Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Di hadang Bandit


__ADS_3

Satu rombongan yang cukup besar melintasi jalanan yang sedikit berlubang, namun hal itu tidak menyulitkan para kusir untuk mengatur kuda yang menarik kereta.


Mereka sudah terbiasa melewati jalanan itu, namun satu hal yang terkadang menjadi kendala. Tentang adanya penghuni hutan belantara antara perbatasan kerajaan Lei dan Chu.


Siapapun yang lewat harus membayar sejumlah uang yang mereka inginkan. Mereka akan menentukan tarif dari bagaimana mereka melihaT mangsa. Jika dipikir menguntungkan banyak, mereka akan meminta banyak.


Bahkan terkadang mereka meminta wanita untuk menemani mereka. Jika tidak! Mungkin akan berjatuhan banyak korban.


Dan sekarang banyak pasang mata yang melihat rombongan dari Komandan yang sedang mengawal kereta. Dan kemungkinan besar menurut mereka itu adalah sasaran empuk yang harus didapatkan.


Ketika rombongan kereta itu terus masuk. Ada suara tawa yang terdengar namun orangnya tidak terlihat keberadaannya.


"Keluarlah kalian para perampok hutan! Hadapi aku, Komandan pasukan dari kerajaan Lei. Jika kalian memang berani, tunjukan wajah kalian dan jangan jadi pengecut!" Teriak komandan itu.


Dua puluh orang langsung muncul di balik pohon-pohon besar dengan banyak anak panah di punggung mereka dan busur yang sudah tertarik siap untuk dilepaskan.


"Aku tak peduli siapa dirimu, entah komandan, Jenderal atau raja itu sendiri yang datang. Tetap akan menjadi mangsa kami. Sebab kami hidup di hutan yang membatasi antara dua kerajaan. Jika kau memang ingin selamat. Kau pasti tau apa yang harus dilakukan oleh Komandan sepertimu" salah satu yang memakai pakaian warna hijau polos berkata.


"Cih. Hari ini. Kelompok kalian akan musnah" ucapnya lalu memerintahkan semua orang yang sudah dibayar untuk hal ini maju kedepan.


"Maju semuanya" dengan keahlian masing-masing jagoan yang disewa oleh Komandan itu. Semua orang maju. Hanya dua orang yang tersisa. Yang tidak lain adalah guru dan murid. Mereka berdua memang sudah sepakat dengan hal itu.


"Hay pak tua, mengapa kau tidak ikut menyerang?" Komandan itu berteriak ke arah Wen Hao.


"Aku ditugaskan untuk menjaga gerbong kereta paling belakang, dan hanya akan menyerang orang yang juga berencana menyerang bagian belakang. Kita sudah sepakat dengan hal itu" ucap Wen Hao.


Awalnya memang mereka sudah menyepakati sebuah perjanjian dengan segala resiko yang berarti nyawa mereka juga dipertaruhkan.

__ADS_1


"Sialan kalian berdua!" Umpatnya, lalu memalingkan mukanya. Dia mendekat ke salah satu gerbong karena ada sebuah suara yang memanggilnya.


"Lei Huang, Mendekatlah!" Kata orang yang ada di dalam gerbong itu.


"Ya nona muda! Apakah ada yang nona muda inginkan?" Tanya orang yang bernama Lei Huang.


"Aku ingin secepatnya ke kerajaan Chu. Cepat musnahkan mereka! Kau akan mendapat rekomendasi nantinya ke ayahku!" Ucap gadis di dalam Gerbong kereta itu.


"Terima kasih atas niat baik nona, saya Lei Huang! akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghancurkan para perampok hutan ini, percayakan padaku!" ujar Lei Huang sedikit membungkuk.


Dia pun berbalik dengan gaya sombongnya, berharap dipandang cukup tinggi oleh Nona Mudanya.


Sementara itu, pertarungan sudah terjadi dengan kematian berada di kedua belah pihak. Namun yang lebih banyak ada pada pihak komandan Lei Huang. Karna lawan memakai senjata panah dan keberadaan mereka lebih diuntungkan dengan banyak pohon untuk berlindung dan berada di ketinggian.


