
Di sebuah kamar yang luas dengan desain elegan, didominasi warna putih dan juga warna kuning keemasan.
Disana di Satu ranjang yang memiliki luas dengan panjang kurang lebihnya 400 centimeter dan lebar 240 centimeter.
Terbaring seorang pemuda yang tidak lain adalah Chu Yang, kini dia terluka sangat parah dan ditangani oleh seorang tabib kerajaan yang sudah puluhan tahun bekerja disana, sejak zaman raja Chu Yuan yang memimpin kerajaan.
"Katakan yang sebenarnya tabib, bagaimana keadaan pangeran Chu Yang?" Chu Lei berteriak sambil meraih pakaian belakang tabib yang sekarang sudah cukup tua itu. Tidak ada kesopanan yang ditunjukan, tidak ada kewibawaan seorang raja, yang ada kekejaman dan penindasan bagi yang tidak berdaya..
Orang seperti ini pantas mati dengan buruk! Mungkin umpatan itu memang pantas untuk raja yang lalim seperti Chu Lei ini.
Tabib itu menggelengkan kepalanya sedih, dia hanya bisa berkata jujur. "Pangeran Chu bisa selamat tapi harus cacat, karena pembuluh darahnya pecah di banyak bagian. Dia tidak akan pernah bisa lagi menggunakan tenaga dalam, jika dipaksa pun akan mengakibatkan kematian!"
"Sia-sia aku memberi kamu makan, jika kamu hanya bisa mendiagnosa tapi tidak bisa mengobati, sebaiknya kamu mati saja, cuih!" Chu Lei meludah ke kepala Tabib tua itu, lalu mengayunkan tangannya dengan cepat.
Duar! Kepala tabib langsung pecah, otak terhambur di kamar itu, cipratan darah pun tak bisa dihindari untuk tidak mengotori ruangan yang bernuansa putih itu.
"Hiks..!" Tangis seorang wanita masih terdengar sendu, air mata tak terbendung meratapi keadaan, dimana anak semata wayang yang mengalami nasib begitu memilukan. "Kau harus membunuh pemuda itu, agar hatiku sedikit lega!" Ucap wanita yang menangis, dengan bibir bergetar dan tubuh yang terasa dingin, dia menatap Chu Lei, menatap kekasihnya itu dengan harapan tinggi.
"Kau tenanglah sayang, patriark Tang Rui ingin menangkapnya dan nanti aku yang akan membunuhnya, kau tetap disini aku akan melihat situasi di luar lebih dulu" Kata Chu Lei.
Saat itu juga dia pergi meninggalkan ruangan itu.
Di sisi yang berbeda. Seseorang memimpin pasukan satu desa yang dimilikinya kini menuju ibukota kerajaan Chu, dengan semangat yang menggebu di dada.
Kibaran bendera terus bergerak diterpa angin, dengan ratusan kuda yang ditunggangi dan beberapa amunisi yang diciptakan dari peralatan sederhana. mereka sudah melewati hutan gelap yang kini dapat dilewati dengan aman, karena hutan itu cukup terbuka sekarang, tidak lagi memancarkan aura yang mencekam setelah naga merah memporak-porandakan isinya sebagian.
Memasuki kota, mereka sudah ditunggu oleh pasukan yang juga sudah bersiaga disana. Entah apakah akan terjadi perang? Atau bagaimana? Yang pasti sekarang ada begitu banyak orang yang memasuki kota memakai kuda dan peralatan perang.
__ADS_1
Penduduk hanya bisa berdoa dan tak berani untuk menghentikan langkah mereka.
Silih berganti, dari arah wilayah lain juga ada pasukan kecil berkuda yang membawa senjata. Pemanah dan pelontar batu.
Sepertinya perang akan benar-benar terjadi di ibukota.
Kembali ke Arena pertandingan antar sekte yang berubah menjadi keributan. Banyak orang terus masuk kedalam dan menyaksikan jalannya pertarungan dua lawan satu. Tapi ini bukan lagi pertandingan antar sekte, melainkan pertarungan sungguhan yang mempertaruhkan hidup dan mati.
Chu Lei melompat ke arena, mengambil kesempatan yang datang kepadanya untuk membunuh seorang pemuda yang telah membuat cacat anaknya, segera dia mengayunkan pedang ke arah Long Chu yang termundur karena mendapatkan tendangan cepat dari patriark Tang Rui.
Ada darah yang harus diusap Long Chu, karena memang tendangan itu sangat keras menghantam dada, kini serangan tiba-tiba muncul dari belakang mengancam nyawanya.
