
"Jadi sekarang dimana cucuku itu. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Mendengar dari ceritamu. Dia adalah seorang yang pandai dalam bertarung. Klan Ling akan sangat bangga memiliki pewaris seperti itu" kata Ling Suan. Setelah sekian lama. Dia bisa tersenyum bangga.
Siapa yang tidak senang mendengar cucunya yang berprestasi baik.
"Ayah tak perlu menemuinya. Aku takut antek-antek Chu Lei akan menyadari sesuatu. Aku belum bisa bergerak bebas jika memakai identitas Ling Hua maupun putri Hua.
Sebab segala pergerakanku yang terlalu besar akan menimbulkan tanda tanya. Aku ingin Long Chu sebagai ujung tombak penyerangan kerajaan Chu dengan membunuh satu persatu penghianat. Lalu menghukum Chu Lei dan Bai An serta anaknya yang masih belum diketahui publik, mereka masih rapat menyimpan rahasia bahwa Chu Yang bukanlah anak dari Raja Chu Yuan melainkan anak dari Chu Lei dan Ratu Bai An.
Aku akan mengarahkannya ke sini nanti tanpa mengatakan bahwa kau adalah kakeknya. Dan kakek juga jangan mengatakan kepada siapapun bahwa aku masih hidup. Cukup ayah memanggilku putri Hua seperti orang lain memanggilku" ucap Ling Hua. Perlahan melonggarkan pelukannya.
"Saat itu aku ingin ayah memberikan bahan-bahan terbaik untuk menunjang tingkat ke pendekarannya. Aku mengajarinya cara meramu ramuan bahkan Pil!" Ucap Ling Hua sedikit membocorkan kepiawaian anaknya.
"Pil? Dari Mana kamu mempelajarinya?" Kini Ling Suan antara bingung dan bahagia bertambah ketika anaknya mengatakan hal yang sulit seperti itu.
Jelas dia tau bagaimana kesulitannya dalam meramu sebuah pil yang bisa menaikan tingkat pendekar seseorang. Meskipun dalam catatan sejarah leluhurnya ada tertulis cara untuk membuatnya. Namun tidak ada yang bisa melakukannya. Entah bagaimana dulu leluhurnya bisa mendapatkan catatan itu. Namun itulah awal dari terbentuknya Klan Ling yang menguasai berbagai bahan obat dan ramuan bahkan ada kebun obat yang ditinggalkan dari generasi ke generasi.
"Aku mempelajarinya dari orang yang menolongku di jurang kematian. Berkat aku yang mengenal berbagai macam bahan obat. Itu sedikit memudahkanku dalam pelatihan membuatnya. Hanya metodenya saja yang berbeda. Itu disebut sebagai Qi dan kekuatan jiwa yang disatukan agar bisa memadatkan dan harus memiliki api yang dapat dikontrol dengan baik di tangan. Jika syaratnya tidak dimiliki maka hanya bisa membuat ramuan seperti yang Klan Ling lakukan selama ini" jelas Ling Hua dengan senyuman.
"Qi, aku mengira hal itu hanyalah sebuah mitos saja. Berarti memang ada dunia lain selain dunia yang kita tempati sekarang" Ling Suan berdiri. "Ikuti aku ke perpustakaan. Aku akan menunjukan buku rahasia Klan Ling kepadamu" ucapnya.
"Baik ayah!" Ling Hua memasang kembali cadarnya dan mengikuti Ling Suan dari samping.
Pintu aula terbuka, Ling Hua berkata kepada bawahannya. "Kalian istirahatlah dulu, aku akan aman disini!"
__ADS_1
"Baik putri!" Sahut ketiganya.
Tiga orang itu begitu menuruti ucapan yang dikatakan oleh dewi obat. Sebab mereka telah mengabdikan diri dan berjanji untuk tetap menjadi pedang dan perisai.
Entah apa yang membuat mereka seperti itu?
"Darimana kamu mendapatkan bawahan yang begitu penurut?" Sambil berjalan Ling Suan bertanya.
