
Long Chu mencari tempat duduk untuk menyaksikan pertandingan dari arena lima. Dimana sekarang orang yang dipilihnya adalah seorang wanita yang tidak lain adalah Cai Muning.
Dia bertarung melawan seorang wanita pula yang berada pada tingkatan yang sama dengannya yaitu pendekar emas bintang lima.
'Dia belum naik tingkat dari terakhir pertemuan' Long Chu sedikit berpikir.
Dentang! Dentang! Sesama pedang beradu menimbulkan bunyi yang memekak di udara.
"Serangan mereka terlalu fokus terhadap lawan sehingga banyak menimbulkan celah, jika ini pertarungan hidup dan mati. Kemungkinan keduanya akan tumbang" kata Long Chu memberikan penilaian.
"Kau sekarang bisa memberikan penilaian kepada orang lain, bagaimana jika kau menilai diriku, apakah aku cantik hari ini?" Xiao Shu sedikit mengerti tentang Long Chu yang tak ingin terlalu dekat dengan wanita. Namun dia terus mendekati karena desakan Xiao dai, Ayahnya. Terlebih dia juga terselip rasa.
"Kau cantik hari ini dan aku suka, tapi suka sebagai saudara!" Kata Long Chu sedikit tertawa.
Cantik memang Xiao Shu, tapi Long Chu masih tidak ingin mengaitkan rasa sebelum dia mencapai tingkat raja. Karna saat itu dia akan berpetualang mencari jati dirinya dan dendam yang masih ada di pemilik asli tubuh serta dendam di masa lalunya.
Xiao Shu menggembungkan pipinya kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Long Chu. 'Aku kan tidak bercanda, aku benar menyukaimu, berdandan cantik untukmu' pikiran Xiao Shu terlihat kacau.
"Yes! Menang…. Fei Yang, Ambil uang taruhan!"
Cai Muning turun dari arena setelah memenangkan pertandingannya, dia melihat ada Long Chu sedang duduk bersama seorang wanita yang cukup dikenal, anak dari tetua Xiao Dai penjaga kedai santai.
"Kak Chu!" Panggil Cai Muning seraya melambaikan tangannya. Dia mendekat ke arah dua orang itu dan duduk di sisi kiri Long Chu
Sedang yang berada di sisi kanan mengerucutkan bibirnya.
Soal kecantikan, Xiao Shu tidak kalah cantik dengan Cai Muning. Hanya Cai Muning lebih senior soal umur dan kekuatan.
__ADS_1
"Apakah Kak Chu menonton pertarunganku tadi?" Cai Muning segera bertanya seraya mengeluarkan dua botol minuman dan menyerahkannya satu kepada Long Chu.
Long Chu mengulurkan tangan menyambut dan mengangguk lalu berkata "terima kasih!" Dia langsung membuka tutupnya dan meneguknya "Emm manis" kata Long Chu.
"Semanis aku bukan!?" Ada tawa yang terdengar renyah dari mulut Cai Muning.
Menambah kesal hati Xiao Shu. Dia menghentakan kakinya ke tanah dan menggertakan giginya. Terdengar suara peraduan gigi di telinga Long Chu
"Itu adalah teh khusus yang ku seduh sendiri dengan kasih sayang, siapapun yang meminumnya bisa jatuh cinta kepadaku" kata Cai Muning, sungguh dia sangat percaya diri. Siapa yang menolak pesona keindahan.
Long Chu sedikit melotot namun hanya sebentar. Setelah itu dia tersenyum. "Takutnya kamu yang akan jatuh cinta kepadaku" kata Long Chu.
Yun Fei Yang datang dengan wajah senang.
"Kedatanganmu mengganggu kami gembul!" Kata Cai Muning sedikit tensi.
"Jangan merajuk, aku hanya bercanda saja" ucap Cai Muning lagi. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke samping dimana ada pemuda tampan duduk di sebelahnya. "Apa kau juga ikut bertanding?"
"Aku tidak ingin. tapi ada yang menantangku, terpaksa aku harus menghadapinya. Mungkin sebentar lagi nomor urut milikku akan sampai" sahut Long Chu.
