita pasti bisa menang."
"Terimakasih sudah memujiku Ziruko."
"Mizu?"
"Ada apa lagi?"
"Kamu sekarang sudah jadi orang yang hebat."
"Sudahlah, serius dengan pertempurannya. Lihat Minos mengayunkan kapaknya lagi."
__ADS_1
Ziruko mencoba untuk menebas Minos lagi, tapi Minos menahan semua serangannya menggunakan kapak miliknya. Seperti tadi, Ziruko hanya melakukan hal ini untuk mengalihkan perhatiannya.
Minos terkena oleh pisau Mizu lagi. Sekarang satu kakinya sudah tidak bisa digunakan untuk berjalan lagi. Mizu berlari mendekati Ziruko.
"Ziruko jika aku sudah menggunakan arcana, kamu langsung tebas minotaur itu."
"Baiklah."
Mizu langsung berlari kearah Minos, ia langsung melompat dan melemparkan tiga buah pisau ke kepala Minos. Namun kali ini Minos berhasil menangkis serangannya.
Tapi, itu bukan tujuan Mizu. Mizu langsung menggunakan "Water Wall"
Ziruko langsung berlari menuju Minos. Saat Minos mengayunkan kapak untuk menghancurkan "Water Wall" milik Mizu, Ziruko langsung menebas "Water Wall" itu.
Minos pun melepaskan kapak yang dipegangnya. Ziruko terdiam karena mendengar Minos tertawa.
"Kamu menang anak muda pemberani, siapa namamu?"
"Namaku Ziruko."
"Aku akan mengingatnya, tolong ingat namaku juga. Kalau kamu bertemu dengan minotaur yang lain. Sebutkan namaku, mereka pasti akan menghormatimu."
"Sudahlah orang yang kalah diam saja. Lagian, mereka tidak akan percaya padaku."
"Satu lagi, jika kamu menjadi pemimpin sebuah kerajaan tolong jaga pasukanku yang masih hidup."
"Baiklah, aku akan mengusahakannya. Itu pun kalau mereka mau."
Dikegelapan ini terpapar cahaya dari luar kuil yang sampai kesini. Minos memejamkan matanya.
"Bunuh aku Ziruko!!!"
Jujur saja jika sudah begini Ziruko jadi tidak bisa membunuhnya. Lagian para minotaur yang lain sudah tenang.
"Riz, Mizu, sebenarnya apa alasan kalian menemuiku?"
"Kalau aku sih karena janji itu."
"Janji yang mana Riz? seingat aku, aku tidak pernah membuat janji."
"Apa kamu tidak senang kami disini, Ziruko?"
"Bukan begitu Riz. Aku senang bisa bertemu dengan kalian lagi."
"Sebenarnya hal itu tidak bisa disebut janji, soalnya yang mengatakan tentang janji hanya satu orang saja. Untuk lebih lanjutnya kamu bisa tanyakan kepada adikku yang sangat cantik ini."
"Mizu, jadi apa alasannya? bukannya kamu datang menemuiku hanya untuk memberikan pedangku saja?"
"Sebenarnya itu bukan alasan utamaku. Alasanku ada tiga, yang pertama karena pedang itu. Yang kedua karena waktu itu perempuan yang bersama kita sepuluh tahun lalu mengatakan kalau kita akan berkumpul setelah kamu berhasil menjadi orang yang hebat. Dan yang ketiga, karena aku mencintaimu."
"Sepertinya alasan ketiga tidak terlalu penting untukku. Yang kamu maksud perempuan itu sepertinya aku lupa namanya. Apa kamu ingat?"
"Kamu jahat. Sebenarnya Riz dan aku juga tidak mengingatnya."
"Sepertinya ada yang aneh. Seperti ada sesuatu yang sengaja kita lupakan."
Minos yang masih memejamkan matanya, akhirnya membuka matanya.
"Oi, Ziruko. Kenapa kamu tidak membunuhku???"
"Aku tidak perlu membunuhmu."
"Apakah semudah itu memaafkan seseorang?"
"Sebenarnya aku tidak tahu alasanmu dan pasukanmu ada disini. Jadi aku tidak bisa membunuhmu."
__ADS_1
"Meskipun aku merencanakan hal yang jahat?"
"Selama kamu tidak jadi melakukannya, aku tidak akan membunuhmu. Jika hal itu terjadi, aku sendiri yang akan membunuhmu!"
"Baiklah, jika kamu butuh bantuan. Tiuplah tanduk ini."
"Emangnya tanduk bisa ditiup?"
"Itu alat untuk memanggilku. Kalau begitu sepertinya aku akan kembali."
Disamping hal itu, Azalea marah pada Ziruko karena tidak mengajaknya mengobrol.
"Ziruko, kamu mengabaikanku?"
"Memangnya kenapa aku harus memperhatikan kamu?
"Sepertinya kamu berasal dari keluarga bangsawan, Ziruko!"
"Harusnya aku yang bilang begitu, Aza!"
Setelah itu Riz bergabung kedalam pembicaraan.
"Bukannya kamu yang bangsawan ya Azalea?"
"Apa maksudnya Riz?"
"Kok, kamu bisa tidak kenal sih. Dasar Ziruko! diliat dari mukanya saja aku sudah yakin kalau dia itu tuan putri."
"Kamu hebat juga Riz, bisa mengetahui latar belakang orang dari mukanya saja."
"Ditambah dengan namanya. Jadi, aku semakin yakin."
"Hah... Jadi, dia itu putri dari kerajaan mana Riz?"
"Sebenarnya, apa kamu ini benar-benar ingin menjadi kaisar???"
"Tentu saja."
"Kamu ingin jadi kaisar tapi tidak tau dia putri dari mana. Dia Azalea Rossweiss. Anak kedua dari sang kaisar yang ada di Kekaisaran Rossweild."
"Apa!!!! Benarkah itu Aza?"
"Yah, ketahuan deh."
Azalea pun tersenyum pada Ziruko.
"Ini benar-benar tidak lucu Aza. Aku tidak pernah menyangka kalau kau ini putri dari seorang kaisar."
"Apa kau tidak menyadarinya, orang-orang yang pernah bergabung dengan kelompok kita, menghormatiku."
"Bukannya mereka menghormatiku?"
"Entahlah, jika kamu ingin tahu tanyakan saja langsung kepada mereka."
Tiba-tiba Ziruko mengingat tentang para petualang yang ikut dalam penjelajahan.
"Oh iya Aza, aku penasaran dengan nasib orang-orang yang ikut bersama kita di penjelajahan ini."
"Kemana mereka pergi ya? mungkin mereka terkubur."
"Heh... apa mereka masih hidup?"
"Yang pasti kita harus mencarinya!"
"Baiklah."
__ADS_1