
Dia melakukan perjalanan menuju kearah utara. Banyak orang yang bilang kalau dibalik Hutan Terlarang terdapat daerah berbalut es yang terisolasi. Sudah dipastikan kalau itu adalah tempat kediaman Ratu Es Elena.
"Aku merasa kesepian, lebih baik kalau ada Azalea dan Mizu disini."
Beberapa jam kemudian Ziruko sampai di depan Hutan Terlarang.
"Akhirnya sampai juga... tapi tempat ini sepi sekali. Lebih seram dari Hutan Ezelic."
Hutan Terlarang adalah hutan yang dikenal angker oleh orang-orang di Kekaisaran Rossweild.
"Banyak orang bilang kalau di tempat ini ada seekor naga. Ditambah Mizu bilang ada naga yang melintas di langit. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang panjang."
Ziruko melangkahkan kakinya masuk kedalam Hutan Terlarang. Terdengar suara burung hantu berkicauan. Ditambah ada suara raungan yang sepertinya berasal dari seekor beruang.
Ternyata benar, seekor beruang berlari kearahnya. Ziruko hanya melihatnya saja karena mungkin beruang itu hanya sedang berlari.
"Oy, beruang yang manis."
Beruang itu terus menggeram, dia mulai mengangkat tangan kanannya.
"Gawat, sepertinya dia akan membunuhku."
Ziruko langsung jongkok pada waktu yang tepat. Dia berhasil menghindari serangan dari beruang.
Dia mencoba untuk menendang beruang tersebut. Tapi, tendangannya tidak memberikan rasa sakit sedikitpun kepada beruang itu.
"Apa-apaan beruang ini!!! Sepertinya ada yang salah dengan hutan ini."
Ziruko berlari dan beruang itu terus mengejar. Sekali-kali beruang itu menyerang Ziruko tapi dia berhasil menghindarinya.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain. Aku akan menggunakan gaia. Maafkan aku beruang yang manis."
Dia mengumpulkan energi gaia ke tangan kanannya dan langsung memukulkannya kepada beruang itu. Beruang itu terlempar sangat jauh, tapi dari kejauhan dia tampak bangkit lagi dan berlari kearah Ziruko.
"Gila!!! Kuat banget beruang itu!!!"
Ziruko akhirnya memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari beruang itu dengan cara mengumpulkan energi di kedua kakinya, teknik yang dia tahu saat melawan Hanzo.
"Akhirnya aku bisa terbebas dari kejaran beruang itu. Pantas saja orang-orang tidak mau kesini, kalau orang biasa mungkin sekali melangkah langsung mati."
Selanjutnya dia bertemu dengan sekumpulan babi hutan yang sedang mengelilingi pohon.
"Hey babi! Lagi ngapain kalian? Nggak ada kerjaan banget kayaknya, sampai-sampai muter-muter di pohon itu."
Tiba-tiba babi hutan itu menoleh kearah Ziruko. Mereka mengambil ancang-ancang untuk mengejar Ziruko. Ziruko yang melihatnya langsung berlari.
"Ada apaan sih dengan hewan-hewan disini. Masa ada hewan yang emosional."
Babi hutan itu berlari sangat cepat. Saking cepatnya mereka hampir mengimbangi kecepatan Ziruko.
"Gila banget dah!!! Hari ini kayaknya aku sial banget."
Dari kejauhan, Ziruko melihat ada sebuah gua. Dia terlihat sangat bahagia, karena ada tempat untuknya dimana babi hutan itu tidak akan menemukannya.
"Ternyata aku tidak sepenuhnya sial."
__ADS_1
Ziruko langsung masuk ke gua itu. Gua itu terlihat gelap sekali, tidak mungkin babi hutan akan kesini. Dia melihat keluar gua untuk mengawasi pergerakan babi hutan.
"Sepertinya semua sudah aman. Tapi, sepertinya aku akan istirahat dulu sejenak disini."
Ziruko mencoba untuk tidur di tempat ini. Tiba-tiba suara rintik hujan terdengar. Semakin lama semakin deras.
"Kenapa sudah hujan lagi? Apa sekarang sudah musim panas? Tapi aku tidak bisa tidur disini, aku bisa mengambang kalau tidur disini."
Ziruko mencoba untuk masuk ke tempat yang lebih dalam lagi dari gua ini. Dia terus mengikuti jalan dari gua ini. Tiba-tiba terdengar suara hembusan nafas.
Ziruko terus berjalan menuju ke arah hembusan nafas itu terdengar.
