
Di dalam hutan yang gelap tanpa cahaya itu. Satu sosok makhluk kecil melayang di udara. Menyelinap di antara rimbunnya dedaunan. Matanya tajam menatap sekitar, berwarna merah menyala. Matanya dapat melihat dalam kegelapan sekalipun.
Ada banyak binatang melata yang cukup besar dapat dilihat. Seperti kalajengking yang tidak sesuai dengan ukuran pada umumnya. Ada pula beberapa makhluk yang memang menyukai kegelapan berkeliaran di hutan itu. Inipun baru bisa dianggap pintu masuknya. Bagaimana jika lebih kedalam.
Wush! Api merah membara di udara dan itu mengejutkan makhluk penghuni hutan itu.
Beberapa dari mereka berlarian. Ketika melihat cahaya. Namun ada yang berani menerkam asal cahaya tersebut. Dia adalah beruang hitam.
Dia melompat dari atas batu dan mengayunkan cakarnya untuk menghantam tubuh yang dianggapnya cacing terbang itu. Dengan ukurannya yang besar dua kali lebih besar daripada beruang umumnya. Wajar dia jika menganggap naga merah itu sebagai cacing kecil terbang.
Namun naga merah mengelak dengan lincahnya. Dia menggunakan ekornya untuk bergerak cepat dan menempel pada batang pohon. Lalu menyemburkan nafas api merah miliknya ke arah beruang hitam itu.
Tapi beruang itu juga memiliki kulit yang tebal. Api naga merah hanya menghanguskan bulunya saja.
Sekali lagi beruang hitam menerjang, dia menghantam pohon itu hingga terkoyak namun masih tak dapat menyentuh mangsa. Tak menyerah begitu saja. Beruang kembali beraksi. Dia memanjat pohon yang juga tidak kalah besar dari tubuhnya dan bergelantungan di dahan kemudian melentingkan tubuhnya kembali ketanah. Dimana sekarang naga merah membuka lebar mulutnya.
Warna api biru berkumpul di mulut membentuk bola.
Wush! Api biru itu dihembuskan dengan nafas yang kencang hingga beruang hitam itu terdorong ke atas dan meledak.
Boom! Naga merah mengambil kristal beruang hitam yang memang sudah terbentuk. Meski tidak sepadat kristal Roh siluman. Tapi kristal binatang buas juga lumayan menurutnya.
"Hanya cecunguk kecil berani melawanku" gumam naga merah dia terkekeh melihat beruang yang bersemangat itu menjadi abu.
Setelah terbunuhnya beruang hitam. Berbagai pasang mata yang menyaksikan bergerak serempak mengepung naga kecil itu.
__ADS_1
Segera raungan binatang buas diperdengarkan.
"Nak! Ini sangat bahaya. Kita harus pergi secepatnya!" Ucap tetua Wang, dia begitu panik ketika ledakan yang mengguncang itu terdengar, bahkan hembusan angin menerpa ke arah mereka.
Long Chu langsung berdiri ketika mendengar ledakan yang begitu nyaring terdengar di telinga.
Bahkan api biru yang membakar sebagian hutan sekitarnya terlihat jelas dimata.Tanpa menghiraukan apa yang telah dikatakan oleh tetua Wang kepadanya.
Segera Long Chu melempar apa yang telah diberikan oleh naga merah sebelumnya.
Swush! Kertas itu memunculkan tulisan yang banyak dan mengamankan mereka dalam lingkup sepuluh meter.
Tetua Wang sedikit terkejut ketika melihat pemuda itu melemparkan jimat pertahanan di udara. Karena dia tau jimat itu sangat mahal harganya dan itupun hanya dijual di kota-kota besar atau lebih dekat dengan kota kekaisaran.
Ada banyak kejutan yang dapat dilihat dari pemuda itu. Pertama menyembuhkan racun, sekarang memunculkan jimat pertahanan ditambah ketenangannya. 'Sungguh masa depan telah berubah. Atau mungkin aku yang terlalu penakut. Bahkan bisa dikatakan kalah mental dengan anak kecil yang baru mencapai ranah pendekar emas'
Long Chu tentunya tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh tetua Wang tentangnya. Yang pasti sekarang dia begitu tenang. Duduk kembali dan menyantap daging siluman ular itu. Sambil mendengarkan nyanyian yang dibuat oleh naga merah di dalam hutan.Pertarungan itu hanya dianggapnya nyanyian. Tetua Wang yang tidak tahu mengenai itu merasa bodoh diri.
