
Long Chu yang menyadari kedatangan Naga merah. Segera membawanya masuk kedalam cincin dunia.
Keduanya muncul begitu saja. Naga merah membuka formasi dengan cakarnya. Kemudian muncul tumpukan kristal binatang buas yang menggunung.
"Kau sangat hebat Naga merah!" Long Chu berseru melihat tumpukan kristal itu dan mengambilnya. Tapi dihentikan oleh kibasan ekor naga itu. "Ada apa? Kau jangan serakah! Ini juga bagus untuk meningkatkan kultivasi ku menjadi bintang tiga secepatnya. Jangan mengambil semuanya sendiri." Kata Long Chu dengan tidak puas.
"Eht! Aku yang berusaha, mengapa aku harus memberikannya kepadamu?" Tatap Naga Merah dengan tidak suka.
"Huh dasar pelit!" Ucap Long Chu.
"Kau merajuk? Kau itu tidak memerlukan banyak, aku akan membagi. Sisanya aku akan mengembalikan dengan cepat kekuatanku. Ini akan memakan waktu yang cukup lama. Jadi jangan panggil aku jika kau tidak berada dalam kesulitan. Karena itu akan mengganggu konsentrasi" pesanya.
Naga merah menggerakan ekornya dan memberikan seperempat dari gunungan kristal itu kepada Long Chu. Sedang dia langsung menghamburkan tubuhnya di atas tumpukan kristal.
Long Chu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun dia tetap menerima pemberian itu meskipun dia merasa bagiannya hanya sedikit. Tapi dia tetap bersyukur. Setidaknya dia memang tidak berusaha sedikitpun untuk menghasilkan kristal itu. Semua adalah kerja dari naga merah.
Dia pun duduk dengan kristal itu mengelilingi tubuhnya. Umumnya seorang pendekar hanya akan menyerap satu persatu kristal itu untuk mendapatkan hasil yang bagus hingga memudar menjadi abu kering.
Tapi berbeda dengan Long Chu yang harus menyerap sekaligus. Semakin tinggi ranah nya sekarang, semakin banyak pula sumber daya yang harus dipakainya untuk meningkatkan Qi dan menaikan satu bintang menjadi pendekar raja bintang tiga.
Dua belas jam berlalu. Pagi menjelang. Matahari bersinar dengan terang. Pagi itu tetua Wang dapat melihat bekas pertarungan yang terjadi di dekatnya tadi malam. Hutan lebat itu terbuka dan cahaya matahari dapat masuk kedalamnya. Namun itu tidak seluruhnya dapat memasuki. Sebab hutan itu sangat luas dan belum dapat diukur luasnya. Namun itu tidak menjadi fokus utama yang harus dipikirkan oleh tetua Wang.
Kini dia menatap pemuda itu. Ada sesuatu yang berbeda sekarang. Dia dapat merasakan angin yang berhembus dan masuk kedalam tubuh pemuda itu. Seperti ada pusaran yang menghisap.
Duar! Suara teredam terdengar sangat kuat. Bahkan hembusan angin yang keluar dari tubuh Long Chu, membuat tetua Wang termundur ke belakang. Dia tak menduga kekuatan semacam itu ada. Bahkan mampu mendorongnya.
'Aku ragu jika anak ini berada di ranah pendekar emas bintang enam. Tak mungkin hal ini bisa terjadi jika dia tidak berada di atasku. Tapi apakah itu mungkin?' Sekali lagi tetua Wang di buat bingung dengan kenyataan.
'Bicara fakta maka itu pasti. Tapi apakah ada kemungkinan teknik yang bisa sangat sempurna menutupi ranah seseorang dan bisa diatur sesuka hati. Jika iya! Aku menemukan seorang yang diberkahi oleh surga'
__ADS_1
Long Chu tersenyum dengan anugerah yang diberikan surga kepadanya. Berupa tubuh yang bisa menghasilkan Qi yang tentunya lebih kuat dari tenaga dalam yang dipakai oleh pendekar didunia ini.
Terlebih dengan Qi ini, dia bisa mengungguli satu bintang diatasnya meski berada pada ranah yang sama.
Matanya terarah ke wajah tetua Wang yang masih memikirkan sesuatu yang belum terpecahkan.
"Tetua Wang, ayo kita berangkat. Sepertinya kuda kita sudah siap untuk di tunggangi" kata Long Chu sambil tersenyum.