Namun sebuah selendang berwarna merah mengikat pedang yang tinggal sedikit lagi bisa menyentuh punggung Long Chu. Dan menarik bilahnya, hingga Chu Lei kehilangan keseimbangan tubuh dan terjatuh.
Long Chu berguling menjauh, dia melihat sesosok wanita berdiri menjaganya. Dengan baju berwarna merah dari atas hingga kebawah dan cadar yang menutupi wajahnya. Wanita itu menatap Chu Lei dengan tatapan dendam yang membara.
"Cih wanita bodoh yang tidak tau tingginya langit!" Ucap Chu Lei, dia berguling melepaskan serangan dari piringan emas tersebut dan mengambil kembali pedang yang berada di lantai. Lalu melentingkan tubuhnya menyerang Ling Hua.
Ling Hua bergerak menghindar tebasan yang dilakukan oleh Chu Lei disebelah kiri dengan memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan, kemudian melompat mundur, lalu menggerakan selendang dan memutarnya hingga mengeras seperti tongkat.
Baam! Chu Lei terpukul di dada dan termundur dengan darah yang mengalir di sela mulutnya.
Penonton tidak ada yang berkomentar lagi. Mereka hanya diam menyaksikan, meski ada ribuan pertanyaan mungkin berada di kepala mereka.
Sedangkan di sisi yang lainnya masih dalam arena yang sama.
Tang Rui mengayunkan tombaknya, dia bergerak cepat dan langsung menusuk.
__ADS_1
Argh! Wen Hao berteriak keras. Bahunya kini ditembus oleh benda memanjang yang tidak lain adalah tongkat milik Tang Rui.
"Guru!" Long Chu berteriak sambil mengejar tubuh Wen Hao yang mulai miring.
Tang Rui menarik tombaknya dan tersenyum lalu dia berkata "padahal ini bisa dibuat mudah. Jika seandainya kau mau menyerahkan dua benda itu, maka aku jamin kamu akan hidup, bahkan berkemungkinan untuk menjadi muridku!" Kata Tang Rui, dia menghentakan tongkatnya agar menancap di lantai dan membiarkannya berdiri disana.
"Aku tidak akan sudi menyerahkannya!" Teriak Long Chu. Emosinya meningkat. Hawa membunuh dimunculkan, Tang Rui mundur dan kembali ke posisi semula, dia menarik kembali tongkat yang sebelumnya dia tinggalkan. Dapat dirasakan olehnya, ada perbedaan sekarang yang ditunjukan pemuda itu. Entah apa itu, namun yang pasti rasa tidak nyaman.
Tang Rui bergerak, tidak ingin mengambil resiko lagi dan harus menyelesaikan apa yang sudah menjadi tujuannya. Dua benda berharga yang bisa membawanya kembali ke alam dewa.
Tang Rui menghilang dengan cepat dari pandangan semua orang, kemudian muncul di belakang Long Chu dengan Tombak yang siap menghujam.
Long Chu bergerak, mengayunkan pedang ke belakang, lalu mengayunkan kaki untuk menendang, dia melakukan itu dua kali meski ditangkis lagi oleh Tang Rui. Matanya merah, urat di keningnya membiru.
"Sangat menarik bocah!" Tang Rui memberikan pujian, dia sangat jarang memberi pujian kepada orang lain, kecuali itu memang pantas untuk diberikan kepada lawan. Hanya seorang anak muda bau ingus namun cukup lama dapat bertahan melawannya dan tidak ada tanda keputusasaan.
Tang Rui berkelit dengan tebasan Long Chu, lalu dia memasukan kakinya di antara sela tebasan pedang hingga menusuk dada. Dan Long Chu kembali terpental jauh.
Lalu Tang Rui bergerak mendatangi Chu Lei yang kini hampir mati di pukul oleh Ling Hua.
Baam!
Ling Hua terpental dan harus rela melepaskan Chu Lei dari kematian. Dia terkena pukulan berat dari Tang Rui. Beruntung piringan emas muncul di punggung dan mengurangi hantaman itu. Jika tidak! Mungkin Ling Hua akan mati menjadi bubur.
"Ibuuuuuuuuu!" Long Chu berteriak dan bergegas melompat dari kejauhan, berlari untuk menangkap tubuh sang ibu.
Meski bukan ibu dari jiwanya, tapi itu adalah ibu dari tubuhnya, sama saja! Tetap seorang ibu yang melahirkan dan penuh kesakitan yang kini terancam kematian…
__ADS_1