
Long Chu melonggarkan ikatan pedang yang berada di punggungnya dan menyerahkan pedang itu ke tangan tetua Jun.
Dengan semangat yang menggelora, tetua Jun segera menyambutnya. Namun hal yang tak terduga terjadi.
Bugh! Tetua Jun langsung tersungkur. Dia dapat merasakan sesuatu yang sangat berat berada ditangannya. 'Gila, berat sekali pedang ini. Bagaimana mungkin dia bisa membawanya dengan mudah di punggungnya' batin Tetua Jun.
"Pedang ini berat sekali. Aku tidak bisa mengangkatnya. Tolong ambil!" kata Tetua Jun memohon.
Dua orang itu bingung sebetulnya dengan kejutan yang dilakukan oleh tetua Jun. Mereka menyangka tetua Jun hanya bercanda dengan berpura-pura. Namun ketika Long Chu melihat lebih jelas dan mengingat pertemuannya dengan pedang itu. Dia Pun memahami bahwa pedang itu tidak ingin dipegang oleh orang lain.
Long Chu mengambilnya dari tangan tetua Jun dan mengikatnya lagi di punggungnya. "Sepertinya pedang ini punya perasaan" kata Long Chu "dan dia tidak ingin dipegang oleh sembarangan orang" tambahnya lagi dengan senyuman
"Sepertinya memang begitu" ucap tetua Jun dengan wajah sedih, baru kali ini dia menemukan pedang yang bisa menolak untuk dipegang. Sungguh dia tidak menyangka hal itu. Bahkan dia merasa malu dihadapan Yan Ruyu dan bocah itu.
Long Chu mengikuti Yan Ruyu dan melakukan serah terima uang. Setelah itu dia keluar dari Pavilion Haidong. Dan mencari sebuah resto demi membelikan teman-temannya makanan yang mungkin sudah menunggu lama.
Tidak banyak waktu yang dibuangnya lagi. Segera dia meminta makanan untuk dibungkuskan lalu membayar dan pulang kerumah Yun Fei Yang.
…..
"Makanlah kalian bertiga. Sesuai janjiku Aku sudah membelikan banyak makanan untuk kalian" Long Chu segera mengayunkan tangannya dan mengeluarkan makanan yang tersimpan di kantong penyimpanan miliknya.
"Terima kasih Kak Chu. Makanannya terlihat sangat lezat. Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya" kata Hu Li.
"Ini pasti mahal sekali harganya" kata Zhan Shi. Dia sedikit enggan untuk memakannya. Karena dia terbiasa hidup ngirit, terlahir dari orang yang tidak berada membuatnya harus selalu menahan perutnya yang lapar.
"Jangan pikirkan harganya. Yang terpenting bisa menikmatinya sekarang" ucap Long Chu.
Segera mereka menyantap makanan itu.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan ayahmu?" Tanya Long Chu seraya menatap Yun Fei Yang.
"Ada luka dalam. Tapi sudah diberikan ramuan. Semoga ayah lekas sembuh" katanya menyahut.
"Lalu dimana Hung? Apakah dia tidak perlu dipanggil untuk makan?"
"Dia pergi sebentar untuk mengabari ibuku tentang kondisi ayah sekarang" jawab Yun Fei Yang.
"Bagaimana tentang misi kita senior Yun?" Tanya Hu Li.
"Sebelum ayahku sembuh aku tidak bisa meninggalkan dia. Lagi pula kita tidak dikejar waktu. Tapi jika kalian ingin mengerjakannya tanpa aku, aku tidaklah masalah sama sekali. Selagi kak Chu yang memimpin kalian. Aku yakin misi itu akan cepat selesai" Ungkap Yun Fei Yang.
"Kami akan menunggu saja. Kita pergi bersama lebih baik Kak Yun" Kata Zhan Shi. Dia menoleh ke sisi yang lain dimana ada Long Chu dan Hu Li. "Bagaimana menurut kalian berdua?" Tanyanya.
Long Chu tidak mempermasalahkannya, dia mengangkat kedua bahunya yang menandakan terserah saja. Begitu pula dengan Hu Li.
"Tidak masalah. Kita bisa melakukannya saat waktu senggang. Sekarang aku ingin istirahat lebih dulu. Besok kita akan latihan" Sahut Long Chu yang segera meminta kamar kepada Yun Fei Yang.
"Baik Kak Chu. Ikuti aku" Kata Yun Fei Yang berdiri. Dan berjalan menunjukan kamar miliknya.
"Adik Yun! Bisakah aku meminjam kamar mu untukku sendiri malam ini?"
