
Seperti yang dipinta oleh Wen Hao. Long Chu bersiaga di atas atap. Namun sedikit terlindung karena ada ranting pohon yang cukup besar menjorok ke atap penginapan. Sekarang dia bersembunyi di sana tanpa terdeteksi.
Ada beberapa langkah yang terdengar di telinganya. Langkah itu pelan, merayap layaknya cicak yang ingin menyusup kedalam salah satu kamar dari kamar yang ditempati oleh murid sekte fajar senja.
Entah dengan niat apa? Yang pasti tidak mungkin niat baik.
Ada empat orang yang dapat dilihat oleh Long Chu, mereka menggunakan penutup kepala yang hanya mata saja terlihat, dengan menggunakan pedang di punggung mereka. Salah satu mengeluarkan pisau dan mencongkel atap, lalu mengangkatnya perlahan, berusaha tidak bersuara, agar orang yang ada di dalam kamar tersebut tidak bangun. Setelah itu satu orang lagi memegang bambu kecil seukuran jari dengan diameter lima belas senti.
Entah apa yang akan mereka lakukan? Namun Long Chu tidak menunggu hasil mereka. Dia segera bergerak dengan pedang yang sudah siaga di tangannya.
"Gerakan pertama, seni pedang mengoyak langit!"
Dia bergumam sambil melentingkan tubuh tanpa suara dan langsung mengayunkan pedang yang didapatnya dari Leng Xu.
Wush! Boom! Satu orang terpental jauh dengan luka di punggung. Luka itu menganga dengan lebar dan terkapar tak bisa bangkit lagi.
Tiga lainnya segera melompat mundur.
"Sialan! Sudah ketahuan. Kita sikat saja langsung" satu orang berkata dan melempar sarung pedang ke depan.
Long Chu hanya menghindar. "Gerakan pertama, Monyet mencuri mangsa!" Long Chu bergerak sangat cepat, bahkan sulit untuk diikuti oleh tiga pasang mata itu.
Dia muncul di samping salah satu.
"Awas disampingmu!" Dua orang berteriak ketika melihat ada bayangan yang muncul. Itupun dikarenakan bantuan cahaya bulan.
Namun kalimat itu tidak secepat pergerakan orang yang diteriaki.
__ADS_1
Wush! Slash! Darah menyembur. Kepala menggelinding di antara atap dan jatuh ketanah.
Beberapa orang yang melihat pertarungan mereka di atas atap terkejut dengan gelindingan kepala. Segera kegaduhan terjadi dan pihak keamanan kota pun langsung bergerak mengkondisikan tempat itu. Tapi mereka tidak serta merta menegur perkelahian yang ada di atap. Seolah mereka datang juga hanya untuk menontong dan siapa yang menang baru akan ditanya tentang permasalahannya, lalu ditangkap.
Memang susah kalau penjaga keamanan orang yang seperti ini. Yang hanya makan gaji buta dari kerajaan.
Benar kata pepatah. Tidurnya aja nyusahin apalagi bangun.
Baam! Satu orang meluncur terkena tendangan Long Chu dan mengarah ke penjaga keamanan kota. Menabrak salah satu karena hanya sibuk bicara kepada masyarakat yang menjadi penonton pertunjukan itu, hingga ikut terseok ke tanah.
Tertinggal satu orang yang menoleh kiri dan kanan. Dia pun memilih kabur. Long Chu membiarkannya lebih dulu beberapa langkah. Lalu dia mengikuti dari belakang dengan langkah ringan dan tetap menggunakan Gerakan monyet mencuri mangsa!
Teknik itu adalah teknik yang sangat sempurna dikuasainya. Sebab dia mempelajari teknik itu sedari kecil dan sering digunakan untuk berlari dari kejaran binatang buas, ketika di hutan dulu bersama nenek Zhou.
Orang berpakaian hitam itu terus berlari tanpa menoleh ke belakang, jika dia menoleh mungkin akan dapat mengetahui ada seseorang yang mengejarnya. Tapi sayang hal itu tidak dilakukannya. Mungkin sebab ketakutan.
