
"Ini sudah pagi lagi, apakah otakmu terganggu karena kebanyakan dapat uang?" Tanya Wen Hao sambil mendelikkan matanya, lalu dia mengayunkan punggung tangannya ke kepala Long Chu. "Sepertinya kau demam. Panasnya persis dengan panas di bokongku" tambah Wen Hao, dia tertawa dan menarik tangannya lalu berjalan
"Kau ini pendekar atau pelawak guru!? suka sekali seperti itu!" Long Chu mengikuti langkah Wen Hao seraya bertanya.
Wen Hao mendelikkan matanya "Jelaslah aku pendekar! Ngelawak hanya sampingan haha" dia tertawa ketika menjawab pertanyaan Long Chu seraya memasuki Resto. "Ayo kita makan dulu, sebelum pulang ke sekte"
"Mengapa terburu-buru pulang Guru? Apakah kita tidak lagi mengerjakan misi berbahaya. Aku merasa jika dalam keadaan itu. Potensiku akan tumbuh guru!" Long Chu seolah memohon untuk jangan pulang, karena di sekte juga dia hanya berlatih seperti itu-itu juga. Tapi jika di luar sekte dia berlatih sekalian mengasah kemampuan bisa dilakukan.
"Tak boleh terlalu lama diluar. Apalagi nanti kita ada jadwal pertandingan yang akan diadakan di kerajaan Chu, lebih tepatnya di ibukota Chulan.
"Baiklah.." sahutnya lemah seolah tiada daya dan upaya.
"Makan saja dulu, jangan memikirkan yang lain. Jika kau ingin berlatih seperti itu. Maka lawan saja aku terus hingga kita sampai ke sekte" kata Wen Hao cukup tegas.
Long Chu duduk dengan wajah cemberut. Kekehan keluar dari mulut Wen Hao yang melihatnya "apa untungnya seperti itu" katanya.
Makanan tiba dengan cepat, karena tidak banyak pengunjung yang menGantri.
Setelah melahap semua makanan yang tersedia di meja. Keduanya mengusap perut dan bersandar pada kursi, mereka merasakan begah pada perut mereka.
"Apakah kau sudah mengkonsumsi pil yang ku berikan?" Wen Hao menatap Long Chu dan bertanya serius.
"Belum guru! Memangnya ada apa?" Tanya Long Chu dengan tingkah anak kecil.
"Aku hanya heran, mengapa bisa kau melawan pendekar Prajurit? Sedangkan kau berada ditingkat emas bintang tiga! Bisakah kau menjelaskannya?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu guru, yang pasti ketika aku melawan mereka. Aku merasa yakin bisa mengalahkannya!" Jawabnya dengan banyak kebohongan 'maafkan aku guru, aku tak bisa jujur untuk saat ini' Long Chu menundukan kepalanya. Dia bisa melihat ketidakpercayaan dimata Wen Hao. Namun tak mungkin dia mengatakan hal yang sebenarnya. Karena jika dikatakan! Maka akan ada banyak pertanyaan yang datang.
'Meskipun kau berkata begitu, aku tetap tidak percaya. Namun itu hakmu untuk menutupi sebuah rahasia' Wen Hao tiga detik terdiam sebab pikirannya melayang, ketika kembali, dia berkata lagi "Apapun itu, aku yakin kau akan jadi yang terkuat. Jalanmu lebih panjang dari jalanku. Hanya saja! Jangan sombong dan jangan terlalu ikut campur urusan orang lain yang mengakibatkannya kau menjadi target orang, terlebih jangan terlalu mencolok dengan kekuatanmu sebelum kau berada di tingkat Prajurit" kata Wen Hao memberi nasehat seraya menepuk bahu Long Chu. "Tubuhmu memang besar, tapi umurmu masih sangat muda, masa yang seperti inilah yang membuat pemuda menjadi sombong dengan pencapaiannya" tambahnya lagi
"Semua nasehat yang guru katakan, akan selalu berada disini" tunjuk Zai kepada dadanya. "Apakah aku bisa berpetualang sendiri jika sudah berada di tingkat prajurit guru?" Tanya Long Chu
"Tentu boleh, tapi menurutku kau akan lebih bagus lagi berpetualang jika sudah berada di tingkat raja. Sangat sayang jika bakatmu di biarkan tanpa arahan" jelas Wen Hao. "Ayo pulang!" Dia berdiri mengajak Long Chu.