"Tetua Wang! Tetua tidak perlu memikirkan banyak hal yang berlebihan. Sebaiknya bermeditasilah untuk mengumpulkan tenaga dalam yang sudah terserap dari memakan daging siluman tadi! Siapa tau kamu bisa naik tingkat dari pendekar raja bintang satu menjadi bintang dua" Ucap Long Chu.
Tetua Wang memiliki mata yang membulat ketika mencerna apa yang dikatakan oleh pemuda itu dalam kalimat terakhirnya. 'Darimana dia tau bahwa aku berada di ranah pendekar raja bintang satu. Bukankah dia masih pendekar emas? Tak mungkin bisa melihat ranah kependekaran orang yang berada diatasnya!' Tetua Wang membatin dan semakin bingung dibuatnya. "Aku tidak bisa setenang dirimu, ketika ada begitu banyak suara ledakan dan dentuman berada dekat denganku. Ini seolah berada di medan perang. Bedanya hanya tidak tahu siapa yang perang, bahkan tidak melihat orang yang berperang"
Malam itu, untuk pertama kalinya. Gemerlap cahaya silih berganti. Ledakan keras terdengar memekak telinga. Kini cahaya bulan dapat masuk kedalam yang menandakan banyak pepohonan tumbang dan hangus terbakar.
Kini naga merah berhadapan dengan tiga kelabang hitam. Dia mendapat lawan yang cukup menyulitkan kali ini. Karena kelabang hitam dapat bersembunyi di dalam tanah.
__ADS_1
Mungkin Ini hanyalah ujian kesabaran saja untuknya.
Dia menunggu dengan sosok yang mendominasi. Tetap menggeliat di udara menatap ke arah tanah dan nafas api siap untuk dihembuskan jika muncul salah satu dari tiga kelabang hitam yang pada menit sebelumnya menyerang dirinya.
Kelabang itu juga pandai. Setelah muncul mereka tidak melompat melainkan merayap di antara batang pohon ada pula di bebatuan yang besar menyelinap menunggu momen yang pas untuk menggigit dan menyebarkan racun.
Naga merah yang merasa bosan hanya berdiam tidak ada pekerjaan. Segera dia menghembuskan nyala api yang sudah ditahan cukup lama di mulutnya. Dia memuntahkan api berwarna biru itu dengan cara membuat lingkaran. Itu sudah dia pikirkan agar tidak ada yang ingin menusuknya dari belakang. Sebab dia tau sifat dari binatang yang dilawan.
Satu kelabang yang berada di pohon hangus terbakar dengan raungan ganasnya berteriak kesakitan. Jika ada yang mengerti bahasanya. Mungkin dia berteriak meminta pertolongan atau pula mengumpat. Tapi sayang, naga merah sendiri tidak mengerti. Mereka bukan bangsa siluman yang bisa bicara.
Tersisa dua.
Kelabang hitam yang tersisa meraung pula. Menampakan diri dengan melentingkan tubuh ringan mereka ke udara. Satu menuju ekor dan berencana untuk membuat lubang disana. Sedangkan yang satu menjadi umpan hidup menuju kepala.
Naga merah dapat mengerti kehendak mereka. Tapi jika dia membiarkan, tubuhnya akan berlubang dan akan disusupi racun ganas. Racun kelabang termasuk yang bisa mematikan jika salah pengobatan. Terlebih akan merusak jaringan kulit.
Naga merah berkelit. Ekornya menggeliat membentuk kipas dan mengibas kearah kelabang hitam yang datang. Sedangkan yang di depan ditangkap dengan kedua cakarnya. Lalu di semburnya dengan api.
Wush! Lagi, raungan itu terdengar sebelum menjadi abu dan tersisa kristal yang jatuh ketanah.
Beng! Ekor naga itu menghantam kelabang terakhir dan melemparnya lalu dia menggeliat di udara dan menampar dengan cakar yang terbuka.
Pong! Kepala kecil kelabang pecah dan dia mati saat itu juga.
Setelah itu naga merah terus melakukan pembunuhan hingga sudah ratusan binatang buas dibunuh olehnya yang kini masih dalam bentuk tubuh besar. Dengan kibasan ekornya. Ada puluhan yang akan mati. Dia membabat habis apapun yang datang kepadanya dan mengumpulkan begitu banyak kristal binatang buas hingga menjadi tumpukan yang meninggi.
__ADS_1
Setelah puas mengumpulkan kristal itu. Dia membuat sebuah formasi dan menyimpannya dalam formasi itu. Lalu kembali mendekati Long Chu dengan menyelinap seperti cacing…