"Tidak masalah buatmu Kak Chu. Apapun itu. Aku juga berhutang banyak padamu. Jika bukan kamu yang menolong aku dan ayahku serta mengungkap dalang dibalik kerusuhan itu, mungkin saja akan ada serangan susulan dan teror untuk orang tuaku" kata Yun Fei Yang, dia sangat bersyukur telah mengenal. Bahkan perkenalan itu tidak disengaja sama sekali.
"Jika kau terus menghitung kebaikanku padamu, lalu apa artinya seorang sahabat" Long Chu menggelengkan kepalanya dan menggoyangkan telunjuknya " Seorang sahabat tidak pernah berhutang kepada sahabatnya. Sebab mereka saling menolong dan membantu disaat susah dan akan senang jika sahabat bahagia" tambahnya seraya menepuk bahu Yun Fei Yang. "Aku akan memberikanmu sebuah kejutan nanti!" Ucapnya dengan senyuman. Setelah itu masuk kedalam kamar.
Yu Fei Yang menutup pintu kamar yang tidak ditutup oleh Long Chu. Setelah itu dia kembali ke ruangan dimana ada Zhang Shi dan juga Hu Li. Mereka berbicara hingga waktu minum ramuan tiba untuk ayahnya Yun Fei Yang.
Sedangkan Long Chu masih berkutat dengan dunia pelatihannya di dalam cincin dunia.
__ADS_1
Tidak banyak yang dipelajari dari teknik beladiri. Selain dari kitab Pedang Dewa. Pukulan tangan kosong dari Nenek Zhou serta teknik berpedang yang diajarkan oleh Wen Hao.
Setelah semua perputaran itu berlalu. Long Chu kembali berlatih Alkimia. Dia masih penasaran tentang pembuatan Pil Embun Bening, pil yang sanggup meningkatkan satu ranah jika seseorang mengkonsumsinya. Seperti dia sebelumnya.
Dia sudah belajar dasarnya dari Putri Hua. Tapi belum juga menemukan perlengkapannya. Setidaknya sudah belajar. Mengisi kekosongan waktu. Segera dia mengambil tungku alkemis dan mengeluarkan Api merah yang sudah mulai bercampur kebiruan di telapak tangannya.
Segera dia melemparkan semua bahan sekaligus. Layaknya seorang ahli yang sudah ratusan tahun menggeluti dunia alkemis.
Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan. Energi Qi terbatas yang dia miliki membuatnya belum bisa sempurna mengendalikan api di tangannya.
Nafasnya mulai terengah. Namun dia sudah biasa dengan hal ini ketika latihan membuat pil penyembuhan, sekarang dia ingin membuat pil yang bisa dengan cepat membuat terobosan. Pil penembus alam. Itulah namanya. Nama yang mendominasi.
Sepuluh menit berlalu. Dia menghilangkan api di tangannya dan terduduk menyeka keringat sebesar biji jagung.
Setelah cukup banyak menarik nafas yang dalam dan menghembuskannya perlahan. Long Chu segera bangkit dan melihat ke dalam tungku.
Dia mendapati dua butir pil yang sudah jadi. Dia mengambilnya. Pil itu tidaklah besar hanya seukuran kuku orang dewasa.
Setelah mendapatkan hasil yang memuaskan. Long Chu keluar dari cincin dunia. Lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang berkeringat.
……..
Long Chu keluar dari kamar dan menemukan tiga orang yang sedang bermeditasi di ruangan tengah. Mereka tidak mengambil kesempatan untuk bersantai. Sebab waktu yang terbuang terkadang menyisakan penyesalan yang dalam. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik selagi masih ada.
Sebagai manusia yang hidup di zaman kekejaman. Kekuatan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang manusia. Untuk merubah tatanan hidup ke arah yang lebih baik. Untuk orang yang disayangi. Untuk teman dan untuk dunia itu sendiri.
Long Chu berjalan keluar rumah dan duduk di halaman depan. Dimana ada kursi panjang yang menganggur sendirian. Sangat cocok untuk bersantai menatap rembulan yang sudah muncul dengan cahayanya.
"Sepertinya jalan untuk membalas dendam masihlah panjang. Aku ingin bergegas mencapai tingkat kaisar tapi harus memiliki sumberdaya yang melimpah. Meskipun dalam cincinku banyak sumberdaya. Namun itu masihlah muda. Sepertinya aku harus berkunjung ke tempat ahli ramuan. Menggunakan plat milik ibu itu akan sangat luar biasa" gumamnya dalam kesendirian….
__ADS_1