"Aku hanya menolong mereka, tapi mereka ingin mengabdi kepadaku seumur hidup. Padahal aku sudah mengatakan jangan terlalu mengekang diri. Namun mereka tetap ingin melakukannya dan berjanji untuk menjadi pedang dan perisai untukku. Aku sangat bersyukur dengan itu"
"Beruntung kamu, mereka sudah mencapai tingkat raja. Meskipun masih bintang satu. Tapi untuk berjalan didunia yang sedikit kejam ini. Itu memang diperlukan. Apalagi kita akan menghadapi Chu Lei yang sekarang sepertinya sudah mendapatkan tingkatan yang cukup tinggi dari sebelum dia menjadi raja. Sebab ada begitu banyak sumberdaya yang dia ambil dari gudang kerajaan. Bahkan permintaannya terhadap setiap Klan sedikit mencekik"
"Sepertinya memang harus dipercepat ayah!"
"Itu lebih baik ayah! Terkadang kita memang harus menyisipkan rencana B kalau-kalau rencana A tidak sesuai alur. Dan kita bisa merubah tanpa mendapatkan penalti yang merugikan Klan kita terlebih Long Chu yang masih dalam tahap perkembangan" kata Ling Hua menanggapi perkataan ayahnya.
"Suasana disini tetap tidak berubah ya ayah, semua masih seperti belasan tahun yang lalu!" Ling Hua berkata senang.
Ling Suan menoleh "Aku memang sengaja tidak merubah semuanya. Sebab aku tak ingin kenangan itu hilang bersama perubahan waktu" sahutnya
Tak terasa langkah kaki mereka berdua sampai pada tempat yang dituju. Patriark Ling menggeser pintu. Kemudian keduanya masuk bergantian.
"Duduklah!" Ucap Ling Suan.
__ADS_1
Patriark Ling Suan mengambil sebuah kotak dan membawanya ke meja dimana Ling Hua sudah duduk didepan meja tersebut. Kemudian dia membuka kotak itu dan terlihat ada buku usang yang tidaklah tebal. Ling Suan mengangkatnya, memisahkan dari kotak tersebut.
Ling Hua hanya melihat ayahnya melakukan hal itu dengan sebuah senyuman yang mengembang, rasa senang menyelimuti hatinya.
Bagaimana tidak senang? Ketika seorang anak yang lama tidak bertemu dengan orang tua. Bisa melihat lagi, menatap lagi bahkan memeluk dalam keadaan sehat.
"Ini adalah buku catatan tentang pembuatan pil dari leluhur Klan Ling. Tapi tidak dijelaskan secara gamblang tentang pembuatannya, sehingga menyulitkan generasi selanjutnya. Jika memang kau bisa membuat pil. Keadaan Klan Ling sekali lagi akan meningkat dengan itu. Klan Ling akan menjadi satu-satunya pembuat pil di kekaisaran Qing ini"
"Tapi kita tidak bisa mempublikasikannya sekarang. Kecuali Long Chu sudah menjadi raja. Maka akan terjamin keselamatan Klan kita dari ancaman kerajaan yang lainnya"
"Kau benar, dan buku ini biarkan kau simpan saja. Atau berikan kepada Long Chu. Sepertinya ditangan dia. Buku catatan ini lebih berguna"
"Aku akan mengambilnya dan memberikannya kepadanya" kata Ling Hua.
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga Ling Hua bermalam disana.
Di sisi yang berbeda. Long Chu terus terbatuk, bahkan walau dia minum. Tetap batuk dan tersedak seolah memiliki firasat bahwa dia sedang dibicarakan oleh orang lain. Tapi entah siapa?
"Ada apa denganmu Kak Chu? Pendekar Kok batuk!" Ucap Yun Fei Yang
"Tak tau juga" Long Chu mengangkat kedua bahunya. "Sepertinya kita harus bermalam di tempat ini. Sudah larut malam. Takutnya semakin jauh berjalan kita akan mengambil jalan yang salah ke desa Daun Hijau"
"Apapun yang kau inginkan Kak Chu! bagaimana adik Zhan, adik Li?" Yun Fei Yang menoleh ke belakang.
__ADS_1
Keduanya mengangguk. Lalu mengeluarkan peralatan dari kantong penyimpanan mereka masing-masing. Setelah itu terbangunlah tenda ala kadarnua saja..