Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Bandit Hutan


__ADS_3

Pertarungan kian memanas dengan kehadiran bocah yang hanya berada di tingkat pendekar emas bintang tiga. Setidaknya itu yang dilihat oleh semua orang, termasuk gurunya Wen Hao. Dia menggunakan teknik ilusi mata untuk menyembunyikan tingkat kependekaran yang sebenarnya. Dia sudah bisa dengan leluasa menggunakannya.


Pemuda itu, dia bergerak sangat lincah dan begitu ganas. Dengan sebilah pedang yang dia ambil dari lawan. Setiap dia bergerak akan ada yang terpental, akan ada teriakan kesakitan bahkan ada yang langsung mati.


"Bocah itu! Bagaimana bisa dia melakukan semua ini? Semua tingkat emas di babatnya. Tak peduli perbedaan bintang! Apakah ada yang lebih tidak masuk akal dari ini?" Sang ketua Bandit hutan belantara berkata dengan semua keterkejutan dihatinya. "Jika bisa mendapatkannya dan menjadikannya bawahan. Ini akan sangat luar biasa, melebihi dari harta yang akan didapatkan saat ini" katanya lagi lalu memberi aba-aba kepada yang lainnya untuk menangkap bocah itu.


Komandan Lei Huang saja dibuat takjub dengan pergerakan pemuda itu. Jika di ingat! Sewaktu dia seumuran anak itu, bahkan untuk memukul orang saja dia tak berani. Namun bocah yang dianggapnya lemah menunjukan taring yang sebenarnya, bahwa tingkatan tidak dapat menghalangi bakat menentang surga dari seseorang yang dicintai surga.


Wen Hao juga terpaku di tempat ketika melihat kegesitan muridnya itu, sungguh dia tak menyangka. Bahwa dia mengangkat seorang murid ajaib yang berkemungkinan akan menentang surga.


Sedangkan orang yang dipikirkan oleh semua orang kini berdiri dengan banyak darah di pakaiannya. Bilah putih pedang curian itu berlumurkan darah berwarna merah dengan tatapan tajam yang bisa melemahkan mental lawan. Ada senyum kepuasan di wajahnya yang membuat orang takut untuk menghadangnya.


Tidak ada lagi yang mendekat ke arahnya bila masih berada di tingkat pendekar emas entah berapapun tahapan bintangnya. Karna lawan yang dihadapi seperti predator kecil namun buas. Sangat buas!


"Kalian mundurlah! Biar kami yang maju" salah seorang yang berada di tingkat pendekar Prajurit bintang dua maju dengan beberapa orang di sampingnya yang berada satu bintang di bawahnya. Mereka ingin menangkap langsung bocah yang diinginkan ketua mereka.


Para bandit hutan belantara yang berada di tingkat emas itu langsung mundur dan bertukar posisi.


"Kau harus dilumpuhkan, agar tidak menjadi penyakit di masa depan" salah satu berucap diantara pendekar prajurit.


Long Chu tidak bersuara. Dia mengulurkan telapak tangan dan mengaitkan jarinya. Jelas para bandit itu paham dengan kode itu, mereka merasa diremehkan. Dan langsung menyerang dengan asal-asalan.

__ADS_1


Hal itu memang diinginkan oleh Long Chu, dia sudah biasa menghadapi tingkah anak muda pada jamannya yang mudah terprovokasi. Apalagi jika mereka merasa hebat. Akan sangat mudah mempengaruhi. Dengan bakat masa kini, dengan kemampuan masa lalu yang dipadukan dengan keahlian masa kini. Long Chu menjelma menjadi pemuda hebat.


Wen Hao bergerak dia ingin menolong muridnya. Namun ketika Long Chu bergerak, dia sudah membunuh satu orang pendekar prajurit. Dia pun mengurungkan niatnya tak jadi menolong. Dan memilih mendekati gerbong kereta yang ada gadis di sana sedang membuka tirai memperhatikan pemuda tampan yang sedang berjuang di garis depan.


"Dia adalah muridku!" Ucap Wen Hao yang bersandar pada gerbong kereta dan suaranya langsung mengejutkan gadis yang ada didalamnya. "Tampan bukan?" Katanya lagi.


