Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Mengawal kereta


__ADS_3

Dalam dunia yang dia tidak tau sudah berapa lama berada disana. Long Chu tidak mempermasalahkan tentang waktu. Meski banyak yang akan dihabiskan di tempat itu. Yang terpenting dia bisa membuat sebutir pil demi sebuah pencapaian di masa depan.


Dengan belajar ilmu alkemis dengan sang ibu yang mewarisi keahlian itu dari seorang Immortal. Long Chu bahkan melupakan semua tentang balas dendamnya saat ini. Dia hanya fokus dengan hal baru. Hal yang benar-benar baru. bahkan untuk kehidupan sebelumnya dia tak pernah belajar tentang membuat pil.


Ketika kesempatan datang, Long Chu tidak akan pernah sekalipun menyiakan hal itu.


"Jika aku boleh tau, ibu?!" Long Chu menatap netra putri Hua "Dari manakah guru ibu berasal hingga memiliki pemahaman seperti ini yang bahkan untuk orang didunia ini sulit untuk mencapainya?" Tanya Long Chu segera dengan rasa penasaran yang dalam.


"Karena kau anakku, tentu ibu akan menceritakannya padamu.


Suatu hari ada sebuah kejadian dimana langit terbelah dan itu menjatuhkan tiga orang dengan kekuatan dewa. Namun ketiganya mengalami luka yang luar biasa akibat pertarungan yang mereka lakukan. Jika tidak. Dunia yang kita tempati ini akan hancur berkeping-keping hanya dengan lambaian tangannya.


Mereka memperebutkan sebuah kitab yang bernama kitab Pedang Dewa..


Kitab itu adalah sebuah kitab pusaka yang bilamana seseorang bisa berlatih dengannya. Dia akan menjadi tak terkalahkan di dunia dalam tingkatan yang sama. Hal itu menjadi awal dari pertarungan mereka.


Pada awalnya mereka adalah tiga orang sahabat dengan satu orang guru yang sama, yaitu Dewa Pedang yang menguasai domain Dewa sebelah utara.


Sebelum detik kematian Dewa Pedang yang diracun karena penghianatan dua murid durhakanya. Kitab Pedang Dewa yang dia ciptakan itu. Diberikan kepada guruku!


Keserakahan menguasai hati dua orang yang ingin merebut kitab itu sehingga pertarungan yang cukup panjang tak terelakan lagi

__ADS_1


Ketiganya terlempar dari domain Dewa namun masih di dunia yang sama. Dengan luka yang kurang lebih sama.


Guruku pun kehilangan kitab itu. Entah dimana sekarang keberadaannya dan siapa yang mendapatkannya. Semoga kelak jika ada yang bisa mempelajarinya. Dia akan menjadi orang yang luar biasa dengan sikap yang bijak." Ada bulir air mata yang keluar. Putri Hua mengingat kebersamaannya dengan sang guru.


"Sekarang dimana keberadaan guru ibu itu?" Long Chu bertanya lagi, dan dia tidak mengatakan bahwa dia yang menemukan kitab Pedang Dewa secara tidak sengaja di kehidupan pertamanya. Jika dia mengatakannya pun itu terasa aneh untuk diterima akal sehat.


"Karena lukanya yang kian hari semakin parah, dia tidak bisa lagi untuk bertahan hidup lebih lama. Sebab dunia ini tidak sama dengan dunia atas yang kental dengan energi Qi. Dia tidak bisa menyerap Qi yang bisa mengobati lukanya meskipun dengan banyaknya tanaman obat yang berada di tempat kita sekarang.


Kemungkinan dua orang lainnya juga meninggal atau bisa juga mereka masih hidup. Namun jika mereka masih hidup itu akan sangat berbahaya untuk dunia ini. Dimana mereka pasti akan menjadi penguasa bilamana kekuatan mereka kembali ke puncaknya" terang Putri Hua.


"Jadilah kuat agar bisa melindungi orang yang kau sayangi Nak! Dengan menjadi kuat kau bisa menentukan kemana kau akan mengarahkan dunia ini. Orang kuat akan dihormati" katanya lagi. "Sekarang saatnya kamu berlatih tentang dasar-dasar pembuatan Pil. Yang harus kau kenali lebih dulu adalah sumberdaya yang mana tidak mengandung racun dan mana yang mengandung racun. Ibu akan berikan contoh"


Swush! Mereka berdua muncul di kamar penginapan. Dan hari sudah menjelang malam.


"Aku akan pamit Ibu, jika ibu butuh bantuan, perintahkan saja bawahan ibu untuk mencariku di sekte Fajar Senja" ucap Long Chu seraya memeluk Putri Hua dengan lembut.


Putri Hua mengangguk lalu berkata "berhati-hatilah. Aku ingin suatu hari kau berdiri dipuncak dunia!" Putri Hua pun melepaskan pelukan mereka


Setelah itu Long Chu berjalan-jalan sendirian, dia menuju jalan kembali ke Resto, dimana dia telah ditinggalkan oleh Wen Hao.


"Kemana kau menghilang? Aku mencarimu dari siang hingga malam, bilang kalau mau jalan-jalan" Wen Hao berkata marah.

__ADS_1


"Maafkan aku guru!"


"Eh?" Ada kejutan di wajah Wen Hao. "Ada apa denganmu? tidak biasanya kau terima dimarahi dan langsung minta maaf" kata Wen Hao mencari sesuatu yang berbeda dengan mengitari tubuh Long Chu yang sedikit lebih rendah darinya.


"Tidak apa Guru! aku hanya senang bertemu denganmu lagi" ucapnya. Dia menampilkan sikap anak kecil yang memang seharusnya masih bermanja.


"Baiklah. Aku yang salah telah meninggalkanmu. Ikuti aku! Kita akan mengerjakan misi sebagai pengawal sewaan yang akan menggiring sebuah kereta" ajak Wen Hao.


"Baik Guru!" Long Chu bersemangat.


Mereka pun datang ke sebuah penginapan, dimana disana sudah menunggu rombongan kereta kuda yang siap berangkat.


"Maafkan aku terlambat, ini karena menunggu muridku yang ingin ikut" kata Wen Hao kepada seseorang yang memakai zirah Perak berkepala harimau di bahu kanannya.


Orang itu menatap Long Chu yang hanya berada di tingkat pendekar emas Bintang tiga, dia pun sedikit mencibir "Murid lemah dibawa, kami tidak bisa menjaganya kalau ada serangan yang berbahaya dan kau pun harus memprioritaskan kami sebagai pengawal" ucap Komandan berzirah perak itu "Kita akan melewati jalan yang cukup panjang, Cepatlah berjaga di bagian belakang!" Perintahnya.


Wen Hao mengikuti arahan bersama Long Chu yang bingung dengan gurunya itu.


"Mengapa Guru merendahkan diri dengan mengawal perjalanan mereka? tidakkah orang itu begitu sombong? Hanya karena memakai Zirah perak dan itupun tidak bisa menjamin keberlangsungan hidup mereka. Jika guru tidak menahanku, mungkin akan aku sumpal mulutnya dengan tinjuku!" Long Chu berkata dengan api kemarahan.


"Aku ingin melatih kesabaranmu! Kita hidup didunia yang kejam, dan jika nanti kau sudah berada didunia luar sendirian, berpetualang. Kau sedikit banyaknya akan mengerti mengapa aku melakukan hal ini. Tentang dia yang begitu sombong, biarkan saja! Dia akan menerima akibatnya nanti atas kesombongannya. Jadi tak perlu untuk kau turun tangan membungkamnya" ucap Wen Hao menenangkan Long Chu.

__ADS_1


__ADS_2