Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Tantangan 2


__ADS_3

Suasana memanas. Padahal matahari sudah mendekati akhir penutup siang dan bulan juga sudah tidak sabar lagi. Dia muncul di langit walau matahari masih ada.


Wei Lian menatap Long Chu yang sekarang ada dihadapannya. Dengan pandangan yang mungkin bisa membunuh saking tajamnya. Sedangkan yang di tatap masih dengan gaya santainya. Kedua tangan ditaruh dibelakang kepala.


Sang pengadil arena segera berkata "Jika kalian tidak memulainya sekarang, maka kalian akan didiskualifikasi!"


"Tunggu sebentar tetua! aku tak ingin mengikuti perebutan kuota ini sebenarnya. Namun dia menantangku! Akan tetapi, jika hal ini seperti ini saja. Aku akan rugi" katanya menjawab sang Pengadil. Lalu menatap Wei Liyan. "Aku akan bertaruh seratus koin emas! Bagaimana?"


Riuh penonton segera bersua ketika mendengar Long Chu bertarung begitu besar.


"Memang pemuda yang menjanjikan!"


"Kau benar, bahkan dia sangat kaya. Mampu mengajak taruhan dengan uang sebanyak itu. Bukankah dia menjadi murid wilayah dalam terkaya?"


"Pahlawan memang luar biasa" teriak salah satu murid wilayah luar. Mungkin dia salah satu orang yang sering ditindas oleh geng Wei. Jadi dia sangat mendukung pertarungan itu.


"Apa kau tidak punya uang?" Tanya Long Chu yang melihat Wei Lian tidak menjawab. "Apakah aku terlalu menindasmu" tambah Long Chu lagi.


Wei Lian menggertakan giginya. Dia memang tidak memiliki koin emas sebanyak itu. 'Darimana dia memiliki koin emas yang banyak, bahkan setiap satu bulan saja pemberian sekte untuk murid hanya sepuluh koin emas saja' Wei Lian membatin.


"Aku tak punya koin emas sebanyak itu" ucap Wei Lian dengan sedikit malu.


Long Chu menyeringai. "Kalau begitu aku memilih didiskualifikasi saja. Dari pada tidak mendapatkan untung sama sekali"


Dia berjalan mendekati tepi arena dan hendak melompat turun. Tapi dihentikan oleh teriakan Wei Lian. "Aku memiliki lima puluh koin emas sebagai taruhan" Wei Lian melempar kantong penyimpanannya ke arah pengadil arena.

__ADS_1


Long Chu berpaling sambil tersenyum. 'Kena kau' batinnya berkata.


Long Chu meraih kantong penyimpanannya setelah memilah isinya. Dia pun mengeluarkan kantong penyimpanan lainnya yang sudah dipisahkan berisi jumlah yang ditaruhkan dan melemparkannya ke pengadil lapangan.


"Bersiaplah!" Ucap Long Chu.


"Oke, karena kalian sudah sepakat. Maka pemenangnya akan mendapatkan hasil dari taruhan…. Mulailah!" Ucap Tetua pengadil lapangan.


Wei Lian melambaikan tangannya, muncul sebilah pedang tanpa sarung di hadapannya yang langsung disambut. Lalu mengibaskan kebawah. Setelah itu dia memasang kuda-kuda teknik bertarungnya.


Ada semacam aura yang keluar dari tubuh Wei Lian. Setelah melihat hal itu sebagian orang ada yang memberi taruhan untuk Wei Lian. Karena tidak melihat adanya aura yang keluar dari tubuh Long Chu. Namun sebagian lagi memilih memasang taruhan untuk Long Chu. Meskipun yang terlihat adalah sekarang Long Chu hanya berada di bintang tiga sedangkan Wei Lian sudah berada di bintang lima. Namun mereka tetap percaya bahwa pahlawan muda mereka akan mengalahkan lawannya dengan mudah..


Long Chu tidak mengeluarkan senjata. Dan itu di tegur oleh Wei Lian. "Apa kau meremehkanku hingga tidak memakai pedang, Hah!?" Dia sedikit emosi, dengan sudah dibuat malu di remehkan pula.


"Aku tidak memiliki pedang, bagaimana mungkin aku bisa mengeluarkan pedang" sahut Long Chu.


