
Langit biru cerah, mentari bersinar terang. Terik panas tidak mengindahkan para pengunjung untuk menyaksikan. Hari dimana siapa yang akan menjadi juara telah dinantikan.
Banyak orang yang sudah berspekulasi tentang kemenangan pemuda dari sekte fajar senja sebelumnya akan terulang kembali. Meskipun sekarang di babak final ini mempertemukan lawan yang cukup kuat. Yaitu Chu Yang, atau pangeran kerajaan Chu yang kini mewakili sektenya, Sekte pedang bintang.
Selanjutnya ada dari sekte Yin Yang, Yan Yuan. Ada dari sekte Harimau Emas, Gong Bau-bau Dan yang terakhir adalah seorang gadis cantik dari sekte angsa surgawi. Xia Mei.
"Para hadirin yang terhormat. Perkenalkan aku adalah Chu Tian. Sekarang aku ditunjuk sebagai pengadil arena." Sosok tinggi besar dan cukup tua, memakai pakaian hijau berdiri di atas panggung yang lebih besar dari sebelumnya. Panggung itu telah diperbaharui luas serta lebar. Karena ini adalah final yang akan menentukan manakah juaranya.
Pengunjung yang menyaksikan langsung hening, tidak ada lagi kekacauan dalam berkata ataupun yang berbuat sia-sia.
Karena mereka tahu. Jika ada yang membuat keributan. Pihak kerajaan akan menindak lanjuti. Dan mereka takut, sebab semenjak raja baru ini dilantik. Banyak yang sudah mengalami kemerosotan.
Kita kembali ke fokus utama.
"Baiklah, kita sudah tahu siapa yang akan melawan siapa. Maka langsung saja kita panggil Yan Yuan dari sekte Yin Yang akan berhadapan dengan Xia Mei satu-satunya gadis yang tersisa, dia berasal dari sekte Angsa Surgawi!" Chu Tian menunggu keduanya untuk memasuki arena.
"Salam senior!" Yan Yuan menyapa Chu Tian dengan menangkupkan kedua tangannya. Dia cukup sopan.
"Salam senior!" Xia Mei melakukan hal yang sama lalu memandang lawan yang kini berada sama dengannya. Pada ranah pendekar prajurit bintang lima.
Memang ini adalah batas yang ditentukan oleh panitia, tidak ada yang boleh ikut serta, jika ranah nya berada diatas daripada pendekar prajurit bintang lima.
"Mohon bimbingannya kepada senior Yan Yuan!" Ucap Xia Mei.
"Mohon untuk berbelas kasih kepadaku!" Kata Yan Yuan sambil tersenyum.
"Apakah kalian berdua sudah siap?" Tanya Chu Tian.
"Siap!" Keduanya berkata tanpa menoleh.
"Mulailah!" Kata Chu Tian, dia mundur dengan cepat dan menggunakan kibasan tangannya meminta orang yang berada dibawah mengaktifkan formasi baru yang lebih kuat dari sebelumnya.
Keduanya sama-sama menggunakan pedang, karena senjata pedang adalah yang paling mudah digunakan dari senjata lainnya. Tidak banyak yang perlu dipahami dari karakteristik pedang seperti senjata lain yang harus memiliki pemahaman yang lebih sulit.
__ADS_1
Keduanya saling melompat maju dan menghentakan pedang mereka di udara hingga terdengar peraduan yang memekak telinga.
Dentingan itu tidak hanya sekali, karena mereka melakukan itu berkali-kali.
Xia Mei melompat mundur lalu menggunakan teknik bertarungnya. Dengan kuda-kuda yang cukup unik. Dia mengulur kaki kanannya mengangkat sedikit debu yang ada di lantai arena. Lalu memutar tubuhnya satu putaran dan menggumamkan tekniknya.
"Gerakan kedua, pedang angsa terbang"
Selesai menggumamkan teknik, Xia Mei segera memutar tubuhnya dengan gerakan anggun seperti angsa menari. Membuat takjub siapapun yang melihatnya. Mereka terpana bukan hanya pada kecantikannya. Tapi juga kedewasaan yang tercurahkan dari tatapan matanya.
Bam! Yan Yuan termundur akibat tidak fokusnya pada pertandingan. Sebab gerakan Xia Mei membius dirinya. Seakan itu adalah candu yang harus dinikmati tanpa jeda. Dia terkena serangan. Namun di deting menegangkan dia melompat.
Ada darah yang mengalir di sela bibirnya. Beruntung, reflek tubuh menyelamatkannya dari kecacatan maupun luka dalam yang berlebihan.
Mereka kembali menyerang satu sama lainnya.
Dentang! Peraduan senjata begitu nyaring terdengar. Kilat cahaya pedang yang terpantul dari sinar matahari terkadang menyilaukan.