Komandan Lei Huang menatap Wen Hao dengan sedikit tidak percaya. "Berani sekali dia bicara tidak sopan kepada putri jendral. Sedangkan muridnya bertarung, apa dia tidak takut akan kehilangan muridnya?" Gumam Lei Huang dengan pertanyaan bingung disela tangkisan pedang lawan.


Akh!! Punggungnya tergores, darah mulai mengalir.


"Haha. Jika bertarung jangan melamun" kata bandit hutan belantara yang dapat melukai punggung Lei Huang. Dia segera mengayunkan lagi pedangnya namun Lei Huang menendang perutnya lebih dulu hingga dia terlempar.


Akh! Satu sayatan lagi mengenai bahu Lei Huang. Dia tengah dikeroyok oleh lima orang pendekar raja. Sedangkan pasukan yang dibawanya sudah tiada, dan para pendekar yang di sewa memilih kabur sebagian. Hanya Wen Hao yang tersisa dan bocah predator itu. Namun lawan masih cukup banyak.


"Apa tetua hanya akan melihat komandan kerajaan dibunuh?" Tanya gadis yang ada di dalam kereta dengan wajah yang dijejaki ketakutan.


"Aku akan membantu" ucapnya, segera dia menghilang dari tempat itu, sosok Wen Hao seperti hantu yang tidak bisa dianggap ada namun ada pada kenyataannya. Langkahnya sangat ringan. Dia mengambil pedang yang ada di tanah. Lalu menggunakannya, wajahnya sangat tenang dan jelas pikirannya juga tenang.


"Matilah kau komandan!" Satu orang melompat dengan pedang yang menukik ke bawah. Siap untuk mengantarkan nyawa komandan menuju akhirat.


Dentang! Bugh!

__ADS_1


Wen Hao datang tepat waktu, dia menghalau pedang lawan lalu memberikan tendangan yang cukup untuk menerbangkan musuh hingga menghantam pohon.


Ugh! Puah! Lenguhan muncul dari mulut orang itu diiringi oleh darah kental yang juga merangsak memaksa keluar setelahnya telungkup tak bisa bernafas lagi.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Wen Hao sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya membantu Lei Huang untuk berdiri. "Pergilah! Jaga tuan putrimu, biarkan aku yang mengatasi ini" katanya lagi.


Kemudian Wen Hao berpaling. Menatap empat orang pendekar raja bintang satu yang kini memiliki sorotan tajam kepadanya.


"Tidak adakah dari kalian yang berani menyerang lebih dulu? akan sangat sia-sia jika begitu" kata Wen Hao dengan tenang.


"Ayo kita hancurkan kesombongannya, Hiyaaat!!" Orang yang pertama bersuara adalah yang lebih duluan menyerang.


Meski ada lima orang yang berada di depannya. Wen Hao menunjukan ketenangannya, tidak sedikitpun tampak kegugupan. Dia sesekali melirikan matanya untuk mengetahui situasi muridnya. Namun yang dikhawatirkan malam membantai lawan. 'Aku tak menduga. Pendekar prajurit saja tidak bisa melawannya' dia membatin seraya menggelengkan kepalanya bersyukur bahwa murid itu akan sangat disayanginya.


Swing!! Bunyi ayunan dari bilah pedang yang mengarah kepadanya, terdengar seperti irama yang mematikan. Jika dia tetap berdiri ditempat. Bisa jadi Wen Hao akan mati, namun yang tidak mereka ketahui. Seseorang yang bisa menjadi patriark sekte. Meskipun tidak terlalu terkenal akan tetap memiliki kualitas yang unggul dibandingkan yang lainnya.


Wen Hao menunduk lalu menusukkan pedangnya ke arah salah satu kaki lawan. Dan ada teriakan terdengar, setelahnya dia menendang yang lain dan membuka jarak dengan melompat ke atas.


Lawan yang memasang strategi pertarungan mengarahkan pedangnya ke atas pula menyambut menggabungkan serangan pedang dengan penuh tenaga dalam.


Wush! Selarik cahaya bersatu menuju Wen Hao yang juga menuju kebawah pula dengan pedang terhunus dan juga mengeluarkan tekniknya.

__ADS_1


"Gerakan pertama, Seni pedang pembunuh"


__ADS_2