Bugh! Ugh! Wei Lian termundur tiga langkah.


Tinju Long Chu langsung menghantam hidung Wei Lian sehingga membuat hidung itu bengkok dan mengeluarkan darah.


"Bangsat!" Wei Lian mengumpat sambil mengayunkan tangannya ke arah hidung untuk memeriksa bagaimana keadaan hidungnya dan dia mendapati Ada noda darah yang terlihat di ujung jarinya.


Dia yang menyerang duluan, tapi dia yang mendapat serangan. 'Bagaimana mungkin dia bisa bergerak secepat itu, bahkan aku tidak merasakan dia mengeluarkan tenaga dalam' batin Wei Lian tak sampai memikirkannya.


Sedangkan tetua pengadil lapangan bahkan semua orang yang menyaksikan hal itu juga terpana melihat pergerakan Long Chu yang begitu cepat.

__ADS_1


"Bintang lima saja kalah cepat dalam bergerak, aku yakin. Aku pasti menang taruhan kali ini! Ayo Long Chu, beri dia pukulan lagi!" Kata salah satu penonton dari ribuan penonton yang kini hanya fokus kepada arena empat. Tontonan yang sangat seru menurut mereka di antara arena yang lainnya. Sebab yang ada di atas arena adalah idola mereka. Pahlawan muda Long Chu yang menggetarkan sekte Fajar Senja dengan namanya.


"Gerakan kedua, seni pedang pembantaian!"


Wen Lian mengeluarkan tekniknya dengan menyalurkan tenaga dalam pada pedangnya. Lalu mengibaskan pedang itu ke arah Long Chu yang berjarak tidak begitu jauh darinya. Namun Long Chu menghindar sedetik sebelum serangan itu menyentuh tubuhnya.


Kemudian dia menggunakan kecepatan miliknya lagi. Bergerak zigzag agar serangan susulan tidak mengenainya. Long Chu memiliki antisipasi yang luar biasa. Dia menekan keinginannya untuk membunuh Wei Lian. Namun dia setidaknya 


harus memberi pelajaran kepada orang ini, jika tidak dilakukan sekarang. Kemungkinan akan menjadi masalah di masa depan.


Lagi-lagi pergerakan Long Chu sulit diikuti mata Wei Lian, dia mundur dengan keringat sebesar biji jagung yang tidak jadi menetas. Entah karena apa? Yang pasti sekarang Long Chu berada disampingnya. Dengan kaki yang terayun menuju titik lumpuh kaki sebelah kanan yang hanya sedikit saja berada diatas lutut samping.


Braaak!! Wen Lian terpelanting hingga mendekati tepi arena. Dia tak menyangka belum apa-apa sudah mendapatkan dua serangan fatal. Dia dipermalukan didepan umum. Yang pada awalnya, ini adalah niat dia untuk mempermalukan Long Chu.


Angin berhembus dengan kencang membawa sapuan kaki yang terangkat menuju kepala dan berhenti satu inci dari telinga.


Tetua Ren Pong berdiri dari duduknya sejak pertarungan dimulai. Dia memikirkan banyak kemungkinan yang dikatakan oleh Patriark Wen Hao. Dan ketika dia melihat pergerakan yang hanya akan dimiliki oleh pendekar Prajurit saja. Dia pun baru yakin tentang kebenaran cerita itu.


Dia melompat dari kursi tetua setelah meminta izin kepada semua orang terlebih kepada petriak Wen Hao untuk menyambangi muridnya.


"Terima kasih kau tidak membuatnya cacat!" Ucap Ren Pong kepada Long Chu.


Sorak sorai pun mengisi petang dan pertandingan itu adalah penutup dari semua pertandingan hari itu.


"Selamat Kak Chu. Kau menang melawannya" Cai Muning bermanja dengan melon yang entah sengaja atau tidak mengapit lengan kanan miliknya. Dan itu terasa begitu kenyal. Ingin menyentuh kelembutan serta kekenyalan itu. Tapi mata Xiao Shu menatap tajam dari samping dan mencubit pinggang Long Chu.

__ADS_1


"Adudududuh! Mengapa kau mencubitku Xiao Shu?" Tanya Long Chu seraya mengusap bekas cubitan.


__ADS_2