Mereka berdua mundur, lalu menyerang lagi dan selalu mengulangi siklus yang sama. Ranah yang sama dan bintang yang sama pula. Membuat mereka imbang dari segala sisi.
"Kau bukan hanya cantik, tapi juga pandai dalam bertarung, tapi aku tidak ingin mengalah dengan seorang wanita, meskipun aku memiliki rasa" ucap Yan Yuan, dia menatap netra Xia Mei yang bergerak melotot dan membulat namun itu hanya sekejap sebelum senyuman indah terbias di wajahnya.
"Kalahkan aku!?" Kata Xia Mei di sela tangkisan pedang. Namun itu cukup pelan dan hanya dua orang yang mendengarnya. Yan Yuan sendiri dan satu lagi Chu Tian yang dekat dengan mereka.
"Baik!" Yan Yuan bersemangat
Kini keduanya mundur kembali. Mungkin sepakat akan menutup pertandingan dengan serangan pamungkas.
Yan Yuan menggunakan gerakan bertarung dengan kuda-kuda kokoh. Pedang di acungkannya ke langit seolah meminta energi kepada langit itu. Yan Yuan terus berkonsentrasi. Dia ingin serangan ini menjadi penutup pertandingan dengan gadis cantik itu.
"Gerakan ketiga, Pedang Yin Yang!"
Wush! Wush! Yan Yuan mengayunkan pedang, membuat gerakan horizontal. Mengirim energi ganda yang dihasilkan dari kuatnya tenaga dalam yang dimilikinya.
__ADS_1
Xia Mei mundur beberapa langkah ke belakang. Bukan takut. Hanya menjaga jarak untuk mengambil ancang-ancang, dengan kuda-kuda yang sebelumya diperagakan. Xia Mei mengangangkat dan mengayunkan kaki setengah tubuh lalu menariknya lurus kebelakang dan sejajar dengan pedang kedepan. Bentuk tubuh indahnya terlihat, kain di perutnya tersingkap.
Semua penonton laki-laki berseru. Menatap penuh hasrat.
Itu adalah naluri seorang lelaki, memang sulit untuk tidak mengakui, jika melihat sesuatu yang bening.
Kemudian Xai Mei melompat dengan sebelah kaki lalu memutar tubuhnya layak penari balet namun dengan pedang di tangannya yang siap membelah apa saja.
"Gerakan ketiga, pedang pemecah badai!"
"Matriark, bukankah junior Xia belum sepenuhnya menguasai teknik itu" tanya salah satu dari orang yang berada di samping Matriark Sekte angsa surgawi.
"Kau lihat saja! Sebelum mengikuti pertandingan ini, dia telah berlatih sangat keras dan menyelesaikan gerakan terakhir dari teknik andalan Angsa surgawi" kata Matriark itu, dia adalah wanita yang cantik. Walau umurnya tidak muda, namun pesonanya tidak kalah sama wanita muda.
Sedangkan di sisi sekte Yin Yang. Patriark yang memandang murid kesayangannya hanya bisa berdecak kagum atas pencapaian itu. Meskipun akan kalah dia tetap senang. Apalagi menang. Dia tidak menekankan juara dari pertandingan ini. Hingga tidak ada beban yang dipikul oleh para murid yang bertanding. Terlebih untuk Yan Yuan yang sekarang bertarung dengan sengit.
Baaam! Serangan dari keduanya beradu di udara mencipta ledakan. Yan Yuan menerobos ledakan itu, kemudian melompat ke belakang dan langsung mengalungkan pedang di leher Xia Mei.
Xia Mei tersenyum, "apa kau mau membunuh orang yang kau suka?" Tubuh mereka begitu dekat, bahkan bisa dianggap Yan Yuan memeluk Xia Mei dari segala sisi.
"Mana bisa aku melakukan itu, ini hanyalah untuk membuatmu menyerah saja!"
Wajah merona dan menunduk, Xia Mei merasa malu. Ini adalah pertama kalinya dia begitu dekat dengan seorang lelaki. Langkah selanjutnya dia mengayunkan siku.
Ugh! Yan Yuan mundur karena dadanya terkena sikutan.
"Pemenangnya adalah Yan Yuan dari sekte Yin Yang" Chu Tian memberikan tepuk tangan begitu pula semua orang.
Kedua peserta saling membungkuk dan memberi hormat pula kepada Chu Tian selaku pengadil arena.
Mereka berjalan berdua turun dari arena dan berpisah kembali ke tempat masing-masing.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta!" Kata Matriark angsa surgawi menggoda Xia Mei yang wajahnya masih memerah seperti tomat.
__ADS_1
"Ah ibu. Tidak ada!" Jawab Xia Mei namun dia tidak berhenti tersipu….