Melihat tiga orang temannya yang mungkin sudah mati semua bahkan ada yang kehilangan kepalanya. Membuat mental orang itu langsung lemah. Bagaimana tidak? Kekuatan mereka sama dengannya tapi dapat dengan mudah dibunuh.
Sampai pada penginapan yang cukup besar dan mewah.
Terlihat seseorang berdiri pada balkon lantai tiga penginapan itu, menunggu hasil yang memuaskan dari anggota yang dikirim. Menurutnya, tidak mungkin hanya bocah-bocah malang itu akan mampu melawan orang pilihan yang disuruhnya untuk menangkap beberapa murid dari sekte Fajar Senja dan akan dijadikan sandera nantinya.
Tapi sayang sungguh sayang! Kemalangan tidak tau berada pada pihak siapa.
Leng Kai menunggu dengan sabar. Dia melihat satu sosok dari kejauhan yang tengah berlari mendekat ke arahnya. Kemudian melihat lagi satu dari belakang dengan pakaian berbeda dan jelas itu bukan murid dari sektenya. seketika matanya terbelalak melihat siapa pengejarnya.
Wish Long Chu mengeratkan pedangnya dan menggunakan teknik sambil berlari. Lalu melompat dengan kekuatan kaki yang kokoh. Lompatannya cukup tinggi.
__ADS_1
"Gerakan kedua, Seni pedang menentang surga!"
Wush! Bam! Tubuh orang itu langsung terlempar dan terpental dihantam dari belakang ketika berlari memang efeknya akan sangat luar biasa.
Long Chu mengurangi kekuatan serangannya agar orang itu tidak meledak. Namun dia yakin. Luka yang diberikannya akan sangat fatal sekali.
Dia kini berdiri di ujung atap dan tersenyum melihat Leng Kai. Sekarang jarak mereka hanya berkisaran dua puluh meter saja.
"Salam patriark Leng! Bukankah tidak baik mengirim seorang pembunuh jika tidak dibunuh? Tapi aku men toleransinya, ini hanya untuk peringatan!" Long Chu segera berbalik ketika selesai bicara. Tidak peduli tentang kemarahan yang terlukis pada wajah Leng Kai.
Dia cukup puas memberi hukuman pada pembunuh yang dikirim di hadapan pengirimnya sendiri.
Setelah itu Long Chu kembali ke penginapan. Namun tidak masuk kedalam kamar. Dia mencari tempat untuk mengganti pakaiannya. Sebab ada banyak darah di baju yang dikenakan sebelumnya.
Gempar! Seisi kota akibat pertarungan pada malam itu. Sebab dari atap penginapan sederhana. Mengalir darah segar yang terus menetes ke tanah. Hingga penjaga kota naik dan memeriksanya. Lalu membawa jasad tanpa kepala itu turun.
Ada tiga orang yang dikumpulkan di tanah. Satu diantaranya terpisah dari kepala, namun dua lainnya juga tidak ada yang selamat.
Pihak kota pun menggeledah dari tubuh salah satu untuk memeriksa tanda pengenal yang dimiliki oleh setiap orang.
"Sekte pedang ilahi!" Seru penjaga kota itu dan langsung membungkus. Lalu mengantarkan ketiga jasad itu ke penginapan yang mereka sudah tahu. Dimana penginapan sekte pedang ilahi.
"Apa kau tau siapa yang membunuh tiga orang ini?"
"Yang pasti orang ini cukup kuat, bisa saja patriark atau tetua sekte Fajar Senja. Tidak disangka sekte pedang ilahi tidak sabar dan memilih bergerak di awal!"
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
__ADS_1
"Kau tau, mereka tadi bersitegang, ketika putra dari patriark Leng Kai dikalahkan oleh bocah dari sekte fajar senja. Menurut perkiraan semua orang. Akan ada penyerangan yang menggemparkan dari sekte pedang ilahi karena tidak terima dipermalukan. Apalagi tentang taruhan. Pedang itu adalah pedang terbaik sepanjang masa yang dimiliki oleh Sekte pedang ilahi. Tanpa pedang itu ditangan patriark lagi. Apakah mungkin dia akan tetap bertahan di sekte menjadi patriark?"