"Apa mungkin ini naga. Tidak mungkin lah, mana ada naga di siang-siang bolong gini..... Tunggu!!! Naga kan bukan hewan nokturnal."
Ziruko terus berjalan menyusuri gua ini.
Plakk!!!!
"Sepertinya aku menginjak sesuatu."
Ziruko menoleh kearah kakinya.
"Heh? Apaan ini?"
Dia langsung mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya dia ketika dia melihat ada kepala naga di depannya.
"Halo!"
Tiba-tiba naga itu meraung sangat keras. Ziruko langsung berlari keluar dari tempat ini. Naga itu mengikutinya dengan cara merangkak.
Betapa bahagianya dia ketika dia berhasil keluar dari gua. Tapi, naga itu tetap tidak berhenti mengejar. Meskipun begitu, Ziruko yakin bisa bersembunyi.
Namun, bahagianya kandas begitu saja ketika dia dihadapkan dengan sekumpulan babi hutan.
"Aku akan berlari lagi. Kalian tidak bisa mengikutiku."
Naga itu terlihat mengepakkan sayapnya. Dia langsung mengejar Ziruko. Ziruko mencari tempat persembunyian yang aman. Namun, dia tidak bisa bahagia begitu saja ketika dia menemukan tempat bersembunyi.
Terlihat ditempat itu ada beruang yang tadi mengejarnya.
"Apa lagi yang menungguku? Seekor beruang? Jangan bercanda!!!"
Mungkin ditempat ini terdapat hukum yang berbunyi, "memakan atau dimakan." Dengan adanya hukum tersebut, yang paling kuat yang akan berkuasa.
Naga itu melesat dengan cepat, dan beberapa detik kemudian naga itu berada di hadapan Ziruko.
"Halo! Kita baikan ya."
Betapa terkejutnya Ziruko mendengar suara raungan dari naga itu lagi. Tapi, berkat raungannya beruang dan babi hutan itu pergi menjauhi Ziruko.
"Terimakasih sudah menolongku."
Tiba-tiba ada kereta kuda yang berjalan menghampiri Ziruko. Naga itu tetap diam ditempat. Dan terdengar suara seseorang yang berkata, "Freeze". Benar, mungkin itu adalah sebuah mantra sihir.
Setelah itu terdengar perkataan dari orang itu.
__ADS_1
"Pergilah Momo!!! Aku akan mengambil alih, mulai saat ini."
Ziruko menoleh kearah orang tersebut. Dia juga melihat kearah naga itu, dan ternyata naga itu menuruti perkataan dari orang itu.
"Ada apa kamu lihat-lihat!?!?"
"Eh? Anak kecil? Apa kamu tersesat?"
"Lancang sekali kamu!!! Sepertinya benar keputusan Momo untuk menghukummu."
Ziruko langsung ditarik oleh perempuan itu. Dia dipaksa duduk di kereta kuda miliknya.
"Ada urusan apa kamu ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan Ratu Es Elena."
"Ada apa mencariku?"
"Aku bilang aku ingin bertemu dengan, Elena."
"Itu adalah namaku, bodoh!"
"Hee??? Benarkah??? Berarti umurmu dua puluh enam tahun?"
"Aku tidak setua itu, bodoh. Umurku cuma lima belas tahun."
"Mana ada ratu yang umurnya lima belas tahun."
"Ini penghinaan."
"Setidaknya aku tenang, ternyata kamu berbeda jauh dengan apa yang dikatakan oleh Tetua Desa Rabby."
"Apa kamu kenalannya?"
"Ya, aku datang kesini karena diberitahu olehnya."
"Terus ada alasan apa kamu kesini?"
"Aku menginginkan luca."
"Luca apa yang kamu maksud? Bukannya itu nama pahlawan Desa Rabby? Apa kamu penyuka sesama jenis?"
"Tentu saja tidak. Yang aku maksud itu adalah arcana milik Luca."
"Oh. Arcana ya. Aku tidak punya yang begituan."
"Benarkah?"
"Iya, aku tidak pernah menyimpan sesuatu yang seperti itu."
"Apakah arcana yang kamu pakai itu luca?"
"Lancang sekali kamu, tentu saja bukan. Ini arcana turun temurun dari keluargaku."
"Apa Tetua Desa Rabby benar-benar tidak pernah menitipkan arcana kepadamu."
__ADS_1
"Entahlah, meskipun dia menitipkannya mungkin aku sudah lupa."