Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Menolong


__ADS_3

Wush! Api menyembur dari telapak tangan Long Chu. Dia membakar habis tubuh orang yang dipegangnya hingga menjadi kerangka dan terjatuh ke tanah.


Lalu mendekati dua orang yang tersisa, kemudian melakukan hal yang sama.


Setelah selesai, Long Chu mendekati anak itu dan berjongkok. "Kamu sangat berani! Jadilah seorang yang membela kebenaran suatu saat nanti. Ketika tidak ada yang membelanya" Long Chu mengusap kepala anak itu.


"Aku ingin menjadi orang hebat seperti kakak!" Ucap anak itu.


Lalu Long Chu berdiri kembali dan menatap pemilik kedai atau ayah dari anak itu. Dia bertanya "apakah hanya ini kawanan pengacau di kampung ini? Atau ada yang lain dan dimana markas mereka?"


"Memang hanya beberapa orang ini yang ku tahu! Untuk markas mereka berada di bawah cadas itu" tunjuk pemilik kedai.


"Aku akan memeriksanya lebih dulu kesana, nanti aku akan ke kedaimu kembali" ucap Long Chu. Dia bergegas pergi ke arah yang ditujukan kepadanya.


Setelah berkelebat melompati beberapa pucuk pohon rendah. Segera Long Chu menemukan cadas yang dimaksud. Dia pun melompat turun dan ada sebuah gua disana. "Cukup bagus membuat markas disini. Semoga ada barang bagus untuk dibagikan ke warga" gumamnya. Cukup gelap keadaan gua itu. Long Chu pun mengeluarkan api berwarna merah pada telapak tangannya sebagai penerangan. Meski pemborosan Qi. Namun setiap nafasnya akan mengkonsumsi tenaga dalam yang bisa diubah menjadi Qi walau tak banyak tapi itu juga membantu mengisi setiap Qi yang keluar.


Ada beberapa barang yang terlihat. Karena gua itu cukup kecil, jadi semua barang hasil rampasan mereka akan terkumpul di satu tempat saja.


"Mereka tidak menyimpan barang berharga. Mungkin memang karena mangsa mereka hanya pendekar emas jadi seperti ini!" Long Chu menghela nafas pelan lalu keluar dari Gua. Lalu menggunakan sebuah gerakan tertentu.


Baam! Seutas cahaya berwarna biru muncul dari kepalan tangannya dan langsung meruntuhkan gua itu.


Long Chu kembali ke tempat pemilik kedai yang kini membuka kembali jualannya.


"Hari sudah menjelang malam Nak! Sebaiknya kau bermalam disini. Dan kau bisa pergi pagi sekali! Tapi jika tidak terburu-buru kau bisa bertahan di kampung ini untuk beberapa waktu" kata Pak Soun.


"Terima kasih banyak Pak atas penawarannya. Aku tidak akan menolaknya" ucap Long Chu seraya tersenyum. "Oh ya Pak. Dimana ada orang yang menjual kuda?"


"Nanti bapak akan belikan. Kamu disini saja istirahat temani anak bapak ini." Ucap Pak Soun.


Long Chu memberikan lima koin emas kepada Pak Soun dan minta pilihkan kuda terbaik yang pelari handal.

__ADS_1


Sepeninggal Pak Soun. Long Chu duduk bersila. Untuk mengisi kembali tenaga dalam dan mengompresnya menjadi Qi. Meski tidak banyak yang dapat dihasilkannya. Namun hanya itu yang bisa dilakukan saat ini.


"Aku harus mengumpulkan lebih banyak sumberdaya. Agar aku bisa mencapai ranah kaisar sebelum umur dua puluh tahun" gumamnya.


-


-


Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa matahari menyingsing keatas. Sinar cahaya memberi rasa hangat untuk tubuh.


Merasa sudah cukup istirahat. Long Chu berdiri dan berpamitan kepada pak Soun dan anaknya.


"Kami akan mengingatmu anak muda. Dan aku akan menulis namamu pada dinding kedai ku. Agar orang kampung tau. Siapa yang telah membunuh para pengacau itu!"


"Tidak perlu sejauh itu Pak! Aku senang bisa membantu!" Ucap Long Chu. Meski tidak ada yang menyaksikan dia membantai sebelas orang pengacau kampung itu. Namun dia tetap senang. Sebab itu lebih baik.