Lei Huang murka melihatnya. Orang yang dia sewa sekitar lima puluh orang. Dan hanya dengan beberapa serangan, kini tersisa kurang lebih dua puluh orang saja.


"Guru! Apakah kita tidak membantu mereka?" Tanya Long Chu yang menatap Wen Hao begitu santai.


"Jika dia memohon kepadaku, aku akan membantunya!" Ucapnya seraya tersenyum.


"Bukankah guru terlalu kejam, guru bisa menjadi buronan kerajaan nantinya. Aku curiga yang berada di dalam gerbong itu adalah anak seorang petinggi. Sebab komandan itu begitu sopan ketika berbicara dengan orang yang ada di dalam" kata Long Chu.


"Sepertinya memang begitu. Kita biarkan sebentar lagi. Setelah itu kita hancurkan para bandit yang meresahkan ini" ucap Wen Hao mengeluarkan arak dan meneguknya dengan khidmat.


Dentingan pedang yang beradu, suara teriakan semangat dan kematian menggema di telinga memekak di keheningan hutan belantara.


Komandan Lei Huang menari dengan pedangnya. Meskipun tubuhnya besar namun dia tetap lincah serta gesit dalam melepaskan serangan yang menuju ke arahnya. Entah itu panah atau senjata yang lainnya. Dapat dia tangkis dengan sempurna.

__ADS_1


"Guru! Ada di tingkat apa komandan itu?" Tanya Long Chu.


"Dia berada di tingkat pendekar Raja bintang satu"


"Pantas sombong, jika dia sudah berada di tingkat pendekar raja bintang satu! Dengan guru mungkin hanya satu sentuhan saja, orang sombong itu hahaha" Long Chu tertawa cukup lantang. Dan hal itu mengganggu konsentrasi Lei Huang.


Hampir saja dia terkena sabetan pedang dan itupun hanya terlepas satu inci saja dari kulitnya. Terlihat dari robeknya pakaian pada pinggang kirinya yang tidak tertutupi oleh zirah perak itu.


"Sialan mereka, malah minum arak disaat seperti ini!" Gumamnya kesal.


"Sepertinya dia sangat terdesak Guru, apa aku boleh membantu" ucap Long Chu dengan wajah memohon.


"Bantulah! Tapi kau harus berhati-hati. Aku akan menunggu bosnya keluar baru menghadapinya. Dari yang ku dengan ketua dari bandit hutan belantara ini berada pada tingkat pendekar Raja bintang dua, tapi ini masih kabar simpang siur" ucap Wen Hao.


Semangat dari wajah Long Chu terlihat jelas. Dia segera melompat ke depan dan berlari.


Satu orang dia dekati, bermodalkan tangan kosong saja. Dia membanting lawan dan mematahkan tangan orang itu, jelas dia memilih lawan yang mudah.


Habis satu, dia berpindah lagi ke yang lainnya dan melakukan hal yang sama dengan mematahkan tangan lawannya tapi kali ini dia tambahkan satu bonus. Yaitu kaki lawan patah terkena injakannya.


"Bocah itu begitu liar, arahkan panah kepadanya!" Seseorang bersuara dibalik pohon besar.


Swish!! Dua panah dilepaskan dari ketinggian pohon. Anak panah itu menukik dan tajam mengarah langsung menuju seorang pemuda yang masih dianggap bocah. Sebab dialah yang termuda diantara yang muda.


Merasa ada sesuatu yang mengarah kepadanya. Long Chu segera menggerakan netranya lalu berkelit ke samping dengan melentingkan tubuhnya menuju batang pohon yang bercabang. Lalu turun lagi dan mendarat di belakang komandan sombong itu. Untuk memukul.


"Gerakan kedua, pukulan raja kera!"

__ADS_1


Wush! Bam! Satu orang terpental sejauh dua meter dan terhempas pada batang pohon yang membuatnya jatuh tak bisa bangkit lagi.


__ADS_2