Terlihat di atas arena semua peserta turun dan berganti lagi.
Wei Lian naik ke atas Arena namun dia hanya sendiri tidak ada lawan yang naik. Dia pun tersenyum saja.
Sang pengadil pun bersuara "jika dalam hitungan sepuluh lawan tidak naik. Maka, dia akan didiskualifikasi!" Katanya dengan lantang.
"Tunggu sebentar pengadil, aku ingin berbicara dulu. Aku tau dia datang tapi mungkin dia takut! Izinkan aku menyampaikan satu patah, dua patah kata mutiara untuknya!" Kata Wei Lian.
__ADS_1
"Silahkan! Aku beri waktu setengah menit"
Wei Lian mengangguk. Lalu dia mengalihkan tatapannya ke arah dimana Long Chu duduk yang tengah diapit oleh dua keindahan yang hampir membuatnya menjadi gila karena itu.
"Hey kau yang ada disana. Cepatlah naik! Apa kau hanya akan bersembunyi di ketiak wanita" tunjuk Wei Lian
Hampir semua mata yang dekat dengan arena empat memandang ke arah dimana telunjuk Wei Lian terarah. Dan mereka menemukan pahlawan muda sekte fajar senja tengah ditantang oleh murid dalam.
"Apakah dia bodoh?" Bisik-bisik penonton. Hampir semua penonton tau siapa Long Chu karena mayoritas yang ada disana adalah murid wilayah luar. Hanya segelintir orang dari murid dalam yang menjadi penonton. Itu juga sebagian dari mereka sudah mendengar bahwa ada seseorang pahlawan muda saat itu yang menjadi pembeda hingga mengakibatkan semua lawan dapat disingkirkan bahkan sekte tengkorak putih tidak berani lagi muncul ke permukaan seakan mereka tenggelam setelah hari itu.
Mereka mendengar nama tapi tak tau orangnya.
Sekarang mereka akan melihat tentang kebenaran rumor yang beredar bahwa pahlawan muda itu bisa mengalahkan orang yang berada di atas tingkatannya.
Long Chu berdiri dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. "Ada orang yang minta dihajar, mengapa harus takut!" Teriak Long Chu.
Di tempat para tetua ada bisik-bisik yang tidak mengenakkan. Sebagian ada yang sudah tau tentang sosok Long Chu itu, sebagian tidak karena saat itu sedang menjalankan misi atau tidak ada di sekte saat kejadian itu.
"Aku sudah melarangnya untuk mengikuti pertandingan ini, tapi entah mengapa dia bisa mendaftarkan diri. Mungkin ada yang tau dari kalian semua?" Wen Hao bertanya menyelidik dan menyapukan pandangannya untuk melihat raut wajah dari semua tetua yang ada disana. Tatapannya berhenti di wajah Ren Pong. "Sepertinya kau tau alasannya tetua Pong?" Tanya Wen Hao sedikit menunjukkan tekanannya kepada tetua Ren Pong.
Ada keringat dingin yang mengalir. "Maafkan aku patriark! Muridku ingin sekali melawan muridmu, entah apa yang dia pikirkan. Katanya dia ingin menguji kekuatan tempur yang dimiliki oleh pemuda yang dirumorkan sebagai pahlawan" sahut Ren Pong seraya menundukan kepala.
"Hais, kau ini Pong! Aku tak masalah. Yang aku takutkan muridmu akan babak belur dipukulinya. Biar aku beri tahu sekarang dia bisa membunuh pendekar tingkat prajurit ketika aku jalan-jalan bersamanya dan dihadang bandit, jadi apa kau tau kesalahanmu sekarang?" Wen Hao sedikit berbohong tentang alur cerita.
Jelas banyak kejutan didapatkan oleh para tetua yang mendengar apa yang telah dikatakan oleh Patriark. Tidak ingin percaya karena itu sulit diterima akal, tapi patriark tidak pernah membual.
"Kasihan sekali muridmu tetua Pong, jika yang dikatakan patriark benar, maka bersiap-siaplah mencari obat untuk muridmu" kata tetua yang lain menimpali
__ADS_1