Kuda itu berwarna hitam dengan badan kekar yang katanya dijamin bisa lari dua hari tanpa berhenti. Tapi tak mungkin pula Long Chu memperlakukan kudanya seperti itu.


Dia bukan orang yang suka menyiksa teman. Sekarang dia menganggap kuda itu teman. Meskipun ini pertama kali dalam tubuhnya sekarang menaiki kuda. Tapi dia cukup berpengalaman di masa lalu menaiki kuda.


Melewati hutan yang cukup luas. Ketika matahari kian meninggi. Long Chu berhenti setelah melihat ada aliran air. Segera dia mengikat kuda di dekat air itu dan membiarkannya makan rumput serta meminum air.


"Air yang sangat menyegarkan!" Gumamnya. Percikan air yang dihempaskan ke wajahnya memang terasa sangat dingin dan sejuk.


Mata air pegunungan asli memang yang terbaik sebelum tercemar..


Sayup dia mendengar ada suara pertarungan. Tapi terdengar sangat kecil. Long Chu bangkit dan menajamkan pendengarannya. Setelah yakin itu adalah pertarungan. Dia melompat meninggalkan kudanya dan berhenti pada pohon kelima setelah dia melompat pertama kali.


Hiyaat! Teriakan seorang wanita yang menggunakan tekniknya untuk melawan dua sosok yang kini mengayunkan cakarnya.


"Gerakan pertama, Seni pedang pemusnah raga!"

__ADS_1


Wush! Boom! Satu harimau yang menyerangnya roboh terkena hantaman tenaga dalam yang dikeluarkannya melalui pedang itu.


Namun satu harimau masih terjaga. Dengan marah harimau itu meraung Roar!


Wanita itu mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak agar tidak terkena dengan telak cakar harimau itu yang juga langsung membuka mulutnya menunjukan kegagahan taringnya sebagai pemangsa.


Dia menengok kekiri dan kekanan untuk mencari ruang lepas dari terkaman. Sembari menyabetkan pedangnya.


Dentang! Pedangnya terlepas dari tangan. Nafas yang sudah memburu tak bisa lagi menghasilkan tenaga dalam untuk memberi pukulan fatal. Dia melompat mundur namun mendarat tidak sempurna hingga dia terjatuh dan harus menerima nasib, mati dicabik-cabik harimau! Karena cakar tajam itu sudah mengayun tinggi untuk merobek tubuhnya.


"Maafkan aku ayah!" Kata terakhir yang diteriakan.


Shoot! Long Chu melompat dan melempar pedang naga merah.


Boom! Harimau itu langsung meledak dan mati di tempat. Long Chu menarik kembali pedang naga merah dan kembali masuk ke dalam sarungnya secara sempurna.


"Kau sudah aman!" Long Chu bersuara.


Wanita itu langsung membuka mata dan melihat ada seorang pangeran yang berdiri sedang mengulurkan tangan kepadanya.


Dengan wajah malu, wanita itu menyambut uluran tangan Long Chu dan berkata. "Terima kasih!" Kata wanita itu. "Aku berhutang nyawa satu kali kepadamu" tambahnya.


"Tak perlu kau pikirkan, aku hanya sekedar lewat saja dan melihat seorang wanita yang harus ditolong jadi aku menolong. Mengapa kau sendirian di hutan? Bukankah ini berbahaya sekali!?" Tanya Long Chu. Dia sudah menggunakan indra spiritual jiwanya dan tidak mendeteksi keberadaan manusia lain disekitarnya.


"Aku memang sendirian, aku memberanikan diri ke hutan hanya untuk mencari tumbuhan yang bisa dibuat menjadi penawar racun!"


"Siapa yang terkena racun?" Tanya Long Chu. 


Hatinya tergerak ketika ada orang yang terkena racun. Sebab nenek Zhou pernah berpesan kepadanya sewaktu kecil.


[Jika kau menemukan seseorang yang terserang racun ataupun keracunan sendiri. Kau harus membantu dan menolongnya. Sebagaimana dewa telah menolongmu dan mengirimmu padaku untuk belajar dan memahami segala macam penawar racun]

__ADS_1


Tentu ingatan itu tidak akan menghilang. Dengan belajar pengetahuan tentang penawar racun. Long Chu pun mendapat juga cara membuat racunnya yang biasa sampai yang ganas.


"Ayahku terkena pukulan yang mengandung racun. Sudah belasan tahun itu terjadi. Namun sekarang sudah semakin parah racunnya menyebar"


__ADS_2