"Eh… baiklah. Mungkin hutan ini sudah aman. Suatu saat aku ingin ketua Shen datang ketempat ini dan membangun sebuah pasukan hidup dan mati demi sebuah keadilan"
'Suatu saat aku akan membantu untuk menunaikan daripada hajat tetua Shen Zhi Ran' batin Long Chu.
Long Chu melompat ke atas kuda. Hiyaat! Kuda berpacu dengan sangat cepat. Menyusul tetua Wang yang lebih dulu melesat dengan kudanya.
Melewati gunung, bukit dan lembah serta menyeberangi sungai yang dangkal. Mereka pun tiba di pintu gerbang kota Chu.
"Sepertinya kita harus jalan kaki. Karena sudah cukup padat. Kita mencari rumah makan lebih dulu bagaimana?" Tanya tetua Wang.
"Terserah tetua saja!"
Tetua Wang membawa Long Chu ke tempat dia biasa singgah dan bersantai sambil mencari informasi.
Mengikat kuda di tempat yang disediakan. Keduanya masuk kedalam rumah makan yang diberi nama rumah makan Karindangan itu.
"Kamu mau makan apa?" Tetua Wang bertanya sambil memberikan kertas menu yang tersedia di rumah makan itu.
"Aku pesan sate sama nasi sup, minumnya es jeruk!" Kata Long Chu setelah melihat menu itu dan memberikannya lagi kepada tetua Wang.
Tetua Wang memanggil pelayan. Pelayan itu datang dengan cepat dan menuliskan pesanan keduanya.
__ADS_1
Sambil menunggu makanan tiba. Tetua Wang selalu menajamkan pendengaran untuk mendengarkan informasi yang dibawa oleh pengunjung.
Dan dia menemukan informasi meski tidak terlalu penting baginya. Yaitu informasi tentang pertandingan antar sekte.
"Tetua Wang! Kemanakah tujuanmu selanjutnya?" Long Chu bertanya ketika tetua Wang diam saja.
Hening sejenak!
"Tetua Wang!" Panggil Long Chu kembali dengan menepuk bahu Tetua Wang agar tersadar. "Apa kau mengantuk?" Tanya Long Chu lagi.
"Tidak! Aku hanya sedang mendengarkan informasi. Kelebihanku adalah tajamnya indra pendengaran yang ku miliki" jawab tetua Wang.
"Lantas apa yang kau dengar?"
"Pertandingan antar sekte sudah dimulai dari kemarin. Entah kamu masih berkesempatan atau tidak untuk berpartisipasi, coba saja datang!" Kata Tetua Wang.
"Yah ternyata aku telat, ini memang salahku jika dipikir-pikir. Aku yang terlalu lama berkelana"
Tetua Wang menyipitkan matanya. Dia baru sadar setelah memperhatikan pemuda di hadapannya itu dengan seksama dan langsung membuatnya bertanya. "Aku merasakan sebelumnya kau sudah naik menjadi bintang tujuh. Lantas mengapa masih berada pada bintang?"
"Ini sebuah rahasia yang tidak boleh bocor tetua Wang, kau akan sulit mengerti jika mengetahui yang sebenarnya" Long Chu sedikit tertawa melihat wajah penasaran yang dimiliki oleh tetua Wang.
"Heh, sudahlah" tetua Wang melambaikan tangannya. Makanan tiba ketika dia akan melanjutkan lagi perkataannya. "Makan saja dulu. Setelah itu terserah kamu mau kemana. Intinya tujuan sudah sampai dan amanat yang diminta kepadaku sudah ku selesaikan dengan mengantarmu ke kota Chu ini oleh ketua Zhi.
"Baik tetua Wang. Budi baikmu akan selalu ku ingat" kata Long Chu. Setelah itu dia mengayunkan sendoknya kedalam mangkuk yang berisi sup hangat. Lalu menyesap dan meresapi bumbu dari masakan tersebut.
"Ini lumayan enak, satenya juga memiliki bumbu yang meresap" Long Chu memberikan komentar kepada masakan itu.
"Dasar anak kecil. Rumah makan karindangan ini banyak disukai. Bukan hanya sup dan sate tapi ada menu lain yang tidak kalah enak. Jika kau sanggup kita bisa memesan semua menu" canda tetua Wang..
__ADS_1