Langkah mereka terus keluar dari kota dan menuju arah dimana sekte Fajar senja berada.
Tidak ada hal yang mengganggu mereka selain binatang buas yang mudah ditaklukan oleh Long Chu. Dia mengambil kristal binatang buas yang bisa dijadikan penguat senjata itu dan menyimpannya dalam kantong miliknya.
Wen Hao membiarkannya saja apa yang dilakukan oleh Long Chu. Karena itu memang keinginan Long Chu sendiri yang ingin mengasah kemampuannya.
Malam pun berlalu tanpa terasa. Wen Hao terlihat sedang memanggang ayam hutan yang cukup besar. Harum yang menggoda menggelitik penciuman Long Chu. Perutnya pun segera berdendang dan dia mengakhiri latihannya.
"Jika kau bisa menguasai teknik yang ku berikan itu. Aku yakin kau akan memiliki kekuatan yang melebihi orang pada tingkatan yang sama denganmu, ditambah kekuatan fisikmu yang sudah sangat kokoh ditambah lagi banyak hal yang kamu rahasiakan kepadaku" ucapnya seraya menyerahkan potongan paha ayam panggang yang menggoda itu.
Long Chu menyambutnya dan berkata "Sebenarnya aku sudah mengkonsumsi Pil Embun Bening itu guru, dan sekarang aku berada di pendekar Prajurit bintang tiga" katanya sambil membuka teknik ilusi bayangan mata yang dia gunakan.
Wen Hao jelas terkejut karena Long Chu menguasai teknik seperti itu. "Dimana kau mendapatkan teknik seperti itu?"
"Dari anggota Klan Cai, Guru!" Jawaban Long Chu sambil mengunyah ayam panggang.
"Tapi teknik mereka masih tidak sesempurna dirimu, bahkan aku saja tidak bisa melihat tingkat yang sebenarnya. Padahal jelas aku lebih tinggi darimu"
__ADS_1
"Aku mencoba memahaminya lebih dalam dan aku seolah menemukan ruang yang bisa aku eksplorasi dan aku dapat menyempurnakannya. Dengan hal itu juga. Aku bisa mendapat sebuah teknik lagi darinya" kata Long Chu sedikit membusungkan dadanya.
"Kau memang berbakat. Namun terkadang orang berbakat berumur pendek. Aku berharap kau terus menggunakan teknik itu, biar ku beri nama, teknik penekan kultivasi, karena itu adalah teknik ciptaanmu sendiri"
"Terima kasih sudah memberikan nama untuk teknik yang kudapatkan" dia mulai merebahkan tubuhnya di hamparan kain yang sudah disiapkan.
"Istirahatlah! Aku akan berjaga" kata Wen Hao.
Long Chu memejamkan mata hingga ketika dia membuka matanya matahari sudah tersenyum bersinar dengan cerah.
Sebegitu cepatkah waktu berlalu? Tentu tidak! Waktu tetap berjalan normal seperti biasanya.
"Ayo berkemas. Kita kembali, sepertinya hari ini akan diadakan pertandingan antar murid dalam, aku harus menghadirinya"
Pada tengah hari. Mereka berdua sampai di sekte Fajar senja.
Terlihat begitu banyak orang yang berkumpul untuk melihat pertandingan yang akan segera berlangsung.
Hari itu. Penonton penuh sesak, sebab wilayah luar diperbolehkan untuk melihat dan menyaksikan sebagai motivasi buat mereka agar lebih giat berlatih.
Seorang lelaki yang gagah meskipun cukup tua. Terlihat dari janggut yang memutih. Dia memakai baju warna hijau dengan garis-garis merah cerah.
Dia naik keatas panggung dan berkata menggunakan tenaga dalamnya. "Terima kasih atas semua yang hadir di pertarungan wilayah dalam kali ini untuk memasuki wilayah inti" dia menyapukan pandangan kepada semua orang dan melanjutkan lagi. "Harap semuanya tenang" dia menghentikan lagi ucapannya karena penonton masih bertepuk tangan.
Setelah semuanya mereda. Orang yang dikenal dengan tetua Bin Chong melanjutkan lagi. "Selamat atas para peserta yang sudah mendaftarkan diri untuk memperebutkan sepuluh tempat yang akan kosong dari wilayah inti. Peraturan kali ini cukup banyak berubah. Biarkan patriark sekte yang akan menjelaskannya lebih jauh…. Silahkan patriark!" Kata Bin Chong.
__ADS_1